Cinta Asyila

Cinta Asyila
Episode 4


__ADS_3

Bus yang di tumpangi Alyssa berjalan menuju Bekasi. Alyssa duduk dengan sahabatnya, Laura. Keadaan Alyssa seperti marah pada seseorang, ia terus murung hingga...


"Apa yang terjadi pada Alyssa?" tanya Maya pada Laura. Maya memegang dua buah sosis bakar, untuknya dan... untuk antara sahabatnya


"Waktunya tidak cukup untuk memungkinkan sesuatu terjadi padanya" jawab Laura


Laura mencoba membujuk Alyssa


"Alyssa... Kenapa tiba tiba kau seperti ini? Ada masalah apa?" tanya Laura


"Tidak perlu tau" jawab Alyssa dengan dingin


"Berikan itu pada ku!" pinta Laura kepada Maya yang berada di sampingnya, meminta sosis bakar kepadanya


Maya memberikan nya kepada Laura. Laura pun menerimanya dan membujuk Alyssa kembali dengan menggunakan sosis bakar.


"Apa terjadi sesuatu yang buruk? Aku mulai frustrasi. Makan ini dan bicaralah" ucap Laura sambil mendekatkan sosis bakar itu kepada mulut Alyssa


"Aku tidak mau" jawab Alyssa dengan dingin lagi


Laura yang merasa kecewa dengan sikap Alyssa pun tak pantang menyerah. Laura kembali mendekatkan sosisnya kepada mulut Alyssa


"Makan ini Lyss... Bukankah membuat perutmu lapar? Buka mulutmu!" ucap Laura


"Aku bilang tidak mau!" tegas Alyssa sambil melemparkan tangan Laura agar sosis itu menjauh dari mulutnya. Hingga sosis itu terkena rok Laura yang menumpahkan saus dan mayones


Semua anggota yang berada di dalam bus itu menengok ke arah sumber suara teriakan Alyssa. Maya yang melihat itu, mengambil tisu untuk Laura agar segera membersihkan tumpahan saus yang ada.


Laura menerimanya dan mengelap rok nya yang terdapat tumpahan saus.


"Alyssa... Apa kau tak merasa dirimu keterlaluan?" tanya Laura yang masih mengelap rok nya


Alyssa yang mendengar pun menatap lekat mata Laura. Laura yang merasa di tatap pun menatapnya.


Tak lama. Bus itu melaju dengan kecepatan normal hingga sampailah dengan tujuan.


***


Love House. Keadaan Marisa sekarang sedang sakit, Nara yang sangat dekat dengan Marisa merawatnya dengan penuh kasih sayang, sebagai balas budi nya kepada Marisa yang selama ini selalu ada di samping nya


Nara mengompres Marisa dengan sapu tangan. Membasuhi air hangat ke dalam baskom kecil dan memeratnya. Meletakkan nya di kening Marisa.


Marisa bangun dan mengambil kompresan yang ada di keningnya.


"Sudah cukup Nara. Aku baik baik saja" ucap Marisa


Nara pun memegang kening Marisa. Mengecek keningnya yang panas atau tidak.


"Kak Ica masih panas" ucap Nara. Ica, Nama Marisa yang sering di singkat oleh anak anak di Love House


"Tapi, kak ica sudah merasa baik berkat dirimu, Nara" ujar Marisa


"Apa kau benar benar khawatir?" tanya Marisa seraya mengelus rambut Nara dengan lembut


Nara mengangguk


"Kak Ica punya banyak teman di sekolah dan populer di Love House. Tapi, jika kak Ica sakit, aku tak punya siapa siapa" ucap Nara


"Baik. Kak Ica janji tak akan sakit lagi" ucap Marisa hanya menghibur bukan berarti benar tidak akan sakit


"Haruskah aku membuatkan mie ayam pedas?" tanya Marisa


"Ya, buatkan yang sangat pedas" jawab Nara


"Baik" ucap Marisa tersenyum

__ADS_1


"Ting tong" suara bel berbunyi


Nara pun pergi untuk membuka pintu sang tamu.


"Kak Ica... Cepat keluar!" teriak Nara meminta Marisa segera keluar


Ternyata, tamu itu ialah Shiren dan kedua temannya, Zea dan Debby. Ibu Rita melayani tamu yang datang dengan membuatkan minuman untuk ke tiga teman Marisa.


"Silahkan di minum" ucap ibu Rita


"Marisa, kau sudah datang?" Ibu Rita melihat Marisa yang sudah datang


Ketiga temannya melihat ke arah Marisa.


"Marisa, kau baik baik saja?" tanya Shiren


"Kami khawatir sekali" ucap Shiren


"Bagaimana kalian..." Marisa mengucapkan nya namun di potong oleh Shiren


"Oh ya, kami seharusnya menjadi sukarelawan di panti jompo hari ini, tapi kami dengar, Marisa sedang sakit, jadi kami memutuskan mengganti lokasi kami ke tempat ini" sahut Shiren


"Tidak apa apa kan?" tanya Shiren pada bu Rita


"Tentu saja, kami sangat berterimakasih. Karena kalian temannya Marisa, kalian bisa datang kapan saja" ucap bu Rita .


"Terimakasih" ucap ketiga nya


"Silahkan di minum lagi" ucap bu Rita.


Ibu Rita menatap ke arah Marisa yang masih terdiam berdiri dengan senyuman. Marisa pun membalas nya.


Shiren, Zea dan Debby masih berada di sekitar Love House. Mereka membersihkan lingkungan. Zea yang melihat Marisa melangkah menuju Debby pun mengikuti nya dari samping.


Marisa sambil membawa rumput yang baru di bersihkan dengan membawa karung. Meletakkan di dekat Debby. Debby sendiri sedang mengupas buah untuk di santap olehnya dan kedua sahabatnya


"Marisa" panggil Debby. Marisa pun berhenti


"Kau lakukan ini untuk kebaikanmu" ucap Debby


"Bukankah tempat ini di danai oleh pajak yang di bayar orang tua kami?" tanya Zea


"Jika kau punya otak, seharusnya kau yang melayani kami" ucap Zea


"Benar. Jangan hanya menerima saja" ucap Shiren yang baru saja datang dan melangkah mendekati Marisa


Memukul mukul pipi Marisa dengan menggunakan sarung tangan namun tak begitu keras.


"Paham?"


Marisa tak tinggal diam. Marisa memegang kasar tangan Shiren dari pipinya. Datanglah Nara


"Kak Ica!" panggil Nara


Marisa yang mendengar suara Nara pun melepaskan tangan Shiren


"Ya ampun... Ternyata Itu kau" ucap Shiren dengan ucapan yang ramah sambil mendekati Nara dan jongkok menyempantarkan dengan Nara


"Marisa sering membicarakan mu. Nama mu adalah..... Eu... Siapa ya?" tanya Shiren


"Nara" jawab Nara


"Oh ya... Benar sekali, Nara" ucap Shiren dengan senyuman nya


"Tapi, kenapa kakak seperti itu pada kak Ica?" tanya Nara

__ADS_1


"Nara, itu...." Marisa yang akan menjawabnya namun Shiren memotongnya


"Kau tidak tahu?" tanya Shiren sambil berdiri dan mendekati Marisa


"Kami sedang bermain" ucap Shiren


Shiren melakukan kembali hal yang tadi. Memukul mukul pelan dengan sarung tangan


"Ber-ma-in" ucapnya kembali


Kedua teman Shiren yang melihatnya pun hanya tertawa tanpa mengeluarkan suara


"Saat bermain, pihak yang satunya juga harus merasa senang. Kak Ica, apa kau merasa senang? Atau malah tersakiti?" tanya Nara


"Kami sedang bermain. Aku juga merasa senang" jawab Marisa sambil tersenyum


"Ah.. Begitu rupanya. Benar, kau sangat populer" ucap Nara


Shiren, Zea dan Debby tertawa "Bagaimana bisa Marisa populer?" pikirnya


Shiren mengelilingi setengah Marisa. Dan meletakkan tangannya ke bahu Marisa sambil berbisik.


"Begini caramu bermain? Membohongi anak yang polos?" tanya bisik Shiren pada telinga Marisa


"Kak Ica bisa melakukan segalanya. Dia pandai membuat mie ayam. Benar kan?" tanya Nara pada Marisa dengan menatapnya sambil tersenyum


"Ya" jawab Marisa sambil mengangguk pelan


"Benarkah?" tanya Shiren


"Apa yang kau tambahkan sampai rasanya begitu enak?" tanya Shiren sambil mengelilingi setengah Marisa kembali memindahkan posisi


"Apakah.... Saus ikan?" tanya Shiren


Zea dan Debby tertawa. Nara pun tertawa.


***


Ibu Rita memberikan cap merah ke sebuah kertas yang berisi kebersihan panti yang sudah di bersihkan. Dan memberikan kepada Shiren.


Shiren, Marisa, Zea dan Debby sudah berkumpul kembali di ruang tamu


"Terimakasih bantuannya hari ini" ucap ibu Rita


"Sama sama" jawab Shiren


"Omong-omong... Aku khawatir karena Marisa masih terlihat sangat sakit" ujar Shiren


"Cobalah tersenyum!" pinta Shiren pada Marisa


Marisa sangat pucat dan berkeringat. Terlihat ia sangat sakit akibat bersih bersih tadi yang kemungkinan terkena kotoran dan debu.


"Ya ampun, Marisa.. Kau tak apa apa? Lihat keringat mu, apa kau baik baik saja?" tanya Ibu Rita


Marisa terdiam menatap ibu Rita dengan tersenyum. Menjawabnya dengan tersenyum bahwa semua baik baik saja


"Oh ya, yayasan beasiswa ayahku sedang mencari organisasi baru untuk disponsori. Jadi, aku ingin menyarankan Love House pada ayahku" ucap Shiren kepada bu Rita


"Aku akan sangat berterimakasih" ucap bu Rita


"Ayahnya adalah seorang jaksa, Pak Daniel Prasetya. Anda mengenalnya?" tanya Debby


"Tentu saja. Aku tidak tahu kalau kau putri dari donatur kami. Kehangatan hatimu pasti berasal dari ayahmu" ucap bu Rita


"A.. Tidak. Aku berutang banyak pada Marisa" sahut Shiren

__ADS_1


Ibu Rita pun menatap Marisa. Shiren meletakkan tangan Marisa ke meja dan memegangnya dengan penuh berterimakasih di hadapan ibu Rita.


"Sejak di pindahkan ke sini dari Jakarta, Marisa banyak sekali membantu ku" ucap Shiren sambil menatap Ibu Rita


__ADS_2