
Sekarang aku sudah terikat kontrak dengan Raka, pria yang kaya raya itu kemudian membawaku pulang ke kediamannya.
Aku melongo begitu sampai di kediamannya. Rumah yang begitu mewah bak istana kerajaan membuatku terpana dan terpesona. Aku kegirangan, merasa diri bak cinderella.
"Ahh betapa beruntungnya aku," gumam ku.
Netraku menatap ke sekitar, memandang setiap sudut ruangan yang dipenuhi dengan hiasan serba modern.
Raka memanggil salah seorang pelayan dirumahnya dan berkata sesuatu yang singkat padanya sambil menunjuk ke arahku dan kemudian melangkah pergi meninggalkan pelayan itu dan aku, tanpa menoleh. Sikapnya yang sangat dingin membuatku sedikit merinding.
"Sini aku antar kamu ke kamarmu," ujar pelayan itu. aku mengangguk menurutinya.
"Jangan sentuh barang barang yang ada di rumah ini, Tuan Raka tak suka dan dia tau persis kalau barangnya ada yang menyentuh, hanya bergeser lima senti saja dia akan memarahi kita semua," ucap pelayan itu padaku dengan nada pelan. Aku mengangguk lagi.
Aku berjalan cukup jauh hingga sampai pada sudut ruang paling ujung, langkah kami terhenti tepat di depan pintu kamar.
Pelayan itu membukakan pintu kamarnya.
Sebuah kamar berukuran kecil yang hanya diisi satu ranjang dan satu lemari pakaian.
"Mulai sekarang ini kamarmu! Ohh iya, panggil aku, Nani. Aku pelayan bagian dapur di rumah ini, dan jangan bertingkah seperti nyonya muda, karena derajatmu disini tak berbeda denganku, mengerti?!" Lagi lagi aku mengangguk.
Pelayan itu pun berlalu meninggalkanku di kamar ini.
****
Hari-hari berlalu, tak terasa sudah hampir dua bulan aku di sini. Aku menjalankan peranku sebaik mungkin. Beradu akting disetiap pertemuan-pertemuan besar.
Bak seorang aktris film, setiap hari aku harus membaca naskah agar susunan kata yang keluar dari mulutku terdengar layaknya dari keluarga terpandang.
Raka terlihat puas dengan aktingku, ia pun tak sungkan membelikanku berbagai macam perlengkapan yang aku butuhkan untuk menunjang penampilan.
__ADS_1
Baju, sepatu, heels, tas, accesories dan lain-lainnya, setiap minggu selalu berganti. Dan tak ketinggalan, sebuah handphone keluaran terbaru pun aku miliki.
Sekarang, aku telah memiliki segalanya, aku sangat puas. Aku pun mulai lupa dengan suami didesa yang mungkin sudah lama menunggu kabar dariku.
Yaa, Malik tak dapat lagi menghubungiku semenjak aku mengganti nomor dengan yang baru.
Kini aku mulai memamerkan segala yang aku punya diakun lamaku
Betapa bahagianya aku, mereka yang dahulu mencibir, kini berbalik memujiku, dan mengatakan aku adalah wanita yang paling beruntung. Ya, aku memang wanita yang beruntung!
"Hahahahaha," aku tertawa puas!
****
Malik terlihat sendu, hari-hari ia mengunggu kabar dariku
Berkali-kali ia mencoba menghubungiku tapi tetap saja nihil. Nomor lamaku sudah lama tak aktif.
Suatu ketika Malik tak sengaja menemukan sebuah tas belanja bermerk mahal di sudut ruang di samping lemari yang sudah reot. Ia heran mengapa benda seperti itu ada didalam rumahnya, perlahan Malik meraih benda itu, dan karena penasaran ia pun membuka.
Namun, betapa terkejutnya ia saat menemukan satu buah baju tanpa lengan yang panjangnya selutut wanita dewasa ada dalam tas belanjaan itu.
Rupanya aku terlupa, Bahwa dulu aku pernah menyisihkan satu buah belanjaan yang diberikan Mira padaku saat pertama kali bertemu.
Malik pun mulai curiga, ditambah lagi jika diingat-ingat kepergianku benar-benar menyisakan misteri, saat itu aku mengambil keputusan tanpa berpikir panjang. Dan ketika berpamitan ia melihat wajahku yang terlihat sangat murung seolah ada sesuatu yang menekanki.
Malik mulai gelisah memikirkanku.
Dan saat itu juga, Malik memutuskan untuk menyusulki ke Jakarta. Dengan berbekal alamat yang kuberikan padanya sebelum aku berpamitan. Namun, Malik tak mengetahui bahwa alamat yang kuberikan hanyalah alamat palsu
****
__ADS_1
Handphoneku bergetar dua menit, aku baru selesai membersihkan diri setelah lelahnya berakting seharian penuh, dengan handuk yang masih melilit di kepala.
Drrrtt! drrtt! sebuah panggilan dari penelpon bernama Mira. Ah! mau apa lagi sih, dia?
Klik!
"Hallo ada apa, Mir?."
"Halo, Ainun! Gimana kabarmu? Sepertinya kamu mulai menikmati kehidupanmu yang baru? Kukira kau tak menyukainya, ternyata temanku ini pembualan juga," nada Mira terdengar setengah meledek. Sialan!
Geram sekali aku padanya.
"Hmm langsung saja tak usah basa basi, ada apa menelponku?" jawabku singkat dengan sedikit nada kesal.
"Hahaha santai aja Ainun, niat aku baik kok, aku mau ngajak kamu santai sekali-sekali, bukankah kamu pernah memintaku mengajakmu bersantai denganku?" Suara Mira terdengar setengah tertawa.
Seketika aku teringat pertama kali bertemu Mira setelah kepindahannya, memang benar aku pernah meminta untuk diajak jalan oleh Mira.
"Sialan si binal itu, jadi sekarang masih mau mengolok-olok aku!" aku membatin.
Mira menyambung pembicaraannya.
"Malam ini ada pesta sabu di rumahku, aku mengadakannya bersama rekan kerja suamiku, aku ingin kamu ikut, kamukan sahabatku, cobalah sekali-kali untuk menenggak miras, rasanya sangat nikmat, Nun." Suara Mira terdengar serak, sangat jelas kalau ia sedang mabuk.
"Gak Mir, makasih!" Aku menolak ajakannya.
"Oke! Lain waktu kalau kamu ingin bersenang-senang, hubungi saja aku!" sahut Mira yang mengakhiri percakapan kami.
"Sabu? Haha!" Tawa sinisku kini mulai tercipta.
"Aku memang sedikit serakah tapi tak sebodoh itu, aku tau persis barang seperti itu hanya akan merusak hidupku."
__ADS_1