
Aku berpamitan dengan suami. Kuraih pucuk tangannya yang besar dan kasar. Kukecup pelan. Ia membalas dengan mengecup kening ini. Ingin rasanya kutumpahkan bendungan air mata yang sudah hampir meluap ini.
Kulambaikan tangan padanya, dan memandang wajah sendu itu dari kejauhan.
Perlahan pandangan itu pun menghilang seiring dengan melajunya motor tua yang kami tunggangi.
Waktu masih menunjukkan pukul tiga belas lewat dua puluh tengah hari, awan terlihat mendung tak secerah biasanya.
Motor tua yang kami naiki berhenti di tepi jalan, tepat di seberang jalan terparkir sebuah mobil putih milik Mira.
"Ayo Nun, kamu duluan aja masuk ke mobil, nanti aku menyusul." Mira mengarahkanku untuk segera masuk ke dalam mobilnya.
Aku pun hanya menurut, mengikuti arahan darinya.
Dari kejauhan, kulihat Mira sedang berbincang dengan pemilik motor tua yang kami naiki tadi, tak lama kemudian ia menyodorkan selembar uang kertas berwarna merah. Sepertinya ia sedang menjalankan bisnis, mungkin itu uang yang ia beri untuk penyewaan motor, atau uang karena telah menjagakan mobilnya. Entah lah, sebenarnya aku sangat muak dengannya. Aku melakukan semua ini karena tak sanggup membayar hutang yang sudah menumpuk pada si Binal.
Perjalanan hari ini terasa melelahkan, hujan mulai turun perlahan membasahi dedaunan , sepanjang perjalanan kami membisu, aku enggan berbincang dengannya, muak melihat wajahnya yang lebih mirip iblis berkepala manusia.
Mobil yang kami naiki berhenti tetap di depan tempat perawatan kecantikan, entah apalah namanya, aku belum pernah ketempat itu sebelumnya.
Mira terlihat menikmati semua perawatan dan pelayanan di tempat ini, tempat ini memang seperti syurga bagi wanita, tapi tidak bagiku.
Beberapa pelayan pun mulai melakukan perawatan padaku, ahh aku hanya berusaha untuk tidur sebentar.
"Ainun bangun, sudah selesai." Suara wanita itu mengejutkanku.
"Mana baju baju yang kemarin aku berikan padamu, jangan bilang kau tidak membawanya?"
Astaga, aku baru ingat pesan Mira beberapa hari lalu, bukankah ia memintaku mengenakan pakaian terbuka itu. Tapi aku sudah menjualnya di pasar loak.
Sambil tersenyum aku membalasnya.
"Aku menjualnya! Aku gunakan untuk bayar kontrak!" sahutku mantap.
"Apaa?!! Terus sekarang kamu mau pakai apa?" Mira terlihat marah padaku.
"Cih!" Aku berdecih sembari melempar pandangan dari hadapannya.
__ADS_1
"Lalu apa yang kamu bawa dalam tasmu??" tukas Mira sedetik kemudian menarik tasku dan langsung membuka resletnya.
Dan ....
Betapa terkejutnya ia, semua isinya adalah baju lamaku. Matanya tampak menyalak menatapku.
Namun, bukan hanya Mira yang emoai. Aku yang merasa teraniaya pun dibuat emosi dengan sikap gegabhanya.
"Apa-apaan kamu Mir, apa hakmu menyentuh barangku!" hardikku padanya.
Wajah Mira terlihat merah padam saat menemukan baju lamaku terpampang di dalam tas.
"Apa kamu sudah gila, Nun!" ungkapnya dengan emosi yang membuncah.
"Gila?? Haha, tentu saja enggak! justru kamu yang gila!"
"Jangan sampai aku main kasar padamu, yah?"
"Oh yaa? jadi kamu mau main kasar?? ya udah, kubatalin aja kontrak itu, biar kita sama-sama menetap di penjara!"
Seketika wajahnya memerah. Wanita itu sangat emosi! Mungkin juga karena dia telah kehabisan kata-kata untuk melawanku.
'Apakah yang sedang dipikirkan wanita binal ini?' rutukku dalam hati.
Mira mengangkat wajahnya. Ekspresi datar terpancar dari wajah binalnya.
"Oke, jadi kamu gak mau pake baju yang aku belikan kemarin?" Ia mulai bertanya padaku. Entah apa tujuannya, aku tak bisa menebak.
"Ya, aku gak mau!" sahutku.
"Oke terserah! Kita lihat aja nanti, siapa yang akan malu? Kamu? Atau aku?" tukasnya yang kemudian beranjak menuju ruang kasir.
Kulihat ia mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dan menyerahkannya pada si kasir. Kemudian, mengangkat barang-barang yang sebelumnya ia bawa dari bagasi mobil.
Kembali ia mendatangiku.
"Buruan! Sekarang juga kita mampir ke butik sebentar!"
__ADS_1
"Untuk apa?"
"Udah! Gak usah banyak tanya! Pokoknya kamu ikut aja!"
Kami akhirnya kembali berangkat. Jalanan mulai terlihat padat oleh kendaraan roda dua dan empat. Sesekali kami terjebak macet.
Setiap kami terhenti, selalu saja kulihat si binal yang duduk bersebelahan denganku ini menggerutu. 'Gak sabaran betul, sih!' rutukku dalam hati.
Hari sudah mulai sore. Terik matahari tak lagi berada di pucuk kepala saat kami tiba di sebuah butik yang tampak elegan meski hanya dari luar saja.
Sedetik aku terpana.
"Kenapa? Kaget yaa?" tanya Mira dengan nada sedikit mengejek.
Mendadak wajah semringahku berubah kecut. 'Dasar sombong!' batinku menggerutu.
Kami akhirnya masuk. Kulihat Mira yang langsung memilih-milih beberapa dress yang terpajang. Satu, dua bahkan lebih dari lima sudah melekat di tangan.
"Banyak banget kamu belanjanya?" tanyaku.
"Sudahlah, gak usah banyak komentar! Lagian, mau aku belanja sedikit kek, banyak kek, aku gak pake uangmu!"
Lagi-lagi, Mira menghinaku. Tapi ucapannya ada benarnya. Aku memang tak punya uang. sehingga tak berhak ikut campur urusannya.
Sementara aku, aku hanya duduk di sebuah kursi panjang. Lelah rasanya menunggu.
"Berapa lama lagi kamu akan memilih?" tanyaku dengan nada gelisah.
"Ini udah selesai, kok. Tunggu sebentar, aku mau bayar!" tukasnya.
Aku tak menyahut. Kubiarkan dia menyelesaikan urusannya.
Beberapa saat kemudian ia selesai, dan langsung menghampiriku.
"Ini!" Ia menyerahkan satu buah tas belanjaan padaku!"
"Apa ini?" tanyaku pura-pura tak tahu.
__ADS_1
"Ya baju lah!" tukasnya "Pake itu besok!" ucapnya memerintahku, seakan ia bosku.
Aku pasrah! Lelah dengan semua perlakuannya. Akhirnya, tanpa banyak bicara, kuraih benda itu. Dan mengikuti langkahnya menuju mobil.