
setelah berjalan-jalan ke mall dengan sang bunda. rahma tidak melepaskan sama sekali boneka panda yang di beri kan oleh bangki nya itu.
seperti sekarang, sedang berkumpul dengan bunda dan ayah nya di ruang tv. ia terus saja memeluk memeluk boneka panda nya itu. sampai sang ayah nampak heran melihat sang putri yang tidak mau lepas dari bonekanya itu.
"putri ayah ko kayanya sayang banget si sama bonekanya, sampai ngga mau di lepas gitu."
"hem, ayah ini tuh boneka dari bangki tau." sahutnya. seketika wajah reno pun terkejut mendengar jawaban sang putrinya. dan langsung menoleh ke arah wulan yang sedang terkekeh kecil itu, wulan pun mengerti atas tatapan sang suami.
"bangki itu, sebutan sayang rahma ke rizki yah." jelasnya.
reno yang mendengar itu hanya menggeleng-gelengkan saja kepalanya. "ada-ada saja kelakuan putrimu itu." sahutnya sambil memeluk pinggang sang istri dari samping. wulan pun langsung menyenderkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"mas..!!" panggilnya seraya mendongakkan kepalanya menatap sang suami. reno yang di panggil oleh sang istri pun hanya berdehem sambil menundukkan pandangnya.
"aku sama sinta setuju akan menjodohkan rahma dan rizki, bila mereka sudah besar nanti." tambahnya yang langsung membuat reno terkejut atas penuturan sang istri.
"kamu bercanda kan sayang?" tanya reno yang sudah menghadap sang istri.
wulan pun langsung menggelengkan kepalanya. "aku serius mas, karena aku percaya, rizki bisa menjaga putri kita nanti." ujarnya sambil tersenyum ke arah sang suami.
reno nampak frustasi dengan sang istri, gimana istrinya bisa berfikir sejauh itu, bahkan putrinya saja masih berusia lima tahun.
"gimana ceritanya si sayang, kita seminggu lagi akan pindah ke australia, bahkan sebelum rahma dewasa." protesnya.
"hm, kamu tenang aja ya mas, aku sudah membicarakan itu dengan sinta tadi, dia ngga masalah ko soal pindahan kita ke australia." sahutnya sambil mengelus lengan suaminya agar tenang.
reno pun hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah atas keinginan sang istri. lantas reno pun langsung menoleh ke putri yang dari tadi hanya diam. ia melihat putri nya sudah tertidur sangat pulas di sofa sambil memeluk bonekanya.
__ADS_1
"aku pindahin rahma dulu ke kamarnya, kamu masuk duluan saja ke kamar." perintahnya yang langsung di turuti oleh sang istri.
reno pun langsung menggendong putrinya untuk ia bawa ke kamar, setelah sampai di kamar rahma, reno langsung meletakkan tubuh putrinya secara perlahan ke atas kasur. ia pun langsung bergegas meninggalkan kamar sang putri dan langsung jalan ke kamarnya.
****
seminggu pun sudah terlewati. hampir setiap hari rahma merengek kepada sang bunda untuk bertemu dengan bangki nya.
dan hampir setiap hari juga sinta mengajak rizki untuk mampir kerumag wulan sehabis pulang sekolah, mempertemuk kan sang putra kepada rahma yang slalu tidak ingin berjauhan dengan rizki.
tepat hari ini kepindahan rahma ke australia, sekarang rahma dan kedua orang tuanya sudah berada di bandara. rahma terus saja merengek kepada orang tuanya agar ia tetap berada di jakarta, karena ia tidak mau berpisah dengan bangki nya.
tidak lama sosok yang rahma tangisi pun datang dengan kedua orang tua nya. rahma pun langsung berlari dan memeluk tubuh rizki sambil menangis. rizki yang mendadak di peluk rahma pun, hanya bengong tanpa membalas pelukkannya.
"bangki, aku ngga mau pergi dari sini, aku mau sama bangki." adunya sambil terus menangis.
"bangki serius? kita akan bertemu lagi." sahutnya dengan mata yang berbinar. dengan cepat rizki menganggukkan kepalanya, seketika raut wajah rahma pun langsung gembira. kedua orang tua mereka pun yang menyaksikan itu hanya bisa geleng-geleng kepalanya saja.
"tuh ayah lihat kan, yang bisa bujuk rahma tuh cuma rizki, bunda yakin yah, jika sudah besar nanti rizki akan bisa menjaga putri kita." bisiknya yang langsung dapat anggukkan oleh sang suami.
selepas drama yang di buat oleh putri nya itu di bandara, mereka bertiga pun langsung berpamitan kembali dengan sahabatnya itu, karena pesawat yang mereka tumpangi sudah akan terbang.
setelah rahma tinggal di australia ia sangat merindukkan lelaki itu, ia ingin sekali bertemu dengan nya, sekarang umur rahma sudah remaja, umur nya sudah menginjak 20 tahun, sampai pada tragedi yang menimpah kedua orang tuanya yang kecelakkan dan tewas di tempat, membuat dunia nya runtuh seketika, ia tidak memeliki siapapun lagi di dunia ini, ia hanya mempunyai om miko, adik dari sang ayah.
beberapa bulan meninggalnya kedua orang tuanya, rahma memutuskan untuk pergi ke jakarta, dan menetap kembali di sana. ia di tawarkan untuk tinggal bersama om miko, tapi rahma menolaknya, ia memilih tinggal sendiri, dan akhirnya om miko membelikan ia rumah yang cukup besar untuk ia tinggali.
flashback off
__ADS_1
"sudah lama aku menunggu kabar ini, aku ingin sekali bertemu denganmu bangki." gumamnya sambil membuka lemari dan ia mengambil boneka yang dulu sempat bangki berikkan.
setelah berbincang dengan lita di ruang tamu, akhirnya rahma dan lita memutuskan untuk masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
tapi saat ini rahma tidak ingin tertidur, ia masih saja sibuk memandangi foto masa kecilnya bersama bangki, yang masih ia simpan dengan rapih di dalam kotak.
"apa kamu masih mengingat ku, jika nanti kita bertemu?" ujarnya sambil terus menatap foto yang ia pegang di tangan kanannya, dan tangan kirinya sedang sibuk memeluk boneka panda kesayangnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
sekarang sudah pukul 02:00 dini hari , adit yang berusaha untuk memejamkan matanya pun tidak bisa, bayang bayang lita selalu melintas dalam pikiranya, rasanya sekarang ia merasa sudah stress.
"ahhkkk!!" pekiknya sambil menjambak rambutnya tersebut. dan langsung berjalan ke tepi jendela melihat indahnya malam dan bintang di atas langit sana, ia pun terhanyut dengan pikirannya, sampai suara deringan ponselnya berbunyi.
__ADS_1
ia langsung berjalan ke tepi kasur lagi, mengambil ponselnya yang ia taruh di nakas samping tempat tidurnya, ia pun langsung melihat yang mengirim pesan itu, pas ia melihat yang mengirim pesan itu, iya langsung mendengus kesall. dan tidak langsung membalas pesan itu, ia langsung menaruh kembali benda pipih itu di atas nakas, dan berusaha untuk memejamkan matanya.