Cinta Ainun

Cinta Ainun
Mengelus dada


__ADS_3

Seri : 1


Mira, itulah sahabatku. Sudah sejak tiga bulan terakhir wanita yang mengontrak tepat bersebelahan denganku tak kunjung terlihat.


Padahal sebelum kepindahannya ke perumahan griya utami, kami adalah sahabat yang selalu bersama suka dan duka.


Ibarat kata tuh yah, dia makan nasi dengan ikan asin, akupun makan nasi dengan ikan asin, dia makan di restaurant aku makan di warung kopi penyedia menu mie instan.


Hahahaha.


Keuanganku memang berbeda dengannya. Jelas saja, itu karena suamiku yang hanya seorang buruh pikul.


Yaa! suamiku seorang buruh pikul kayu. Setiap harinya bekerja mengangkut kayu yang di tebang dan membopongnya dengan bahu di bawah terik matahari dan hiruknya hutan belantara.


Tentu saja keuangan kami tidak sama.


Aku selalu iri dengannya. Suaminya seorang HRD di perusahaan Tambang ternama. Setiap kali dia membelanjakan uang hasil gaji suaminya mulai dari tas, baju, sepatu, hingga peralatan make up yang selalu bertambah setiap bulan meski sudah menumpuk, tak lantas membuatnya puas. Tapi aku? Aku tak sama dengannya.


Dia selalu memamerkan apa pun yang ia belanjakan di akun sosmednya, dan sedihnya lagi, dia selalu nge-tag namaku setiap kali memposting.


Hikzz .. aku hanya bisa meringis dan menenggak saliva saat menyaksikan pemandangan yang tak pernah kunikmati seumur hidup.


Bahkan terkadang gambarnya tak terlihat jelas karena ponsel 2G-ku yang sudah sangat jadul. Ditambah dengan paket internet yang hanya dapat kubeli perhari. Semakin lengkap lah kepedihanku.


****


Tiittt! tiiit! tiii!


Sebuah klakson mobil mengagetkanku. "Siapa gerangan orang yang bertamu di tengah hari bolong begini? Rasa-rasanya, aku gak pernah berurusan dengan orang berduit," gumam ku dalam hati saat melihat sebuah mobil yang tampak meng-klakson ke arah rumahku.


"Ainuuun" teriak seseorang memanggilku dari dalam kaca mobil.


Aku terkejut dan terperanjat 'Oohhh ternyata dia adalah sahabatku Mira!' batinku bergumam.

__ADS_1


"Waaah! mobil baru ya, Mir ?"tanyaku sumeringah sambil berjalan ke arahnya.


"Iyaa niihh! Biasa! Suami paling bisa nyenengin istri!" tukasnya "Gimana menurutmu, bagus gak?." ungkapnya dengan sedikit memainkan alis, senyumnya begitu lebar saat memamerkannya padaku.


Aku membatin. "Apa bangganya dia pamerkan padaku? Akukan orang miskin. Tak mungkin aku membalas pamer padanya!"


"Hmmm! Bagus bangeet! Boleh dong, sekali-sekali kamu bawa aku jalan"


"Ohh itu pasti dong Ainun! biar kamu juga bisa merasakan naik mobil mewah, ya khaan!" Kembali dia lontarkan hinaan kepadaku.


"Glek." aku menelan saliva. Ingin rasanya aku berteriak dan menjambaknya.


Kulemparkan senyuman palsu kepadanya.


"Beneran? Waaah! kamu memang teman terbaikku, Ohh iya yuk masuk panas disini."


"Disini sama di dalam sama aja kali, sama-sama panas." hahaha tawanya terbahak seolah itu adalah candaan yang lucu.


Ohh tuhan, itu mulut atau apa sih?


****


Dulu, persahabatanku dengannya benar benar terasa.


Kami sering bermain bersama ditepi sungai. Bercerita tentang pria-pria di sekolah yang kami idolakan, tapi kami tak pernah memiliki pacar seperti gadis-gadis pada umumnya, hanya hoby menggosipi teman-teman yang lainnya.


Yang setiap hari berlenggak-lenggok setiap bertemu dengan pria-pria idaman kami.


Cuiihhhh! mereka memang cantik, tapi polesan make up di wajah mereka menambah kesan norak dimata aku dan Mira


Setelah dewasa, Mira terlebih dulu dipersunting oleh seorang pria lulusan Sarjana.


Awalnya mereka hidup sederhana dengan mengontrak. Namun, setelah mendapat kabar bahwa suaminya diterima di salah satu perusahaan Tambang ternama, hidupnya berubah.

__ADS_1


Dan perubahan itu pun merubah gaya hidup Mira. Bahkan, sikapnya perlahan mulai berubah.


****


"Ada apa Mir, tumben mampirr? sudah tiga bulan kamu gak ada muncul, kirain udah lupa sama aku?" ucapku sedikit ketus.


"Gak gitu Ainuun! Maklum lah, aku sekarang agak sibuk,apalagi setelah kepindahanku kemarin, terlalu banyak perabotan baru yang harus aku beli! Yang lamakan udah jelek jadi aku ganti semua," ucapnya dengan nada sombong.


"Oohh ... enakk banget yaa hidupmu."


Kembali aku memujinya, karena bagiku, kehidupan nikmatnya memang pantas kupuji.


"Gak juga ahh! Ohh iyaa aku mau menawarkan sesuatu yang baik sama kamu, ini benar-benar menguntungkan kamu loh!"


"Serius? Apaan??" tanyaku tergesa.


"Gini yaa ... kamu kan agak dekil, tapi kalo dipoles, plus dipakein baju yg mewah, kurasa kamu cantik."


"Aah udahlah Miir, jangan bertele-tele, kamu mau nawarin apa?" Aku sangat bersemangat dengan apa yang ingin disampaikan Mira barusan. Tak sabar mendengar apa yang akan dia tawarkan.


Mira mulai menjelaskan perihal tawaran yang Ia berikan padaki.


Ia mengatakan bahwa teman suaminya sedang mencari wanita single, dengan perawakan tubuh yang  ideal. Kurus dan bertubuh mulus, untuk dikontrak sebagai istri selama enam bulan.


Jika dalam masa kontrak, semua berjalan dengan mulus dan tanpa memutus kontrak dengan sepihak, maka akan ada imbalan besar yang diberikan.


 


"Suami kamukan miskin, sudah saatnya kamu bangkit, tinggalkan saja dia, kapan lagi kamu dapat kesempatan begini??"


Aku terkejut dengan apa yang ucapkan temanku ini. Yang dia katakan sudah kelewat batas.


"Kamu sehat Mir, nawarin aku?" tanyaku dengan nada kesal.

__ADS_1


"Yaa iyalaaah! kamu pikirkan aja dulu baik-baik!" tukasnya. Membuatku membatin. 'Yang benar aja? Tawaran untuk jadi setan begini, nyuruh aku berpikir! takkan aku sudi!'


Kutatap wajah songongnya yang meletakkan kedua betis di atas meja saat duduk di kursi rotan milikku.


__ADS_2