Cinta Atau Sahabat?

Cinta Atau Sahabat?
Spending Time With U


__ADS_3

Author POV


Di hari yang sama pada pukul 20:08, Gaby mengetuk pintu kamar Andy.


"Ada apa, Gab?" tanya Andy sambil memalingkan kepalanya, menatap adiknya yang sedang sibuk mengikat rambut birunya.


"Kau yang ada apa, Kak!" seru Gaby tiba-tiba, "Mengapa kau memberitahu Jenny kalau kau tidak suka padanya?"


"Aku tidak bisa membohongi perasaanku, Gaby. I love another girl in your class. "


"Itulah pokok masalahnya. Kau tahu kalau dia menyukaimu, tapi kau menyukai gadis lain di kelas kami. Apa maksudmu mengatakan itu pada Jenny?" suara Gaby makin meninggi.


"Dengarkan dulu penjelasanku, Gaby. I don't know that Jenny have a crush on me. Aku baru tahu itu dari Alexa."


"Wait, what? Jenny tidak mengungkapkannya kemarin?" tanya Gaby, namun dengan raut wajah terkejut.


"Nope... Hanya aku yang memberitahu Jenny kalau aku menyukai Al-" segera Andy membungkam mulutnya menggunakan kedua tangannya sendiri.


Gaby yang akan mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya pun mulai geram, kedua tangannya mencengkeram kerah kaus Andy, "Tell me that girl's name!" nada bicara Gaby seakan mengancam, tatapan tajamnya melekat pada kakaknya itu.


"Em... Hei, jam berapa sekarang? Aku harus segera menyelesaikan PR ku atau Miss Ely akan menghukumku di hari senin." ujar Andy, berusaha melepaskan cengkeraman adik perempuannya yang manis itu.


Mengetahui bahwa Andy hanya mencari alasan, Gaby mendorong tubuh kakaknya itu hingga terduduk di lantai, "What the-"


"Terus saja cari alasan." Gaby segera memotong kalimat Andy, lalu pergi dari kamarnya.


Andy POV


Aku memang bodoh. Seharusnya aku mengungkapkan perasaanku kepada Alexa tadi siang.


Flashback on


"What? Bisa-bisanya kau menyukai gadis lain, sementara Jenny menyukaimu?!" Alexa berseru marah.


Aku terkejut, "Wait, what?!"


Suasana canggung tercipta untuk sementara waktu. Aku memutuskan untuk memberitahu Alexa mengenai perasaanku, "Sebenarnya, Alexa, aku menyukaim-"


"Sorry, Andy. Tapi menyakiti sahabatku membuatmu masuk ke dalam black list-ku." ucap Alexa, menatapku dengan tatapan dinginnya. Dia pun masuk ke supermarket tanpa berkata apapun kepadaku.


Flashback off


Aku mencoba mengirimkan pesan padanya, dan pesan yang ku kirimkan ke Alexa hanya di balas dengan dua tanda centang biru. Ku telepon dia, namun tidak di angkat, "Apa aku benar-benar masuk dalam daftar hitamnya?" gumamku.


Aku berjalan menuju jendela kamarku dan menatap langit berbintang melalui jendela. Seketika aku mengukir senyuman lebar di bibirku, "Aku tidak akan menyerah, Nona Levin! Aku akan mengungkapkan cintaku padamu setelah lomba anniversary sekolah."


***


Alexa POV


"Ayah dengar kau akan menghabiskan waktu dengan seseorang di siang hari ini, Alexa." Ayah memulai pembicaraan ketika aku dan Ibu menyiapkan makan siang.


"Iya, Ayah benar. Dia akan datang setelah makan siang." jawabku.


"Mengapa kau tidak mengundangnya makan siang bersama?"


"Aku hanya merasa risih jika harus makan siang bersama orang lain, itu saja."


"Atau karena dia itu pacarmu?" tanya Ayah sambil menaik-turunkan kedua alisnya. Ku rasakan kedua pipiku agak memerah, "No, Dad! We're friends." ucapku tak terima.

__ADS_1


"Teman atau teman?"


"Livian dan Alexa hanya berteman, Thomas." Ibu angkat bicara, "Lagipula, Alexa menyukai seseorang."


"Ibu 100% benar, Ayah." tambahku.


"Tapi tidak menutup kemungkinan kau dan Livian akan bersatu, Sayang!" sekarang Ibu yang tersenyum jahil.


"Apa salahku pada keluarga ini?" kataku, pura-pura mengeluh. Sementara Ibu dan Ayah hanya menertawaiku.


Setelah makan siang, aku pergi ke halaman belakang rumahku sambil membawa novel yang ku pinjam dari perpustakaan WHS jumat lalu. Rumput hijau, beberapa pot bunga dan sebuah rumah pohon, membuat suasana hatiku menjadi damai. Aku menarik napas dan menikmati udara segar, "Selama aku berada di sekitar sini, apa lagi yang ku perlukan?" gumamku.


"Seorang teman, misalnya." seseorang menjawabku. Yang pasti suara lelaki itu bukan suara ayahku.


Aku pun berbalik, "Livian? Tak ku sangka kau datang secepat ini." kataku saat melihat Livian yang membawa gitar dan ranselnya, "Untuk apa itu?" tanyaku.


"Aku ingin mengerjakan PR kimia ku bersamamu. Ku dengar kau pandai dalam pelajaran kimia."


"Not really." ujarku sambil tersenyum malu, "Kau mau mengerjakan PR mu di rumah pohonku?" aku menawarkan.


"Sounds like good idea. Tunjukkan jalannya."


***


Mengerjakan soal kimia bersama Livian lumayan seru. Livian selalu salah menghitung rumus-rumusnya, dan terkadang dia salah menuliskan simbol atom di bukunya, "Jika ini adalah sebuah praktikum, kau pasti telah meledakkan seluruh sekolah." komentarku lalu tertawa geli.


"Tidak separah itu. Yang meledak hanya lab sekolah dan sekitarnya." Livian ikut tertawa. Dia membereskan buku dan memasukkannya ke dalam ransel, lalu mengambil gitar dan mulai memainkan sebuah nada yang menenangkan hati.


"Walaupun aku tidak mahir dalam rumus, tapi aku pandai dalam menyusun nada menjadi 'obat penenang'." ujar Livian, masih memetik gitarnya.


"Don't be so confident." ejekku. Tapi sesaat kemudian, aku membenarkan apa yang di katakan Livian, "Well, lagumu berhasil menenangkanku."


Livian tak berhenti memetik gitarnya, "Wanna talk about something?" tanyanya.


"Tentang apa?"


"Banyak yang bisa kau ceritakan; dirimu, temanmu, atau apapun itu."


"Okay. Ehm, where do I start? " aku mengetuk daguku dengan jari telunjuk, "Aku dan kedua sahabatku saling mengerti satu sama lain, we're more like sisters, y'know? " aku terkekeh sebentar, lalu melanjutkan, "Itu mengingatkanku pada masa orientasi sekolah dulu..."


Flashback on


Hari ini adalah hari pertama aku bersekolah di Wonderfull High School. Aku tidak mengenal siapapun di kelasku, itu sebelum seorang gadis berambut biru menghampiriku di bangku ku.


"Hai, aku Gabriella Agatha Bloom. Kau bisa memanggilku Gaby, tapi jangan sekalipun kau memanggilku dengan sebutan 'Gab'. Hanya kakakku yang boleh memanggilku itu." Gaby melantur, membuatku tersenyum pada gadis berkuncir kuda itu.


"Hey, Gaby. Aku Alexandrie Dove Levin. Nice to meet you too. " balasku, mengulurkan tangan padanya.


"Well, hello Alexandrie." Gaby menyeringai jahil.


"Panggil aku Alexa, Gaby. Alexandrie terlalu panjang untuk di sebut."


Kami berdua terkekeh, itulah candaan pertama kami. Aku dan Gaby akrab dengan cepat, dia bercerita banyak hal. Sebagai contoh, dia bercerita tentang kakaknya yang saat itu duduk di kelas XI Science 1, namanya Andy Benjamin Bloom.


"Oh ya, Gaby. Aku ingin bertanya sesuatu." aku menghentikan tawanya.


"Apa itu?" Gaby menopang kepalanya dengan kedua lengan berada di atas meja.


"Mengapa kau mengecat rambutmu menjadi biru?"

__ADS_1


"Ah, about that." Gaby berdeham sebelum melanjutkan, "Sebenarnya aku memiliki rambut berwarna hitam. Tapi, sejak kepergian Papaku, aku-"


"Memangnya ayahmu ke mana?" aku memotong penjelasan Gaby.


"Papaku... Telah meninggal. Seseorang menculiknya ketika papa pulang dari kantor dan orang itu membunuhnya."


Seketika aku menutup mulutku dengan kedua tangan, mataku membelalak karena terkejut, "I'm so sorry, Gaby. Aku tidak tahu kalau-"


"It's okay. Cepat atau lambat, semua orang pasti tahu." jelas sekali bahwa Gaby memaksakan senyumannya, "May I continue?"


"Ya, tentu saja." sahutku, tersenyum canggung.


"Sejak kepergian papaku, mama selalu menghindariku. Andy berkata, mungkin mama berubah karena wajah dan warna rambutku mirip dengan papa. Jadi, aku memutuskan untuk mengecat rambutku. Awalnya ku pikir itu hanya sementara waktu, lama kelamaan aku mulai nyaman dengan warna rambut ini."


Hening. Tak ada satupun dari kami yang berkata sesuatu setelah Gaby bercerita, hingga aku berkata, "Maafkan aku, Gaby. Karena aku, kau harus mengulangi memori itu."


"Tidak apa. Aku-"


"Hey, what's up?" seorang gadis berambut cokelat berjalan dengan santainya menghampiri kami. Dia adalah Jennifer Spark Lucas.


Aku melambaikan tanganku dengan canggung, "Em, hei. Aku Alexandrie Dove Levin, senang mengenalmu, eh..."


"Jenny. Panggil aku Jenny." balasnya, mengedipkan mata sebelah kanannya.


Itulah awal mula persahabatan kami.


Flashback off


"Wow, aku tidak tahu kalau persahabatan kalian bermula seperti itu." komentar Livian, gitar itu masih ada di pangkuannya. Tapi kali ini dia berhenti memainkan gitarnya.


"Memang rumit, tapi akhirnya kami bisa bersama hingga saat ini. Aku hanya berharap bahwa tidak akan ada apapun yang menghancurkan persahabatan kami dan aku akan melakukan apapun agar persahabatan yang ku jalin tetap bertahan, meskipun itu artinya aku harus mengorbankan perasaanku."


Kata-kataku membuat tatapan Livian terpaut padaku, "Kau sadar apa yang baru saja kau katakan, Alexa?"


"Yap, menurutmu kenapa aku selalu peduli pada hal-hal kecil tentang Alvin?"


Mata Livian membulat, "Karena kau jatuh cinta pada Alvin?"


"You're right." ku rasakan kedua pipiku memerah kembali, "Ku mohon, Liv. Jangan beritahu siapapun tentang hal ini, khususnya Gaby dan Alvin."


Livian memandangiku heran, "Mengapa Gaby tidak boleh tahu?"


"Karena Gaby dan Alvin... Mereka mungkin saling menyukai."


"Dan karena Gaby adalah sahabat Alexa, jadi Alexa harus menjaga perasaan Gaby." tiba-tiba Ibu menghampiri kami di rumah pohon sambil membawa nampan dengan semangkuk es krim di atasnya.


"Halo, Tante Diandra." sapa Livian ramah.


"Itu benar, Bu. Dan menginterupsi dua orang yang sedang berbicara juga agak mengganggu." aku mendengus agak kesal.


"Tidak usah sarkastik begitu, Honey! Nanti Livian tidak ingin dekat-dekat denganmu. Ibu membawakan dessert untuk kalian." ujar Ibu sambil memberikan nampan yang ia bawa tadi.


"Ibu hanya membawa es krim untuk Livian? Untukku mana?"


"Siapa bilang Livian akan menghabiskan es krim ini sendirian?" balas Ibu sambil menyeringai lebar. Ibu pun meninggalkanku dan Livian.


Tinggal kami berdua di rumah pohon, bersama semangkuk es krim dan sebuah sendok. Mengetahui bahwa Ibu mengerjaiku, aku pun pergi ke dapur dan mengambil sebuah sendok.


"Mungkin ibuku lupa mengambil sebuah sendok lagi untukku." ujarku ketika kembali ke rumah pohon dan Livian memandangku dengan ekspresi bingung. Kami pun menghabiskan hari minggu itu dengan memakan es krim sambil bercanda ria.

__ADS_1


__ADS_2