Cincin Ajaib Raja

Cincin Ajaib Raja
Pemberontakan Suku Angin


__ADS_3

Pagi harinya Reno bangun dan menuju pemandian Raja disamping kamarnya, dia melihat para dayang telah datang mempersiapkan kolam mawar tempatnya mandi, "Keluarlah" ucap Reno kepada seluruh dayangnya. "Baik yang Mulia," kata Reno mulai mandi dan setelah selesai dia memerintahkan pengawal menangis Rio dan menyuruhnya menunggu di ruang makan untuk makan bersamanya. Reno bersiap dikamarnya dan melihat kearah cermin sambil berkata, "Apakah Aku Raja?". Pengawal yang di perintahkan itupun kembali, "Hormat yang mulia, Panglima sudah menunggu di ruang makan", ucap pengawal. "Baiklah, kalian semua ikuti saya", ucap Reno. Reno bergegas menuju ruang makan di sertai para pengawal dibelakangnya. "Yang Mulia memasuki ruangan" ucap prajurit yang bertugas. Rio dan semua prajurit serta semua dayang memberi hormat pada Raja. "Bangunlah, Rio kemari, duduk disini" ucap Reno. "Baiklah yang mulia," ucap Rio sambil berdiri dan duduk disamping Rajanya. "Mari makan", ucap Reno. Rio tampak ragu-ragu dengan perkataan Rajanya. Reno yang menyadari keragu-raguan panglimanya ini. "Anggap saja saya sahabatmu," ucap Reno pada Rio. Rio tersenyum dan mengucapkan," Terima kasih yang mulia". Setelah beberapa lama Reza tiba di istana dan lansung menuju ruang makan karena pengawal berkata bahwa raja berada di ruang makan bersama Rio. Setibanya diruang makan iya hormat pada raja dan berkata," Hormat yang mulia, hamba kembali dan ingin melapor masalah pemberontakan yang terjadi di suku Angin". "Baiklah, sebelum itu bergabunglah bersama kami untuk sarapan terlebih dahulu, apalagi kamu baru pulang dari perjalanan yang lumayan jauh", ucap Reno. "Terima kasih yang mulia", ucap Reza keheranan. "Kalian jangan heran, saya hanya ingin orang-orang kepercayaan saya bisa menjadi sahabat saya yang bisa saya percaya untuk menjaga keluarga saya kelak jika saya tidak berada di sisi mereka", ucap Reno bijak. Selesai makan, Reza melaporkan perihal pemberontakan suku Angin yang di pelopori oleh bangsawan yang berasal dari Kerajaan Awan yang bernama Trisno dengan memberi uang setiap rakyat yang akan memberontak bersamanya sebesar seratus keping emas untuk setiap orang, dan sudah ditindak lanjuti dengan memenjarakan mereka semua termasuk Trisno, kabarnya dia sangat suka dengan putri Isabella tetapi dia tidak diperbolehkan datang ke kerajaan oleh Ibunda Ratu karena dia bukan laki-laki yang baik. Dia terkenal sangat sombong dan selalu menindas rakyat jelata dan berangan -angan ingin menjadi Raja. Setelah Reza melapor Reno bertanya, "Berapa banyak rakyat yang dia kumpulkan untuk memberontak?". "Sekitar lima ratus orang yang mulia", jawab Reza. "Syukurlah jika masalah ini sudah di selesaikan.. Hari ini kita berangkat ke daratan Suku Angin, Reza kau istirahatlah dan berjaga di istana sementara saya pergi", ucap Reno. "Baik yang mulia" kata Reza. Reno berdiri di ikuti oleh Rio dan sepuluh pengawal terbaik kerajaan Awan menuju kuda yang akan mereka gunakan untuk pergi ke daratan Suku Angin. Diperjalanan menuju suku Angin mereka di cegat oleh duapuluh orang bertopeng. "Lindungi Yang Mulia", ucap Rio. Dalam waktu sepuluh menit dari dua puluh orang bertopeng tadi lima belas meninggal dan lima orang kabur. "Sangat Mengerikan,." ucap Reno. "Ampun yang mulia, kemungkinan di wilayah ini pemberontaknya belum dihabisi, mungkin lebih baik kira menyamar ke Daratan Suku Angin," ucap Rio. "Baikkah, ganti pakaian kita dengan pakaian yang sudah disiapkan sebelumnya", ucap Reno pada semua pengawalnya. "Baik yang mulia", ucap pengawalnya serentak. Setelah berganti pakaian dan menutupi wajah mereka Merekapun bergegas menuju daratan Suku Angin. Ketika tiba di daratan suku Angin Reno teringat tentang kolam Ajaib yang berada di wilayah suku angin. Reno turun dari kuda dan mendekati seorang lelaki tua yang membawa kayu bakar "Maaf kisanat, dimanakah tempat kolam ajaib?," tanya Reno. "Tempatnya ada di tengah hutan yang ada di depan kisanat." jawab lelaki tua tadi. "Terima kasih, ini buat bapak", ucap Reno sambil memberikan sepuluh keping emas pada lelaki tua tadi. Lelaki tua itupun tersenyum gembira menerima keping emas tersebut.


__ADS_2