
Seseorang menarik tanganku dari arah belakang.
"Apa yang kamu lakukan di sini, ayo cepat! rapat akan segera dimulai." Raka menarik lenganku, mengajakku pergi melangakah lebih jauh dari kerumunan.
Langkahku terasa begitu berat, pandanganku terus mengarah ke Mas Malik, hingga akhirnya pandangan sosok Mas Malik hilang dari hadapanku.
Kami dijemput oleh orang suruhan Raka.
Sepanjang perjalanan aku gelisah, pikiranku kacau, aku menjadi sedikit linglung, akankah ada yang menolong suamiku Malik? Aku sangat berharap seseorang segera menolongnya, aku sangat yakin bahwa suamiku masih hidup.
"Kamu kenapa?" Raka memandangku sedikit mengernyit.
"Ohh a-ku ... aku gak apa-apa," ucapku sedikit gemetar.
Tubuhku masih panas dingin mengingat Malik yang terkapar bersimbah darah.
"Kalau ada apa-apa bilang aja! tukasnya. Ingat! Jangan ada kesalahan hari ini," ucapnya yang kemudian kembali menatap layar handphone di tangannya.
******
Rapat sedang berlangsung, aku masih saja tak dapat mengendalikan diri, bayangan Mas Malik masih terus menghantuiku. Aku terus melakukan kesalahan selama rapat berlangsung. Aku berbicara ngawur tak sesuai sengan skenario.
Tak memakan waktu lama, Raka segera mengakhiri rapat penting hari ini. Ia bergegas menuju pintu parkir, aku berusaha mengikuti langkahnya yang begitu cepat seperti sedang berlari.
Ia kemudian masuk ke dalam mobil dan segera kususul. Sepanjang perjalanan ia terlihat sangat kesal, wajahnya kusut seperti benang yang tergumpal.
Aku bisa merasakan amarahnya padaku. Aku pasrah jika nanti ia akan memaki-makiku.
Dan benar saja, setibanya kami di kediamannya, ia langsung memarahiku dengan nada yang sangat tinggi, hingga mengundang seisi penghuni rumah.
Bak menyaksikan sebuah drama pertunjukkan, semua pasang mata begitu nikmat menonton pertunjukkan yang sedang berlangsung.
__ADS_1
Puas memaki, Raka segera berlalu dari hadapanku, meninggalkanku seorang diri yang masih terpaku dengan wajah menunduk.
Sepintas, kulirik Bibir-bibir itu tak kalah tajam, bergantian mereka berbisik sambil menatapku sinis. Sebagian tertawa kecil.
Merasa pertunjukkan telah usai mereka kembali pada kerjaan mereka masing-masing.
Aku masih terdiam dengan wajah lesu. Termangu kemudian terduduk, merasa begitu lemah. Tak kuat rasanya aku menjalani hidup yang begitu rumit.
Kulihat kesamping berusaha membuang jauh pandangan agar aku bisa sedikit lebih tegar.
Terlihat seorang lelaki memperhatikanku dari jarak yang jauh.
Menyadari aku telah melihatnya, segera ia berlalu dengan menggunakan sebuah motor.
Aku tak ambil pusing.
"Ahhh! mungkin bukan sedang melihatku, mungkin perasaanku saja," gumamku.
Siang ini aku berencana keluar rumah sendirian, mencari suamiku ke setiap Rumah Sakit di kota ini. Berharap menemukannya.
Hari sudah mulai sore, matahari menyongsong ke arah barat. Menunjukkan pada dunia bahwa sebentar lagi tiba waktunya berganti malam.
Aku sudah mendatangi hampir ke setiap Rumah Sakit dinkota ini. Namun, tak kunjung menemukan Mas Malik. Hanya tinggal satu Rumah Sakit lagi yang belum aku datangi.
"Permisi suster, saya mau bertanya, adakah pasien dengan insiden kecelakaan yang masuk hari ini?" tanyaku begitu tiba di Rumah Sakit terakhir yang belum kusambangi.
"Ada," jawabnya singkat. Seketika semangatku membara
"Boleh saya lihat listnya?" tanyaku penuh harap.
Ia menyerahkan list/daftar nama pasien kecelakaan hari ini. Aku mulai mencari dengan telunjuk jari.
__ADS_1
1 ...bla
2 ...bla
3 ...bla
MALIKI HAMZA
5 ...bla
Stop!
Jariku terhenti pada satu nama.
Aku langsung bertanya pada resepsionis tadi di mana kamar pasien dengan nama Maliki Hamza. Segera sang resepsionis mencarikannya lewat layar monitor.
"Disebelah sana bu, belok kiri kamar mawar no.304,"
"Oke terima kasih," sahutku yang langsung berlalu meninggalkan resepsionis itu.
Tap! tap! tap!
Aku berjalan menyusuri lorong sesuai dengan instruksi resepsionis tadi, rasa deg-degan mengegrayungiku, aku tak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi nanti saat bertemu dengan Mas Malik.
Dapat kurasakan tubuhku yang mulai panas dingin. aku terus berjalan hingga tiba di tujuan.
Tepat di depan kamar nomor 304 aku berhenti. Pintu kamar tertutup rapat, aku mengetuk dan tak ada jawaban. Perlahan dengan menutup mata aku mencoba membuka pintu.
__ADS_1
"Kriieeeett!"
Pintu kubuka bersamaan dengan mata yang juga perlahan kubuka.