
Seri : 2
"Jadi gimana, Ainun?Apa kamu bersedia?" tanya Mira dengan nada sedikit mendesak berharap aku menjawab, Ya.
Aku sedikit kebingungan, apa yg harus aku lakukan?
Sebenarnya, aku memanglah seorang anak yatim piatu. Aku anak kedua dari pernikahan ayah dan ibu.
Aku memiliki seorang kakak lelaki bernama Ridwan. Ridwan sudah lebih dulu menikah jauh sebelum aku menikah. Namun, ia juga berkehidupan serba pas-pasan. Bahkan untuk makan satu keluarga, terkadang mereka hanya bisa nenelan satu posri perorang dalam sehari.
Satu-satunya orang yang dapat membantuku melewati kesusahan hidup saat ini hanyalah, Mira sahabat lamaku. Sahabat lama?
Yaa aku mengatakannya sahabat lama, sebab hanya dimasa lampau lah ia benar-benar terasa seperti sahabat bagiku.
Sebelum Mira pindah ke perumahan Griya Utami, ia sering membantuku.
Ketika aku hanya memiliki uang senilai duapuluh ribu rupiah untuk aku gunakan dalam seminggu. Mira lah yg membantuku memenuhi segala kebutuhan.
Mulai dari beras, sembako-sembako, lauk-pauk, sayuran, dan bahkan sekadar untuk membeli pemba**t, terkadang aku harus meminjam uang padanyanya.
Tapi lagi-lagi, Mira hanya memberikannya secara cuma-cuma.
Tak salah lagi, Mira yang dulu benar-benar sahabatku.
Tapi, entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini, hingga ia merubah jati dirinya.
Mira yang sekarang, bukan lah Mira yang kukenal dulu. Mira, di mana sosok dirimu yang dulu?
Aku menangis tersedu.
"Ainun?? Kenapa? Kamu kok malah nangis?
__ADS_1
Ini tuh berita bahagia tau! kamu harusnya bahagia! bukannya menangis." ungkapnya.
Entah mengapa, Mira begitu mudah mengucapkan kata-kata pedas itu, setan apa yang sudah merasukinya?
"Mir! Aku tau aku miskin. Tapi haruskah kamu tawarkan hal begini kepadaku? Kamu tau sendiri 'kan. Aku gak mungkin menjadi wanita molek dengan menanggalkan jilbab! Dan, aku juga sayang mas Malik suamiku, bagaimana bisa kamu menawarkan hal gila ini padaku?" Aku bertanya padanya dengan tatapan berkaca-kaca. Kulihat gadis itu berkomat-kamit, seakan meledekku.
"Aduh, Nuun! Jaman gini kamu masih aja hoby ceramah!"
Mira menggelengkan kepala, sambil berdecak seakan semua ucapanku terdengar bodoh.
"Ainuun ainun!" Kembali ia menggeleng. "Ini tuh zaman modern? Semua serba uang, apa lagi sih yg kamu cemaskan? Mas Malik??" ungkapnya. "Kan kamu bisa bohong dulu sama dia, bilang aja kamu mau kerja ke jakarta, ada tawaran jadi PRT atau Baby sitter, bilang aja gajinya gede! Gampang kan! aku yakin, dia pasti izinin kok!"
Sedetik aku terdiam. Masih tak percaya dengan apa yang kusaksikan.
Seorang sahabat yang dulu selalu bersama dalam suka maupun duka. Yang telah mengikat janji untuk tidak bersikap sombong suatu hari nanti.
Kini yang tampak di hadapanku hanyalah orang asing berbalut wajah Mira. Mira yang sekarang benar-benar berbeda dengan Mira yang kukenal dulu.
"Maksud kamu apa Mir? Kenapa tiba-tiba membahas masa lalumu yang sering nolongin aku? Apa kamu gak iklas menolongku selama ini?" tanyaku penuh penekanan.
"Iyaa!!" sahutnya yang seketika membuatku bagai tersambar petir. Aku terkejut bukan kepalang. Tak menyangka jika gadis polos yang dulu tumbuh bersama itu ternyata memberi jawaban menyakitkan padaku.
"Aku mau kamu nurut aja sama kataku! kalau enggak, semua uang, beras, sembako, yang pernah aku kasih ke kamu dulu, bakal aku hitung sebagai hutangmu!" tegas Mira yang membuat dadaku menjadi sesak.
"Yaa Allah manusia kh ini?' Aku membatin.
Sesaat aku terdiam. Hanya dahi yang tampak mengkerut mendengar penuturan Mira.
Tak ada lagi senyum yang memancar dari bibirku. Aku tak dapat berkata apa-apa, air mata pun tumpah, mengalir di antara pipi, menggantikan peran bibirku yang kaku dengan lidah kelu karena sudah kehabisan kata-kata.
Hanya batin yang tak hentinya bertanya pada diri sendiri. 'Mengapa temanku yang dulu begitu baik, kini berubah drastis? mengapa??'
__ADS_1
"Sudahlah! Gak usah pake nangis segala! kamu tuh aneh yah, dikasih enak, ditawarin hidup nyaman, ehhh ... malah nangis!" Kini nada bicara Mira sedikit ketus.
"Nanti aku bantu bicara sama mas Malik, oke!" tukasnya. "Udah, pokoknya kamu persiapkan aja dirimu. Karena antinya, kamu bakal dipermak abis."
Mira terus bicara panjang lebar, sementara aku masih diam dengan seribu bahasa. Bibirku seakan terkunci, bahkan sekadar menyahut, aku tak bisa.
"Ini baju udah berapa hari sih kamu pake? Uuhh ... bauu!" sambung Mira setelah sedikit mengendusku. Aku tak menggubrisnya.
Wanita itu kemudian beranjak dari tempat duduk, berjalan keluar menuju mobil, lalu menarik sesuatu dari dalam bagasi. Aku tak tau itu apa?
Namun, beberapa saat kemudian, Mira mendatangiku kembali dengan membawa beberapa tas belanjaan yang kemudian ia sodorkan padaku.
"Nih! ucapnya sembari menyodorkan barang-barang itu di hadapanku.
"Apa ini?" tanyaku.
"Baju- baju yang akan kamu gunakan nanti, pilih salah satu yah, untuk kamu gunakan saat aku jemput nanti, ini baru bonus awal. Nantinya, akan ada banyak lagi yang lebih dari ini! Gimana? Masih mau nolak? Gak kan!"
Aku tak membalas ucapannya.
"Ingat! Nanti saat dijemput, jangan rembes!."
Ia menepuk pundakku, mengisyaratkan bahwa aku tak perlu bersedih dengan apa yang kualami.
"Sudah! jangan sedih-sedih!" ucapnya yang terakhir kali sebelum akhirnya meninggalkan rumahku melangkah menuju mobil yang sedari tadi ia parkirkan di halamanku.
Dari kejauhan aku mendengar ia bergumam pelan. "Dasar perempuan gak tau diuntung, kirain kegirangan di kasih kabar baik, malah nagis."
Wanita itu kemudian mmasuk ke dalam mobil dan melambai padaku, sedetik kemudian menyalakan mesin dan terakhir membunyikan klakson untuk mengisyaratkan keberangkatannya.
Lalu perlahan, mobil Mira bergerak pergi semakin menjauh dan lenyap dari pandangan.
__ADS_1
Aku hanya bisa mengelus dada, setelah hilangnya Mira dari pandangan ini.