
Seri terakhir
Malik masih shok untuk beberapa saat, kemudian kembali menjalankan mobilnya, kali ini Ia membawa dengan kecepatan lebih, namun tetap hati-hati mengingat Azizah yang kini sedang bersamanya.
Azizah terlihat bingung dengan tingkah Abinya yang mendadak dingin dan tegang.
Malik sengaja membawa Azizah pulang terlebih dahulu sebelum Ia kembali kepesantren. Ia tak ingin Azizah mendengar semua konflik yang terjadi padanya dan dan uminya Amanda.
Setelah mengantar Azizah, Malik segera memutar arah kendaraannya. Berjalan dengan kecepatan tinggi. Ia pergi tanpa pamit terlebih dahulu kepada Amanda, berniat merahasiakan semuanya dari Amanda.
Amanda yang tersadar dengan Malik yang langsung pergi setelah mengantar Azizah, pun menjadi curiga. Ia takut sesuatu terjadi pada Malik.
Segera Amanda menyusul menggunakan mobil cadangan.
"Nak, Umi ada urusan sebentar, Azizah mandi aja dulu yah, ganti baju, kalau perlu sesuatu, minta sama bibi Sani yah" ucap Amanda.
"Umi akan segera menelpon Bi Sani agar langsung kerumah yah."
Azizah hanya mengangguk.
Amanda segera menjalankan mobil tanpa memberi kesempatan kepada Azizah untuk bicara.
Dengan kecepatan yang lebih tinggi, Amanda segera mengejar Malik menggunakan bantuan GPS yang selalu aktif diponsel Malik.
Sambil menghubungi Bibi Sani tetangga dekatnya, Amanda terus melaju diatas jalan.
Malik akhirnya sampai dipesantren Assobirin. Dengan perasaan yang berkecamuk antara gugup, takut, cemas. Malik melangkah menuju gerbang pesantren.
Amanda yang sedari tadi mengikutinya, pun ikut turun dari mobil, dengan jarak 500 meter, Amanda memperhatikan Malik dari kejauhan.
"Permisi," tanya Malik kepada salah seorang Ustad yang kebetulan sedang berada didekat gerbang pesantren.
"Apakah ada seseorang yang bernama Ainun disini?,"
"Ainun ada banyak, Pak? Ainun yang mana?,"
"Ainun yang berprofesi sebagai juru masak!," tanya Malik dengan sedikit bergetar.
"Kalau boleh tau Bapak ini siapanya?, sebab selama ini yang kami tau, Ainun tak pernah dikunjungi oleh keluarganya!."
Malik tersadar, dan mulai bingung menjawab pertanyaan sang Ustad.
"Sa- saya saya keluarga terdekatnya!," sahut Malik masih sedikit kebingungan.
"Benarkah itu?!," ucapnya.
Ia sedikit ragu terhadap Malik.
"Ainun barusan dibawa kerumah sakit, Bapak yakin keluarga terdekatnya?," tanyanya dengan wajah yang sedikit kesal.
"Bagaimana bisa bapak membiarkannya menderita seorang diri dengan penyakit kanker tanpa pernah menjenguknya!,"
"Maaf langsung saja, kemana mereka membawa Ainun?," tanya Malik sedikit mendesak, tak memperdulikan pertanyaan sang Ustad.
"Tadi Ainun pingsan ,dengan darah yang keluar dari hidungnya. Mereka membawanya keRS**** untuk melakukan tindakan medis,"
"Terima kasih infonya!."
Malik segera berlalu menuju RS**** yang telah disebutkan oleh sang Ustad tadi, tanpa menyadari kehadiran Amanda yang sedari tadi membuntutinya.
****
Sepanjang perjalanan Malik terus berdzikir, tak terbayang seperti apa perasaan Ainun selama ini, betapa sedih Malik mengingat Ainun yang selama ini berjuang seorang diri .
Tak terasa Air matapun mulai terjatuh dari kelopak matanya yang kecoklatan. Mengalir membasahi setiap bagian wajah Malik. Menyentuh bibirnya yang kemerahan.
Malik mulai menangis terisak, dadanya terasa sesak hingga sulit baginya untuk bernafas.
Malik yang tak mengetahui penyebab kepergian Ainun dari sisinya itu menganggap dirinya suami yang dzolim. Suami yang tak bertanggung jawab. Ia mulai hanyut dalam tangisannya.
Sesampainya diRS, Malik segera mencari Ainun dengan bertanya pada resepsionis tentang data pasien yang baru masuk sekitar 2 jam yang lalu.
Tak butuh waktu lama, Malik akhirnya menemukan ruang tempat Ainun dirawat.
Ia berjalan dengan sedikit bergetar.
"Dag Dug Dag Dug "
Perasaan Malik semakin berkecamuk, jantungnya terus berdebar.
"Kreeeekk ..."
Sebuah pintu kamar dibuka. Malik menemukan Sesosok wanita yang sedang terbaring dengan selang yang terpasang diantara Mulut dan hidungnya, tangan yang terikat tersambung tali infus dan beberapa alat medis yang dipasang dibagian kepala.
"Ainun ... apa yang telah terjadi padamu?."
__ADS_1
Malik menangis sejadi-jadinya, Ia tengkuk lututnya lemas hingga membuatnya tersungkur disaksikan oleh beberapa Asatidzah yang sedang berjaga menunggu Ainun.
Mereka hanya terdiam menatap lelaki yang sedang menangisi Ainun. Tak ada yang bersuara semua tak berkutik. Hanya suara tangis dari Malik yang memecah kesunyian diantara ruangan yang kedap dan dingin.
Tiba-tiba saja seseorang menepuk pundak Malik seraya mengajaknya berdiri.
"Malik, ayo bangkit!, kamu harus tegar!," ucap seseorang yang ternyata adalah Ridwan.
Ridwan telah datang lebih dulu sebelum Malik.
Malik menatap wajah Ridwan dengan berkaca-kaca, memeluknya dengan erat.
"Ainun kak ... Ainun ..," ucap Malik dengan terbata.
"Ia aku tau, semua sudah terjadi atas kehendak Allah, kita hanya bisa berdo'a untuk kesembuhan Ainun."
Ridwan berusaha menenangkan hati Malik yang terlihat hancur dan rapuh.
Ia tau betul seperti apa perasaan Malik terhadap Ainun.
Sambil terus merangkul Malik, Ridwan hanya bisa menepuk-nepuk pundaknya untuk menyemangati Malik.
****
Malik menghubungi Amanda untuk mengatakan alasan keterlambatannya pulang kerumah, Ia menjelaskan bahwa telah menemukan Ainun. Namun keadaan Ainun sekarang sedang tidak baik. Ainun menjalani pengobatan atas penyakit kanker yang Alaminya.
Amanda sedikit terkejut mendengar Ainun yang telah mengidap penyakit kanker, namun Ia tidak terkejut atas alasan keterlambatan Malik pulang kerumah. Karena sedari awal, Ia sudah mengetahui dan mengikuti kemana Malik pergi.
"Amanda istriku, tolong jaga Azizah selama Mas tidak dirumah, dan tolong rahasiakan ini semua serapat-rapatnya dari Azizah," pesan Malik kepada Amanda lewat massage.
****
Seminggu sudah berlalu, Ainun tak nampak membaik. Ia masih saja tertidur dengan layar monitor yang selalu menjaganya.
Setiap hari malik merawat Ainun dengan membersihkan tubuh Ainun menggunakan kain basah, Ia menyeka tubuh istrinya dengan sangat perlahan dan penuh hati-hati. Tiada rasa jenuh baginya untuk merawat istrinya Ainun. Apa pun akan Ia lakukan untuk kesembuhan Ainun, bahkan jika bisa kesembuhannya ditebus dengan nyawa, maka Ia rela.
Hanya sekadar merawat Ainun tak akan cukup untuk menggantikan waktu yang telah terbuang tanpa kehadiran Ainun disisinya. Kali ini Malik tak ingin lagi terpisah dari Ainun.
Ridwan telah menceritakan semua yang telah Ainun alami setelah kepergiannya dari sisi Malik. Tak luput Ia menjelaskan alasan Ainun meninggalkan Malik.
Malik sangat terpukul mendengar penjelasan dari Ridwan. Ternyata selama ini Amanda yang telah menyingkirkan Ainun dari sisinya.
Malik sangat kecewa terhadap Amanda, 10 tahun lamanya Malik telah ditipu oleh Istri kedua Malik, Amanda.
Malik mulai tak dapat mengontrol dirinya. Semakin hari Ia semakin bersedih mengingat Ainun yang tak kunjung membuka mata untuk menyapanya walau hanya semenit.
Azizahlah alasan Malik untuk tetap bersama dengan Amanda.
Walau demikian, Amanda tetap mencintai Malik, meski Malik mulai berubah.
****
Adzan subuh telah berkumandang, Malik masih tertidur dengan posisi duduk dan memeluk tangan Ainun.
"Malik bangun!, mari laksanakan sholat subuh bersama," ucap Ridwan yang membangunkan Malik dari tidurnya.
Mereka segera mengambil air wudhu dan melaksanakan solat subuh berjamaah dimushola, tak luput mereka memanjatkan do'a disetiap selepas solat.
Malik berjalan bersama Ridwan dikoridor Rumah Sakit untuk kembali keruang dimana Ainun dirawat. Mereka tak saling berbicara, hanyut dalam lamunan masing-masing.
Seorang perawat berjalan dengan langkah yang cepat menghampiri Malik dan Ridwan.
"Apakah Bapak-bapak ini keluarga dari pasien bernama Ainun?," tanya perawat itu kepada Malik dan Ridwan.
Malik dan Ridwan saling bertatap wajah. Mereka mulai menatap wajah perawat itu dengan penuh tanda tanya.
"Yaa kami keluarganya, apa yang terjadi sus," tanya Ridwan sedikit menggebu.
Malik pun demikian, tak kalah gugup.
"Sebaiknya Bapak-bapak ini segera menemuinya, pasien baru saja terdasar dari komanya," ucapnya yang membuat Malik dan Ridwan seketika berlari secepat mungkin.
Dengan air mata yang mulai berlinang, Malik mulai tersenyum, sedikit cahaya telah membangkitkan semangatnya.
"Ainun ...?!."
Malik yang baru saja memasuki ruangan langsung menyapa Ainun yang masih terbaring.
"Mass ...!"
Ainun tersenyum melihat Malik yang dengan cepat berdiri didekatnya.
Wajahnya masih terlihat cantik meski pipinya sudah mulai menyusut dan kulitnya yang semakin pucat.
Malik menghampiri Ainun dengan duduk diatas kursi yang mepet dengan ranjang, tempat Ainun terbaring, memegang erat tangan Ainun dan menciumnya sangat lama.
__ADS_1
Sambil memejamkan mata, Malik kembali meneteskan air mata dengan bibir yang tersenyum lebar.
"Mas, Ainun rindu Mas," ucap Ainun lirih.
"Mas, Ainun sangat bahagia walau hanya sekali untuk bisa bertemu dengan Mas."
Malik kembali menangis mendengar penuturan Ainun. Ia tak dapat berkata-kata karena perasaan bersalahnya terhadap Ainun.
Ia membelai mesra kepala istrinya yang ditutup oleh kain karena Ainun sudah tak lagi memiliki rambut.
"Mas mencintaimu dek, Mas sangat mencintaimu dek ...," ucap Malik sembari mencium tangan Ainun.
"Ainun harus semangat!, Ainun harus sembuh yaa, kita akan berkumpul lagi seperti dulu!,"
Ainun membalasnya dengan tersenyum.
"Mas... Mas percayakan kalau Allah itu maha penyayang?," tanya Ainun
Malik hanya mengangguk.
"Ainun minta Mas agar tetap menyayangi Amanda, karena walau bagaimanapun, Amanda adalah istri Mas juga," ucap Ainun dengan suara yang serak.
"Terlebih lagi, Mas sekarang sudah memiliki Azizah, putri yang sangat cantik dan cerdas."
Malik semakin menangis karena istrinya yang telah mengetahui kehidupannya. Kini Ia merasa seperti orang yang tak berguna.
"Maafkan Ainun Mas, Ainun pernah berbohong pada Mas tentang kepergian Ainun kejakarta, Ainun minta ridho, Mas."
Malik kembali mengangguk sambil terus menangis.
Ainun mulai melihat keatas seperti sedang menatap seorang malaikat.
Kemudian mengucap,
"Ashadu alla ilaaha illallah wa ashadu anna muhammadar rasulullah."
Yang kemudian menutup matanya perlahan dengan tersenyum.
Setetes air mata Ainun kini telah mengakhiri semua beban dan penderitaan Ainun.
Malik terdiam sesaat, lalu kemudian
menangis sejadi-jadinya setelah menyadari Ainun sudah tak ada, sambil terus memeluk tubuh istrinya yang sudah tak bernyawa.
"Ainuuun .... Aiiiiinuuuuuuuun!."
****
Malik telah kembali kerumah setelah mengantar Ainun ke peristirahatan terakhirnya.
Wajahnya pucat. I tak memiliki semangat bahkan juga sama sekali tak memiliki nafsu untuk makan.
Amanda berusaha menyemangati Malik dangan mencoba mengalihkan perhatiannya, mengajaknya bercerita apa saja, dan melakukan aktivitas yang sering mereka lalukan dahulu sebelum pertemuannya dengan Ainun kembali
Namun sepertinya semua usaha Amanda sia-sia. Malik sama sekali tak berubah.
Ia masih terus berduka atas kepergian Ainun, setelah 10 tahun lamanya tak berjumpa, kini saat bertemu, Ainun malah pergi untuk yang kedua kalinya.
Kali ini kepergian Ainun adalah kerahmatullah, pergi kesisi Allah untuk selama-lamanya.
Hari-hari berlalu, Malik semakin kurus, makanpun sangat sedikit, hanya seaedar untuk mengisi perutnya.
Tak lagi ada senyuman manis diwajahnya.
Ia selalu murung dan hanya bisa tersenyum didepan Azizah putri tercintanya.
Amanda hanya bisa bersedih melihat Malik yang kini sudah tak memiliki semangat hidup. Ia menyesal dan merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Malik. Kalau bukan karena dia yang dahulu merebut Malik dari Ainun. Mungkin Malik tak akan mengalami depresi yang mematikan semangatnya.
Hingga suatu hari setelah melakukan solat subuh, Amanda yang mendengar suara seperti benda yang keras terjatuh dari dalam kamar, segera berlari menuju kamar, dan betapa terkejutnya. Amanda menemukan Malik tengah tersungkur dihadapan sajadahnya. Ia berteriak kepada para warga, memohon bantuan dari warga.
Dengan cepat wargapun membantu Amanda membawa Malik kerumah sakit untuk segera diberikan tindakan medis.
Amanda yang memang seorang dokterpun segera mengambil tindakan tegas, dengan memberi alat pacu jantung Defibrilator, Ia terus melakukannya tanpa menyerah. namun, semua sia-sia.
Dokter yang lain berusaha menenangkannya, dan mengatakan pada Amanda sudah tidak ada lagi kesempatan pada suaminya itu.
Amanda mulai terduduk lemas setelah mereka memastikan Malik sudah tak dapat tertolong.
Semua cara telah dilakukan untuk menyelamatkan Malik.
Namun, Allah berkehendak lain.
Malik akhirnya pulang untuk selama-lamanya, meninggalkan Amanda dan Azizah yang masih berumur 7 tahun.
Amanda hanya bisa menangis meratapi suaminya yang kini sudah tak bernyawa.
__ADS_1
Dan kini, Amanda harus merelakan kepergian Malik kehadapan Allah untuk kembali bersatu bersama Ainun disyurga.
*The End*