
Jenny POV
Aku tiba di rumahku pada pukul empat sore karena aku mengikuti kelas bela diri, sementara Gaby dan Alexa pulang dari sekolah sekitar dua jam yang lalu. Mereka bersikeras untuk menungguku menyelesaikan kelasku, tapi aku tidak tinggal diam dan terus menolak.
"Ibu, aku pulang..." Seruku sambil membuka pintu utama rumahku.
"Hai, Sayang." Ibu menghampiriku di ruang tamu dengan kedua tangannya yang basah, mungkin karena ia sedang mencuci piring di dapur, "Bagaimana harimu di sekolah? Apakah menyenangkan?" Tanya ibu sambil ikut duduk di sofa denganku. Sementara aku hanya tersenyum ceria padanya.
"Aku terpilih untuk mewakili kelasku di lomba basket nanti, Bu!" Teriakku senang.
"Wah, itu bagus. Kamu jangan kecewakan teman-temanmu dan lakukan yang terbaik untuk kelasmu."
"I will..." Aku memeluk wanita kesayanganku itu, "Kalau begitu, aku ke kamarku dulu ya, Bu. Aku merasa lelah."
"Iya, Sayang." Ibu lalu mengelus kepalaku sebelum dia kembali ke dapur, sementara aku berjalan ke kamarku sambil menyeret tas punggungku yang menyentuh permukaan lantai.
Saat tiba di kamar, aku berbaring di tempat tidurku dan memainkan ponsel. Sebuah notifikasi baru saja masuk di whatsapp ku, tanpa pikir panjang aku menekan notifikasi itu dan rupanya itu adalah pesan dari Miss Polly yang beliau kirim ke grup kelasku.
Miss Polly berkata kalau kami kekurangan satu orang dalam tim basket, dan Gaby mengusulkan agar ia ikut serta dalam timku. Terkejut? Jelas. Kenapa aku terkejut?
Karena ini Gaby... GABY! Gadis yang paling takut terkena lemparan bola.
Lalu aku memutuskan untuk menanyainya secara pribadi.
Jenny
Gaby, apa kau serius ingin
ikut bertanding basket?
Gaby
Tentu saja aku serius.
Jenny
Tapi mengapa kau ingin melakukan ini?
__ADS_1
Ku pikir kau takut dengan bola?
Gaby
Ya, aku memang masih takut.
Tapi tidak ada teman-teman kelas kita
yang ingin ikut serta dalam pertandingan ini, kan?
Jenny
Kau benar, tapi apa kau yakin
ingin melakukan ini?
Cukup lama aku menunggu balasan dari Gaby, sekitar tiga sampai empat menit. Mungkin dia berpikir dua kali untuk ikut bertanding.
Gaby
Aku takkan mundur dan
mengganti keputusanku.
Ku kira aku akan bernapas lega, namun Gaby malah nekat. Tidak ada yang bisa kulakukan selain mengiyakan keinginan Gaby.
Baru saja aku menaruh kembali ponselku, sebuah nomor tak di kenal mengirimkan pesan whatsapp padaku. Saat aku melihat foto profilnya...
"A-Andy!" Buru-buru ku baca pesan yang di kirimnya.
Andy
Hai, Jennifer. It's me, Andy.
Andy
Aku cuma mau bilang thanks
__ADS_1
karena kau sudah menyelamatkanku
dari Bianca.
Jenny
Darimana kau tahu?
Andy
Siapa lagi kalau bukan Gaby?
Dia menceritakan semuanya.
Tiba-tiba aku tersentak kaget, apa Gaby juga memberitahu kakaknya kalau aku menyukainya?
"Oh no. It's a disaster!" Tanpa sadar aku berteriak histeris pada diriku.
"Jenny? Kau baik-baik saja, Nak?" Tanya Ibu sambil mengetuk pintuku, "Iya, Bu. Aku tidak apa-apa. Tadi aku... Aku melihat laba-laba." Jawabku berbohong. Ku charge ponselku dan bergegas ke kamar mandi.
***
Selesai makan malam dengan ayah dan ibuku, aku kembali ke kamarku untuk untuk mengerjakan tugas matematika yang diberikan Miss Polly tadi siang.
"Apa Miss Polly harus memberikan tugas setelah kelasnya selesai?" Gerutuku sambil mencatat setiap rumus dibuku ku. Setelah mengerjakan tugas yang menurutku agak sulit itu, aku mengambil ponselku dan merebahkan diriku.
Ku periksa akun instagram ku, Gaby baru saja memposting foto yang terdiri dari Gaby, Alexa dan aku. Foto kami bertiga itu di ambil di hari ulang tahunku kemarin, dan Gaby menambahkan caption dibawahnya.
@Gabriella_Gaby No matter what happen, we will stay united @Jen_Jenny @Dove_Alexa
Aku tak bisa menahan senyum dan ku komentari postingan Gaby.
@Jen_Jenny Aku akan selalu menjadi sahabatmu, @Gabriella_Gaby @Dove_Alexa >_<
Ku tatap foto itu lagi dan tersenyum sendiri. Lalu aku baru menyadari sesuatu, "Apa benar Livian menyukai Alexa? Dan jika itu benar, apa Alexa juga menyukai Livian? Bagaimana dengan Gaby dan Alvin, apa mereka juga saling menyukai?" Gumamku, "Kalau itu benar, pasti menyenangkan sekali!" Seruku kegirangan.
"Aku harus memberitahu Gaby dan Alexa besok mengenai teoriku ini!" Sekali lagi aku berseru kegirangan, lalu Ibu mengunjungiku di kamar dan memberitahu agar aku tidak tidur terlalu larut malam.
__ADS_1