Cinta Atau Sahabat?

Cinta Atau Sahabat?
Andy & Jenny's Date


__ADS_3

"Apa?! Jenny dan Andy akan berkencan, dan kalian baru memberitahuku sekarang?!" Seru Alexa ketika ia, Gaby dan Jenny sedang video call di malam hari; pada pukul 9 malam, lebih tepatnya.


"Ini bukan kencan, hanya hang out biasa." Bantah Jenny.


"Oh, come on, Jenny! Kau pasti senang karena kau akan menghabiskan sisa hari esok dengan Andy. Apa aku benar?" Ujar Gaby sambil menaikkan kedua alisnya.


Jenny hanya menundukkan kepalanya dan tersenyum malu, "Terserah kalian. Terus saja ejek aku. Bye! "


"Beraninya Jenny mematikan teleponnya." Ujar Alexa, "Kalau begitu, aku juga akan mengakhiri panggilan. See ya, Gaby! "


"Alexa, tunggu!"


"What's that, Gaby?"


"Aku... Ingin bertanya sesuatu... Tentang Livian."


"Aku akan langsung ke intinya saja..." Gaby berdeham singkat, lalu menatap ponsel yang masih terhubung vidcall-nya dengan Alexa, "Apa k-kau dan Livian, um, punya hubungan khusus?"


"Hubungan khusus seperti apa?"


"Well... Kau tahulah..."


Alexa menatap Gaby dalam diam. Dia akan mengatakan sesuatu pada Gaby saat...


"Alexa? Bisa kemari sebentar, Sayang?" Diandra memanggil Alexa dari lantai bawah.


"Iya, Bu. Tunggu sebentar." Balas Alexa, "Aku akan meneleponmu nanti, Gaby. See ya! "


"Okay, see ya!"


***


Keesokan harinya, yaitu hari Jumat. Waktu berjalan lambat bagi seorang Jennifer Spark Lucas, "Aku sepertinya menunggu sangat lama untuk hari ini." Gumam Jenny yang sedang duduk di kursinya. Alexa dan Gaby saat ini berada di perpustakaan, mungkin sedang membaca novel kesukaan mereka.


Jenny POV


Aku tidak suka membaca, itu sebabnya aku tidak bergabung dengan Alexa dan Gaby di perpustakaan. Dan yang paling menyebalkan dari sebuah perpustakaan adalah keheningan yang mengisi ruangan yang penuh buku itu.


Yah, itu sangat membosankan. Lebih baik aku memikirkan apa yang akan terjadi sebentar; sejujurnya aku sangat senang sekaligus gugup karena aku akan menghabiskan sore ini dengan Andy.


Namun seseorang mencolek bahuku, membuatku kembali ke kenyataan. Aku pun membalikkan badan dan rupanya Fred yang menggangguku, "Ada apa, Fred?"


Fred melirik ke arah kursi Gaby, lalu melirik ke pintu kelas, "Di mana Gabriella?"


"Dia ada di perpustakaan? Mengapa kau mencarinya?"


"Bukan urusanmu."


"Tentu itu urusanku!" Bentakku dengan suara nyaring sehingga Fred harus menutup kedua telinganya dengan tangan. Aku melanjutkan, "Gaby sahabatku, aku berhak tahu apa yang terjadi dengannya, atau siapa yang mungkin mengganggunya. Dan kau..." Aku berhenti sejenak, memandangi Fred dari kepala sampai kaki. Lalu aku pun mulai berpikir aneh, "Apa kau menyukai Gaby? Sebaiknya kau tidak menyukai Gaby, karena ada orang lain yang telah menyukainya."


"Tunggu, apa?! Siapa yang suka dengan Gaby?" Tanya Fred terkejut, tidak ku sangka tebakan asal-asalanku benar.


Ku tunjukkan seringai jahilku, "Si leader basket itu."


"Alvin?" Aku mengangguk sebagai jawaban. Seketika raut wajah Fred berubah menjadi datar, ia pun keluar dari ruang kelas dan meninggalkanku sendiri, "Dasar anak aneh." Ujarku sambil memerhatikan Fred yang makin menjauh.


Jam pelajaran terakhir pun berlalu, inilah saat yang telah ku tunggu.


Ku masukkan buku pelajaranku ke tas saat Gaby dan Alexa sibuk berbincang di kursi mereka masing-masing, "Hei, Alexa. Bagaimana pendapatmu tentang kencan yang akan terjadi?" Gaby sengaja menaikkan suaranya agar aku bisa mendengarnya dari kursiku.


Alexa pun ikut-ikutan, "Well, jika aku jadi 'dia', aku akan sangat gugup sehingga jantungku berdegup cepat."

__ADS_1


"Kapan kalian akan berhenti mengejekku?" Aku memandangi mereka lalu memutar bola mataku. Alexa dan Gaby malah tertawa, membuatku makin kesal dan berjalan keluar meninggalkan ruang kelas.


Belum jauh aku melangkah, aku menabrak seseorang, "Lihat ke mana kau-" Ku gantung kalimatku ketika melihat wajah orang itu.


"Andy?"


"Hai, Jenny! Aku tidak menyangka bertemu denganmu di sini; aku baru saja akan menjemputmu."


"Kau baik-baik saja?" Tanya Andy saat aku tidak menjawabnya. Andy terlalu memesona sehingga aku tidak bisa mengalihkan mataku darinya.


Aku baru menjawab pertanyaannya beberapa saat kemudian, "Eh,Yeah. I'm fine."


"Bagus. Bisa kita berangkat sekarang?"


"Kita akan ke mana?"


"Aku akan membawamu ke kafe favoritmu."


"Buttercafé?" Tebakku. Andy tersenyum.


Oh ya, Buttercafé adalah kafe favorit kedua sahabatku dan aku yang terletak di sisi barat kota. Di kafe itu, kami bertiga sering menghabiskan waktu; entah itu untuk mengerjakan tugas maupun sekadar bercanda ria.


"Kita sampai!" Ujar Andy ketika ia memarkirkan mobilnya tepat di depan kafe.


Tanpa basa basi, kami berjalan masuk ke kafe dan memilih tempat yang dekat dengan jendela. Seorang waitress berusia sekitar dua puluh tahun ke atas menghampiri kami, aku biasa memanggilnya dengan sebutan Betty, "Hai, Jenny, apa yang ingin kau pesan? Apa yang akan kau lakukan kali ini? Mengerjakan pr atau hanya bersenda gurau? Dan siapa laki-laki ini? Apa dia pacarmu?" Tanya Betty secara beruntun. Untungnya aku sudah terbiasa dengan itu.


Sebelum menjawab pertanyaan Betty, aku terkekeh selama beberapa detik, "Akan kujawab satu per satu: aku di sini hanya untuk berbincang. Laki-laki ini namanya Andy, Andy Bloom. Dan dia bukan pacarku, dia adalah temanku."


Andy yang duduk di seberangku mengangkat tangan kanannya seraya menatapku, "Um, Jenny? Masih ada satu pertanyaannya yang belum kau jawab." Dia pun menatap Betty.


Seolah mengerti tatapan Andy, Betty kembali menatapku, "Mau pesan apa?" Tanya Betty sambil menahan tawa.


"Oh, maksudmu pertanyaan yang itu..." Aku tertawa canggung, "Ehm, kau tahu apa yang akan ku pesan kan, Betty?"


"Benar. Tapi kali ini aku hanya akan memesan blueberry juice. "


Betty mengangguk, "Bagaimana denganmu, Tn. Bloom?"


"Aku pesan ice cappuccino. Dan ku mohon, panggil aku Andy saja." Dia mengakhiri kalimatnya dengan senyuman. Betty segera membuatkan pesanan kami.


"So..." Andy memulai, "Aku ingin bertanya?"


"Tentang apa?"


"Bianca." Jawab Andy singkat, "Untuk apa kau melakukannya?"


Aku tahu persis apa yang Andy maksud, "Tentu saja aku tidak bisa membiarkan dia mencelakaimu."


Andy menatapku dalam diam. Tatapannya seolah menyelidiki kebohonganku, "K-karena aku mengenalmu sebagai kakak dari sahabatku, itu sebabnya aku membantumu."


"Well, apapun itu, aku hanya bisa mengatakan: thanks, Jenny! "


Tak lama kemudian, pesanan kami tiba. Aku dan Andy kembali berbincang-bincang, "Jenny, can you keep a secret?"


"Tentu. Rahasiamu akan aman bersamaku."


"Actually, aku sedang menyukai seorang gadis di kelasmu."


Sontak aku tersedak oleh jus blueberry yang sedang ku minum. Andy lekas memanggil Betty untuk meminta segelas air putih. Aku menunggu Betty dengan keadaan masih terbatuk-batuk, dan dia pun tiba lalu memberikan segelas air padaku, "Terima kasih, Betty." Ujarku setelah meminum air.


"Sorry, Andy." Kataku lagi, "Sampai di mana kita tadi?"

__ADS_1


"Em, aku akan memberitahumu tentang gadis yang aku sukai di kelasmu."


"Ah ya. Kalau aku boleh tahu..." Aku menelan ludahku kasar, "... Siapa nama gadis itu?"


"Tentu kau boleh tahu, bahkan kau telah mengenalnya. Dia adalah Alexandrie Levin."


Apaa?!! Alexa?


***


Author POV


Gaby masih berada di area sekolah pada pukul 15:11. Dia memutuskan untuk latihan bernyanyi di studio musik WHS. Dia tidak menduga akan bertemu Livian di sana.


"Livian? Ap-apa yang kau lakukan di sini?"


Dasar Gaby bodoh! Tentu dia sedang latihan di sini!


Setelah puas mengumpat diri dalam hati, Gaby kembali memerhatikan Livian yang sedang sibuk memetik gitarnya. Suara merdu dari petikan gitar Livian membuat Gaby merasakan hatinya tenteram, "Kau mau berlatih menyanyi denganku?" Tanya Livian.


"Um, bagaimana ya?" Gaby menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Apa kau tidak keberatan berlatih denganku?"


"Tentu saja tidak. Aku akan senang kalau punya seseorang yang bisa di ajak duet bernyanyi." Livian lalu berdiri dan berjalan ke arah bangku. Dia duduk di bangku itu, lalu mengisyaratkan agar Gaby ikut duduk di sampingnya.


"Kau tahu lagu 'Stitches' yang di nyanyikan oleh Shawn Mendes?" Tanya Livian. Gaby mengangguk, "Ku kira lagu itu tidak bisa di nyanyikan secara berduet?" Tanya Gaby balik.


"Tentu kita bisa." Kata Livian sambil menepuk pelan bahu kanan Gaby, "Let's do this! Kau yang akan menyanyikan bagian pertama."


Livian pun mulai memetik gitarnya dan Gaby bernyanyi setelah intro dari Livian.


I thought that I've been hurt before...


But no one's ever left me quite this sore...


Your words cut deeper than a knife...


Now I need someone to breathe me back to life...


Baru saja Gaby akan menyanyikan bait kedua, namun Livian telah mendahuluinya.


Got a feeling that I'm going under


But I know that I'll make it out alive


If I quit calling you my lover


"Move on..." Gaby dan Livian bernyanyi bersamaan sebelum refrain lagu. Kemudian mereka bernyanyi bergantian pada bagian refrain; dengan Gaby yang bernyanyi lebih dahulu.


You watch me bleed until I can't breathe


I'm shaking falling onto my knees


And now that I'm without your kisses


I'll be needing stitches


I'm tripping over myself


Aching begging you to come help


And now that I'm without your kisses

__ADS_1


I'll be needing stitches...


__ADS_2