
setelah keterkejutannya itu, adit pun hanya bisa memandang seorang wanita dengan tatapan tajamnya. begitu juga dengan lita yang sedang menatap adit dengan tajam. iya, sekarang mereka tengah duduk di meja makan. adit dan lita duduk saling berhadapan, tidak berbicara apapun, hanya mata mereka berdua yang berbicara.
dewi yang melihat keadaan sedang tegang pun akhirnya memulai percakapan, "lita?" panggil dewi, lita yang merasa di panggil pun langsung menoleh ke arah dewi, "sini piring kamu, biar tante yang masukkan nasi dan lauknya."
dengan senang hati lita memberikan piring ke dewi untuk di isi dengan lauk pauk, "terima kasih tante." ujar lita sambil tersenyum ke arah dewi.
adit yang menyaksikan itu pun terlihat kesal, karena mamahnya lebih mementingkan orang lain, "isshh, mamah nih ya, anaknya dulu kek yang di tawarin!" protesnya dengan bibir yang mengerucut sebal, sambil melirik ke arah lita, "kenapa harus orang lain dulu!" tambahnya lagi.
"adit, ngga boleh berbicara seperti itu." protes dewi yang sambil menaruh piring yang sudah terisi dengan berbagai lauk pauk ke hadapan lita, "terima kasih tante." ucap lita sambil tersenyum, dewi pun hanya menganggukan saja kepalanya sambil tersenyum ke arah lita, dan langsung mengambil alih piring putra nya.
"nih mamah ambilin, mamah ngga akan lupa sama anak mamah yang tampan ini ko" ujar dewi dengan kekehan kecilnya.
lita pun langsung menatap adit dengan senyum mengejeknya. sedangkan adit hanya bisa membuang nafasnya kasar, dan kembali menatap wanita yang ada di hadapannya yang masih menampilkan senyum mengejeknya itu.
"lo tau dari mana alamat rumah gue?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibirnya, yang sekarang tengah menatap wanita yang sedang menyantap makanannya.
"bukan urusan lo." sahut lita santai.
adit yang mendengar jawaban gadis di hadapannya pun langsung berdecih geram. "trus mau ngapain lo kerumah gue?"
__ADS_1
lita yang mendengar pertanyaan adit pun langsung tergelak kencang, "lo lupa, apa emang pura pura lupa si." ejek lita yang masih tertawa dengan kencang.
adit yang melihat itu hanya mengangkat satu alisnya tanda ia tidak mengerti atas ucapan wanita di hadapannya ini, "maksud lo apa?"
lita pun langsung menghentikan tertawanya itu dan kembali fokus ke arah pria sombong di hadapannya ini,
"lo inget kan, sama pelayan wanita yang nabrak lo di caffe, sampai jaz mahal lo itu ketumpahan minuman." jelas lita yang menekan kata mahal di kalimatnya, ada jeda sebentar sampai lita meneruskan lagi kata kata nya. " nah, pelayan wanita itu telah menebus janji nya untuk mengembalikan jaz sama pria sombong yang telah menghinanya, nah lo tau kan wanita pelayan itu siapa? perempuan itu gue!" ucap lita dengan nada kesalnya sambil melototkan matanya ke arah adit.
adit hanya bisa mendengus kesal dan memutar bola matanya jengah sambil menaikkan satu alisnya. "lo ngomong bisa kan langsung ke intinya, ngga usah muter muter."
lita pun langsung beranjak dari duduknya, mengambil paper bag yang ia taruh di ruang tamu. dan ngga lama lita pun kembali lagi sambil menenteng nenteng paper bag. yang langsung di taruh di hadapan adit. "itu jaz lo yang udah gue cuci dengan bersih dan mengkilat."
adit pun langsung menautkan kedua alisnya. "jadi beneran jaz gue di cuci sama dia."-batin adit, ada semburat senang di dalam hati nya karena lita beneran mencuci jaz nya, tapi adit langsung menormalkan lagi hati nya, dan langsung menatap heran ke arah lita. "jadi, lo beneran cuci jaz yang udah gue buang ke tempat sampah?" tanya adit yang tidak abis pikir dengan wanita di hadapannya ini.
"mamah setuju banget sama lita." sahut dewi yang membela lita, dewi yang dari tadi hanya menyimak pertengkaran antara putranya dan lita pun membuka suaranya, "mamah juga ngga abis fikir sama kamu dit, kenapa bisa bisa nya membuang jaz yang jelas masih bagus dan masih bisa di cuci." geram dewi yang sambil menatap putranya,
adit yang tiba tiba dapat ceramahan dari dua wanita yang berbeda umur itu, hanya bisa menampilkan tampang malasnya saja, "udah deh mah, ngga usah lebay." sahutnya yang langsung dapat toyoran dari dewi.
"gara gara papah kamu yang dari kecil manjain kamu trus, sekarang kamu jadi tumbuh seperti ini, tidak pernah bersyukur."
__ADS_1
sekarang giliran lita yang hanya bisa menyaksikan pertengkaran antara ibu dan anak di hadapannya, sebenar nya bukan kemauan lita, membahas soal semalam di meja makan, tapi karena adit yang trus mencecar dengan pertanyaan nya itu, akhirnya mau tidak mau lita membahas itu di meja makan.
karena lita merasa tidak enak lama lama berada di keluarga ini, bahkan pertengkaran antara anak dan ibu itu di sebabkan oleh nya, "hm, tante, lita pamit mau pulang yah, udah mau sore." pamit lita dengan hati hati.
dewi yang sedang memarahi anak sulungnya pun langsung menoleh ke arah lita. "loh, ko buru buru banget."
"iya tante, soalnya ngga enak kalo lama lama di sini, teman lita juga sendirian di kostan."
"oh ya sudah gapapa, tapi kamu sering sering main ke sini yah, temenin tante." ujar dewi sambil tersenyum ke arah lita, lita pun langsung mengangguk dan tersenyum.
dengan cepat dewi melirik putra nya yang sedang duduk dengan santai itu, bahkan omelannya pun tidak di dengar oleh sang putra, membuatnya geram saja. "adit, kamu antar lita pulang!"
dengan cepat adit menoleh ke arah dewi yang sudah melototinya itu, dan bergantian melirik ke arah lita, "kenapa harus aku, dia kan kesini sendiri, ya bisa lah pulang juga sendiri." jawab adit acuh.
dewi yang mendengar jawaban putranya pun, memejamkan matanya sejenak sebelum kembali berbicara, "mamah, tidak menerima penolakan adit!!" ujar dewi dengan tegas.
"gapapa tante, aku bisa pulang sendiri ko, benar kata adit tadi." ujar lita yang tidak enak, dia menyesali datang kerumah adit, kalo akhirnya akan seperti ini.
dewi tidak berbicara lagi, ia hanya sedang melotokan matanya ke arah putranya, dan dengan terpaksa adit mengiyakan permintaan sang mamah. "ayo cepat, gue tunggu lo di luar."
__ADS_1
lita pun hanya bisa memandangi punggung adit yang sudah berjalan ke arah luar pintu. "yaudah tante, lita pulang dulu yah." pamit lita sambil menyalami punggung tangan dewi, dewi pun langsung menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ke arah lita.
"hati hati ya lit." tambah nya sebelum lita pergi menjauh, lita pun langsung membalikkan badan nya sebentar sambil berujar. "iya tante." ia pun langsung meneruskan jalan nya agar sampai ke luar rumah mewah bak istana ini.