Cinta Ainun

Cinta Ainun
Dendan yang Terbalaskan 2


__ADS_3

Embun masih begitu tebal, menyelimuti gedung-gedung kota, aku harus bangun sepagi mungkin untuk menghapal naskah karena pagi ini ada rapat penting di ruang Aula Tuan Raka yang harus aku ikuti. Aku harus selalu ada di setiap rapat pentingnya, walau hanya sebatas boneka.


Seperti yang mereka tau, aku adalah seorang istri direktur, aku juga harus tau banyak hal tentang perusahaannya. Untuk berjaga-jaga jika sesekali rekannya bertanya padaku. Walau sebenarnya aku hanyalah boneka Raka.


Setelan kemeja putih dan dres yang panjang selutut, kalung berlapis permata berwarna putih dengan rambut yang disanggul rapi, membuat penampilanku benar-benar seperti nyonya muda.


Aku berbalik ke kiri dan ke kenan menatap cermin, memastikan agar tak ada yang kurang dari penampilanku.


Tok! Tok! Tok!


Salah seorang pelayan mengetuk pintu kamarku. Aku membuka dan menemukannya tengah berdiri di hadapan.


"Cepat! Tuan muda sudah menunggumu!" tukas pelayan itu. Wajahnya sinis menatapku.


Aku tak mengerti mengapa semua pelayan dirumah ini begitu ketus padaku. Mungkinkah mereka iri denganku?


Aku membalas senyuman sinis padanya yang masih memating di hadapanku, lalu aku meninggalkannya pergi. Terlihat jelas wajahnya yang merah padam seakan ingin menerkamku.


Aku keluar menggunakan heels setinggi sepuluh senti, berjalan bergegas menuju mobil Raka.


Setelah mendarat di samping Raka, segera Raka menyalakan mobilnya dan langsung melaju ke gedung Aula tempat pertemuan rapat umum.


Awalnya perjalan kami lancar tanpa kendala. Namun, entah kenapa jalanan yang biasanya kami lewati tanpa ada halangan, tiba-tiba macet parah.


Entah apa yang terjadi di depan sana.


Berkali-kali Raka menekan klakson mobilnya, hingga akhirnya ia harus turun dan mencari tau penyebab kemacetan itu.


Aku pun ikut turun untuk sekadar mencari udara segar.


Drrrttt! Drrrttt!


Sebuah panggilan masuk di handphoneku.


Aku merogoh tas untuk menemukan handphone yang tadi sempat berbunyi, sepintas kemudian aku melihat di layar tertulis tiga kata.

__ADS_1


Mira .. Angkat .. Tolak


Aku memilih mengangkat panggilan itu karena kurasa Raka cukup jauh untuk bisa mendengar percakapanku.


"Ada apa?" tanyaku singkat.


"Ainuun... tolong aku! Aku butuh uang!


"Uang??"


"Iya, Nun!"


"Kenapa? Bukankah kau punya banyak uang?"


"Suamiku dipecat dan sekarang sedang mendekam di penjara! Uangku habis, Nun. Semuanya aku gunakan untuk pesta semalam. Tolong bantu aku menyewa pengacara untuknya."


Seketika aku ingat! Belakangan ini Mira mulai jarang memposting benda-benda mewah yang biasa ia pamerkan. Aku tak heran jika sekarang ia kere, karena belakangan ini, Mira memang mulai mengkonsumsi barang haram, dan sepertinya Mira sudah kecanduan.


Aku tertawa lepas masih dengan telepon yang kugenggam dekat telinga.


"Uang?? Hahhaaha!" Kembali aku tertawa.


"Ya banyak lah, lantas kenapa kalau aku punya banyak?" sahutku.


"Itu uangku, aku tak mau memberikannya padamu," ucapku.


"Apaaaa?" Mira terkejut bukan kepalang.


"Kurang ajar kamu, Nun, berani kamu sekarang ya!" gertaknya padaku.


"Ingat ya Nun, kamu itu masih punya hutang padaku!!" Nadanya terdengar sangat emosi.


"Hutang!? Bukankah kamu sudah mengambil untung banyak dariku dengan menjadikanku bisnisanmu!" Aku membalas dengan melempar emosiku padanya.


"Wahh! Mulai lancang kamu sekarang, Nun. Jangan lupa, Nun, Kamu sekarang bisa hidup enak berkat siapa! Awas kamu Nun!"

__ADS_1


Tut tut tut! Mira menutup telponnya.


Aku tertawa dan merasa sangat puas akhirnya dapat juga membalaskan dendamku padanya.


Tanpa kusadari, aku mulai menjadi manusia yang serakah yang tak ada bedanya dengan Mira.


Benar saja! Uang bukan segalanya, tapi uang bisa mengubah pandangan hidup manusia.


Aku menengok ke arah Raka, cukup lama bosku itu pergi ke depan. Aku pun mengedarkan pandangan, tapi tak menemukannya di dekatku. Sepertinya Raka berjalan terlalu jauh ke depan mencari tau penyebab kemacetan ini. Kuputuskan untuk menunggu.


Setelah beberapa menit menunggu, aku memutuskan untuk ikut mencari tau penyebab kemacetan ini.


Dari kejauhan aku melihat kerumunan orang-orang seperti sedang menyaksikan sesuatu. Penasaran, akupun ikut diantara kerumunan orang-orang sembari menyelip lewat celah-celah agar bisa memastikan secara langsung apa yang terjadi.


Beberapa orang berbincang, sepertinya telah terjadi kecelakaan, aku semakin penasaran. Kusingkap beberapa orang di depanku yang menutupi dandanganku.


"Aaaahhh!!" Seketika aku berteriak histeris.


Kedua lenganku spontan menutup mulut. beberapa orang memandangku heran.


Betapa terkejutnya aku dengan apa yang kulihat. Kemeja kusut itu tak asing di mataku


Tampak seorang pria tengah tergeletak dengan darah mengucur dari sebagian tubuhnya.


"Kenapa? Kenapa Mas Malik ada disini? apa yang terjadi padanya? Bagaimana ini?" gumamku dalam hati.


"Apa mungkin Mas Malik mencoba menyusulku?" batinku semakin tertekan.


Mataku mulai tertuju pada selembar kertas kecil di tangan Mas Malik, kertas yang tak terlihat asing.


"Astagaa! Sepertinya kertas itu adalah alamat yang kupalsukan."


"Oohh tidak apa yang telah kulakukan!!"


"Oohh tidaaakk!!"

__ADS_1


Air mataku mendadak runtuh, mengalir di antara kedua pipi.


Bersambung ....


__ADS_2