Cinta Ainun

Cinta Ainun
Hidayah


__ADS_3

Seri : 7


Aku membuka mataku dan menemukan diriku tengah berada dikamar Kakakku Ridwan, aku ingin bangun tapi seluruh badanku terasa remuk, sebagian tubuhku lebam akibat kejadian yang menimpaku tadi malam, aku masih trauma mengingat kejadian itu.


"Ainun kamu sudah bangun?." Suara itu datang dari arah pintu kamar. Itu adalah kakak iparku Aisyah.


"Apa yang terjadi padaku kak?," tanya ku padanya.


"Semalam kamu pingsan setelah kak Ridwan membukakanmu pintu," ucap Aisyah.


"Memangnya apa yang terjadi padamu Ainun, mengapa kamu datang dengan telanjang baju dan hanya berlapis selimut?, dan ini juga selimut kakak mengapa ada padamu?." Pertanyaan Aisyah cukup panjang, ia juga terlihat sedikit bingung.


"Ohh iyaa kak Ridwan, aku baru teringat bukankah kak Ridwan yang menjemputku tadi malam," gumamku.


"Kak Aisyah, tadi malam kak Ridwan yang menjemputku kan?." Aku balas bertanya padanya.


"Apa maksudmu dengan menjemputmu Ainun?, Kak Ridwan tidak kemana-mana, dia semalaman ada disini bersama kami menonton tv. Kemarin bosnya menyuruhnya untuk libur sehari dan pak Joko yang menggantikan tugasnya mengantarkan barang barang."


"Tapiii...?." Seketika aku tersadar.


"Allahhu Akbarr, Allahhu Akbar .. Laailaahaa illallah.."


Aku langsung berdzikir, menyadari bahwa yang menjemputku tadi malam memang bukanlah kak Ridwan, jika kuingat-ingat lagi, kak Ridwan bukanlah orang yang pandai berkelahi, sedangkan yang tadi malam sungguh pandai melumpuhkan musuh hanya dalam waktu sekejap mata, bahkan ada yang sampai berlari kocar kacir, padahal tubuh mereka jauh lebih kekar, dan jumlah mereka enam kali lipat lebih kuat dari kakakku.


Aku menangis sejadi-jadinya, maha besar Allah dengan segala kuasanya, betapa Dia masih sayang padaku, Dia masih menolongku dengan mengirimkan malaikatnya padaku, padahal aku telah melupakannya, dan telah berbuat durhaka kepada suamiku. Allah masih memberiku kesempatan untuk kembali padanya.


Air mataku mengalir tanpa henti bagaikan sungai yang tak pernah surut.


"Aiinuun ada apa?," tanya Aisyah bingung.


Aku memandangnya dengan mata berkaca-kaca, dan langsung memeluk erat tubuh sucinya, Ia semakin bingung dengan tingkahku.


Akupun mulai menceritakan pada Aisyah apa yang telah kualami semalam.


****


Aku mengambil air wudhu dan mulai membasahi wajah, tangan, dan kakiku, lalu menengadahkan tanganku untuk berdoa, ini adalah kali pertama aku kembali melaksanakan solat setelah berbulan-bulan tersesat dalam keserakahan yang kubuat.


"Tok tok tok ..."


"Assalamu alaikum!" ...


"waalaikum," salam sahut kami bersamaan.


Aku berdiri membukakan pintu mewakili kakakku Ridwan dan Aisyah.


Kali ini aku dikejutkan lagi dengan sosok wanita yang tak asing datang kerumah kakakku Ridwan.


"Ainuun ... akhirnya aku menemukanmu, aku mencarimu kemana mana!! ... "


Mira datang dengan wajah pucat dan mata yang merah membengkak seperti habis menangis satu malam penuh, segera ia memelukku. Namun, Ridwan yang melihat Mira merangkulku langsung melepaskannya dan menyeretnya keluar hingga tersungkur. Hampir saja ia menghajar wanita biadab itu, kalau bukan karena aku dan Aisyah yang berusaha menahannya, mungkin Mira sudah babak belur.


"Berani sekali kamu menginjakkan kaki dirumahku ini," hardik kak Ridwan yang masih diselimuti emosi, sebab mengingat apa yang aku ceritakan padanya tentang sesuatu yang telah Mira lakukan terhadapku malam pilu itu. Mira yang dianggapnya wanita biadab itu sudah hampir membunuh adiknya sendiri (Ainun).


"Maafkan aku, kumohon maafkanlah aku, aku menyesal," ucap Mira sambil menangis sesenggukan.


Aku merasa iba melihat Mira menangis sesenggukkan, aku tak tega melihatnya bersungkur seperti itu, terlihat jelas diwajahnya penuh rasa penyesalan.


"Maaf katamu!?, Setelah apa yang kamu perbuat pada adikku, sekarang dengan mudahnya kamu bilang maaf ?." Ridwan masih sangat emosi, ia tak mampu mengendalikan dirinya.


"Kak .. biarkan aku bicara padanya sebentar," tuturku pada Ridwan.


"Tapi Ainun, dia bisa saja menyakitimu!." Raut wajah kak Ridwan nampak jelas menunjukkan betapa ia cemas padaku.


"Tidak apa-apa kak, kali ini aku percaya padanya." Kembali aku bicara.


"Baiklah tapi sebentar saja," ucapnya padaku.


"Setelah itu tinggalkan tempat ini, aku tak sudi melihatmu lebih lama," tegasnya pada Mira.


"Ada apa Mir?,"tanyaku dengan nada dingin.


"Aiinun aku menyesal, aku mohon agar kamu mau memaafkan semua kesalahanku," ucapnya masih sesenggukan.

__ADS_1


"Ainun, semua teman priaku yang semalam menyakitimu, sekarang sudah tiada, mereka semua mati kecelakaan, sesaat setelah kamu pergi meninggalkan kami. Mobil yang kami tumpangi menabrak truk besar, dan membuat mobil kami tergulung ke jurang, hanya aku yang masih selamat. Aku hanya mendapat sedikit luka memar," ucapnya sembari menunjukkan beberapa luka memar yang terdapat dibagian tubuhnya.


Semakin yakinlah aku bahwa yang menolongku tadi malam adalah malaikat utusan Allah, mungkin itulah kenapa perjalananku yang seharusnya jauh menjadi dekat.


"Ainun, tolong aku, apa yang harus kulakukan sekarang, aku benar-benar ketakutan."


"Kembalilah kejalan Allah, tinggalkan semua hal buruk yang kamu kerjakan selama ini, taubatlah!." Ainun mengucapkannya lirih.


Ia sadar betul bahwa dirinya pun sama masih sama kotornya dengan Mira.


Setelah dirasa cukup perbincangan mereka, dan Mira berkali-kali mengucap terima kasih kepada Ainun karena telah memaafkannya, kini ia pergi meninggalkan rumah kediaman kakakku Ridwan.


****


Flashback


[dua hari sebelum insiden kecelakaan yang dialami Malik ]


Hari itu Malik telah sampai dijakarta, perutnya mulai terasa keroncongan, baru Ia ingat, sedari tadi Ia belum ada makan. Ia meraih sepotong roti yang bawanya sebagai bekal di dalam tasnya.


Satu potong roti saja tak cukup untuk mengisi perutnya. Tak mengapa, baginya hal itu sudah biasa.


Ia mengambil selembar kertas bertuliskan alamat istrinya Ainun, didalam kantongnya, kertas yang aku berikan padanya sebelum kepergianku.


Malik mulai mencari alamat tersebut dengan menanyakan kepada setiap orang yang Ia jumpai sepanjang jalan. Namun anehnya, mereka semua mengatakan bahwa alamat yang Ia tanyakan tidak ada dijakarta.


Malik dibuat kebingungan.


Hari sudah menjelang malam, perut Malik kembali keroncong, kali ini Ia sudah kehabisan bekal, uang yang Ia pegangpun hanya cukup untuk ongkos pulang.


Ia memutuskan untuk berpuasa diesok hari.


Malik terus menyusuri jalan, dengan semangat 45, di kejauhan, Malik mendengar adzan berkumandang, segera Ia bergegas menuju arah suara adzan. Suara itupun semakin mendekat. Akhirnya Malik sampai pada mesjid yang Ia cari.


Malik mengambil air wudhu untuk menegakkan sholat, setelah selesai berwudhu, Ia mengambil sedikit airnya untuk Ia minum sekadar menghilangkan dahaga.


Seusai melaksanakan sholat, Malik duduk di teras mesjid yang cukup besar. Sepertinya malam itu Ia akan beristirahat disana.


Malik memandang kotak makanan itu sambil menelan liurnya,


"glek!."


Wanita itu menyadari kalau Malik menatap kotak makanan yang Ia bawa.


"Mas mau?," tanyanya dengan menyodorkan kotak makanan itu kepada Malik.


Malik sedikit mengangguk dan tersenyum malu.


"Terima kasih," tangan Malik menyambut makanan itu.


"Mas dari mana? Sepertinya bukan orang sini?," tanya wanita itu lagi.


"Saya dari kampung mbak, saya kesini berniat menyusul istri saya, katanya dia mendapat kerjaan sebagai babysitter, cuma sudah beberapa bulan ini, tidak ada kabar darinya, saya jadi khawatir dan akhirnya menyusul," ucap Malik dengan senyum tulus khas darinya.


Malik mulai bercerita panjang lebar dengan wanita disampingnya itu, menceritakan betapa cemasnya ia terhadap istrinya,


Tak luput Ia menceritakan betapa Ainun itu seorang wanita yang tangguh.


"Benarkah? Apa mas punya fotonya?."


Wanita itupun mulai penasaran mengenai sosok Ainun.


Malik menunjukkan foto Ainun, sebuah foto wanita dengan hijab menjulur menutup dada menambah kesan manis.


Mereka sambung menyambung cerita hingga hampir dua jam lamanya.


Akhirnya wanita itu mengakhirinya karena suatu urusan yang belum Ia selesaikan.


"Ini kartu nama saya, barangkali Mas memerlukan saya, disana ada alamat saya. Atau Mas bisa menghubungi nomor saya," ucap wanita itu.


"Terima kasih," sahut Malik.


Wanita itu kemudian berlalu meninggalkan Malik.

__ADS_1


Malik melihat kartu nama wanita itu.


Tertulis disana Dr.Amanda shalin,SpB spesialis bedah.


****


Esok paginya Malik kembali melanjutan perjalanannya mencari keberadaan Ainun, namun tiba-tiba saja sebuah motor yang melaju kencang melawan arus menabrak Malik yang sedang berjalan kaki dipinggir trotoar.


"Brruuukkk.!!!!" ...


Sang penabrak itu sempat menoleh ke arah Malik, namun langsung berdiri dan segera tancap gas meninggalkan Malik tanpa tanggung jawab.


Orang-orangpun sibuk berkerumun, mengerumuni tubuh Malik yang terkapar berlumur darah. Cukup lama mereka menyasikan tanpa ada seorangpun yang berani bertindak. Barulah setelah cukup, lama seseorang diantara mereka berinisiatif mencari identitas Malik. Dia menemukan kartu nama bertuliskan Dr. Amanda shalin, SpB. Dokter spesialis bedah. Dan langsung menghubunginya.


****


Ainun teringat Malik yang sekarang sedang koma di rumah sakit, ia bingung apa yang harus ia lakukan, sekarang ia bahkan tak memiliki uang.


"Aku harus menemui Raka, barangkali dia mau menolongku". guman Ainun.


Namun Ainun lupa, bahwa Ia sudah keluar dari kediaman Raka berhari-hari. Dan itu artinya, Ia sudah memutus hubungan kontrak dengan Raka.


Ainun menceritakan kepada kakaknya apa yang telah Ia kerjakan selama dua bulan terakhir ini,


kakaknya Ridwan benar-benar terkejut mendengar penuturan Ainun.


Belum sampai situ, Ainun menceritakan lagi bahwa kini suaminya Malik tengah terbaring koma disalah satu RS di jakarta.


Kakaknyapun hanya bisa mengelus dada dan mengatakan pada Ainun agar bisa tegar dengan semua ujian nya.


Ainun mengutarakan keinginannya untuk kembali kejakarta menemui Raka, dan menjelaskan semuanya. Berharap Raka mau berbaik hati melepaskannya dan membantu membiayayai pengobatan Malik.


Ridwan hanya bisa pasrah, dan mendoakan Ainun agar adiknya selalu selamat.


****


Sesampainya di jakarta, Ainun langsung bergegas menuju ke kediaman Raka, tak membutuhkan waktu lama, Ainun kini sampaiĀ  didepan halaman besar kediaman milik Raka. Dengan mengucap bismillah Ainun memberanikan diri melangkah menuju pintu masuk.


"Ting tong .. Ting tong .. "


Ainun memencel bel Rumah kediaman Raka selama dua kali, salah satu pelayan keluar mendekat ke arah Ainun.


"Ainun?, apa yang kamu lakukan disini?, kemana aja kamu?," tanya pelayan itu dengan nada tinggi.


"Taukah kamu, Tuan Raka marah besar karena ulahmu, sekarang semua sandiwara Tuan Raka berantakan! Kautau siapa yang kena??, kami semua disini yang kena imbasnya!." Pelayan itu memakiku.


Aku tak memperdulikan makiannya, toh dari kecil aku sudah terbiasa dimaki.


"Apa Tuan Raka ada?," tanya ku padanya, aku malas berbasa basi.


"Hah!, sudah berbuat salah, masih saja mau mencari tuan Raka, dasar penjilat!, oke kau tunggu disini!."


Pelayan itu masuk kedalam.


Selang beberapa menit pelayan itu kembali keluar dengan membawa berkas dan beberapa barang-barang lamaku.


"Ini" sambil menyodorkan semua benda itu padaku," Tuan Raka memutuskan kontrak denganmu, dan ini sedikit uang sebagai bayaranmu, karena kamu tak menyelesaikan masa kontrak, kamu hanya diberi 5%. Ini masih lebih baik daripada tak dibayar sama sekali,"


"Ohh iyaa, bukankah ini tasmu?," kembali Ia menyodorkan sebuah tas yang sempat tercecer ketika Mira menculikku kemarin.


"Kemarin kamu meninggalkannya di lorong belakang jalan pintas, Nani yang menemukannya, nahh ambil!," ujarnya lagi.


Aku mengecek isi amplop itu, 2.500.000.


"Uang ini tak akan cukup untuk mengganti biaya pengobatan Malik," gumamku.


Kembali aku mengacak-acak tasku untuk mencari kartu nama milik seorang wanita yang menyelamatkan suamiku.


Dr.Amanda shalin,SpB, aku membaca sebuah kartu nama yang kutemukan ditasku, syukurlah masih ada.


"Aku harus menemuinya."


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2