
Reno bangun lebih lama dari biasanya, setelah mandi dia bersiap menuju ruang tamu. "Yang Mulia memasuki ruang" kata pengawal Raja Reno. "Hormat kami yang Mulia " ucap Tito mewakili semuanya. "Bangulah" jawab Reno sambil tersenyum pada tuan rumah yang dia singgahi. "Mari sarapan Yang Mulia" ucap Tito. "Baiklah, mari", ucap Reno. Setelah sarapan Reno teringat tentang isu bahwa Raja Reno telah menghilang. "Mentri, apakah engkau pernah mendengar tentang isu bahwa saya telah meninggal di daratan suku angin ini? Jika pernah ceritakan semua kejadiannya", tanya Reno pada Tito. Tito menjawab, "Benar baginda kabarnya ada seorang lelaki dari rakyat suku angin yang bernama Fatih melihat baginda terkapar tak berdaya di tepi sungai, Dia membantu baginda berpindah ke bawah pohon dekat tepi sungai agar baginda bisa berbaring katanya.Tetapi ketika dia meminta bantuan dia meninggalkan baginda yang hampir tak sadarkan diri. Dia menyesal karena ketika kembali dia tak melihat tubuh baginda disekitaran pohon itu. Saya ikut mengecek kebenaran tersebut karena lokasinya tak terlalu jauh dari hutan. Fatih mengatakan kepada kami bahwa dia yakin itu baginda karena hanya baginda yang memiliki cincin permata biru di kerajaan Awan ", jawab Tito panjang lebar. "Dimana Fatih tinggal, antarkan saya ke kediamannya", ucap Reno. "Siap yang Mulia",jawab Tito. Selesai sarapan mereka semua berangkat ke kediamannya Fatih. Tak memakan banyak bakti merekapun tiba di kediaman Fatih. "Fatih.. Keluarlah Yang Mulia ingin bertamu" panggil Tito pada lelaki yang bernama Fatih tak lain adalah keponakannya. "Baik, paman", jawab Fatih dari dalam rumah. "Hormat Yang Mulia," kata Fatih ketika jaraknya sudah dekat dengan Reno. "Bangunlah", ucap Reno. "Hari ini ada satu pertanyaan untukmu", ucap Reno. "Apa itu yang Mulia", tanya Fatih. "Apakah lelaki yang engkau lihat hampir mati ditepi sungai itu mirip denganku?," tanya Reno penasaran. "Iya, sangat mirip dengan baginda, Hanya saja waktu itu ia terkena hampir sepuluh tusukan pada tubuhnya dan ketika saya kembali bahkan tubuhnya sudah tidak ada di tepi sungai ataupun dibawah pohon tempat saya meninggalkannya", jawab Fatih panjang sambil mengingat peristiwa seminggu yang lalu. "Baiklah, kalau begitu antar kami ketemu tempat terakhir kali kau melihat lelaki yang mirip denganku," ucap Reno sambil berharap menemukan Raja Awan yang sesungguhnya supaya penyamarannya cepat berakhir. Fatih dan Reno serta pengawalnya dan Tito pergi ke tepi sungai tempat Fatih meninggalkan Raja Reno. Sesampainya di tepi sungai Reno berkata," Semuanya dengarkan ! Cari lelaki yang mirip denganku disekitaran tempat ini bila perlu sampai desa-desa terdekat, laporkan hasil pemeriksaan kalian setiap jam, Saya ingin mendengar kabar keberadaannya secepatnya", ucap Reno dengan nada tegas. "Baik, Yang Mulia, Kami undur diri," ucap para pengawalnya. Reno memerintahkan Rio, Fatih dan Tito sebagai ketua kelompok pencarian lelaki yang mirip dirinya dan menyebar ke sekitar sungai, desa terdekat dan hutan terdekat. Reno akan menunggu hasil penyelidikan mereka di kolam ajaib tempat Reno bertemu Dewi. Reno berharap ia juga dapat bertemu kembali dengan Dewi. Ketika proses pencarian Rio di desa-desa terdekat dia tampak tak asing dengan sebuah toko yang biasa dia datangi dengan Raja Reno sewaktu masih berumur Dua puluh dua tahun. Dia masuk dan seorang pelayan datang menghampiri, "Selamat siang tuan, silahkan mau pesan apa". "Saya pesan bebek bakar dua puluh bungkus " kata Rio karena dia berencana makan bersama Raja dan seluruh pengawalnya di kolam ajaib tempat Reno menunggu. "Ow iya.. Apa minggu lalu kau melihat Raja Awan kemari?," tanya Rio. "Ada, minggu lalu Raja Reno memesan makanan seperti biasa ketika dia bersama tuan", jawab pelayan sambil mengingat kedatangan Raja Reno yang tanpa pengawal, padahal biasanya Raja Reno selalu di kawal oleh panglima dan pengawal kepercayaannya. Pelayanpun pergi mengambil hidangan yang dipesan dan membungkusnya dengan rapi. "Ini tuan pesanannya", kata pelayan sambil menyodorkan pesanan Rio. Rio dan pengawal yang bersamanya bergegas ke kolam ajaib tempat Reno menunggu untuk melaporkan hasil penyelidikannya. Pencarian Fatih dan pengawal yang bersamanya di tepi sungai juga tidak sia-sia, meteka menemukan sebuah baju yang berumuran darah dimana baju itu bermotif burung bangau."Tuan Fatih kami menemukan sebuah baju yang bermotif bangau di sisi sungai", kata salah satu pengawal pada Fatih. Fatih terkejut dan berkata," Ini baju yang digunakan lelaki yang mirip dengan Raja Reno, Ayok kita segera ke tempat Raja Reno untuk melapor". "Baik Tuan", kata semua pengawal mengiyakan ajakan Fatih. Setelah menemukan bukti itu Fatih dan para pengawalnya segera menuju kolam ajaib tempat Raja Reno berada. Disisi lain Tito dan para pengawal yang bersamanya tidak menemukan apapun selain sebuah surat yang bertuliskan Untuk Reno dan Dari Raja Reno. "Apa maksud surat ini?", tanya Tito keheranan. Tak ada yang mengerti maksud surat itu dan tak ada yang berani membukanya. "Baiklah, mari kita melapor ke yang Mulia," ucap Tito dan berjalan menuju kolam ajaib diikuti oleh pengawal yang bersamanya. Di Kolam Ajaib sendiri selama lebih dari tiga puluh menit Reno menatap kolam ajaib berharap melihat Dewi keluar dari kolam ajaib seperti kemarin ketika mereka bertemu, tapi tak ada tanda-tanda seseorang ada di sekitar kolam ajaib kecuali dirinya dan para pengawal yang bersamanya. Setelah cukup lama menunggu di kolam ajaib terdengar langkah suara kaki yang mendekat dan semua pengawal yang bersama Reno telah bersiap untuk berjaga-jaga jika kemungkinan mereka adalah pemberontak. Tak lama setelah itu terdengar suara Rio," Hormat Yang Mulia", ucapnya pada Reno ketika sudah berada dekat dengan Reno. "Bangulah, katakan apa yang kalian dapatkan", ucap Reno tak sabar ingin mendengar laporan Rio. "Yang Mulia, pelayan toko bebek bakar di desa mengatakan bahwa minggu lalu yang Mulia datang dan makan sendirian ditoko itu dan memesan makanan seperti biasa ketika kita sering makan ditoko itu dulu", ucap Reno memberi tahukan informasi yang ia dapatkan. "Baiklah kerja bagus, Istirahathatlah dulu", ucap Reno. "Terima kasih yang mulia, ini ada bebek bakar kesukaan Yang Mulia masih hangat silahkan dinikmati", ucap retno memberikan bebek bakar yang dia belinya. "Terima kasih Rio, mari kita tunggu semuanya kembali dulu baru makan bersama," kata Reno pada Rio. "Ide yang bagus Yang Mulia" ucap Rio. Tak lama kemudian, terdengar suara yang sangat familiar ternyata dia adalah Tito mentri perdagangan kerajaan Awan. "Hormat Yang Mulia, Hamba ingin memberikan surat ini kepada yang Mulia, Hamba tidak berani membukanya," ucap Tito yang memberikan sebuah surat yang bertuliskan untuk Reno dari Raja Reno. "Baiklah saya terima surat ini, istirahatlah dulu kita tunggu Fatih baru kita makan terus kembali ke kediaman mentri," kata Reno. "Baik yang mulia ucap Tito. "Hormat yang Mulia", kata Fatih. "Bangunlah, apa yang engkau temukan di tepi sungai?" tanya Reno. "Ini yang Mulia", kata Fatih sambil memberikan sebuah baju bermotif bangau yang berumuran darah. "Baju siapa ini?," tanya Reno. "Ini adalah baju bermotif bangau yang dipakai lelaki yang mirip dengan Raja Reno minggu lalu ketika berumuran darah. "Benarkah?," tanya Reno. Fatih mengiyakan pertanyaan Reno dengan Anggukan kepala dengan sedih. "Baiklah, kalian sudah bekerja keras hingga sore ini, mari kita nikmati bebek bakar yang di belikan oleh Rio di toko kesukaan kami," ucap Reno. "Baiklah Yang Mulia, Selamat makan ucap semuanya bahagia karena kerja mereka membuahkan hasil. Setelah makan semuanya kembali ke kediaman Tito.