
"Hari ini kau bisa latihan basket kan, Gaby?" Tanya Jenny saat dia, Alexa dan Gaby sedang berkumpul di kelas mereka; tepatnya di bangku siswa dekat jendela.
"Tentu aku ikut. Bagaimana dengan yang lain?"
"Joe, Fred dan Nick juga setuju untuk latihan hari ini."
"Kau yakin bisa mengatasi ketakutanmu, Gaby?" Tanya Jenny dengan ekspresi keraguan di wajahnya, "Kalau kau berubah pikiran, aku bisa mencari penggantimu."
"Tidak akan!" Gaby menggelengkan kepalanya dengan tegas, "Aku takkan bicara dua kali."
"Well, kau harus pasrah menerima sikap keras kepala Gaby, Jenny." Alexa menambahkan, lalu menyengir.
Ketiga gadis itu lalu berbincang-bincang seperti biasa, itu sebelum Andy datang ke kelas mereka.
"Kakak? Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Gaby.
Andy memasukkan kedua tangannya di saku celana dan matanya menatap Jenny, "Mr. Wild memanggilmu, Jenny." Kata Andy.
Jenny hanya menatap dengan tatapan terpesona pada Andy. "Jenny! Andy berbicara padamu!" Seru Gaby sambil melambaikan tangannya di depan wajah Jenny.
Jenny tersadar dari lamunannya akan Andy, "Eh, m-maaf. Mengapa Mr. Wild mencariku?"
"Dia ingin bicara denganmu tentang pertandingan basket. Lebih baik kau menemuinya sekarang."
"Baik. See ya, girls! "
Perjalanan Andy dan Jenny di isi oleh keheningan, itu karena Jenny merasa sangat canggung berada di dekat Andy saat ini.
"Ada yang salah, Jenny?" Tanya Andy membuyarkan lamunan Jenny.
"Ti-tidak ada yang salah. Aku hanya... Memikirkan apa yang akan Mr. Wild beritahu kepadaku."
"Take it easy... Kau akan baik-baik saja." Andy menepuk pelan bahu kiri Jenny, "Lagipula, aku akan menemanimu menghadapi Mr. Wild."
"Tidak perlu melakukannya. Aku bisa berbicara sendiri dengan Mr. Wild."
"Kau lupa ya, Jenny?" Tanya Andy, memasang senyum di wajahnya. Jenny menatap Andy penuh keheranan.
Andy pun terkekeh, "Aku juga ikut pertandingan basket itu, ingat?"
Jenny pun menepuk dahinya, "Maaf, aku lupa kalau kau satu tim dengan Alvin."
"Santai saja. Sebaiknya kita bergegas menemui Mr. Wild sebelum dia memarahi kita karena terlambat." Ujar Andy, membuat Jenny terkekeh lalu mengikuti Andy yang menambah kecepatan langkah kakinya.
__ADS_1
***
Selama pembelajaran berlangsung, Gaby kurang memerhatikan penjelasan materi dari guru-guru yang mengajar di kelasnya. Hingga pembelajaran terakhir berlangsung, dia tidak fokus belajar karena memikirkan ayah Alvin yang datang ke rumahnya kemarin.
"Nona Bloom? Apa kau tidak menyimak penjelasanku?" Tegur Miss Polly.
Gaby segera menggelengkan kepala untuk mengembalikan dirinya ke kenyataan, lalu menatap wajah galak Miss Polly saat ini, "Eh, s-saya merasa tidak enak badan, Miss." Ucap Gaby sambil pura-pura memijat lehernya. Riwayatku akan tamat kalau Miss Polly tahu aku berbohong, batin Gaby.
Miss Polly menyipitkan matanya pada Gaby, lalu memperbaiki posisi kacamatanya dengan jari telunjuk kanan, "Istirahatlah di UKS! Aku tidak ingin ada siswa yang tidak fokus pada saat aku menerangkan." Miss Polly memerintahkan. Gaby pun berdiri dari kursinya dan sebelum ia berjalan menjauh dari ruang kelas, Gaby membalikkan badannya, "Um, Miss? Bisakah Alexa ikut dengan saya ke UKS?" Pinta Gaby.
"Gaby benar, Miss." Alexa angkat bicara sebelum Miss Polly menolak, "Saya tidak ingin sesuatu terjadi pada Gaby, jadi lebih baik saya ikut bersamanya."
Miss Polly berpikir sejenak, lalu mengizinkan Alexa menemani Gaby di UKS. Melihat kedua sahabatnya lolos dari Miss Polly, Jenny pun mulai memikirkan beribu alasan agar ia juga bisa ikut dengan Gaby. Sekali bolos dalam pembelajaran Miss Polly tidak ada salahnya, pikir Jenny.
Tanpa basa basi lagi, Jenny mengangkat tangan kanannya, "Miss, bisakah aku minta ijin ke kamar mandi?" Ucap Jenny, tetap mengangkat tangannya.
"Nona Lucas, jangan mencoba untuk bolos dalam pelajaranku!"
Uh, sial! Miss Polly tahu aku berbohong.
Awalnya Jenny panik, namun dia memutuskan untuk ber-acting, "Untuk apa saya berbohong? Saya benar-benar perlu ke kamar mandi sekarang." Ujar Jenny lagi dengan wajah gelisah yang di buat-buat.
Miss Polly akhirnya menghela napas pasrah dan mengizinkan Jenny pergi.
Alexa tertawa geli melihat tingkah Jenny, namun Gaby hanya diam sedari tadi, "Ada apa, Gaby?" Tanya Alexa.
"Tidak, aku baik-baik saja."
"Gaby pasti merasa bersalah karena ini pertama kalinya dia membolos." Celetuk Jenny.
Gaby berdecak kesal, tidak terima dengan apa yang baru saja dikatakan Jenny, "Aku akan memberitahu kalian besok." Jelas Gaby. Ia berniat untuk memberitahu Alvin tentang ayah Alvin yang sedang membuat kesepakatan dengan Mamanya, dan waktu yang tepat itu adalah hari ini.
Ketiga gadis itu pun menghabiskan jam pelajaran terakhir dengan bersantai di UKS. Mereka yang di kenal sebagai tiga siswi yang tak pernah bolos bahkan sehari pun, sekarang mereka telah melakukannya. Mereka telah membolos!
Seperti yang sudah di rencanakan, pukul 14:00 adalah waktu dimana Jenny dan Gaby menuju ke lapangan basket untuk berlatih bersama Joe, Fred dan Nick, teman kelas mereka.
"Akhirnya, ku pikir kita tidak akan punya leader basket." Ucap Fred ketika Jenny dan Gaby tiba di lapangan basket. Tatapan bosan Fred melekat pada Jenny.
"Ya, aku pun tidak percaya kalian telah membolos," Joe menimpali, "Dari mana saja kalian?"
Jenny agak menjulurkan lidahnya pada kedua anak lelaki itu dan tertawa setelahnya, "Bukan urusan kalian! This is a girl's thing. "
Nick yang diam dari tadi pun mulai bereaksi, dia memutar matanya seraya berkata, "Whatever. Bisakah kita mulai latihan sekarang?" Mereka mengangguk, lalu kelima remaja itu pun memulai latihan mereka, dengan Jenny sebagai leader.
__ADS_1
Namun posisi Jenny sebagai leader kali ini tidaklah semudah yang ia bayangkan. Dia harus berusaha lebih giat untuk melatih Gaby yang takut dengan lemparan bola, sebagaimana yang telah di ketahui oleh Jenny sendiri.
Kurang lebih satu jam mereka berlatih, Gaby akhirnya melatih ketakutannya. Keempat teman Gaby mulai melemparkan bola kepadanya, "Tangkap ini, Gaby!" Seru Nick sambil melemparkan bola pada Gaby. Merasa bahwa dia tidak bisa menangkap bola itu, Gaby memejamkan matanya dan berharap bola basket itu tidak mengenainya.
Dan harapan Gaby terkabul! Bola itu tidak mengenainya karena Alvin berdiri tepat di depannya dan kepalanya terkena bola basket itu, hanya untuk melindungi Gaby, "Are you okay?" Tanya Alvin saat dia membalikkan badannya pada Gaby. Yang di tanya hanya mengangguk.
Nick dan Jenny berjalan menghampiri Alvin dan Gaby, "I'm sorry. Aku tidak tahu kalau bola itu-" Sebelum Nick menyelesaikan kalimatnya, Gaby segera menyela, "It's okay. Thanks for your help, Alvin!" Ujar Gaby lalu melirik Alvin.
Tak mau kehilangan momen, Gaby pun segera menarik tangan Alvin dan berjalan agak menjauhi temannya, "Aku ingin bicara denganmu." Kata Gaby, membuat Alvin semakin bingung.
"Tentang apa?"
"Ini tentang ayahmu..."
Alexa POV
Sementara kedua sahabatku sibuk dengan latihan basket mereka, aku juga ikut sibuk berlatih balet untuk persiapan lomba pada 20 Mei mendatang.
"Alexa, bisakah aku meminta bantuanmu?" Tanya seorang gadis berambut pirang itu sambil berjalan menghampiriku. Dia adalah Fiona, teman kelas sekaligus temanku di kelas balet ini.
"Apa yang bisa ku bantu?"
"Aku ingin minta pendapatmu tentang warna sepatu baletku ini." Ucap Fiona sambil menunjukkan sepatu balet berwarna krem yang ia gunakan saat ini, "Bagaimana menurutmu? Apakah sepatu ini cocok dengan gaun putih balet yang akan ku kenakan di lomba nanti?"
"Tentu. Di tambah dengan aksesoris yang tepat, itu akan melengkapi penampilanmu."
"Aw, kau terlalu memujiku, Alexa. But thanks for your advice. "
Sebelum aku sempat mengatakan hal-hal lain pada Fiona, Bianca muncul entah darimana dan menginterupsi kami, "Jangan mimpi kalau kau akan lebih sempurna dari aku saat lomba nanti. Di lomba balet itu hanya aku yang boleh tampil sempurna, dan kalian hanya cukup menyaksikan." Jelasnya panjang lebar.
Aku dan Fiona hanya diam memandanginya, semua orang tahu jika mereka macam-macam dengan Bianca, mereka harus siap dengan hukuman yang akan di berikan. Dan Jenny adalah salah satu siswi yang kena hukuman gara-gara Bianca.
"Don't look at me like that!" Bentak Bianca, dia pun berlalu pergi.
"Well, sepertinya aku harus membiasakan diri untuk tidak memancing emosi Queen Bee kita." Bisik Fiona padaku.
Aku terkekeh, "Mengapa kau menjuluki Bianca dengan nama 'Queen Bee'?"
"Entahlah, nama itu hanya melintas di pikiranku."
Kami berdua pun tertawa, lalu kami berbincang-bincang sebentar sebelum kami kembali berlatih.
Latihan menari balet ini berjalan baik-baik saja hingga tiba giliranku untuk menari. Awalnya semua berjalan sesuai yang ku inginkan, namun seseorang -yang bisa ku pastikan orang itu adalah Bianca- membuat kaki ku tersandung dan aku hampir jatuh terhempas ke lantai jika seseorang tidak menangkap kedua bahuku.
__ADS_1
Ku dongakkan kepalaku untuk melihat siapa yang telah menangkapku. Betapa terkejutnya aku saat mendapati lelaki yang membantuku itu...