
Seri : 3
Sudah tiga hari berlalu, tak ada tanda-tanda Mira menghubungiku.
Meski begitu, aku masih merasa cemas kalau saja tiba-tiba wanita laknat itu menghubungi dan memaksaku lagi.
Tapi! "Ahh." Segera kutepis rasa cemas ini.
Aku yang sedari tadi masih saja berdiri dan melamun sambil mengaduk kopi hitam yang sudah mulai dingin, seketika dikejutkan dengan satu panggilan dari arah belakang, arah ruang tamu.
Ruang tamu yang sempit dan berdebu inilah yg menjadi saksi perjalan hidupku bersama suami tercinta.
"Dek, Ainun .. mikirin apa?? Kok dari tadi Mas lihat bengong aja?" tanya suamiku dengan suara khas lembutnya.
"Gak mikirin apa-apa, Mas!" sahutku dengan sedikit lesu.
"Gak apa-apa gimana, Mas perhatiin kamu dari tadi melamun terus, coba deh cerita sama Mas."
Aku hanya membalas dengan senyuman tipis, bagaimana mungkin aku punya nyali untuk menceritakannya pada suami.
Aku mencoba mengalihkan perhatiannya.
"Mas, hari ini Pak Sudarso belum membayar upah pikulnya juga yaah?"
"Iyaa dek ...." jawabnya singkat sambil menenggak kopi yg kusuguhkan padanya.
Suamiku memang tidak memiliki gaji tetap, Ia hanya akan dibayar jika kayu yang dipikulnya sudah laku terjual.
"Mungkin Pak Sudarso juga belum ada uang!" ucap Mas Malik.
"Bagaimana yah, Mas? Sekarang uang kita hanya tersiasa lima belas ribu, mana besok kita sudah harus bayar kontrakkan."
Suamiku sebenarnya bukan tidak mau mencari pekerjaan yang hasilnya lebih banyak. Hanya saja, di desaku sangat sulit untuk mencari pekerjaan, bahkan tak jarang tetangga bertanya pada suamiku, apakah ditempat kerja suaminya masih membutuhkan kuli pikul.
"Sabar yah, Sayang." Itulah ucapan terakhir dari suamiku yang berusaha menenangkan.
Dan ucapan itu mengakhiri pembicaraan kami .
****
Sebuah nada dering dengan lagu sendu menggetarkan ponsel jadulku.
Aku beranjak dari tempat duduk untuk segera mengangkat panggilan itu.
"Nomor baru?" gumamku.
Klik!
"Halo assalamualaikum." Aku mengawali pembicaraan.
"Waalaikum salam, ini aku Nun, Mira! gimana? sudah bicara sama Mas Malik belum? Hari ini aku jemput yah!"
__ADS_1
Percakapan awal dari Mira, sontak membuat jantungku lemah.
"Maaf, Mir, aku gak bisa!" sahutku.
"Loh! gak bisa gitu dong, Nun. Lagian nih yah, aku udah tanda tangani kontraknya atas namamu dan aku udah lampirkan ktp mu,
uangnya udah ditransfer ke depositku, sementara ini masih ketahan dari si bos. Ntar kalo sudah selsai masa kontrakmu, baru deh bisa cair!"
"Apaahh??!! Kamu gilaa ya, Mirr! kamu gak boleh dong seenaknya gitu tanda tangan kontrak tanpa persetujuanku!" Aku shok saat mendengar jawaban darinya. Pernyataan Mira membuatku benar-benar kesal. kukepalkan tangan untuk mengurangi rasa emosi. Andai saja dia ada di hadapan, ingin rasanya kutonjok wajah binal itu.
"Yaahh, kalo nunggu persetujuan dari kamu sih, pasti gak kamu setujuin! Makanya, aku iseng tanda tanganin.
"Keterlaluan kamu, Mir. Aku tetap gak mau, soal tanda tangan kontrak itu urusanmu, atau jika memang harus, kamu batalkan aja!" sahutku.
"Hah batal! Mana bisa begitu!" ungkapannya terdengar menekan batinku. "Di dalam kontrak itu ada perjanjian juga, Nun. Gak bisa main batal-bataliin aja, kalo di batalin sanksinya adalah penjara, dan bukan hanya kamu yang kena, tapi aku, suamimu juga bakal kena!" tukasnya yang seketika meruntuhkan semangatku. Tulangku bahkan seakan melunak. Aku lemas, tersandar pada dinding.
"Apaa katamu?? Apa yang kamu lakukan padaku, Mir? Teman macam apa kamu?!" hardikku padanya.
"Hehh Ainun, santai aja dong ngomongnya! Jangan menganggap seolah aku yang paling bersalah ya! Lagian, memangnya kamu sanggup bayar semua total pemberian yang pernah aku kasih ke kamu dulu?" Sedetik aku terdiam.
"Gak kan! Aku tuh udah usahain yang terbaik buat kamu! Aku juga mau kamu hidup enak, tapi kamu, bukannya terima kasih, kamu malah marah-marah sama aku. Kamu tau gak, di luar sana itu ada banyak orang yang mau dapat kesempatan seperti kamu!"
"Kamu itu harusnya bersyukur, aku tuh mau bantu kamu keluar dari kehidupan melaratmu. Lagian, sampai kapan kamu mau sengsara terus!" Mira memakiku panjang lebar.
Aku tak kuasa menahan tangis, mendengar semua yang diucapkan Mira terhadapku.
Betapa sampai hatinya dia memperlakukanku layaknya peliharaan, yang kapan saja bisa ia manfaatkan sesuka hati.
Aku meringis meratapi nasib malang yang menimpaku.
****
Sebuah motor tua nan rongsok memarkir tepat di depan rumahku
Aku mengintipnya dari balik tirai yang terbuat dari kain bekas yang kujahit.
Sesosok wanita yang aku kenal datang lagi
Ya, dia adalah Mira. Namun, kali ini ada yg berbeda darinya. Selembar selendang membungkus rapi di atas kepala. Membuat tampilannya terlihat sangat sopan.
"Ada apa ini? Mungkinkah Mira yang dulu telah kembali!"
Mira mengetuk pintu depan rumahku, bergegas langkah ini menuju pintu, membukanya sebelum suami menyambutnya. Akhir-akhir ini, Mira terlalu najis untuk disambut suamiku.
Aku membuka pintu dan mempersilahkannya masuk.
Ia duduk di sudut ruang tamuku dekat dengan jendela, mungkin agar Ia bisa merasakan sedikit angin sejuk yang masuk lewat celah-celah jendela.
"Huuhhh panas!" keluhnya mengawali pembicaraan.
Aku tak menggubris, sebab kini mulai terbiasa dengan sikap arogannya.
__ADS_1
"Suamimu mana? ada di rumahkan, Nun? Tenang aja nanti aku yang bicara, dia pasti percaya, toh penampilanku sudah terlihat sopan bukan?" tanyanya dengan senyum menyeringai.
'Astaghfirullah! Ternyata, kerudung itu hanya kedok untuk menutupi sifat binalnya,' Aku membatin.
Namun, mendadak Mas Malik datang menghampiri kami, dan seketika Mira langsung menampilkan senyuman palsunya dihadapan suamiku.
'Cuiiihhh!,' Ingin aku muntah melihatnya.
"Lah, ada Mira, kenapa gak buatin minum, Dek!" tukas suamiku.
Belum sempat aku menjawab, Mira langsung menepisnya
"Gak apa-apa Mas, gak usah repot-repot. Saya mampir sebentar aja." Wanita binal itu mulai mengeluarkan racunnya.
"Sebenarnya, kedatangan saya kesini ada yang mau saya sampaikn ke Mas Malik," ucap Mira yang membuat jantungku mulai berdebar.
"Jadi gini Mas, saya ini dapat tawaran kerja di jakarta sebagai Baby sitter, gaji yang ditawarkan cukup banyak.
"Nah, saya berniat mengajak Ainun untuk ikut bersama saya, nantinya segala urusan yang menyangkut dengan Ainun, akan saya tanggung."
Seperti yang kuduga, respon Mas Malik seperti tak rela melepasku.
"Saya benar-benar butuh Ainun, karna hanya dia yang bisa saya percaya untuk menjadi rekan kerja," ucapnya berusaha meyakinkan Mas Malik.
Kembali Mira yang berbicara.
"Saya mohon, Mas! Saya sangat butuh pekerjaan ini, saya sekarang terlilit hutang dengan rentenir dan jika dalam waktu dekat saya tidak bisa bayar, maka saya akan dipenjarakan."
Ucapan Mira itu membuatku benar-benar ingin muntah. Betapa tidak, sungguh hebat dia bersandiwara dan membuat skenario, memutar keadaan yang sebenarnya di hadapan suamiku.
"Maaf Mira, Saya gak bisa! dia istriku, dia tanggung jawabku! Aku tidak mau dia pergi hanya untuk alasan uang! Aku masih bisa kok bekerja menafkahinya!" sahut suamiku dengan raut cemas.
"Ini bukan masalah uang, Mas Malik! Ini masalah aku yang meminta tolong padamu untuk mengizinkanku membawa Ainun!"
"Kumohon, Mas Malik," Mira menambah aktingnya dengan berpura-pura menangis, hingga sesenggukan.
Aku tak heran dengan aktingnya yang cukup fantastis, karena memang sedari dulu, dia sangat ingin menjadi aktor terkenal.
Malik menoleh kearahku, aku sengaja menundukkan kepala, menyembunyikan wajahku agar ia tak dapat melihat mataku yang tengah berkaca-kaca. Jangan tanya lagi seperta apa perasaanku, aku merasa sangat kacau.
Yaa aku kacau, sebuah perasaan yg berkecamuk sedang mengacak-acak pikiranku. Berperang dalam batinku, berusaha merusak mentalku.
Iblis pun bahkan tertawa girang di telingaku, ingin aku menangis berteriak sekencang-kencang nya. Tapi apalah daya, aku tak dapat melakukannya.
****
Suamiku tak mengetahui banyak hal tentang Mira, terlebih karena dia tak pernah menyentuh Hp berbasis Android.
Bukan karena tak mau memiliki, selain kendala uang, ia juga tidak mahir menggunakannya.
Itulah kenapa suamiku bahkan tak tahu bahwa Mira bukanlah orang miskin yang seperti ia lihat. Bahwa Mira bukanlah orang yang sedang membutuhkan uang.
__ADS_1
Mira benar-benar berhasil mengelabui suamiku Malik. Hingga Malik benar-benar simpati padanya, dan menyetujui permintaannya, tanpa ia sadari, ia telah mengantar istrinya kepelukan iblis berkepala hitam.
****