Cinta Ainun

Cinta Ainun
Khilaf


__ADS_3

Seri : 4


Aku berdiri di depan cermin menatap diri yang kini tampak jauh lebih modis. Beberapa polesan make up menambah kecantikan wajah.


Awalnya Aku merasa risih dengan penampilan baru ini. Namun, tiba-tiba terbesit dalam pikiranku untuk menepisnya


"Ahhh kenapa aku harus risih, memanglah diriku cantik, tak perlu aku mengelak! Mungkin inilah jalan takdirku, takdirku kehidupan nikmatku yang baru!!" gumamku.


Jika mengingat kehidupan masa sulit dahulu, untuk membeli baju pun aku hanya bisa membeli setahun sekali, itu pun uang sumbangan dari tetangga yang aku gunakan untuk membeli baju panjang dan besar. Jelek, lebih cocok untuk nenek-nenek.


Setan telah berhasil mengubah pandanganku. Membisikan di telinga tentang keindahan dunia, hingga aku lupa bahwa dunia itu tidak abadi.


"Selama ini, aku selalu menderita, diolok, dihina, memangnya apa salahku menjadi anak yatim piatu! Aku juga ingin seperti mereka yang punya Ayah dan Ibu, yang semasa kecil mendapat kasih sayang orang tua, tumbuh besar dengan didikan orang tua. Menjadi sosok yang pintar cerdas dan bahkan mampu menceramahi orang karena kepintarannya!" Aku menggerutu.


"Lantas di mana letak salahku? Kalau mereka saja yang punya orang tua masih bisa menghinaku, kenapa aku yang yatim piatu ini harus lebih baik dari mereka? Bagaimana bisaa??


"Mungkin inj saatnya aku untuk bangkit dari keterpurukanku!" Aku terus menceramahi diri di hadapan cermin.


Perlahan hatiku mulai tertutup, aku mulai rakus akan harta.


Sedari kecil aku memang yatim piatu. Berbekal mengaji dari seorang ustad, aku sering mendengar bahwa hukum memakai hijab adalah wajib . Hal itulah yang sering kuingat.


Semenjak kepergian kedua orang tua kehadapan Ilahi. Aku hanya tinggal berdua dengan kakakku Ridwan. Saat itu kami tinggal di rumah sederhana, tanah milik seorang warga.


Untuk makan sehari-hari, biasanya aku dan kakak menjajakan kue dengan berkeliling. Kue yang memang sengaja dibuat oleh beberapa tetangga agar aku dan kakak mampu menghasilkan uang.


Tak banyak upah yang kami terima. Hanya beberapa ribu rupiah. Itupun jika kue habis terjual.

__ADS_1


Itulah kenapa kami hanya mampu melanjutkan sekolah hingga SMA.


Namun, selepas lulus sekolah, Ridwan memutuskan untuk langsung menikah, meninggalkanku yang harus berjuang mempertahankan hidup seorang diri.


Aku pun mulai bekerja sangat keras untuk mempertahankan hidup. Dan bahkan, aku tak lagi mengenal kata malu. Pekerjaan apapun kuambil, bahkan tak jarang, aku menjadi tukang cuci piring diacara-acara hajatan.


Diusiaku yang terbilang sangat belia, di mana semestinya sedang asyik tertawa bersenda gurau dengan teman-teman, aku justru harus merasakan pahitnya hidup.


Tidak hanya sampai itu. Ternyata cobaan hidupku masih terus berdatangan. Setelah beberapa tahun sendirian ditinggal menikah oleh Kak Ridwan, kini giliran rumah sederhana yang aku tempati harus kukosongkan. Sebab sang pemilik tanah ingin menjualnya.


Beruntung ada seorang pria yang ingin meminangku karena rasa kasihan.


Malik yang sekarang menjadi suamiku pun menikahiku tanpa landasan cinta. Dan begitu pun denganku.


Aku menerimanya hanya karena ingin menyambung hidup. Hingga kini pernikahan kami masih terhitung enam bulan


Kini aku kembali menghadapi cobaan yang sangat berat.


****


Raka adalah lelaki yang menjadi bos atas kawin kontrak yang kutanda tangani.


Pria yang menjabat sebagai direktur itu sengaja memilih wanita desa untuk ia jadikan istri kontrak selama enam bulan


Raka mencari istri kontrak melalui jaringannya, Hendrik, suami sahabat lamaku, Mira.


Alasan Raka untuk menikah kontrak adalah karena ia selalu dituntut berkeliarga oleh orang tuanya . Usia Raka yang terbilang sangat matang yaitu tiga puluh delapan tahun, membuatnya kesulitan mencari wanita yang tulus mencintainya apa adanya, yang bukan mencintainya karena harta.

__ADS_1


Desakan itulah yang membuat Raka memilih kawin kontrak.


Pertemuan Raka, Mira, dan aku hanya berlangsung singkat.


Mereka berkenalan sebentar lalu membahas perihal kontrak.


Raka menjelaskan tentang peranku selama menjadi istri kontrak. Dan beberapa peraturan penting selama berada aku dalam lingkungannya.


"Ini peraturan yang harus kamu jalankan selama masa kontrak!" tegas Raka sembari menyerahkan kertas itu padaku.


"Selama kamu melakukannya dengan baik hingga masa kontraknya selesai, aku akan berikan bayarannya sesuai dengan janjiku. Nanti kau bisa menagihnya pada Mira!"


Tak banyak basa basi, pria itu segera berjabat tangan dengan Mira lalu meninggalkan kami pergi.


Mira tersenyum puas padaku, ia merasa menang telah berhasil membuatku luluh padanya. Tapi tidak, aku melakukan itu semua bukan semata karena aku takut pada Mira, tapi karena keinginanku sendiri.


Dalam hati aku bergumam. "Tunggu saja Mira. sampai tiba waktunya, aku akan membalasmu, aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku!" Pikiran yang berasal dari setan mulai menggerayungiku.


Aku yang memang minim agama karena tak pernah berkesempatan mendapat pendidikan agama, kini mulai memperlihatkan sisi rapuh dari imanku.


Tak ada yang dapat menegurku untuk mengingatkan kembali kejalan yang benar,


Aku telah mengambil jalan yang salah, bahkan telah berbohong pada suami yang sudah menikahiku demi menyelamatkanku dari hidup gelandangan.


Aku semakin tersesat termakan oleh emosi dan keserakahan. Aku bahkan tak terpikir untuk pulang, aku terjebak dalam dendam yang membara pada sahabat yang kini menjadi musuh.


Namun, dendam ini bukan hanya srbatas dendam pada sahabat, tapi juga dendam pada kehidupan pahitku yang dulu.

__ADS_1


Aku lelah hidup melarat.


Bersambung ....


__ADS_2