
di sebuah rumah sakit di kota jakarta yang cukup terbilang besar itu, sedang ada seorang pria yang tengah berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang tidak begitu ramai. ia langsung masuk ke dalam lift dan memencet satu tombol angka yang akan mengantarkannya ke sebuah lantai yang ia akan kunjungi.
sesampainya di lantai yang mengantarkan nya di sebuah ruangan VVIP, ia langsung membuka pintu tersebut.
"ceklek" suara pintu yang di buka dari luar oleh seseorang, hal yang pertama ia liat adalah tubuh seorang pria paruh baya, yang masih saja memejamkan matanya.
ia pun langsung berjalan perlahan ke pria paruh baya itu, yang masih terbaring tidak sadarkan diri. "pah, maafin rizki yang sudah membuat papah seperti ini, rizki menyesal pah." gumam nya yang sambil menahan isak tangisnya.
rizki sangat terpukul melihat sang papah terbaring lemah seperti ini di rumah sakit, apa lagi penyebabnya adalah dirinya, ia menyesali perbuatan nya yang tidak bisa menahan emosi nya kala menghadapi sang papah waktu itu.
coba saja dirinya masih bisa menahan emosi nya kala itu, mungkin sampai saat ini papahnya masih sehat, masih bisa duduk bersamanya, makan bersama di meja makan, bercanda dan bergurau.
"cepat sadar pah, rizki kangen banget sama papah." ucapnya lagi yang sekarang sudah tidak bisa menahan air matanya lagi, iya terus memandang wajah pucat sang papah, sambil satu tangan nya menggenggam erat tangan sang papah.
rizki yang sedang asik berbicara dengan sang papah, walaupun ia tau papahnya tidak akan bisa mendengarkannya, tiba tiba pintu ruangan terbuka, dengan cepat rizki mengusap sisa sisa air mata yang masih mengalir di pipinya.
setelah rizki sudah selesai mengusap air mata nya, ia langsung melihat ke ambang pintu, terlihat seorang wanita paruh baya yang sedang berjalan ke arahnya.
"rizki, mamah mau keluar sebentar, tolong jagain papah kamu ya, kalo nanti papah sudah sadar, kamu cepat cepat hubungi mamah."
ia wanita itu adalah sinta mamahnya, dengan cepat rizki menganggukkan kepalanya, sinta pun langsung tersenyum ke arah putra nya itu, dan langsung berjalan ke sisi brangkar sang suami, ia kecup sebentar kening sang suami, sebelum iya meninggalkan ruangan itu. "aku keluar sebentar ya pah, cepat sadar." ucapnya dan langsung meninggalkan ruangan tersebut.
rizki langsung teringat wanita nya, dari semalem sampe sekarang ia lupa memberi kabar lita, karena ia begitu di sibukkan oleh urusan papahnya sampai ia melupakan wanitanya, dengan cepat rizki mengambil ponsel nya di saku celana nya, sambil berjalan ke luar ruangan sang papah dan berhenti di depan pintu ruangan sang papah, dengan cepat iya menekan nama lita dan langsung menaruh benda pipih itu di sebelah telinganya.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
di sebuah mobil yang sedang terdapat dua manusia berbeda jenis kelamin itu, sedang sibuk dengan pikirannya masing masing, hingga di dalam mobil tersebut hanya terdengar suara musik dari radio saja, tidak ada yang memulai percakapan di dalam mobil.
sebetulnya lita ingin sekali meminta maaf dengan pria yang sedang mengemudi di sebelahnya itu, tapi ia urungkan, karena melihat wajah pria itu dari samping saja membuat emosi nya meledak lagi, lita hanya bisa membung nafas kasarnya sambil trus menatap jendela.
lita yang mendengar pertanyaan adit pun, langsung menoleh ke arahnya. "lurus aja, masih lumayan jauh." jawabnya singkat, dan langsung kembali lagi menatap jendela.
adit yang mendengar jawaban dari lita pun sedikit geram atas tingkah laku wanita di sampingnya itu. akhirnya keheningan menguasai kembali mobil tersebut. sampai satu suara mengejutkan lita yang sedang asik melamun.
dengan cepat lita merogoh tas nya, dan mengambil benda pipihnya, dengan jelas tertera di layar ponselnya nama rizki gumam lita pelan bahkan hanya bibirnya saja yang bergerak, sebelum mengangkat telponnya, ia menoleh sebentar ke arah adit yang juga sedang melirik ke arahnya.
"kenapa ngga di angkat?"
"nih, mau gue angkat." cetusnya yang sambil menggesar ikon warna hijau. adit yang mendengar itu hanya menggeleng gelengkan saja kepalanya.
__ADS_1
"hallo"
"(....)"
"apaaaa! di rumah sakit." ucap lita dengan sedikit berteriak, sampai adit langsung menoleh ke arah nya.
"yaudah, aku segera kesana!" ucapnya sedikit panik dan langsung memutuskan panggilannya.
"gue turun di sini." ujarnya sambil memasukkan kembali ponsel nya ke dalam tas, adit yang mendengar itu secara mendadak menghentikkan mobilnya sambil menoleh ke arah lita.
"emang udah sampe rumah lo? kata nya masih jauh."
"gue ada urusan." ucapnya sambil membuka pintu mobil dan langsung keluar dari mobil, dengan cepat adit merahi satu tangan lita dan genggaman itu membuat lita menoleh ke arah adit,
"biar gue antarr." ujarnya yang melihat wajah lita begitu panik, jujur saja perasaan adit tidak tega melihat wajah lita yang hampir mau menangis itu.
dengan cepat lita melepaskan genggaman tangan adit dari tangannya. "ngga usah, gue bisa naik taksi." ucapnya yang langsung keluar dari mobil dan menutup kembali pintu mobil tersebut.
tidak lama lita pun masuk ke dalam taksi, dengan cepat juga adit mengikuti mobil taksi yang tadi lita masukkin. percayalah, perasaan adit sekarang sedang tidak menentu, ada rasa cemas, khawatir, melihat wajah lita tadi.
adit pun tersadar, jalanan ini tidak asing baginya, ini jalanan rumah sakit om riko yang sekarang masih di rawat di sana, adit pun dengan cepat menepis fikirannya itu, mungkin saja jalanan ini bukan hanya mengarah kerumah sakit fikirnya.
tapi adit di kejutkan oleh mobil taksi yang berhenti tepat di depan gedung rumah sakit, yang tadi pagi ia dan pak bram datangi untuk menjenguk om riko, dengan cepat juga adit melihat tubuh lita keluar dari taksi tersebut dan langsung berlari ke dalam rumah sakit.
"kenapa lita kesini, siapa yang sakit." gumamnya sambil keluar dari mobilnya, adit pun melihat penjual topi dan masker, dengan segera iya membeli nya, dan langsung memakai nya agar ia tidak ketahuan.
setelah penyamarannya selesai ia pun ikut berlali ke dalam rumah sakit, menyari sosok wanita yang tadi sempat ia khawatirkan, dan tepat di depan lift yang masih tertutup ia melihat wanita itu, ia pun ikut mengantri di barisan paling belakang, tidak lama itu pintu lift terbuka, kumpulan orang tersebut pun ke dalamnya, adit mengambil paling belakang biar lita tidak curiga terhadapnya.
__ADS_1
pintu lift pun terbuka, dengan cepat lita berjalan, di susul dengan adit yang mengikutinya dari belakang, betapa terkejutnya adit melihat tubuh lita yang sedang di peluk oleh seorang pria yang ia kenal sejak dari kecil.
"astagaa, sebenarnya mereka berdua ada hubungan apa." gumamanya pelan sambil bersembunyi di balik tembok rumah sakit.