Cinta Asyila

Cinta Asyila
Episode 5


__ADS_3

Alyssa dan para temannya sudah sampai di penginapan. Para teman perempuan nya bermain main, namun tidak dengan Alyssa. Alyssa menyendiri dari para teman temannya termasuk sahabatnya.


Alyssa duduk di sofa, Maya ada di samping Alyssa dengan jarak 1meter bersama temannya. Alyssa membuka buku yang di bawanya. Membukanya dan melihat sebuah gambar foto.


Marisa, ada di gambar sana bersama anak anak lainnya di Love House. Maya melihat Alyssa yang sedang melihat sesuatu, Maya berfikir Alyssa masih marah.


Tiba tiba, berdering suara handphone Alyssa. Alyssa yang mendengarnya pun menyimpan buku itu dan pergi sambil membawa handphone nya


Saat berjalan, Alyssa berhadapan dengan Laura yang saat itu tiba dari kamar mandi. Laura menatap Alyssa, berharap ia kembali ceria. Namun, Alyssa yang akan mengangkat teleponnya berjalan menuju kamar mandi


***


Malam hari pun tiba pukul 21.50. Marisa, menelepon Shiren dengan telepon rumah yang ada di Love House. Marisa meminta Shiren bertemu, Shiren memintanya untuk bertemu di suatu tempat konstruksi.


Marisa membuka gerbang dan melihat Shiren yang sudah tiba di sana. Marisa pun mendekati Shiren.


"Kau berani juga menyuruh ku keluar larut malam begini" ujar Shiren


"Ada perlu apa?" tanya Shiren


"Tadi... Kau bilang yayasan beasiswa ayahmu sedang mencari organisasi baru untuk disponsori. Apa itu benar?" tanya Marisa


"Memang kenapa? Kau tertarik? Ku pikir... kau akan menolaknya karena diriku" ucap Shiren


"Direktur mengalami kesulitan dana untuk Love House. Bukan masalah aku suka atau tidak" sahut Marisa


"Apa yang sebenarnya kau bicarakan? Jika kau ingin minta bantuan, lakukan dengan benar" sahut Shiren


"Lalu apa? Kau mau aku membantu mu atau tidak?" tanya Shiren


"Ya" jawab singkat Marisa


"Aku tak tau apa ayahku sudah di rumah, aku harus menelepon nya" ujar Shiren


Shiren pun merongoh nya dalam saku celana namun ia lupa tidak membawa handphone.


"Oh ya, aku lupa membawa handphone. Bisa pinjam punyamu dulu? Kau tampak benar benar putus asa" ucap Shiren


Marisa pun memberikan handphone nya kepada Shiren. Ia tertawa kecil dengan ulahnya yang mengirim SMS ke salah satu orang yang tidak di ketahui oleh Marisa. Marisa pun tak tahu dengan apa yang di lakukan Shiren sampai tertawa seperti itu.


"Ayahmu bilang apa?" tanya Marisa


"Oh... Kau akan dapat kabar bagus. Tunggu sebentar" jawab Shiren

__ADS_1


Tiba tiba, handphone Marisa yang di genggam oleh Shiren pun berdering tanda masuk panggilan.


"A.. Kau mendapat telepon. Jawablah" sahut Shiren sambil menyodorkan handphone nya


Marisa pun menerimanya dan mengangkat telepon tersebut.


"Halo?" ucap Marisa ke dalam handphone


"Marisa! Kau berandal kecil! Kau cari mati? Dasar bocah menjijikkan, berani nys kau..." ucap seseorang di seberang sana, Marisa yang mendengarnya pun mematikannya


Sedangkan dengan Shiren hanya tertawa kecil. Marisa pun melihat pesan pesan yang di kirim oleh Shiren


'Kau akan mati jika mengganggu ku lagi, tunggu balasanku!'


"Apa? Dana beasiswa?" tanya Shiren masih tertawa


Shiren berdiri di hadapan Marisa


"Kau konyol sekali. Bocah bernama Nara itu, saat besar nanti dia ingin menjadi orang hebat sepertimu. Dia tak tau kau seperti ini. Aku akan berdoa agar Nara berakhir sama seperti mu" sahut Shiren


"Bye... Sampai jumpa" ucap Shiren dan tertawa kecil kembali sambil pergi berjalan meninggalkan Marisa namun... Marisa menghentikan Shiren dengan nama panggilan


"Shiren" panggil Marisa


"Kau benar benar tidak tertolong. Kau pikir, kau bisa seenaknya karena punya segalanya kan?" tanya Marisa


"Tapi, apa kau tau sesuatu?...." ucap Marisa sambil berjalan pelan mendekati Shiren


"Di mata ku... Sejak pertama kali kau pindah ke SD Bekasi di sini... Kau tampak menyedihkan " ucap Marisa


"Plak!!" Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Marisa


"Benarkah? Pasti sulit bagimu menyimpan semuanya selama ini" ucap Shiren sambil berjalan pelan mendekati Marisa


"Teruslah bicara" ucap Shiren sambil mendorong kasar Marisa ke atas dada dengan permulaan


"Ku bilang, teruslah bicara!" teriak Shiren sambil mendorong kasar sehingga Marisa terjatuh


Marisa yang terjatuh pun takut dengan Shiren, ia takut apa yang akan Shiren lakukan kepadanya. Marisa pun mengambil kayu di sampingnya dan berdiri sambil Memegang kayu


"Menjauhlah... Menjauhlah dariku!" pinta Marisa dengan sangat ketakutan, tangannya yang memegang kayu ke hadapan Shiren pun bergetar dan kaku


Shiren melihat ada CCTV yang berada di atas.

__ADS_1


"Pukul saja aku jika kau bisa" ucap Shiren sambil mendekati Marisa dan menarik kayu dari genggaman tangan Marisa


"Kau bahkan tak berani menatap mataku" sahut Shiren


"Apa? Menyedihkan?" tanya Shiren sambil menarik sekuat tenaga kayu yang masih di pegang oleh Marisa.


Marisa pun melepaskan nya karena ia takut,, Shiren pun terjatuh dan tibalah kayu kayu dari atas yang berjatuhan menuju punggung Shiren, namun, Marisa yang baik hati menolongnya dengan cara memeluk punggung Shiren


"Shiren!!!"


Selamat lah Shiren namun tidak dengan Marisa.


***


Alyssa, Laura dan Maya sedang menaiki kereta gantung. Maya berada si tengah tengah mereka. Alyssa berada di samping kanan Maya, dan Laura di samping kiri Maya.


Maya yang dapat merasakan bosan dengan kedua sahabatnya yang saling cuek dan buang muka.


"Alyssa..." panggil Maya dengan suara pelan


Alyssa masih tetap bersikap dingin, ia mengribaikan rambutnya dan Maya melihat luka yang ada di leher bagian sisi kanan. Reaksi Maya terkejut, dan semalam, ia melihat Alyssa dengan seorang pria tinggi dan seperti bertengkar.


***


Maya memesan 2 capucino latte untuk dirinya dan Laura. Maya datang dengan membawa 2 minuman berjalan menuju arah Laura berada yang sedang menikmati pemandangan dari atas


"Ini" ucap Maya sambil memberikan satu minuman untuk Laura.


"Thank you" ucap Laura


"Dimana Alyssa?" tanya Maya


"Mana aku tahu. Biarkan saja dia. Dia menyebalkan" jawab Laura


"Sikap Alyssa agak aneh kan? Sejujurnya, semalam... " ujar Maya yang di potong oleh Laura


"Aku tahu, katanya dia belajar sendirian di pojok kamar nya" sahut Laura


"Dia temanku, tapi terkadang dia membuatku kesal dan merusak suasana" ucap Laura


"Ucapanmu benar juga sih" ujar Maya mengurung kan niat nya


"Kita lupakan saja soal Alyssa"

__ADS_1


__ADS_2