Cinta Atau Sahabat?

Cinta Atau Sahabat?
Akibat Spekulasi Jenny


__ADS_3

Author POV


Saat waktu istirahat di kantin, Alexa dan Gaby memerhatikan Jenny yang sedari tadi terdiam, Gaby pun akhirnya berbicara, "Hari ini kau hanya terdiam, Jenny. Ada apa?"


Yang di tanya hanya mengunyah dan menelan makanannya, lalu tersenyum jahil pada kedua sahabatnya, "Jangan berteka-teki pada kami, Jenny." Ujar Alexa.


"Aku tahu sesuatu yang sedang kalian sembunyikan." Ucap Jenny sambil menatap Alexa dan Gaby bergantian dengan alisnya uang naik turun. Mereka berdua membelalakkan mata hingga bola mata mereka hampir keluar. Kedua gadis ini pun sibuk dengan pikiran mereka sendiri, apa yang Jenny ungkap tentangku, batin Alexa dan Gaby.


Sepertinya Alexa tidak ingin mengetahuinya, "A-aku akan ke toilet." Itulah alasan yang terpikirkan oleh Alexa saat ini.


"Baiklah, kami akan menung-"


Alexa segera memotong perkataan Jenny, "Tidak usah menungguku, mungkin aku agak lama di toilet. See you at the class! " Dia pun berlari meninggalkan kedua sahabatnya.


"Kurasa hanya kau yang ingin mengetahui kebenarannya, Gaby." Jenny berkata setelah Alexa tidak lagi terlihat di sekitar kantin.


"Okay, tell me. Apa yang kau ketahui?"


"Aku akan memberimu dua pertanyaan dan kau harus menjawabnya jujur, setuju?" Ujar Jenny sambil meletakkan tangan di atas meja dengan telapak tangannya menghadap ke atas. Gaby menaruh tangan kanannya di atas tangan Jenny, "Setuju."


"Pertanyaan pertama, apa benar kau memberitahu Andy kalau aku menyukainya?" Jenny bertanya seolah ia sedang menginterogasi seorang penjahat.


"Ti...dak. Aku hanya memberikan nomor teleponmu padanya setelah ku beritahu Andy tentang Bianca."


"Jangan pikir aku akan memercayaimu karena kau sahabatku, Gaby." Gaby akan buka mulut, namun Jenny membungkamnya, "Tapi aku akan percaya padamu kali ini." Lanjut Jenny sambil menyengir.


Gaby memperbaiki posisi duduknya dan mulai antusias, "Yang kedua?"


"Kau yakin ingin tahu?" Jenny mengangkat sebelah alisnya.


"Of course I am."


"Okay, ini tentang Alexa."


Gaby terkesiap, "Alexa?! Ada apa dengannya?"


"Apa kau melihat kalau dia sedang dekat dengan Livian?"


"Apa maksudmu mengatakan itu, Jenny?" Tanya Gaby sarkastik. Entah mengapa dirinya selalu kesal setiap kali kedua nama itu dihubungkan, dan bagian buruknya adalah dia tidak bisa menahan kekesalannya itu.


"Apa kau tidak memperhatikan? Alexa dan Livian sangat akrab akhir-akhir ini, bahkan mereka datang bersama di pesta ulang tahunku. Mungkin mereka saling menyukai?" Mata Jenny melihat ke atas seakan sedang berpikir.


Gaby tak mau ambil pusing, "Ya, mungkin kau benar. Mungkin saja Livian menyukai Alexa, begitu pula sebaliknya." Kata Gaby, walaupun hatinya berkata lain.


Setelah menghabiskan makan siang mereka, Jenny dan Gaby bergegas ke kelas mereka setelah mendengar bel tanda pembelajaran akan segera di mulai.


***


Pukul 14:00 seluruh siswa WHS pulang ke rumahnya masing-masing, termasuk Jenny, Gaby dan Alexa. Ketiga gadis itu berjalan menuju halte bus yang tak jauh dari sekolah mereka dengan suasana yang hening.


Alexa pun bicara, "Mengapa kalian berdua diam saja dari tadi?"


Jenny dan Gaby pun duduk di kursi halte, di ikuti oleh Alexa, "Tidak ada hal menarik yang bisa di ceritakan." Jawab Gaby sekenanya.


Belum lama Gaby duduk bersama temannya, mobil Andy lewat di depan halte bus dan berhenti tepat di depan mereka bertiga, "Hey, girls! Apa kalian akan pulang ke rumah?" Tanya Andy, mereka mengangguk, "Aku bisa mengantarkan kalian." Andy menawarkan.


Gaby dan Alexa menyeringai tanpa Jenny sadari. Baru saja Alexa akan mengiyakan tawaran Andy, Jenny menolak, "K-kami pulang-bisa-sendiri." Jenny mengucapkan kalimatnya secara tak beraturan dan nada bicaranya sangat cepat hingga Andy, Gaby dan Alexa menatapnya bingung, "Eh, maksudku, kami b-bisa pulang sendiri." Jenny cengengesan saat mengakhiri kalimatnya.

__ADS_1


Awalnya Alexa ingin mengomeli Jenny, tapi Jenny terlanjur menolak. Suasana akan canggung jika aku memaksa Jenny mengubah keputusannya, batin Alexa. "Jenny benar, Andy. Kami akan menunggu bus saja." Tambah Alexa.


"Kalian yakin?" Tanya Gaby sebelum menghampiri kakaknya di mobil. Alexa mengangguk.


"Okay then. See you tomorrow, girls!" Gaby melambai kepada kedua sahabatnya.


Sementara Andy memusatkan matanya pada Alexa, "See you, Alexa." Katanya sambil tersenyum, Alexa balas senyum padanya.


Gaby berdeham kala melihat kakaknya tak kunjung menyalakan mesin mobilnya, membuat Andy membuyarkan tatapannya dari Alexa, "Kau juga, Jenny." Kata Andy lagi sambil melirik ke arah Jenny dan tersenyum. Ia lalu mengendarai mobilnya menjauh dari halte bus itu.


"Apa kau melihatnya, Alexa?!" Jenny menjerit girang sambil mencengkeram lengan kiri Alexa, "Dia tersenyum padaku! Andy tersenyum padaku!" Seru Jenny lagi sambil melompat-lompat seperti anak kecil, masih mencengkeram lengan Alexa dengan kuat.


Alexa meringis kesakitan dan berusaha menepis tangan Jenny dari lengannya, "Jenny, stopped! Lenganku sakit."


"Ups, maaf." Jenny melepaskan tangannya dari Alexa dan menyengir tak berdosa, "Hanya saja hari ini aku saaangat senang." Teriak Jenny sambil merentangkan kedua tangannya ke samping. Alexa hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum melihat tingkah laku gadis berambut cokelat itu.


"Are you done?" Tanya Alexa agak sarkastik saat Jenny terdiam. Yang di tanya hanya menyengir dan mengangguk, "Eh, aku baru ingat." Ujar Jenny, membuat salah satu alis Alexa terangkat, "Apa yang kau ingat?"


"Aku belum memberitahumu tentang Gaby dan Alvin."


Mendengar nama Alvin di sebut, Alexa merasa salah tingkah. Mengapa sahabatnya itu membahas tentang Alvin dan Gaby?


"Ada apa d-dengan mereka?" Tanya Alexa agak gugup.


"Tidakkah kau sadar kalau Alvin menyukai Gaby?"


"Ti-tidak. Dan kalau itu benar, apa kau yakin Gaby juga menyukai Alvin?"


"Are you kidding me? Siapa yang tidak suka dengan Alvin? Dia itu memiliki semua yang para gadis idamkan: kekayaan, ketampanan, dan leader of basketball team."


Ya, tentu saja kriteria yang Jenny sebutkan tadi itu benar. Tapi Alexa menyukai Alvin bukan karena itu.


Alexa mengangguk singkat, sekali lagi Jenny berteriak girang karena Alexa sepemikiran dengannya, "Lihat, bus sudah tiba." Ujar Alexa sambil menunjuk ke bus berwarna kuning yang mendekati halte. Dia dan Jenny pun menaiki bus itu dan pulang ke rumah masing-masing.


Alexa POV


Ku letakkan tas selempang ku di meja belajar dan menghela napas dengan kasar. Apa benar Gaby dan Alvin saling menyukai?


Ugh, aku tidak boleh membiarkan pikiran itu mengganggu persahabatan kami. Aku harus memprioritaskan persahabatan daripada cinta.


Terkadang aku mulai ragu, apakah rasa suka yang ku miliki pada Alvin ini hanya naksir sementara?


Terdengar ketukan di pintu kamarku, lalu pintu itu terbuka dan Ibu muncul dari sisi lain pintu, "Hey, Honey. Maaf kalau ibu mengganggumu." Kata Ibu.


"It's okay. Silakan masuk, Bu!"


Ibu pun memasuki kamarku dan duduk di tepi tempat tidur, "Ibu lihat kau tidak ceria hari ini. Ada apa, Alexa?"


Aku ikut duduk di dekat Ibu setelah melepaskan sepatuku, "Nothing, I-"


"Alexa, Ibu tahu kapan kau berbohong. Terlihat jelas di ekspresi wajahmu."


Kedua tanganku saling menggenggam, "Sebenarnya, aku mendapat sedikit masalah." Aku merasa gugup, karena inilah pertama kalinya aku memberanikan diri untuk memberitahu Ibu tentang lelaki yang aku sukai, "A-aku menyukai seseorang di sekolah."


Ibu terdiam sejenak, lalu meraih rambutku yang di kepang satu dan melonggarkan ikat rambutku, "Itu bagus!"


Jawaban Ibu membuatku terheran, jujur saja, "Ibu tidak marah?"

__ADS_1


"Untuk apa ibu marah kalau mendengar putrinya sedang dekat dengan seseorang? Beritahu ibu, kapan kau akan mengenalkan dia pada ibu dan ayah?"


Ku hembuskan napasku pelan, "Ibu, jangan terlalu cepat berharap, karena ku dengar Gaby juga sedang dekat dengannya."


Ibu yang sedari tadi menyisir rambutku dengan jari tangannya pun menghentikan gerakan tangannya, "Jadi saat ini aku sedang butuh saran dari Ibu." Lanjutku.


"Ibu pikir, sebaiknya kau mempertahankan persahabatanmu, Sayang. Karena Gaby adalah sahabat yang telah mendukung dan membantumu bangkit saat kau sedang kesusahan." Ibu kembali menyisir rambutku menggunakan jari-jarinya dengan lembut, "Dan satu lagi: jika dia memang orang yang di takdirkan untukmu, kalian akan bersatu suatu hari nanti."


"Terima kasih karena Ibu telah mendengarkanku." Kataku lalu memeluknya. Ibu balas memelukku, "I'll always be here if you need me, Honey." Balasnya sambil melepaskan pelukan dariku, "Sekarang, kau pergilah mandi agar pikiranmu segar kembali."


"Okay, Ma'am!" Ucapku sambil membungkukkan badan dan terkikik.


Gaby POV


Hari yang melelahkan, itulah kata yang bagus untuk hari rabu ini. Hari ini menjadi lebih mengesalkan sejak Jenny memberitahuku tentang kedekatan Alexa dan Livian.


"Sadarlah, Gaby! Alexa itu sahabatmu! Kau harus bahagia untuknya!" Gumamku dengan sedikit teriakan sambil menghempaskan tubuhku ke tempat tidur. Mungkin aku berteriak terlalu keras, karena Delancy datang dan mengetuk pintu kamarku.


"Gaby, are you okay?" Tanya Delancy ketika aku mengizinkannya masuk ke kamarku.


Aku lalu mengambil posisi duduk, "Tidak, aku tidak baik-baik saja." Kataku jujur. Delancy ikut duduk di dekatku, "Kau mau menceritakannya?" Tanya Delancy, aku pun mengangguk setuju.


"Bagaimana tanggapanmu kalau sahabatmu menyukai seseorang yang kau juga sukai, Delancy?"


"Well, aku akan berterus terang pada sahabatku kalau lelaki yang ia sukai-"


"Kau tahu kalau jujur itu tak semudah kedengarannya, bukan?" Aku menginterupsi, "Butuh cukup banyak keberanian untuk mengatakan kejujuran, apalagi kepada sahabatmu sendiri."


Delancy lalu mengurangi jarak di antara kami dan memegang kedua bahuku, "Bersikap jujur memang tidak mudah, tapi kebohongan yang manis lebih menyakitkan di banding kejujuran yang pahit. Ingat itu."


"Tapi-"


"Delancy!" Suara teriakan Mamaku terdengar dari lantai bawah, kebetulan sekali dia pulang dari kantor lebih cepat hari ini. Dan ya, kamarku terletak di lantai dua dalam rumah ini.


"Nyonya memanggilku, nanti kita teruskan pembicaraan ini." Ucap Delancy lalu melepaskan tangannya dari bahuku, "Kau mandi saja terlebih dahulu, setelah itu kau pikirkan apa yang tadi ku katakan." Lanjut Delancy, dia pun meninggalkan kamarku.


***


Kesegaran menyelimuti seluruh tubuhku saat aku selesai aku mandi, lalu aku memakai kaus polos berwarna biru dan celana hitam pendek selutut.


Seketika rasa penasaran menghantuiku, pasti ada suatu alasan jika Mama hari ini pulang lebih awal, batinku. Aku pun berjalan keluar kamarku menuju ke ruang tamu. Ku langkahkan kaki ku dengan hati-hati saat menuruni anak tangga.


Di ruang tamu terlihat Mamaku dan seorang pria duduk di sofa panjang. Mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu yang penting. Bukannya bermaksud tidak sopan, tapi aku harus menguping pembicaraan mereka guna menghentikan rasa penasaranku ini.


"...ku harap Anda mau bekerja sama dengan perusahaan saya, Ny. Bloom. Kita bisa sama-sama meraih keuntungan." Kata pria itu pada Mama.


"Seperti yang sudah saya bilang dari awal: saya adalah orang yang tidak mempercayai orang lain begitu saja. Jadi, Anda harus menunggu keputusan dari saya dengan waktu yang agak lama."


Pria itu sepertinya tidak punya pilihan lain selain setuju dengan Mama, "Baiklah kalau begitu, saya akan menunggu. Sepertinya, saya harus kembali ke kantor sekarang. Terima kasih atas waktu Anda, Ny. Bloom!" Ujar pria itu sambil mengulurkan tangan.


Mama lalu berdiri dan menjabat tangan pria itu, "Bukan masalah, Tuan Turner. Saya akan mengabari Anda jika saya sudah membuat keputusan."


Mama kemudian mengantarkan tamunya itu ke pintu depan, sementara aku melangkahkan kaki kembali menuju kamarku.


"Turner... Turner... Turner... Mengapa nama itu terdengar tidak asing, ya?" Gumamku sambil mengetukkan jari telunjuk ke dagu.


Aku sepertinya pernah mendengar nama itu...

__ADS_1


Seakan aku baru saja merasakan tamparan dari sebuah tangan tak terlihat, "Alvin?!!"


__ADS_2