Cinta Ainun

Cinta Ainun
Suamiku Tergadai


__ADS_3

Seri : 8


Pagi-pagi sekali aku sudah bangun untuk bersiap kerumah sakit, hari ini aku berniat menjenguk Malik di RS karena sudah beberapa hari aku tak mengunjunginya. Maklum saja beberapa hari yang lalu aku mengalami masalah yang cukup berat, yang hampir membuat mentalku rusak, untung aku tak sampai gila.


Bayangkan saja, siapapun pasti akan shok jika mengalami kejadian seperti yang aku alami.


Aku bergegas ke Rs menggunakan jasa angkutan umum, setibanya disana, aku langsung berjalan menuju ruang kamar 304 tempat dimana Malik dirawat.


Namun kali ini ada yang berbeda, aku tak menemukan Malik disana, melainkan orang asing yang terbaring di ranjang itu.


Segera aku mendatangi bagian resepsionis untuk menanyakannya.


"Permisi sus saya mau tanya, kemana pasien yang kemarin dirawat diruang mawar nomor 304?."


"Kalau boleh tau, atas nama siapa?." Ia balik bertanya padaku.


"Maliki Hamza," sahutku singkat.


"Sebentar yaa ...," Ia memeriksa beberapa data pasien yang ada diatas mejanya.


"Pasien dengan nama Maliki hamza sudah dipindah Bu, sekitar dua hari yang lalu," ucapnya menjelaskan padaku.


"Kira-kira dipindah kemana ya, Sus?," Aku bertanya berharap suster ini mengetahui nya.


"Nahh kalau soal itu saya kurang tau Bu, saya hanya bertugas mendata pasien yang keluar dan masuk." Suaranya terdengar tenang namun tegas.


Aku duduk dikursi ruang tunggu, memegang kepala sambil berfikir.


"Siapakah yang telah memindahkan suamiku, dan kemana dia memindahkannya?."


Tiba-tiba aku teringat dengan seorang dokter yang sudah membiayai pengobatan suamiku, segera aku mangacak-acak tasku mencari kartu namanya.


Aku mendapatkan sebuah kartu nama dari dalam tasku, Dr. Amanda shalin SpB, nomor telp 0541 **** .


Kuraih ponselku dari dalam kantongku.


"Tit tut tit tut"


Aku langsung menekan tombol nomor untuk melakukan panggilan.


"Tilut tilut.."


"Astaga!," Aku lupa, handphoneku sudah beberapa hari terendap tanpa diisi daya tambahan. Terlihat baterai 10%


"Ahh masih bisa," gumamku.


Kali ini aku mencoba menghubunginya untuk kedua kali.


"Tuuuut ... tuuuut ..."


"Klik"


"Halo," seseorang menyahut panggilan telponku.


"Bisa bicara dengan dokter Amanda?," tanyaku.


"Yaa saya sendiri," sahutnya.


"Saya orang yang kemarin datang kerumah sakit, yang mencari pasien bernama Maliki hamza," ucapku.


"Oohh anda, ada apa? apa anda berniat melunasinya hari ini?, Kebetulan hari ini saya sedang tidak bekerja," sahutnya.

__ADS_1


"Saya ingin ketemu langsung, apa bisa?," tanyaku.


"Ohh bisaa," sahutnya singkat.


"Sebelumnya, saya juga mau bertanya apa kemungkinan anda yang memindahkan suami saya? Kemana?," tanyaku sedikit menggebu.


"Yaa!, saya yang memindahkannya, karena kemarin ada beberapa pengobatan disana yang harus dijalani Malik, tapi belum tersedia dirumah sakit itu, jadi saya memindahkannya," sahutnya.


"Kalau boleh tau kemana?,"tanyaku.


"Bagaimana kalau kita bertemu dulu?,"


"Baiklah dimana?,"


"Dikafe dekat rumah sakit ***" sahutnya.


"Baiklah aku akan menunggu," ucapku yang mengakhiri perbincangan kami.


****


Aku menunggu Dr.Amanda dikafe hingga beberapa menit, seorang pelayan memghampiriku,


"Mau pesan apa kak?,"tanyanya padaku.


"Air putih saja mbak," ucapku.


Aku ingin mengehemat sisa uang yang aku punya.


"Okee," sahutnya sambil melirikku dengan mengerutkan keningnya dan memanjangkan bibirnya kesamping.


"Orang kere toh!," terdengar suaranya pelan.


Aku tak menggubris, aku selalu mengabaikan orang-orang yang mencibirku.


"Silahkan kak sebelah sini." Ia mengarahkan pelanggannya.


Aku hanya mendengar suara pelayan itu tanpa memperhatikan mereka.


Mataku tertuju pada sebuah halaman nan indah berukuran mini yang terpampang dibalik kaca jendela yang bening.


Seorang wanita tiba-tiba menghampiriku dan duduk didepanku. Ia tersenyum padaku.


"Kamu keluarganya Malik yang kemarin dirumah sakitkan?!," ucapnya padaku.


Aku langsung menoleh,


Benar saja, dia adalah dokter Amanda, aku hampir tak mengenali wajahnya, ia terlihat sangat cantik hari ini.


"Ohh iya," sahutku singkat.


"Perkenalkan nama saya Amanda,"


"Ainun," ucapku.


Ia memperhatikanku, wajahnya sedikit mengerut. Penampilanku hari ini dengan pertemuanku kemarin saat dirumah sakit sangatlah berbeda. Aku berubah 180°.


Aku yang dulu terlihat begitu menawan dengan pakaian serba mahal kini berbalut hijab dan baju murah yang terlihat banyak terjual dipasar .Wajar saja jika expresinya seperti itu.


"Kamu.. kemarin .. terlihat seperti istri seorang pengusaha, tapi kok ...? ahhh," Ia langsung menepis ucapannya dan tersenyum,


"Maaf kalau aku menyinggungmu," ucapnya dengan bibir yang masih tersenyum lebar.

__ADS_1


Aku tersenyum tipis, sebenarnya aku malu tapi, ahh ... segera ku tepis. Bukankah aku sudah terbiasa mengalami hal begini.


"Iyaa .." kataku.


"Bagaimana keadaan Malik?" tanyaku mengalihkan perhatiannya.


"Alhamdulillah sudah lebih membaik, bahkan sekarang sudah siuman."


"Begitukah!" Aku merasa lega mendengarnya.


"Ngomong ngomong soal biaya itu, sebenarnya aku ingin melunasinya tapi sekarang aku sudah tidak punya uang", ucapku dengan wajah sendu.


"Aku hanya punya segini," sambil menyodorkan amplop berisi uang tunai 2.500.000.


"Tak apa jika anda tak dapat melunasinya." Wajahnya tersenyum.


Mataku langsung terbuka lebar, wajahku sumeringah


"B- benarkah??,"


"Yaa" jawabnya.


"Tapi anda tak boleh menemui Malik."


Seketika expresiku langsung berubah. Apa maksud dari wanita ini?


"Sebenarnya dari awal saya sudah tau kalau anda adalah istri Malik, sebelum insiden kecelakaan itu saya bertemu Malik, ia bercerita bahwa istrinya kejakarta untuk bekerja sebagai babysitter, Malik juga sempat menunjukkan foto anda, hanya saja ada yang ganjal ketika dia menunjukkan alamat anda. Saya tidak menemukan alamat itu dijakarta". Tuturnya panjang lebar.


"Saya tidak tau anda disini bekerja sebagai apa, tapi yang mengagetkan saya, ketika saya bertemu anda dirumah sakit, penampilan anda jauh berbeda dengan apa yang diceritakan Malik!."


Pernyataan wanita ini membuatku terkejut. Ternyata dari awal ia sudah mengetahui bahwa aku istri Malik. Dan entah apa yang dipikirkan wanita itu saat ini.


"Jadi apa maksud anda menceritakan semua ini pada saya? Dan mengapa anda melarang saya bertemu suami saya?," tanyaku.


"Tadinya saya akan menyerahkan Malik jika anda telah melunasi semua biaya admin yang saya tanggung untuk Malik, tapi karena sekarang anda tidak mampu melunasinya, saya berubah pikiran!," sahutnya yang membuatku shok berat.


"Apa maksud anda dengan berubah pikiran?" Aku mulai panas, apa yang direncanakan wanita ini?.


"Aku ingin Malik menjadi milikku, dia terlalu baik untuk perempuan seperti anda," ucapnya lagi yang membuat jantungku seketika berdetak kencang.


"Malik terlalu baik untuk anda, ia sangat tulus pada anda, tapi dengan teganya anda mengkhianati lelaki seperti Malik!." Kali ini ucapannya membuat jantungku semakin kencang.


"Saya tak habis pikir, mengapa ada orang setega anda, menyia-nyiakan lelaki yang sudah sangat mencintai anda, terlebih lagi Malik orang yang ahli ibadah."


Aku menjadi emosi, wajahku berubah merah padam.


"Memangnya apa yang anda tau tentang kehidupan saya!, anda mungkin bisa berkata seperti itu karena anda tak pernah tau bagaimana rasanya menjadi anak yatim piatu seperti saya!, hidup seorang diri diusia yang masih belia!" Aku sangat marah padanya.


"Yaa anda sangat beruntung!, bisa hidup enak, punya orang tua yang mendidik dan memberi kasih sayang, bahkan menyekolahkan anda hingga sukses!, tapi saya yakin anda tak akan pernah sanggup untuk menjalani hidup seperti saya!.


"Anda berkata saya perempuan yang tidak baik yang naif! Pantaskah anda berkata seperti itu! Bagaimana saya bisa menjadi orang yang baik terpendidik, sementara saya hidup miskin melarat sengsara dan dipandang sebelah mata, hah!"


Emosiku benar-benar memuncak, mengingat wanita yang ada didepanku mengata-ngataiku bahkan ingin merebut suamiku.


Perdebatan kami mengundang semua mata seisi kafe.


"Maaf saya tidak berniat untuk mengungkit masa lalu anda, tapi apa anda tidak merasa kasian terhadap Malik, lihatlah semua yang terjadi pada Malik, bukankah ini semua kesalahan anda!" ucapnya.


"Saya hanya ingin anda membuka pikiran anda, tidakkah anda ingin melihat Malik bahagia? Saya tau mungkin ini berat bagi anda, tapi pikirkanlah lagi. Saya akan mambahagiakan Malik, saya janji pada anda, tapi kalau anda tetap tidak mau melepaskan Malik silahkan,anda hanya perlu menebus semua biaya pengobatan Malik, itu saja,"ucapnya yang kini membuatku benar-benar emosi.


Tak pernah terpikir olehku, jika wanita ini ternyata berniat merebut suamiku.

__ADS_1


Aku marah, namun tak dapat berbuat banyak, air mataku menjadi saksi betapa hatiku terluka.


__ADS_2