
Seri : 9
POV : lebih dari 1
Ainun hanya bisa pasrah menerima takdir yang digariskan untuknya. Walau sebenarnya hatinya tercabik-cabik. Wanita manapun tak akan rela suaminya direbut oleh wanita lain, namun kali ini Ainun benar-benar terpaksa, lantaran Ainun sudah tidak lagi memiliki uang disebabkan pemutusan kontrak yang dilakukan Raka terhadapnya. Tapi Ainun tidak menyesal dengan pemutusan kontrak itu, sebab kini Ia telah mendapat hidayah dari tragedi malam yang menyisakan pilu dihati.
Amanda memberikan imbalan kepada Ainun tapi dengan tegas Ainun menolaknya. Karena jika Ainun menerima pemberian itu sama saja Ainun menjual suaminya.
Kini Ainun harus kembali menjalani hidup seorang diri, menyisakan misteri pada hati dan pikiran Malik.
Ainun wanita yang Malik cintai, hingga kini tak pernah Malik mengetahui apa yang Ainun kerjakan selama kepergiannya dari desa dan tak juga mengetahui dimana Ainun sekarang.
****
Ainun tak tau harus kemana lagi. Rumah, ia sudah tak punya, yang ia punya saat ini hanyalah kakaknya Ridwan. Tapi tak mungkin ia harus ikut bergelut dengannya, untuk menghidupi keluarganya saja, Ridwan harus bekerja maksimal banting tulang, Ainun tak mau menambah beban dikehidupan kakaknya, Ridwan.
Ainun mulai berpikir, beruasaha memutar otaknya, duduk diantara anak tangga, Ainun masih terus berpikir, kedua tangan Ainun memegang kepala, lalu Ainun melihat kawanan wanita-wanita muda dengan pakaian serba tertutup mulai dari kepala hingga kaki, datang dan mendekat. mereka terlihat seperti wanita-wanita santriwati, berusia sekitar 23 tahun, yang kemudian duduk bersebelahan dekat dengan Ainun. Tanpa sengaja Ainun mendengarkan percakapan mereka.
Salah satu diantara mereka berkata "ya Akhwati? kemanakah kiranya kita harus mencari juru masak yang mau bekerja dipesantren kita?," salah seorang diantara mereka memulai pembicaraan.
"Iyaa, jaman sekarangkan agak susah untuk mencari orang yang mau menjadi juru masak dengan kriteria tertentu, dan bersedia menginap," sahut yang lainnya.
"Betul!, sayang sekali bu Farida harus berhenti menjadi juru masak kita," sahut yang lainnya dengan bergantian.
Mereka kembali melanjutkan obrolan. Terdengar asik mereka mengobrol membahas perihal juru masak. Mungkin mereka para Asatidzah yang dikirim dari pesantren untuk mencari juru masak baru.
Ainun kembali hanyut dalam pikirannya. Memikirkan nasibnya yang kini sebatang kara. Namun tiba-tiba Ainun tersadar dengan obrolan wanita-wanita ini.
"Tunggu?, mungkinkah ini kesempatan bagiku?," guman Ainun.
"Permisii, maaf tadi tanpa sengaja saya mendengar obrolan kalian tentang pencarian juru masak," tanya Ainun kepada mereka yang membuat mereka semua terdiam menatap Ainun.
Ainun tersenyum grogi manakala wanita-wanita suci ini memandanginya.
"Yaa kami sedang membutuhkannya," sahut salah seorang dari mereka.
"Apa kemungkinan ukhty memiliki teman atau saudara yang berminat menjadi juru masak dipesantren kami?," tanya salah seorang dari mereka.
"Ohh .. itu, sebenarnya saya yang membutuhkan pekerjaan itu, apa mungkin saya bisa diterima?." Ainun bertanya pada mereka dengan penuh harap. Mereka kemudian saling berpandangan.
"Ya itu bisa saja, tapi ukhty harus bersedia melewati seleksi terlebih dahulu," sahut mereka lagi.
__ADS_1
"Jika seleksi itu berhasil, insya Allah ukhty akan diterima," sahut yang lain menambahi dengan wajah tersenyum.
"Insya Allah, saya bersedia," sahut Ainun penuh semangat. Kali ini Ainun benar-benar memantapkan dirinya.
"Bismillah ..." Ainun berdoa semoga ini menjadi jalan terbaik akhir dari penderitaannya.
****
Ainun telah mengikuti seleksi dengan sangat hati-hati agar tidak ada kesalahan. Namun, Ainun gagal. Ia tidak lulus seleksi, tapi Ainun beruntung karena ia cepat bertindak.
Ainun tak segan menceritakan keadaannya yang sekarang, ia tidak memiliki apa-apa. Rumah, kerjaan, ia tidak punya. Karena itulah Ainun akhirnya diterima dipesantren yang bernama Assobirin sebagai juru masak.
Pesantren itu cukup sederhana, namun pelajaran disana tak kalah bagus dengan pesantren-pesantren ternama lainnya. Pesantren yang terletak jauh dari keramaian kota itu diisi oleh ratusan santri yang antusias belajar mendalami ilmu agama.
lantunan ayat-ayat suci terdengar merdu disetiap sudut gedung kediaman santri. Anak-anak santri berlarian ketika jam isrirahat tiba, sibuk dengan kegiatan mereka yang berbeda-beda, tergantung dengan tingkat mereka masing-masing, dan mereka bersiap dengan mukenah putih menjulur sampai kelutut manakala adzan telah berkumandang.
Ainun mengambil kesempatan selama dipesantren, dengan belajar memperbaiki bacaan-bacaan Alquran dan mempelari hadist-hadist oleh beberapa relawan Asatidzah yang tidak sedang sibuk.
Kini Ainun menjelma menjadi sosok bidadari syurga yang cantik nan berbudi.
Namum tetap Ainun tak berbesar hati, ia sadar diri, dirinya hanyalah seorang juru masak, tak akan setara dengan mereka para santri.
****
Kehidupan Malik kini telah berputar 180°. Malik mendapat tawaran disalah satu mesjid besar sebagai Mu'Adzin.
Setelah satu tahun lamanya, Malik tak kunjung menemukan istrinya Ainun, ia memutuskan untuk menerima lamaran Amanda. pernikahan mereka berlangsung sederhana, hanya dengan mahar 50.000 rupiah mereka akhirnya melaksanakan akad nikah yang cukup terasa sakral.
Kebahagiaan Amanda bertambah manakala mereka dikaruniakan seorang anak perempuan yang cantik yang mereka beri nama Azizah Azzahra.
Kini Azizah berusia tujuh tahun, ia tumbuh menjadi seorang gadis kecil yang cantik nan solehah.
****
"Ainun Ainun Ainun! Selalu saja Ainun yang mas sangkut pautkan! Tidak bisakah seminggu saja mas tidak menyebutkan namanya?." Suara Amanda terdengar kesal. Ia geram kenapa selalu saja Malik memuji Ainun.
"Mas aku juga istrimu, tidak bisakah sekali saja Mas menghargai perasaanku, tidak bisakah sekali saja Mas memberikan cinta Mas sepenuhnya untukku?!," ucap Amanda yang mulai menitikkan air mata.
Melihat Amanda bersedih, Malik segera merangkul istrinya itu, Ia menatap wajah istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Sayangku Amanda, bukan Mas tidak mau menghargai dek Amanda, Maspun menyayangimu sebagai istri Mas. Tapi ketahuilah dek, sampai saat ini, Ainun itu masih istri sah Mas!."
__ADS_1
"Tapi Mas!, dia sudah membohongimu Mas, dia memberikanmu alamat yang palsu!,"
"Cukup dek Amanda! Mas tidak ingin dek Amanda selalu berpikir negatif terhadap Ainun," sahut Malik kemudian berdiri menatap kaca keluar jendela.
"Mas mungkin memang tidak tau apa yang sebenarnya Ainun kerjakan, dan dimana dia sekarang, tapi Mas yakin kalau Ainun adalah istri yang baik. Ia pasti telah salah menuliskan alamat yang ia berikan untuk Mas."
Amanda terduduk lemas, Ia akhirnya menyadari bahwa dirinya telah memaksakan diri untuk memikili Malik. Malik boleh saja memberinya perhatian dan kasih sayang untuknya. Tapi ia sadar betul, bahwa cinta Malik masih tersimpan rapat untuk Ainun.
****
Malam itu Malik dan Amanda sedang mengobrol asik membahas perihal pendidikan yang akan mereka berikan kepada anak mereka Azizah, yang baru saja lulus dari madrasah diniyah.
"Dek, Mas ingin anak kita Azizah mengenyam pendidikan dipesantren, Mas yakin kalau Azizah akan tumbuh menjadi anak yang solehah dan memiliki ilmu untuk bekal akhiratnya, dan juga untuk menjadi penolong bagi kita kelak di akhirat," ucap Malik kepada istrinya Amanda.
Amanda terdiam sejenak, Ia bimbang dengan pernyataan Malik, apakah mungkin Ia akan sanggup jika harus berpisah dengan gadis kecilnya.
"Tapi Mas, Azizah itu masih terlalu kecil, kita tunggu dia lulus sekolah dasar saja yah," pinta Amanda pada Malik dengan sedikit merayu suaminya.
Malik tersenyum dengan sikap istrinya yang begitu menyangi Azizah, hingga tak rela berpisah.
"Dek, percayalah! Azizah itu gadis kecil kita yang kuat dan tangguh," ucap Malik pada Amanda.
"Adek sendiri kan tau kalau Azizah selalu meminta pada kita, setelah lulus madrasah ini dia ingin segera ..."
"Stop."
Amanda langsung memutus pembicaraan Malik dengan meletakkan jari telunjuknya kebibir Malik.
"Iya Mas, iyaa aku tau .." sahutnya cemberut, Ia terlihat enggan membahas perihal permintaan Azizah untuk mengenyam pendidikan dipesantren sedini mungkin.
Malik hanya tersenyum melihat sifat manja istrinya.
"Besok kita cari pesantrennya yah, Mas ada rekomendasi dari pak kyai kalau di kota *** ada sebuah pesantren terpencil, namanya kalau gak salah pesantren Assobiriin," ucap Malik.
"Baiklah Mas, besok kita akan kesana, kita akan cari tau seperti apa kira-kira pendidikan disana, kalau kurang bagus kita cari yang dekat-dekat aja yah, adek gak mau jauh-jauh dari Azizah," ucapnya merengek.
Malik membalasnya dengan senyuman dan mencubit pelan pipi manis Amanda.
"Baiklah sayangku ..."
Bersambung ...
__ADS_1