CEO CANTIK DAN MANIS

CEO CANTIK DAN MANIS
Monster


__ADS_3

“Arshe.....” ucap Arga.


Aku membulatkan mata mendengar ucapan Arga yang memanggilku dengan nama ‘Arshe’.


Duh kenapa aku bisa seceroboh ini....dasarr bodoh, batinku sambil merutuki kebodohanku sendiri.


“Maaf saya bukan Arshe” sahutku sambil tersenyum kikuk.


“Bagaimana bisa suaramu sangat mirip dengan Arshe wanita bodoh itu” tutur Arga membuatku membulatkan mata dan membuat Zindi menggigit bibir bawahnya menahan tawa.


Aku tidak bodoh!! Dasar menyebalkan, batinku.


“Mungkin hanya mirip saja, dan kau jangan seenaknya menghina orang lain bodoh. Bisa jadi orang yang kau sebut bodoh itu bisa saja membunuhmu” tuturku lalu melirik ke arah Zindi dan membuat Zindi berwajah pucat sambil tersenyum masam menahan rasa takut.


“Terserah kau saja, sudah cepat bahas kerjasamanya!! Aku tidak suka bertele tele!!” ucap Arga dingin.


“Dasar menyebalkan” gumamku yang masih bisa di dengar oleh Arga.


“Kau bilang apa?” tanya Arga sambil melihatku dengan tatapan tajam.


“Tidak ada” sahutku.


“Sudah lebih baik kita mulai saja” ucap Nayla membuatku menatapnya dengan tajam.


Akhirnya kami mulai membahas mengenai kerjasama yang di berikan oleh Arga, sebenarnya aku sangat malas jika harus mengurus ini tapi aku juga penasaran kenapa Arga tidak menyuruh hacker lain yang profesional untuk menjaga keamanan data pentingnya? dan kenapa dia harus bekerja sama dengan perusahaanku?.


“Bagaimana? Apa kau setuju?” tanya Arga kepadaku namun aku hanya melamun saja sejak tadi.


“Hey apa kau setuju?” tanya Arga lagi dan aku hanya diam saja.


“Nona” panggil Zindi sambil menepuk bahuku dan membuyarkan semua lamunanku.


“Ah iya, aku setuju” sahutku begitu saja.


“Baguslah jika kau setuju” ucap Arga.


“Aku ada urusan! Kita sudahi saja pertemuan hari ini!” ucapku dingin.


“Baiklah kalau begitu” sahut Arga.

__ADS_1


Aku dan Arga mulai berjabat tangan dan anehnya Arga berjabat tangan denganku cukup lama membuat Nayla yang di sampingnya memasang wajah tidak suka kepada diriku. Setelah berjabat tangan, aku langsung pergi dari hadapan Arga menuju parkiran dan kembali ke kantor untuk mengambil motorku yang terparkir disana. Tidak lama kemudian kami pun sampai di kantor LM Group.


“Zin, nanti kamu urus rapat dan berkas bersama bang Rendy” ucapku sambil turun dari mobil.


“Baik nona” sahut Zindi dengan wajah yang memerah.


Aku hanya tersenyum melihat Zindi yang malu malu kucing seperti itu. Lalu aku beranjak menuju parkiran untuk mengambil motorku, aku mengendarai motorku dengan santai karena aku ingin pergi ke danau dulu namun dalam perjalanan menuju danau aku di ikuti oleh orang orang berjubah hitam dengan lambang Rajawali itu, sungguh ini membuatku bosan dan juga membuatku emosi.


“Cih, masih belum kapok juga” gumamku sambil melihat dari kaca spion.


“Umm....sudah lama aku tidak melakukannya. Baiklah, aku akan melakukannya hari ini juga” sambungku lagi.


Aku langsung memutar arah laju kendaraanku ke arah lain menuju tempat yang cukup jauh dari kota atau bisa di bilang tempatnya berada di pinggiran kota. Seperti dugaanku, mereka masih mengekoriku sejak tadi. Aku pun sampai di tempat yang aku tuju, disana ada anak buahku yang bersembunyi dan mereka tahu jika aku datang dengan di ikuti oleh tikus tikus kecil. Tanpa aku memberi kode, anak buahku langsung menangkap orang orang yang mengikutiku.


“Bawa mereka masuk ke dalam!! Aku ingin bermain dengan mereka!!” tegasku.


Aku berjalan duluan memasuki tempat persembunyianku atau bisa di bilang tempat ini adalah markasku. Yah! Aku juga seorang Mafia. Mafiaku bernama Black Rose yang paling ditakuti diberbagai Negara karena Mafiaku berada di posisi ke 1 dan tidak ada yang tahu jika akulah pemimpinnya karena aku selalu memakai topeng saat melakukan aksiku.


Mafiaku juga sudah membunuh ratusan orang bahkan ribuan penjahat yang sudah mencari masalah denganku. Aku tidak membunuh orang yang tidak bersalah dan aku juga tidak jahat. Aku hanya membela yang benar dan membasmi yang jahat.


Aku mulai memasuki ruangan yang tidak besar dan duduk di kursi. Mafioso juga masuk ke ruangan ini sambil membawa tikus tikus kecil itu dan mengikat mereka menggunakan tali yang sudah disiapkan. Aku tersenyum miring sambil melihat tikus tikus itu yang sedang diikat.


“Lepaskan aku!!” bentak salah satu orang berjubah hitam itu.


Setelah selesai mengikat mereka, para Mafiosoku mulai menjauh dan berdiri didekat dinding sambil memperhatikan mereka yang diikat. Aku juga mulai mendekati mereka dengan membawa sebuah pisau dan pistol.


“Kenapa kalian selalu mengikutiku terus menerus hah? Apa kalian tidak takut mati sia sia hah?” tanyaku dingin dan menatap tajam ke arah mereka.


“Kami hanya ingin kau dan semua keluargamu MATI!!” tutur salah satu dari mereka sambil menekan kata ‘Mati’.


Aku mengernyitkan alisku mendengar penuturan dari mereka. Jika mereka juga ingin membunuh seluruh keluargaku kenapa mereka belum membunuh Ardan beserta istri tiri dan anak tirinya pikirku.


“Kenapa kalian belum membunuh Ardan beserta istri tiri dan anak tirinya hah?” tanyaku dingin.


“Hahahaha....” mereka tertawa begitu saja setelah mendengar pertanyaanku.


“Kau sungguh tidak tahu apa apa NONA MUDA” ucap salah satu dari mereka dan menekan kata ‘nona muda'.


“Ck, lebih baik kalian diam!” bentakku yang kini sudah berjongkok di hadapan mereka.

__ADS_1


KRESS


Tanpa babibu lagi aku langsung menyayat leher salah satu dari mereka dengan dalam membuat orang itu kejang kejang dan akhirnya tewas. Sedangkan mereka yang melihat perlakuanku langsung gemetar karena takut.


“Mons – ter...”


“Dasar monster...”


“Ka – kau – mons – ter...”


“Apa kalian mau seperti dia hah?” ucapku sambil menatap tajam mereka satu persatu.


“APA KALIAN KIRA AKU INI BODOH HAH?? KALIAN TIDAK AKAN PERNAH BISA MEMBUNUHKU DAN JUGA ABANGKU!!” teriakku membentak mereka dan membuat mereka langsung merinding juga ketakutan.


“Siapa yang menyuruh kalian membunuhku juga abangku hah??” tanyaku lagi namun mereka hanya diam saja sehingga membuatku emosi.


“JAWAB!!!” bentakku lebih keras namun mereka tetap diam sambil menahan rasa takut.


Aku yang sudah terbawa emosi sudah tidak bisa menahannya lagi. Aku menatap tajam mereka sambil mengangkat pistolku dan....


DOR


DOR


DOR


Aku langsung menembak 3 orang itu tepat di kepalanya sehingga mereka tewas ditempat dan sekarang hanya tersisa 1 orang yang sudah berkeringat dingin menahan rasa takut.


“Apa kau mau seperti teman temanmu itu??” tanyaku ke orang tersebut dan orang itu hanya menggelengkan kepalanya.


“Kalau begitu cepat beritahu aku apa tujuan boss mu itu?!!” tanyaku penuh penekanan.


“Nyo – nyonya menyuruh kami melakukan ini karna sebuah alasan....” sahutnya terbata bata.


Aku mengernyitkan alisku dan bertanya lagi, “Alasan apa?”.


“Balas dendam...” jawabnya.


Hai everybody🙋

__ADS_1


Jangan lupa like, coment, and vote yang membangun yah🙋


Oh iya, jangan lupa rate bintang 5 nya guys biar gw tambah semangat buat ceritanya


__ADS_2