Cinta Asyila

Cinta Asyila
Bab 1 : Prolog


__ADS_3

Di sebuah kota Jakarta. Hiduplah seorang gadis berusia 13th yang melanjutkan pendidikan ke pesantren di daerah jakarta setelah lulus dari sekolah dasar.


Hidupnya cukup bersyukur karena memiliki keluarga yang lengkap, serta lainnya. Namun, hanya musibah dan ujian lah yang membuatnya lemah dari bersyukur.


Di semasa hidup sebagai anak SD. Ia tak mempunyai kawan dekatnya. Entah kenapa teman temannya tak ingin mendekatinya. Padahal, ia tak begitu jelek dan tak ada kekurangan di zaman sekarang.


Tidak miskin namun sederhana. Tidak sempurna namun memang tiada manusia yang sempurna. Tidak ada fisik yang kurang.


Namun, ia merasa kulit dirinya lumayan gelap. Namun, semenjak ia memakai skincare facial foam saja. Tampaknya, semua orang orang menatapnya dengan "WAW" Namun dirinya tak merasa begitu.


Ia terkadang suka ada rasa insecure karena kulitnya hitam


.......


Pagi hari pukul 06.50


Gadis berusia 13th itu sudah berangkat. Hanya berjalan kaki dan membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai di sekolah.


Cut Asyila Roslinda, nama gadis tersebut. Berhijab, baik hati, lemah lembut, pendiam, pemalu, penyayang, menyenangkan jika diajak ngobrol, murah senyum, hanya dapat bersahabat dengan sang adik.


Itulah dirinya. Mungkin, ia tak ada teman karena dirinya pendiam dan pemalu sehingga tidak ada yang ingin berteman dengannya. Namun, ia selalu berfikir, ketika dia berada di pesantren dirinya akan berubah.


Karena banyak orang pendiam di masa kecilnya di sekeliling dirinya yang berubah menjadi sosok ramah dan bobrok.


Begitu pula dengan sang ibundanya. Ia pernah mendengar, bahwa sang ibu semasa dulu pendiam. Namun, setelah menikah tidak lagi pendiam.


Kini pun tampak lebih cerah dan putih. Ada orang mengatakan bahwa, kini, ibunya berbeda.


Yang dulunya pendiam ketika menikah tidak lagi. Yang dulunya tak begitu putih sekarang putih bersinar.


Banyak perubahan yang terjadi di masa masa pendiam katanya. Mungkin karena ada sosok malaikat yang membuatnya menjadi tidak pendiam.


Akhirnya, Syila sampai di kelas 6. Ia duduk dengan temannya bernama Nurul. Ia pun pendiam namun berbeda dari Syila. Nurul mempunyai karakter pendiam sendiri


Syila, ketika ditanya benar benar ramah dalam menjawab dan murah senyum. Namun, Nurul, ketika ditanya terkadang menjawab dengan singkat, padat, dan jelas dan terkadang juga hanya diam melirik menatap.


Itu yang Syila tidak suka. Namun, Syila harus menerima dengan perilaku Nurul. Bisa saja ia menjadi lebih baik dari dirinya.


Soal pelajaran. Ia juga tak begitu di atas rata rata. Di setiap ujian, dia tak dapat memenagkan peringkat 10 sampai 1. Jika di bandingkan Syila dengan Nurul, sepertinya lebih pintar Syila.


Namun sebenarnya, Nurul hanya pintar dengan mata pelajaran Agama Islam. Namun itu jauh lebih baik.


Saat Syila mengucap salam pada semua temanya. Temannya yang mendengar pun menjawabnya tanpa tersenyum padanya. Biasanya, di hari hari kemarin, mereka menjawab salamnya dengan tersenyum. Kini, semuanya sudah berubah hingga membuat Syila kecewa dan tampak sedih.


Namun, ia harus bersyukur, karena sebentar lagi ia akan berpisah dengan para temannya.


Semua temannya selalu bilang. "Ya ampun.... Nanti kalo udah keluar pasti kangen, pengen ketemu, gak siap. Pasti rindu.... "


Namun, Syila siap meninggalkan para temannya. Bahkan ia siap sewaktu di bulan Januari setelah ujian semester ganjil (1) . Ia siap meninggalkan nya karena para temannya lah membuatnya terluka dan banyak kerisauan yang terjadi pada dirinya.


Bagi Syila. Temannya adalah luka. Lukanya adalah para temannya. Tidak ada yang spesial dengan para teman sd nya. Baginya, temannya tak ada arti untuk dirinya.

__ADS_1


Ia bahkan tak sabar melepas temannya dalam genggaman nya. Ia tak sabar akan meninggalkan para temannya. Ia tak sabar akan menjumpai teman barunya di pesantren.


Tak lama kemudian. Bel masuk berbunyi pukul 07.28


Pak wali kelas sekaligus guru pengajar pun datang hanya 1 orang. Karena, guru khusus hanyalah pendidikan agama Islam. Dan Olahraga.


"Assalamu'alaikum" salam pak Daniel


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh"


Semua siswa menjawab salamnya dan kebetulan. Semua siswa beragama Islam.


Pelajaran pun dimulai dengan mata pelajaran IPA.


Guru menjelaskan tentang pelajaran IPA tersebut. Tiba tiba ponsel nya berdering. Guru pun menyuruh ke para siswa nya untuk mengejarnya soal yang ada di sana.


"Syil... Ada pulpen lagi gak?" tanya Nurul pada Syila


"Sebentar"


Syila pun mengoreh-ngoreh ranselnya dibagian kecil mencari pulpen .


"Ada nih" ucap Syila sambil memberikan pulpen nya.


"Pinjam ya" ujar Nurul


"Iya"


Tak lama kemudian, Bel berbunyi pada pukul 09.15. Semua siswa berlarian meninggalkan tugasnya menuju kantin. Tidak dengan Syila dan Nurul.


Jika Nurul, kadang jajan, kadang tidak. Keduanya sering diam tak mengobrol. Syila sebenarnya ingin mengajaknya ngobrol tentang Nurul keseharian di rumah. Namun, entah ego atau hati yang tak siap.


"Nurul gak jajan? " tanya Syila


"Enggak" jawab singkat Nurul


"Emang gak bawa uang?" tanya Syila


"Bawa tapi nggak pengen jajan aja" jawab Nurul


Sangat singkat dan padat namun jelas seperti reklame.


2 menit mereka diam.


"Nurul kalo dirumah suka main gak?" tanya Syila menunggu dalam 2 menit.


"Suka" jawab Nurul


"Sama siapa?" tanya Syila


"Eshya" jawab Nurul

__ADS_1


"Oh... "


Akhirnya. Syila memutuskan untuk berhenti bertanya. Karena, Nurul seperti tidak nyaman dengan menjawab pertanyaan Syila


Kemudian datanglah seorang lelaki bernama Putra. Menghampiri Syila


"Syila, kata Dewa suruh ke taman!" ucap Putra


"Dewa?" tanya Syila


Putra bukanlah kelas 6. Namun, ia adalah sepupu Syila.


Penjelasan : Ibu Putra bernama bu Ririe. Bu Ririe adalah kakak 2 dari ibu Syila.


Lebih jelasnya : Pasangan ibu Jihani dan alm. Pak Fedi, mempunyai anak 6.



Handi


Ririe (ibunda Putra)


Tyas


Dewi (ibunda Syila)


Sandi


Rina



"Iya. Ayo!" titah Putra


"Nggak deh... Bohong pasti. Kalo bener, Syila lagi gak enak badan! Udah gitu aja!" sahut Syila


Syila berkata seperti itu hanya kepada orang orang tertentu (terdekat)


"Udah.... Ayo!!!" Putra menarik tangan Syila.


"Eehh... Putraaa!!!!! Lepasin!!!" teriak Syila


Sosok mata tertuju pada Syila. Semua siswa kelas bawah menatap Putra yang sambil menarik tangan Syila . Faktanya, 30% mengetahui bahwa Syila dan Putra adalah saudara. 70% kebanyakan siswa di lingkungan sekolahnya tak mengatahui.


Sesampainya di taman. Disana sudah banyak teman teman. Termasuk Dewa.


Genggaman Syila terlepas dari Putra. Tiba tiba Putra pun menghilang.


"Ada apa sih rame rame gini? Sekarang kan bukan ulang tahun aku. Kenapa juga coba Putra bawa aku ke sini! Ih... Emang gak jelas banget sih tu anak" dengus kesal Syila


Syila pun berbalik arah, dirinya akan kembali ke kelas.

__ADS_1


Namun......


Baca selanjutnya !!!


__ADS_2