CEO CANTIK DAN MANIS

CEO CANTIK DAN MANIS
Undangan


__ADS_3

Aku masih duduk duduk di Cafe dengan santai tanpa ada gangguan sedikit pun. Walaupun tadi ada pemuda aneh yang berisik tapi aku tidak memperdulikannya karena aku sedang fokus dalam pekerjaanku. Tiba tiba perasaanku tidak enak namun aku tidak tahu apa penyebabnya.


Drttt Drtttt


Handphone ku bergetar membuatku langsung melihat nama ‘Niko' di layar handphone ku lalu aku menjawab panggilan itu.


“Halo nona...”


“Hmmm” jawabku dengan deheman.


“Tuan hampir celaka nona...”


“APA?!!” bentakku keras dan aku langsung berdiri membuat semua pengunjung Cafe menoleh ke arahku namun aku tidak memperdulikannya.


“Sekarang dimana dia?!!” sambungku penuh penekanan sambil membereskan barang barangku.


“Tuan sedang menuju ke mansions bersama pengawal yang sudah saya kirim nona”


“Jika kalian tidak bisa menjaga abangku!! Kalian akan tahu akibatnya!!!” bentakku sambil berjalan melewati tiga pemuda.


“Saya tahu nona, saya akan menjaga tuan dengan nyawa saya sendiri” ucapnya dan aku langsung mematikan panggilan itu.


Setelah aku melewati tiga pemuda itu, mereka bertiga masih menatapku dengan tatapan yang sulit di artikan.


“Beuhhh....galak amat tuh cewek” ucap Sean tiba tiba.


“Tapi cantik juga tuh cewek...menurut lo cantik gak Ar?” tanya Vino ke Arga namun Arga hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu.


Ada masalah apa tuh cewek sampe segitu marahnya, eh ngapain gue mikirin dia? Gak penting juga, batin Arga.


Aku mengemudikan mobilku dengan perasaan campur aduk memikirkan abangku yang juga dalam bahaya karena kami selalu di ikuti oleh orang orang berjubah hitam.


“AKHHHHH....SIAPA SIH BOSS DARI ORANG ORANG ITU...” teriakku sambil memukul mukul setir mobil.


“Apa semua ini ada sangkut pautnya dengan keluarga Lend?” tanyaku pada diriku sendiri.


“Kalau ternyata ada....” ucapku bergumam.


“AKU TIDAK PERNAH AKAN MEMAAFKAN KELUAGA LEND....” teriakku.


“AKHHHHH....” teriakku lagi sambil memukul mukul setir mobil.


“Mama....tolong Lina....Lina gak bisa seperti ini terus maa...” ucapku lirih dan tiba tiba air mataku lolos membanjiri pipiku begitu saja.


Aku tidak ingin bang Rendy meninggalkan aku seperti mama maka dari itu aku selalu menyuruh pengawal lebih menjaga abangku. Walaupun bang Rendy selalu menolak pengawalanku tapi aku selalu memerintah pengawal untuk menjaganya secara diam diam.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, aku sampai di mansions milikku dengan pikiran yang masih tertuju pada abangku. Aku segera menuruni mobilku dan berlari masuk ke dalam mansions. Saat aku sampai di ruang bersantai, aku melihat abangku sedang menonton tv dan aku langsung berhamburan memeluk abangku.


“Eh adek abang kenapa nih?” tanya Rendy sedikit terkejut karena adeknya tiba tiba memeluk dirinya.


“Hiks hiks Lina takut bang...” ucapku terisak tangis sambil melepas pelukanku.


“Loh kok adek abang nangis sih, jadi jelek tauk” ledek Rendy sambil mengusap air mataku dengan ibu jarinya.


“Hiks abang gak usah hiks hiks ledekin Lina terus...” ucapku sesenggukan.


“Abang gak kenapa napa kok Lina sayang, tenang ya....abang gak bakal ninggalin Lina sendirian kok” ucap Rendy sambil memelukku kembali.


“Hiks janji ya bang..” ucapku.


“Janji adekku sayang” ucap Rendy lalu mencium pucuk kepalaku.


“Oh iya, tadi abang ketemu sama papa..” ucap Rendy membuatku langsung melepas pelukannya.


“Ngapain abang ketemu sama Ardan” ucapku kesal dan tidak sengaja melihat pipi kanan abangku yang terlihat lebam. “Muka abang kenapa ini??” sambungku sambil memegang pipi Rendy.


“Tadi abang gak sengaja ketemu kok, terus dia ngasih undangan ini...Ahh abang gapapa kok dek” ucap Rendy lalu tersenyum.


Flashback On


“Papa...” ucap Rendy terkejut melihat Ardan.


“Saya bukan papamu!!! Buat apa kamu kesini??” tanya Ardan ketus.


“Maaf pa, eh om. Aku kesini cuma mau ngecek hasil kerja aja om” jawab Rendy.


Tiba tiba Ardan menyodorkan undangan kepada Rendy membuat Rendy mengernyitkan alisnya tanda tidak paham namun Rendy tetap mengambilnya.


“Apa ini??” tanya Rendy.


“Baca sendiri gak usah jadi anak manja!!!” bentak Ardan dengan nada tinggi.


Rendy pun akhirnya membaca semua tulisan itu dengan teliti. Setelah selesai Rendy langsung menatap tajam ke arah Ardan.


“Aku dan adikku tidak akan datang ke acara ini!!!” bantah Rendy.


“MAU TIDAK MAU KAMU DAN ADIKMU YANG SIALAN ITU HARUS DATANG KALAU TIDAK....” Rendy memotong ucapan Ardan.


“KALAU TIDAK APA HAH??? ANDA KAN SUDAH MENGUSIR KAMI LALU APA ARTINYA ANDA MENGUNDANG KAMI DI ACARA INI HAH???” tanya Rendy dengan nada tinggi.


PLAKKK

__ADS_1


“BERANINYA KAU BERBICARA SEPERTI ITU KEPADA ORANG TUA HAH??” bentak Ardan setelah menampar Rendy.


Rendy mengusap sudut bibirnya yang keluar sedikit darah akibat tamparan Ardan yang begitu keras.


“Mana ada orang tua yang tega mengusir anaknya sendiri..” ucap Rendy lalu tersenyum miring.


“KAU DAN ADIKMU ITU MEMANG PANTAS DI USIR!!!” bentak Ardan lagi karena emosinya sudah di ujung ubun ubun.


“LALU APA ANDA PANTAS MEMPERLAKUKAN MAMA KAMI DENGAN KEJAM HAH??” akhirnya emosi Rendy meledak ledak dan menatap Ardan dengan tatapan yang berapi api.


“DIA MEMANG PANTAS MENDAPAT SEMUA ITU!!! ANAK SAMA IBU MEMANG TIDAK ADA BEDANYA!!! TERMASUK LINA ANAK SIALAN ITU!!!” Ardan membentak Rendy dengan nada lebih tinggi membuat Rendy menatap Ardan lebih tajam.


“ANDA JANGAN PERNAH MENGHINA MAMA DAN ADIK SAYA!!! ANDA AKAN MENYESAL SEUMUR HIDUP!!!” Rendy seperti mengibarkan bendera perang terhadap orang di hadapannya.


“KAU TIDAK USAH MEMBELA IBUMU YANG SUDAH MATI ITU!!! MAU TIDAK MAU BESOK LUSA KAU DAN ADIKMU HARUS DATANG DI ACARA INI!!!!” bentak Ardan dan kemudian ia langsung pergi meninggalkan Rendy yang sedang emosi.


Flashback Off


“Yaampun bang...bentar aku ambilin kompresan dulu” ucapku lalu beranjak mengambil kompresan.


Tidak lama kemudian aku kembali sambil membawa kompresan untuk mengobati luka lembam di dekat sudut bibir abangku.


“Sini bang...” ucapku.


Rendy pun mendekatkan wajahnya ke arahku dan dengan telaten aku mengobati luka lembam di wajahnya. Walaupun terlihat Rendy sedikit meringis kesakitan membuatku menahan tawa karena wajah Rendy yang lucu saat menahan sakit. Setelah selesai mengompres Rendy aku langsung menaruhnya di meja dan menatap Rendy dengan lekat membuat Rendy mengernyitkan alisnya tidak paham dengan kelakuanku.


“Ada apa dek??” tanya Rendy seraya mengusap usap pucuk kepalaku.


“Abang yakin besok lusa kita datang ke acara ulang tahun Anna??” tanyaku.


Rendy menghembuskan nafas kasarnya, sebenarnya ia juga tidak mau pergi kesana namun mereka juga masih tetap keluarga Rendy dan Lina. Mau tidak mau mereka harus kesana walaupun rasanya benci jika melihat keluarga itu bahagia tanpa ada Rendy dan Lina yang masih tergolong dalam keluarga itu.


“Iya yakin dek, mereka kan masih keluarga kita” ucap Rendy lalu tersenyum.


“Baiklah bang...” jawabku pasrah walaupun rasanya ingin sekali aku mencabik cabik keluarga itu.


“Yaudah bang aku ke kamar dulu” ucapku lalu di jawab anggukkan oleh Rendy.


Kini aku membersihkan diri di kamar mandi, setelah selesai aku merebahkan badanku di kasur king size milikku karena aku merasa lelah seharian bekerja.


Hai everybody👋


Jangan lupa like, coment, and vote yang membangun yah🙋


Oh iya, jangan lupa rate bintang 5 nya guys biar gw tambah semangat buat ceritanya.

__ADS_1


__ADS_2