
Aku terkejut. Kulihat seorang wanita tengah duduk di atas kursi, wanita yang tengah menemani suamiku.
"Ohh suamiku malangnya nasibmu!" gumamku.
Malik yang kini di hadapanku sedang terbaring lemah, begitu banyak benda asing yang menempel pada tubuhnya
Selang oksigen untuk bantuan pernapasan menempel di antara mulut dan hidungnya, beberapa bagian tubuh dipasang perban, tangan yang dipasang selang infus, dan satu buah monitor yang terpasang untuk memastikan jantungnya masih berdetak.
Aku langsung mendekat dan ingin segera memeluknya.
"Tunggu sebentar! Anda siapa? Apa anda keluarga pasien?" tanya wanita itu yang ternyata sedari tadi memperhatikanku.
"Iyaa aku keluarga pasien," sahutku dengan nada lemas.
"Ooh .. saya orang yang mengantar pasien ini ke Rumah Sakit, dan saya juga yang membiayai semua administrasinya!" tukasnya.
"Terima kasih!" sahutku.
"Tapi, ke mana saja anda sedari tadi?"
Aku terdiam mendengar pertanyaannya. Mulutku terkunci, tak kujawab pertanyaan itu.
__ADS_1
"Apa anda tahu, beliau hampir saja meregang nyawanya karena kehabisan banyak darah saat kecelakaan itu terjadi! Jika terlambat sedetik saja, mungkin sekarang anda sudah tak bisaenjumpai keluarga anda?" ungkap wanita itu kesal.
"Maafkan saya? Dan terima kasih karena sudah menolong pasien, saya akan mengganti semua biaya yang sudah anda keluarkan, dan juga imbalan karena telah menolongnya."
Wanita itu diam untuk beberapa saat. Sejenak kemudian ia mengeluarkan kertas lembar struk biaya pengobatan Malik.
"ini!" Ia menyodorkan struk itu, memberikannya padaku.
"Anda cukup mengganti uang adminnya saja, saya tidak menerima imbalan." Nadanya terdengar dingin.
"Dan ini kartu nama saya." Kembali ia menyerahkan secercak kertas berukuran kecil. Aku menyambutnya dengan baik.
"Ohh iyaa" kembali wanita itu berbicara.
Aku menatapnya nanar. Namun, tak ambil pusing dengan ucapannya, yang terpenting sekarang Mas Malik sudah kutemukan dan beruntung Malik masih selamat.
Aku melihat struk ditanganku, terhitung total biaya Rp35.430.000.
Tak masalah bagiku, selama masih terikat kontrak, aku masih memiliki kartu kredit yang dibuat Raka atas namaku, dengan begitu aku masih sanggup menggantinya.
Lalu kemudian aku memperhatikan kartu nama yang tadi Ia berikan.
__ADS_1
"Seorang dokter!" gumamku
"Ohh jadi dia seorang dokter, baiklah akan segera aku melunasinya," gumamku yang kemudian menyelipkan kedua benda itu ke dalam tas.
Segera aku menarik kursi itu lebih dekat ke arah Malik, tumpahlah sudah air mata yang sedari tadi kutahan.
Aku memegang tangan Mas Malik dengan erat. Menatap tubuhnya yang kini terbaring koma.
"Maass, maafkan aku."
Aku menangis sejadi-jadinya di atas dada Mas Malik. Kudekap tubuhnya yang terbujur dengan mulut yang tertutup rapat. Berharap ia membuka mata dan melihatku yang kini tengah menangis.
"Maafkan aku Mas, ini semua salahku, andai aku tidak membohongimu, ini semua tak akan terjadi padamu!" ungkapku tak luput mengelus pipinya yang semakin tirus.
Kupandangi wajah lusuh itu, sudah terlalu lama aku meninggalkannya hingga Mas Malik benar-benar lusuh tak terawat.
Aku benar-benar menyesal telah meninggalkan suami yang akhlaknya begitu sempurna.
Kukepal tangan, lalu sesekali kubenturkan ke kepala ini. "Dasar bod*h! Ainun, kau bod*h!" ungkapku menghakimi diri ini.
Tangisanku pun semakin pecah.
__ADS_1
Ruang yang hening dan dingin kini menjadi saksi dari kesedihanku.