
Sesampai dikediaman Tito semuanya pergi beristirahat ditempat masing-masing. Reno menyimpan semua bukti yang didapatkan untuk di pelajari di kerajaan Awan. Reno dan Semua penghuni kediaman Tito malam ini tidur tanpa gangguan sedikitpun. Keesokan paginya Reno heran apa yang dilakukan oleh para dayang karena mereka ada yang menggunakan pakaian berwarna merah ada yang menggunakan pakaian berwarna merah muda serta menyiapkan banyak balon udara. Reno bergegas menuju Ruang makan bersama Rio untuk bertemu dengan Tito. "Hormat yang Mulia," sapa Tito dengan semangat. "Bangunlah, apa yang membuatmu sangat bersemangat hari ini?," tanya Reno. "Yang Mulia nanti malam akan ada tradisi Suku Angin yaitu menyalakan lentera untuk diterbangkan, setiap rakyat dari suku angin akan merayakannya dan menghadiri pestanya dengan menggunakan pakaian khusus dimana pakaian itu dibedakan berdasarkan warna dan artinya.Misalnya, bagi perempuan yang sudah menikah menggunakan pakaian berwarna merah dan warna merah muda bagi perempuan yang belum menikah serta pakaian berwarna biru untuk laki-laki yang belum menikah dan pakaian berwarna kuning untuk laki-laki yang sudah menikah. Pada pesta ini biasanya banyak perempuan dari berbagai kerajaan datang untuk menghadirinya dan banyak juga laki-laki yang datang dari berbagai suku. Jika Raja berkenan, saya telah menyiapkan baju khusus untuk Raja Reno dan semua rombongan yang datang bersama Raja," ucap Tito bercerita dengan semangat. "Baiklah, kelihatannya pestanya menarik, Dimana acaranya diaadakan?," tanya Reno. "Acara puncaknya disini yang Mulia," jawab Tito. "Baiklah kalau begitu saya akan kembali ke istana besok pagi setelah pesta Suku Angin selesai," jawab Reno. "Yang Mulia karena persiapan pestanya masih membutuhkan banyak persedian makanan saya akan kepasar untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan, Apakah Yang Mulia ingin ikut melihat-lihat rakyat dari suku angin ini?," tanya Fatih. "Baiklah, saya dan Rio akan ikut, saya ingin melihat rakyat saya bersuka cita menyiapkan pesta mereka," jawab Reno bersemangat. Reno, Fatih dan Rio bergegas ke pasar dengan kuda dan diiringi oleh pengawal Reno dibelakangnya. Tak butuh waktu lama Reno, Fatih dan Rio serta semua pengawalnya tiba dipasar. Dipasar semua perempuan sibuk berbelanja aksesoris dan makanan ringan, semantara para lelaki sibuk berbelanja atribut serta pakaian yang akan mereka kenakan nanti malam. Semua orang tampak bersemangat ingin menghadiri pesta lentera tradisi suku angin. "Saya penasaran seperti apa pesta yang dinantikan oleh rakyatku", kata Reno. "Nanti malam Yang Mulia akan melihat prosesnya secara lansung, akan banyak perempuan yang menampilkan berbagai macam tarian dari wilayah mereka masing-masing", jawab Fatih atas rasa penasaran Sang Raja. Fatih mengajak Raja Reno untuk melihat-lihat koleksi toko-toko yang menjual benda-benda antik dan berharga untuk di jadikan oleh-oleh ketika kembali ke kerajaan Awan. Satu persatu toko dimasuki oleh Reno, Rio dan Fatih sementara pengawal Reno diminta untuk menunggu mereka diluar toko. Pada saat memasuki Toko Berlian, Reno melihat sebuah kalung, cincin serta gelang yang yang sangat Indah dari depan kasir. Reno lansung menyapa penjualnya, " Tolong ambilkan perhiasan yang terbuat dari permata biru yang ada di kotak biru itu ". "Baik Yang Mulia tunggu sebentar", Ucap pelayan toko itu. "Ini yang Mulia, lihatlah perhiasan ini merupakan perhiasan terbaik dikota ini, terbuat dari permata asli yang hanya didapatkan di kerajaan Angin, harganya pun hanya seribu keping emas," ucap pelayan menerangkan sambil menunjukkan perhiasan yang ingin dibeli Reno untuk adiknya Isabella. "Wah .. Perhiasan ini sangat indah Yang Mulia apalagi jika dikenakan oleh Putri Isabella, Sangat kebetulan sekali jika perhiasan ini sangat berjodoh dengan Putri Isabella karena ulang tahunnya tinggal menghitung hari," ucap Rio. "Kapan Putri Isabella ulang tahun?" tanya Reno pura-pura lupa hari ulang tahun adiknya padahal dia memang tidak tahu. "Lima hari lagi yang Mulia", jawab Rio. " "Baiklah, saya beli perhiasan ini". ucap Reno pada pelayan toko. Reno, Rio dan Fatih kembali berkeliling ke beberapa toko yang terlihat menarik. Tanpa mereka sadari, mereka sudah sangat lama dipasar bahkan sudah hampir sore. Mereka semua bergegas kembali ke kediaman Mentri. Diseluruh wilayah suku angin terlihat berbagai macam kreasi unik yang dipasang di depan rumah setiap rakyat suku angin. Di kediaman mentri sendiri tampak lebih banyak orang yang lalu lalang dan dekorasinya semakin indah. "Selamat datang Yang Mulia, ini adalah pakaian yang hamba siapkan khusus untuk Yang Mulia dan ini untuk panglima, untuk para pengawal sudah saya berikan tadi pagi," ucap Tito. "Terima kasih," ucap Reno dan Rio. Reno dan Rio undur diri menuju kamarnya ada yang ingin dia tanyakan perihal adiknya yang akan ulang tahun. Sesampai di kamar, Reno meminta Rio duduk di samping mejanya. Rio pun duduk dan tak lama mereka berbincang. "Rio, siapakah yang biasanya menyiapkan pesta ulang tahun Putri Isabella?, " tanta Reno. "Ibu Ratu yang Mulia, bukankah undangan nya sudah di sebar satu bulan yang lalu?," tanya Rio mengingat bahwa dia pernah melihat Ibu Ratu membawa banyak surat undangan ditangannya yang bertuliskan Pesta Isabella yang ke delapan belas."Baiklah, mungkin saya lupa, jangan katakan pada siapapun tentang apapun yang kita lakukan di sini selama 3 hari ini," ucap Reno pada Rio. "Baik Yang Mulia," jawab Rio. "Silahkan yang Mulia bersiap untuk pesta malam ini, hamba undur diri," ucap Rio. "Baiklah, kau boleh kembali," ucap Reno. Pesta hampir di mulai, para pengawal sudah bersiap didepan kamar Raja untuk menjaga Raja, Rio pun berjalan menuju kamar Raja, sesampainya dia mengetuk kamar yang di tinggali Raja selama hampir tiga hari itu," Yang Mulia, acara akan segera dimulai, para bangsawan dan mentri-mentri wilayah suku angin rata-rata tidak sabar ingin bertemu dengan yang Mukia," ucap Rio sambil mengetuk pintu kamar Rajanya. Reno membuka pintu, "Wah... tampan sekali Raja Reno," ucap beberapa pengawal dan dayang yang ada di depan kamar Reno. Reno yang memerah mendengar pujian dari pengawal dan dayang yang disana mengatakan," Terima kasih". "Raja kita memang lelaki paling tampan di kerajaan Awan ini", ucap Rio. "Mari Yang Mulia, kita ke Aula semua tamu sudah menunggu", ucap Rio. "Mari," kata Reno sambil berjalan menuju Aula. "Yang Mulia memasuki ruangan" ucap prajurit yang berjaga. Seketika semua rakyat suku angin memberi hormat pada Rajanya. "Bangunlah", ucap Reno sambil berjalan menuju singga sana yang di disiapkan Tito yang hampir mirip dengan Aula persidangan yang ada di istana medusa. Rio dan pengawal lainnya berjalan dibelakang Reno sampai singga sana yang telah disiapkan Tito. Acara pertama pada pesta lentera kali ini adalah Sambutan yang biasanya di berikan oleh Tito tetapi kali ini Tito meminta pada Rajanya untuk memberikan Sambutan. Reno memberi sambutan dengan sangat berwibawa dimana setiap katanya disoraki dengan penuh semangat oleh rakyatnya. Acara kedua yaitu Pelepasan lentera, semua meminta Rajanya sebagai orang pertama yang melepaskan lentera kemudian disusul oleh lentera-lentera rakyat. Setelah mereka melepaskan lentera semuanya kembali ke Aula dan menyaksikan tarian-tarian dari berbagai daerah yang ada disekitar daratan suku angin. Dalam hati Reno bergumam," Andai saja Dewi ada di acara ini saya akan mengajaknya ke istana". Setelah banyak tarian disaksikan tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi, Acarapun selesai. Semua orang kembali ke kediamannya untuk beristirahat. Raja, Rio, Fatih dan semua yang ada dikediaman Tito juga kembali beristirahat ditempat mereka masing-masing.