
Alexa POV
Hari yang di tunggu-tunggu oleh seluruh warga sekolah WHS pun tiba. Setiap siswa yang berlatih untuk mengikuti lomba juga telah siap di bidang masing-masing, termasuk aku yang mewakili kelasku dalam lomba menari balet.
Kedua sahabatku, Gaby dan Jenny juga sibuk berlatih basket. Bahkan Gaby juga mengikuti lomba menyanyi untuk mewakili kelas kami. Aku salut padanya, karena dia bisa membagi waktu untuk berlatih basket dan menyanyi.
Pagi ini kami bertiga berkumpul di kantin seperti biasanya. Namun kali ini kami tidak akan jajan, melainkan berdiskusi tentang lomba yang kami ikuti, "Lagu apa yang akan kau bawakan nanti malam, Gaby?" tanya Jenny.
"Yah, aku telah mempertimbangkannya, aku akan membawakan lagu 'Real Friends' oleh Camila Cabello." balas Gaby.
"Aku suka lagu itu." ujarku, "Lagu itu mengajarkanku betapa pentingnya kesetiaan sahabat, seperti kalian berdua." lanjutku sambil menatap Gaby dan Jenny. Mereka tersenyum hangat padaku.
Aku berdiri dari kursi, berjalan mendekat ke kursi kedua sahabatku, lalu merangkul bahu mereka, "I don't wanna lose you, girls! You guys mean everything for me."
"Tenang saja, Alexa. Apapun yang terjadi, kita akan selalu bersama." balas Jenny lalu menyandarkan kepalanya di bahu kiriku.
"She's right." sahut Gaby, "Kita telah bersahabat selama setahun, takkan ada yang bisa memecah belah persahabatan kita." Gaby ikut bersandar di bahuku.
"Aku tidak ingin menjadi perusak suasana, tapi kita harus latihan sesaat lagi, Alexa!" Fiona tiba-tiba muncul dan meneriaki telingaku dari belakang, membuat kami bertiga kaget.
Aku ingin mengungkapkan kekesalanku pada Fiona namun ku urungkan, mengingat waktuku yang tidak banyak, "Yeah, tentu. See ya, girls! " aku berpamitan pada mereka berdua, lalu mengikuti Fiona.
...***...
Setelah berlatih dengan instruktur, kami di arahkan untuk berlatih secara mandiri. Dan itulah yang ku lakukan saat ini.
Aku berlatih tanpa iringan musik, dan berfokus pada langkah kaki ku diikuti oleh gerakan kedua tanganku. Aku bergerak berputar, seperti yang telah diajarkan kepadaku sebelumnya. Aku terlalu serius berlatih hingga tidak menyadari kehadiran Livian di pintu.
"Tarian yang bagus." komentar Livian.
"L-Livian? Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku agak gugup.
"Melihatmu menari balet." jawabnya santai, lalu berjalan mendekatiku dan menepuk kedua bahuku, "You have my support, Alexa. Aku yakin kau bisa mengalahkan Bianca siang ini."
Dukungan Livian sangat bermakna menurutku. Tanpa ku sadari, aku tersenyum hangat kepadanya dan aku tidak bisa lagi menahan diri, "Thanks, Liv. Itu sangat berarti untukku." kataku sambil memeluknya.
Author POV
"Um, Alexa. Aku tidak bisa... Bernapas." ucap Livian, berusaha melepaskan diri dari pelukan Alexa. Segera Alexa melepaskan pelukannya, "Maaf, aku terlalu bersemangat." kata Alexa dengan pipi yang agak merona.
"Yah, kau hampir membuatku terkena serangan jantung."
"Serangan jantung?" tanya Alexa kebingungan.
Livian membulatkan matanya, dia hampir saja mengungkapkan pada Alexa bahwa dia memiliki perasaan pada gadis berambut pirang itu.
"Eh, k-kau tahulah... Aku tidak boleh serangan jantung sekarang karena harus ikut lomba bola basket beberapa menit dari sekarang." Livian membuat alibinya. Alexa hanya terkekeh, "Langsung saja, Liv. Kau ingin meminta dukunganku dalam lomba mu itu, bukan?" ujar Alexa sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Y-yeah, kau benar." sahut Livian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Aku akan ke lapangan sekarang. Wanna join me? "
Alexa tersenyum geli pada Livian dan mengangguk mengiyakan ajakan Livian.
...***...
Setelah pembukaan yang dilakukan oleh tim cheerleaders WHS, lomba-lomba yang lain resmi dibuka.
Sebelum Gaby dan Jenny memasuki lapangan basket, Alexa menghampiri mereka, "I'll always support you, girls!" kata Alexa, merangkul bahu kedua sahabatnya.
"Kami akan melakukan yang terbaik." sahut Gaby.
"Yap, Gaby juga menunjukkan banyak perkembangan selama latihan." Jenny menimpali.
"Walaupun kalian meragukanku dari awal, aku berhasil membuktikan bahwa tidak ada yang harus kalian berdua khawatirkan." balas Gaby membela dirinya.
Alexa dan Jenny saling berpandangan, "Kami tidak meragukanmu!" seru Alexa dan Jenny bersamaan.
"Yeah, whatever. Ayo, Jenny, pertandingan akan segera dimulai!" ajak Gaby lalu berjalan lebih dulu ke lapangan. Jenny hanya mengedikkan kedua bahunya pada Alexa dan menyusul Gaby.
Alexa tersenyum hangat sambil memandangi punggung kedua sahabatnya, aku akan melakukan apapun untuk kalian berdua, meskipun aku harus merelakan perasaanku pada Alvin, batin Alexa.
Seakan mengetahui bahwa Alexa sedang memikirkannya, Alvin berdiri tepat di samping Alexa dengan mengenakan seragam basketnya, "Kau beruntung memiliki mereka, dan mereka juga beruntung memilikimu," ujar Alvin, memandangi kedua sahabat Alexa dari kejauhan, "Tapi kau tidak harus melakukan segalanya untuk mereka." kedua mata cokelat Alvin tertuju pada Alexa hingga tatapan keduanya bertemu.
Apa dia bisa membaca pikiranku, batin Alexa panik.
"Aku tahu Jennifer menyukai Andy, dan Andy menyukaimu." lanjut Alvin, membuat Alexa bernapas lega, "Jika kau juga menyukai Andy, jangan tahan perasaanmu, ungkapkan saja."
Oh tidak, Alvin salah mengartikan sikap Alexa, "A-aku... M-maksudku aku sama sekali tidak punya rasa apa-apa pada Andy."
__ADS_1
Alvin mengerutkan dahinya sambil menatap Alexa, "Ayolah, Alexa. Memangnya aku tidak tahu kalau kau bohong?" ucap Alvin lagi. Dia benar-benar tidak mengerti maksud Alexa.
Niat Alexa semakin meningkat untuk mengungkapkan perasaannya pada Alvin, "Aku tidak bohong." ujar Alexa sambil mendongakkan kepalanya ke atas untuk menatap Alvin yang lebih tinggi darinya. Kedua matanya memandang Alvin dengan serius, "Bagaimana aku bisa menyukai orang lain jika aku telah menyukaimu sejak aku bersekolah di WHS?"
Well, bisa dibilang Alexa akhirnya mengungkapkan perasaannya di hari yang bersejarah ini.
Keheningan menyelimuti mereka, Alvin tidak berani merespon ungkapan perasaan Alexa, "Beritahu aku, Vin. Bagaimana caranya aku menyukai orang lain?" suara Alexa hampir menyerupai bisikan.
"Hei, Vin! Jangan tinggal diam di situ! Pertandingan akan segera dimulai!" teriak Livian dari lapangan. Hampir saja, batin Alvin. Ia pun meninggalkan Alexa tanpa jawaban 'ya' ataupun 'tidak'.
Seakan tidak ada yang terjadi, Alexa menyaksikan pertandingan bola basket dan meneriakkan nama sahabatnya untuk mendukung mereka, seolah dia seorang cheerleaders.
"Ayo, Jennifer! Ayo, Gabriella! Aku percaya pada kalian! You can do it! Go! Go! Go! " teriak Alexa tanpa henti, membuat beberapa pasang mata menatapnya heran.
Sedangkan Fiona melihat scene itu pun menghampiri Alexa, "Chill out, Girl! Jangan buat dirimu menjadi pusat perhatian." ujar Fiona sambil menepuk salah satu bahu Alexa.
"Eh, Fiona. Aku tidak melihatmu datang." sahut Alexa dengan seringai bodohnya, "Biarkan saja mereka menatapku, aku tidak peduli. Mereka 'kan punya mata." lanjut Alexa dengan santainya.
"Terserah kau sajalah, Levin!" balas Fiona, menepuk pelan dahinya. Alexa hanya terkekeh.
Jenny mencetak skor berkali-kali hingga posisi tim Jenny saat ini berada pada rank ke-2 di papan skor. Saat ini tim Jenny sedang memanfaatkan waktu istirahat mereka, "You all are so awesome, guys! Kalian berlima membuat kelas kita bangga." ucap Alexa ketika ia dan Fiona menghampiri kelima teman kelas mereka di pinggir lapangan.
"You can count on us." balas Fred sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Gaby mendengus kesal, "Atau lebih tepatnya: you can count on Jenny. Karena dia, kemenangan ini menjadi mungkin." balas Gaby sinis.
"Bisakah kalian berhenti bersikap childish? " timpal Nick tak kalah sinis.
Gaby, Fred dan Nick pun saling berargumen, tak lupa pula Joe yang ikut memanaskan perdebatan mereka. Jenny menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum, "Guys, stopped! Kalian berempat akan mempermalukanku dengan perdebatan tak bermanfaat ini."
Mendengar teguran sang leader, keempat anggota itu saling mendiamkan satu sama lain, "Sebaiknya kita kembali ke lapangan, lima menit lagi pertandingan melawan tim Alvin segera dimulai." lanjut Jenny.
"Wait... What?! Kalian akan melawan tim Alvin?" Alexa memperjelas apa yang ia dengar.
Jenny mengangguk, "Ya. Kau pikir siapa yang menempati posisi pertama dalam pertandingan basket ini?"
"Setidaknya bukan Andy yang menjadi leader tim itu." tanpa sadar Jenny mengatakan keras-keras apa yang ia pikirkan.
Gaby dan Alexa hanya bersikap biasa saja. Namun Joe, Fred, Nick dan Fiona, keempat remaja itu bingung dan tak tahu bagaimana mereka harus menanggapi Jenny, "What happened if Andy were the leader?" tanya Fiona.
Jenny menatap Alexa dan Gaby bergantian, mengisyaratkan ia sedang perlu bantuan. Alexa mengangguk seakan tahu apa yang Jenny sampaikan, "Kalian tahu sendiri bahwa Andy adalah kakak dari Gaby, itulah mengapa Jenny bersyukur karena bukan Andy yang menjadi leader." jelas Alexa.
"Sudahlah, tidak usah mempermasalahkan hal itu." Gaby menimpali, "Kita harus bersiap-siap untuk pertandingan. Shall we? " ujar Gaby mempersilakan keempat temannya.
Awalnya Jenny baik-baik saja ketika ia memantulkan bola basket, tetapi melihat Andy yang berusaha menghalanginya mencetak skor membuat Jenny gugup dan membiarkan Andy mengambil alih bola darinya.
"Jenny, what are you doing, Girl?!" seru Gaby kesal sambil berkacak pinggang, dia berusaha mengatur napas. Keringat Gaby bercucuran di dahinya.
"Aku... Oh my God! Apa yang-"
Segera Gaby memotong perkataan Jenny, "Nevermind. Aku saja yang merebut bola itu." lanjutnya lalu mengejar Andy.
Pertandingan antara kedua tim itu makin sengit. Semua anggota tim Jenny kewalahan menghadapi Alvin yang ahli merebut bola dan memasukkannya ke ring basket.
"...dan Alvin Turner kembali mencetak poin. 2 poin untuk Alvin dan 0 untuk tim lawannya. Sungguh luar biasa!" seru komentator pertandingan basket itu. Tentu saja si komentator mendukung tim Alvin, mungkin karena popularitas Alvin di seluruh WHS.
Melihat keadaan yang semakin buruk bagi tim Jenny, Gaby mengumpulkan keempat temannya untuk berdiskusi, "Ayolah, Bloom. We have no time to discussing. " gerutu Joe.
Gaby hanya memutar bola matanya malas, lalu menatap Jenny, "Kalau kau tidak bisa mengendalikan perasaanmu, lebih baik jauhi Andy selama pertandingan berlangsung."
"Tapi-"
Gaby tidak menunggu protes Jenny, dia kembali mengejar bola yang sekarang ini berada di tangan Alvin.
"Don't worry, Gaby! Aku tidak akan melukaimu." ujar Alvin ketika Gaby mendekatinya.
"Huh, I don't need you to protect me." balas Gaby, mengambil bola dari tangan Alvin dan memantulkannya. Dia mendekati ring basket dan...
"Wow! Gabriella Bloom mencetak 2 poin. Sungguh di luar dugaan saat ini poin masing-masing tim seri." suara komentator kembali menggema, sedangkan Gaby tersenyum miring lalu menatap Alvin.
Kedua manik mata hitamnya menangkap keberadaan Livian yang tepat dibelakang Alvin. Oh no, mengapa aku tidak memerhatikan kehadiran Livian, batin Gaby. Terlihat olehnya, Livian mengangkat kedua ibu jarinya kepada Gaby seolah mengatakan 'great job!'
Ugh, fokus, Gaby! Jangan kecewakan Jenny hanya karena Livian!
Gaby menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum pada Livian sebelum melanjutkan babak berikutnya, "Babak ini akan menjadi penentuan. Akankah tim Alvin akan meraih kemenangan lagi tahun ini atau wajah-wajah baru yang akan mengisi kemenangan tersebut?" ucap komentator itu lagi, membuat semangat Gaby makin menggebu-gebu.
Gaby sungguh memanfaatkan kesempatan itu. Dia merebut bola dari tim Alvin dan memantulkannya hingga suara pantulan bola bergema di seluruh lapangan basket itu. Keringat yang bercucuran tidak lagi dihiraukan oleh Gaby ketika ia akan mencetak poin terakhir.
Andai saja Livian tidak mencegahnya, rencana Gaby pasti berjalan lancar. Karena Livian, tembakan Gaby ke ring agak meleset sehingga bola basket itu mengenai tepi ring dan memantul kembali ke arah Gaby.
Seketika kepala Gaby terasa pusing dan dia masih shock karena terkena hantaman bola. Sedetik kemudian, semua di sekitar Gaby menjadi gelap.
__ADS_1
...***...
Alexa sedang bersiap-siap untuk lomba balet pada pukul 13.02 siang ini, "Tenang saja, Alexa. You can do it! " Livian menyemangati Alexa kesekian kalinya untuk hari ini.
"I will not let you down!"
Bahkan Alexa belum sempat tersenyum, Fiona masuk ke belakang panggung tempat Alexa dan Livian berada, "Harusnya kalian menyaksikan Bianca tadi." ujar Fiona sambil tertawa, sementara Alexa dan Livian saling berpandangan dalam kebingungan.
"Dia terjatuh dan kakinya terkilir." lanjut Fiona kembali tertawa terbahak-bahak.
Mendengar penjelasan Fiona, Livian mulai tertawa. Sedangkan Alexa melirik mereka berdua dengan tatapan datarnya, "Aku heran dengan kalian. Apakah sangat lucu menertawakan orang yang-"
"Fiona David! Beraninya kau menertawakan aku?!" tiba-tiba Bianca muncul dan berteriak histeris.
"B-bukan itu maksudku, Bianca. Aku-"
"Guys, tenanglah." Alexa berusaha menengahi, namun Bianca mendorongnya hingga Alexa hampir terjatuh. Untungnya Livian ada di sana untuk membantu Alexa menyesuaikan keseimbangannya.
"Thanks again, Liv!" Alexa berusaha berdiri sendiri. Mata Bianca yang menatap scene itu pun kembali menatap tajam Fiona, "I'll teach you a lesson!" katanya lagi lalu menarik lengan kanan Fiona dan berjalan pergi dari belakang panggung.
"Jangan pedulikan mereka." ucap Livian, "Fokus saja pada lomba ini."
Alexa mengangguk, lalu naik ke atas panggung. Semua mata memandanginya ketika lampu sorot tertuju padanya. Dia mulai mangayunkan kedua tangan dan kedua kakinya menari ketika lagu 'Keep On Dancing' diputar.
I follow my heart...
Somehow it always seem to know...
And when I dance...
My feet are dreaming...
I close my eyes and let it go...
The music flows through me
And then I know I'll be fine...
Listen to the beat of your heart
Keep on dancing... Keep on dancing...
Shine just as bright as a star
Keep on dancing... Keep on dancing...
Cause dance is who I am...
Alexa menari sesuai apa yang telah ia pelajari dari instrukturnya. Ketika akan mencapai bagian akhir lagu, Alexa pun melakukan gerakan balet yang dikenal dengan 'Gerakan Pirouette'.
Listen to the beat of your heart (your heart)
Keep on dancing (YEAH)
Shine just as bright as a star
(You're as bright as a star)
Keep on dancing... Keep on dancing
(Just keep on dancing)
Listen to the beat of your heart
(Again and again)
Keep on dancing... Keep on dancing...
(Listen to the beat of your heart)
Shining just as bright as a star
(Just as bright as a star)
Keep on dancing... Keep on dancing...
Cause dance is who I am...
Bertepatan dengan selesainya lagu, Alexa mendaratkan kedua kakinya ke lantai panggung dengan aman. Suara tepukan terdengar dari sekuruh penonton, dan Alexa pun membungkuk ala penari balet untuk berterima kasih.
__ADS_1