CEO CANTIK DAN MANIS

CEO CANTIK DAN MANIS
Sakit Tapi Tak Berdarah


__ADS_3

Aku sedang beristirahat di markasku dengan pikiran dan rasa yang campur aduk. Aku menatap langit langit ruangan ini dengan tatapan kosong. Sebenarnya aku masih bingung siapa laki laki itu yang mengaku sebagai kakakku.


“Mama...”


Akhirnya aku air mataku jatuh membasahi pipiku, pikiranku sedang kacau. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Rasanya aku ingin menyusul mamaku ke dunia yang berbeda. Hanya mamaku yang selalu aku rindukan, dia merawatku dan abangku tanpa mengeluh walaupun sebenarnya dia sangat lelah menjaga kami agar tidak di celakai oleh Ardan.


Beberapa tahun lalu saat Lina berumur 12 tahun


Mamaku sedang bermain tebak tebakan bersama aku dan Rendy. Kami begitu bahagia bermain bersama seperti ini. Namun tawa kami hanya sesaat karena Ardan datang dengan keadaan yang sangat menjijikan bagiku.


“Mas kamu mabuk lagi?” tanya mamaku.


“......”


“Mas kenapa sih kamu selalu mabuk mabukkan kayak gini?” tanya mamaku lagi.


“Heh, kamu itu gak ada hak buat ngelarang ngelarang aku?” sahut Ardan sambil duduk menyenderkan kepalanya.


“Aku ini istrimu mas! Sudah sepantasnya aku melarang kamu berbuat seperti ini!” marah mamaku.


“Istri? Hahaha...YAA KAMU MEMANG ISTRIKU TAPI KAMU MENGANDUNG ANAK DARI LAKI LAKI LAIN!” bentak Ardan sambil berdiri dan mencengkeram rahang mamaku dengan kasar.


“MAMA....” teriakku dan Rendy sambil lari memeluk mama.


“Uhuk uhuk jelas mereka anakmu mas uhuk...” ucap mamaku terbata bata.


“KAMU BERBOHONG!! AKU SUDAH TAHU FAKTA INI SEJAK LAMA!!” Ardan mencengkeram rahang mamaku lebih kasar dan keras dari sebelumnya.


“Awww...sa – sakit ma – mas...” rintih mamaku membuatku dan Rendy sangat khawatir dengan mama.


“Hiks hiks lepaskan mama kami hiks hiks.....” ucapku sambil memukul mukul Ardan.


“Lepaskan mama hiks hiks...” ucap Rendy sambil memeluk mama dengan erat.


“MINGGIR KALIAN!! DASAR ANAK ANAK TIDAK TAHU DIRI!!” Ardan melepas mamaku namun Ardan mencengkeram kedua tanganku.


“Pa hiks sakit pa hiks hiks...” ucapku meringis kesakitan.


“Mas uhuk uhuk lepaskan anakku...” ucap mama sambil berusaha melepas cengkeraman Ardan.


“Pa...lepaskan Lina hiks hiks...” ucap Rendy seraya memukul Ardan.


“DIAMM!!” Ardan marah besar sampai aku di lempar ke lantai.


BRUKK


“Ahkkk....mama sakit....” teriakku sambil menangis.


“LINA.....” teriak Rendy dan mama.


“Lina kamu gapapa kan?” Rendy berlari ke arahku sedangkan mama menatap tajam ke arah Ardan.


PLAKKK

__ADS_1


Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi kiri Ardan. Ardan langsung menatap tajam ke arah mama. Mata Ardan seperti terbakar api emosi yang sudah meledak ledak.


“Apa maksutmu menamparku hah?!” tanya Ardan penuh penekanan.


“KAMU PANTAS MENERIMA ITU MAS, KAMU ITU LEBIH BURUK DARI SEEKOR ANJING” kini mamaku tidak bisa menahan emosinya lagi.


PLAKK


“KURANG AJAR KAMU!!” ucap Ardan setelah menampar mamaku.


“MAMA.....” teriakku dan Rendy.


“AYO TAMPAR LAGI MAS!! TAMPAR LAGI!! JANGAN PERNAH KAMU SAKITI ANAK ANAKKU!! ATAU KAMU AKAN MENERIMA AKIBATNYA!!” ancam mamaku.


Ardan sangat terkejut mendengar ancaman mamaku, ia sama sekali belum pernah di ancam oleh mama. Karena setahunya, mamaku tidak akan pernah bisa memarahinya namun kali ini Ardan sudah melihat jelas bagaimana mamaku saat dia sedang marah.


“KAMU MENGANCAMKU HAH?!!” tanya Ardan sambil mengepalkan tangannya.


“KALO IYA KENAPA?! MAS MAU PUKUL AKU HAH?! PUKUL AJA!! AKU GAK TAKUT SAMA MAS!!” bentak mamaku.


PLAKK


Kali ini Ardan menampar mamaku hingga tersungkur ke lantai.


“MAMA....” teriakku dan Rendy sambil mendekati mama.


Setelah menampar mama, Ardan langsung pergi meninggalkan kami bertiga. Kini aku dan Rendy menangis se jadi jadinya.


“Maa....hiks maksut papa hiks apa ma? Apa papa hiks bukan papa kami hiks?” tanyaku polos sambil menangis di pelukan mama.


“Kalian gak boleh ngomong gitu, kalian anak mama sama papa kok jadi gak usah dipikirkan lagi ya...” ucap mama sambil memeluk kami.


 


Aku bangun dari rebahanku lalu menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi dan berpakaian aku langsung pergi tidur karena aku sudah sangat lelah dan hari juga sudah mau malam.


Keesokan harinya aku terbangun dari tidurku, aku mengambil handphone ku untuk melihat jam. Namun saat aku membuka handphone ku, aku sangat terkejut melihat banyak panggilan tak terjawab dan pesan dari Rendy.


“Astaga, pasti bang Rendy mencariku”


Kemudian aku langsung menelfon Rendy.


“Hallo bang”


“LINA KAMU DARI MANA SAJA?! ABANGMU INI SANGAT KHAWATIR DENGANMU LINA!!” aku menjauhkan handphone ku dari telinga karena suaranya Rendy yang sangat keras.


“Maapin Lina bang, Lina cuma nginep di rumah sahabat Lina kok...”


*Sahabat? Bukankah Lina enggak punya temen apalagi sahabat yak, batin Rendy*.


“Siapa sahabat kamu dek?”


*Duh gawat nih, batinku*.

__ADS_1


“Emm...udah dulu ya bang, Lina mau siap siap ke kantor”


Tut Tut Tut


“Eh buset, dasar adek gada akhlak” gerutu Rendy.


Aku langsung pergi mandi dan bersiap siap untuk ke kantor. Setelah itu aku langsung pergi menuju kantor LM Group. Saat aku sampai di LM Group, lalu aku mencari Zindi untuk menanyakan tentang jadwalku dan kebetulan juga Zindi sedang berada di lobby.


“Hekhem...” aku berdehem tiba tiba di samping Zindi membuat wanita itu terkejut.


“Astaga nona, kau selalu mengagetkanku saja” ucap Zindi sambil mengelus ngelus dadanya.


“Jadwal hari apa?” tanyaku.


“Nona harus bekerja di A.R.A Company” sahut Zindi dan aku hanya asal mengangguk.


“APA?!” aku langsung tersadar dengan ucapan Zindi.


“Emm soalnya tuan Arga menyuruh saya untuk mencari hacker profesional yang ada di perusahaan ini....dan hacker itu kan nona sendiri” jelas Zindi sambil cengengesan.


“Huh...baiklah aku akan pergi ke A.R.A Company”


Aku langsung cabut dari LM Group dan menuju A.R.A Company. Setelah sampai di sana aku langsung menggunakan topengku sebelum aku turun dari mobil.


“Lina, kau harus tetap kuat menghadapi masalah. Jangan jadi lemah dan tetap jalani hidupmu ini apapun yang terjad. Semangat!!” ucapku pada diriku sendiri.


Aku berjalan memasuki A.R.A Company dan banyak mata yang melihatku seperti bingung karena belum pernah melihatku. Ada juga yang melihatku dengan rasa kagum karena bentuk tubuhku yang goals dan pakaian elegan yang aku pakai.


“Eh liat tuh, body nya goals banget bro”


“Nape tuh cewek pake topeng segala? Mukanya jelek yak?”


“Body nya bagus banget anjay”


“Ck, cantikan juga gue”


“Heleh, body gitu doang kok bangga”


Dan masih banyak lagi bacotan unfaedah yang terdengar di telingaku. Saat aku akan berbelok menuju lift, tiba tiba ada seseorang yang menabrakku.


BRUKK


“Ihhh, kamu ini punya mata gak sih?! Main nabrak nabrak orang aja” marahku sambil menunduk karena aku terjatuh di lantai.


“Anda tidak apa apa?” tanya seseorang membuatku langsung mendongakkan kepalaku.


“KAMU...” ucapku dan seseorang itu secara bersamaan karena kami sangat terkejut.


Hai kalian semua👋


Jangan lupa like, coment, and vote yang membangun yah🙋.


Oh iya, jangan lupa rate bintang 5 nya guys biar gw tambah semangat buat ceritanya.

__ADS_1


 


__ADS_2