
Hari sudah larut malam, aku pulang dengan menggunakan taksi, terasa jelas dingin malam merasuk ketulang sumsumku, sebab siang tadi aku pergi tanpa membawa mantel.
Kami berhenti tepat didepan gang, gang dengan lorong yang sempit tak muat untuk mobil masuk.
Lorong itu adalah akses penghubung ke kediaman Raka, sengaja aku lewat situ agar Raka tak mengetahui kepergianku.
Aku berjalan perlahan dengan menunduk.
"Plak plak plak"
Seorang wanita menepuk tangannya, "hebat hebaat!, orang hebat sudah pulang."
Aku mengangkat kepalaku dan terkejut bukan main, seorang wanita dan tiga orang lelaki dengan jarak dua puluh meter tengah menghadangku. Tubuh para lelaki itu kekar-kekar, sedang memegang pemukul ditangannya, sebagian memegang tali.
Aku menyadari aku sedang dalam bahaya, segera aku berbalik badan dan berniat lari dari mereka, tak disangka dari arah berlawanan 3 orang lelaki yang sama kekarnya juga tengah menungguku dari jarak yang sama. Aku terjebak ditengah lorong.
"Miraaa .. apa yang ingin kamu lakukan!?,"
"Akuu?? .. hahahaha ... tentu saja aku ingin bermain main denganmu, hahahaha" tawa Mira bak seekor monster yang siap menerkam.
"Ayo cepat ikat dia!," perintah Mira kepada preman-preman itu.
Mereka segera mengikat tangan dan kakiku, menyumpal mulutku dengan kain dan mengikatnya, aku berusaha melawan tapi apalah daya mereka puluhan kali lipat lebih kuat dariku.
Setelah selesai mengikatku, mereka meletakkanku dalam bagasi mobil dan menutupnya. Aku masih terus meronta, namun upayaku itu justru membuat kondisiku semakin lemah.
__ADS_1
Mesin mobil mulai menyala. Panas sekali, kakiku ditengkuk aku tak dapat bergerak. Kali ini aku merasakan ketakutan yang sangat dahsyat, seperti sedang bersama malaikat maut menunggu ajal tiba. Aku hanya bisa menangis pasrah.
Mobil terus berjalan entah kemana perginya aku tak tau, kurang lebih 30 menit aku berada dalam bagasi, aku mulai lemas.
Tiba tiba saja mobilnya berhenti. Suara mesin mobil pun berhenti mengusik telingaku. Tak lama kemudian bagasi terbuka kembali. Dua orang lelaki mengeluarkanku dari dalam bagasi dan menghempaskan tubuhku ketanah.
Mereka mulai melepas ikatan-ikatan pada tangan kaki dan mulutku.
Setelah lepas aku langsung merangkak berusaha kabur sekuat tenagaku, namun mereka mengelilingiku dan Menghalangiku, sambil tertawa
"Hayoo mau kemanaa maniis"
hahaha tawa itu tak henti-hentinya mereka lakukan.
Mereka mulai membuka resleting celana mereka, akupun menyadari sepertinya mereka akan memperkosaku terlebih dahulu sebelum membunuhku.
Namun semua usahaku sia-sia, mereka membawaku ketempat dimana tak ada seorangpun dapat menemukanku, apalagi mendengar jeritanku.
Aku mulai menangis.
Dalam tangisanku aku tersadar satu satunya yang dapat menolongku hanyalah Allah. Barulah aku sadar bahwa selama ini aku telah melupakan tuhanku. Aku akhirnya pasrah dan mulai berdzikir, berharap jika aku mati semoga tuhanku Allah mengampuni dosa-dosaku.
Tiba tiba seorang lelaki yang aku kenal datang dan menghajar seluruh preman-preman dihadapanku, mereka semua terpental sebagian lari ketakutan.
Setelah puas menghajar, ia meraih tanganku dan menutup tubuhku dengan kain lalu membawaku pergi.
__ADS_1
Aku melihat Mira terduduk dan termangu dengan mata melotot melihat sosok lelaki yang menyelamatkanku.
Aku heran sangat heran, bagaimana bisa Ridwan kakakku mengetahui keberadaanku, dia bahkan tak mengetahui bahwa aku ada dijakarta. Kini, ia membawaku pulang dengan mobil bak milik bosnya yang biasa ia pakai sebagai supir.
Aku bertanya padanya "kak, bagaimana kakak bisa tau keberadaanku?," tanyaku terheran heran.
"Nanti akan aku jelaskan dirumah", sahutnya singkat.
Sepertinya kakakku ingin membawaku kerumahnya. Aku tak lagi memikirkan macam macam sekarang, aku benar-benar bersyukur kini aku selamat dari ancaman maut.
Tak memakan waktu lama, kamipun tiba didesa dan hampir sampai dirumah kakakku, aku heran padahal perjalanan dari jakarta kedesaku memakan waktu yang cukup lama, tapi malam ini jalan terasa begitu dekat.
Lagi-lagi aku tak mau ambil pusing , aku ingin segera masuk kerumah agar bisa menenangkan diri.
"Masuklah dahulu, nanti aku menyusul," ucap Ridwan padaku. Aku mengangguk dan segera berjalan kerumah kakakku.
"Tok tok tok.."
aku mengetuk pintu rumah kakakku. "Siapa?," sahut seseorang dari dalam rumah.
"Kreeeekk" Pintu dibuka
Mataku terbelalak, betapa terkejutnya aku karena yang membuka pintu rumah ini adalah kakakku Ridwan!.
"Lalu siapa yang menolongku dan membawaku kemari?."
__ADS_1
Aku shok dan jatuh pingsan tak sadarkan diri.