Cinta Atau Sahabat?

Cinta Atau Sahabat?
Terima atau Tolak?


__ADS_3

Author POV


Kedua mata Gaby terbuka. Dia melirik ke sekitarnya dan mendapati Alvin yang sedang duduk di dekat tempat tidur, "Where am I?" tanya Gaby sambil memegangi kepalanya yang sakit.


"UKS. Kau tadi pingsan saat bola basket itu mengenai kepalamu." jawab Alvin, menatap Gaby dengan perasaan lega.


"Ah ya, tentang itu..." Gaby kembali mengingat Livian.


Lelaki itu membuat Gaby mengecewakan Jenny...


Gaby melanjutkan, "Jenny pasti kecewa. Aku memang payah! Seharusnya aku tidak ikut pertandingan basket! Seharusnya aku mendengarkan kedua sahabatku!" Gaby mengumpat dirinya.


"Hey, calm down, Girl!" kata Alvin berusaha menenangkan Gaby, "Kau tidak menegecewakan Jennifer.''


Kedua manik mata Gaby berbinar-binar menatap Alvin, ''Tidak?'' Gaby mengulangi apa yang baru saja ia dengar. Alvin mengangguk, ''Bola itu memantul kembali masuk ke ring setelah mengenai kepalamu, dan kau mencetak 1 poin. Congratulations, Gaby! Kau dan timmu berhasil megalahkanku.'' ujar Alvin dengan senyuman tulusnya.


''Thanks, Vin!'' gadis berambut biru itu ikut tersenyum, ''Yah, walaupun aku hanya mencetak satu poin.'' lanjut Gaby sambil tertawa renyah.


Alvin ikut tertawa, tapi hanya sementara, ''Walaupun hanya 1 poin tetapi tetap berharga, Gab.'' sesaat kemudian tatapan mata Alvin pada Gaby berubah menjadi serius, ''Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi biarkan saja. I... I love you, Miss Bloom! ''


Seketika waktu terasa berhenti. Gaby tidak berani mengatakan apapun. Apa yang harus aku lakukan? Berkata bahwa 'aku juga mencintaimu', sementara aku mencintai orang lain? Ugh, seriously? I need a little help right now, batin Gaby menjerit.


''It's okay kalau kau tidak menjawabku sekarang. Pertimbangkan saja dulu, kabari aku jika kau sudah siap memberitahuku." Alvin beranjak dari duduknya dan keluar dari UKS.


...***...


Jenny harus menemui Mr. Wild untuk urusan pertandingan basket yang dimenangkan oleh Gaby, ''Sekali lagi selamat untukmu, Nona Lucas! Kau dan timmu pasti sangat bekerja keras untuk mencapai kemenangan ini.'' ujar Mr. Wild untuk yang keempat kalinya.


Ms. Polly menimpali, ''Kerja bagus, Nn. Lucas! Kau dan Nn. Bloom telah membuktikan bahwa kalian layak menerima kemenangan ini.'' ia melanjutkan, ''Next time, jangan mempermalukanku lagi dengan mengerjai Nn. Roland.''


Ugh, mengapa Miss Polly mengungkit masalah itu lagi, batin Jenny.


''Sudahlah, Ms. Polly. Kejadian itu sudah berlalu. Saya yakin Mr. Roland juga sudah melupakan perlakuan Jennifer pada putrinya.'' Mr. Wild angkat bicara untuk murid favoritnya itu, Jenny.


Sementara Jenny tiba-tiba memusatkan perhatiannya pada Andy yang melambaikan tangan padanya dari kejauhan. Sepertinya dia memanggilku, batin Jenny.


Jenny membalikkan badannya ke belakang untuk memastikan bahwa Andy benar-benar sedang melambai ke arahnya. Lalu ia berpamitan pada Mr. Wild dan Ms. Polly sebelum menghampiri Andy.


''What's the matter, Andy?'' tanya Jenny.


''Duduklah terlebih dahulu.'' balas Andy lalu duduk dilantai sambil meyilangkan kedua kakinya. Jenny melakukan hal yang sama, termasuk meyilangkan kedua kakinya.


''Honestly, aku ingin meminta sesuatu padamu, kali ini saja.'' Andy memulai percakapan mereka.


''Okay, I'm listening!''


''So, kau tahu sendiri kalau aku menyukai Alexa...''


Bagaimana aku bisa lupa itu, Andy, batin Jenny.


''...dan aku baru tahu kalau kau, ehm, punya perasaan padaku. Jadi, bisakah aku memintamu untuk-''


''Sure, I'll do anything for you!'' jawab Jenny tegas.


Awalnya Andy terkejut. Ia tidak menyangka bahwa Jenny rela memenuhi permintaannya, walaupun Jenny tahu kalau perkataannya itu akan melukai dirinya sendiri, ''Okay, kau yang minta. Aku ingin kau menjauhiku.''


Jenny tak menyangka Anndy akan meminta hal itu darinya, ''But, I can't do that! I love you, Andy!''


''Ini demi kebaikanmu, Jennifer.'' ucap Andy lirih, membuang muka dari Jenny. Dia sebenarnya tidak tega memberitahu Jenny hal ini, tapi dia harus berterusterang agar Jenny tidak salah paham.


''Itu artinya, kau tidak mencintaiku? Dan itu artinya, aku telah membuang waktumu hanya agar kau tahu tentang perasaanku.'' Jenny tersenyum miris, berusaha menahan sesak di dadanya. Air mata akan keluar dari sudut mata kanannya.


''I'm so sorry, Jenny.'' itulah satu-satunya kata yang bisa dikatakan Andy. Dia melihat dengan sebelah mata, gadis berambut cokelat itu akan meruntuhkan pertahanannya dengan air mata.


Segera Andy membuka kedua lengannya dan menarik Jenny ke pelukannya, ''If you want to cry, just let it go.'' bisik Andy.


Jenny terisak, namun ia tetap menahan dirinya untuk tidak menangis dihadapan lelaki yang telah menolaknya itu, ''Why you care so much about me? Bukankah sesaat yang lalu kau menyuruhku untuk menjauhimu?'' Jenny mendorong Andy darinya dengan kasar. Tanpa berpikir panjang, Jenny berlari dari lapangan basket, entah akan ke mana.


Seorang lelaki misterius yang mengenakan hoodie hitam sedang bersandar di dinding, rupanya memata-matai Andy dan Jenny sedari tadi, "Poor Jenny."ujar lelaki misterius itu dengan senyuman miringnya, lalu berjalan ke kantin untuk memata-matai targetnya yang kedua.


...***...


''Alexaaa... Cepatlah! Aku bosan menunggu.'' gerutu Fiona yang sedari tadi bersandar ke dinding, menuggu Alexa yang sedang mengganti gaun baletnya.


Alexa berhasil membuat Fiona heran dengan sweater biru langit yang ia kenakan, ''Hei, santai saja melihatku, Fi! Kau seperti melihat hantu." ujar Alexa lalu terkekeh.


Fiona berdeham, "Livian menunggumu di kantin." ucapnya mengalihkan topik.

__ADS_1


"Benarkah? Kalau begitu, sampai jumpa!" kata Alexa lalu bergegas ke kantin.


"Hei! Aku menunggumu selama beberapa menit di sini dan kau seenaknya meninggalkanku?!" jerit Fiona yang tak di pedulikan oleh Alexa.


Di salah satu kursi kantin, Livian sedang menunggu gadis pujaan hatinya. Hari ini aku harus memberitahu dia tentang perasaanku, batin Livian.


"Hei, Liv! Sudah lama menunggu?" Alexa mengagetkan Livian dengan cara menepuk kedua bahunya.


Ya, tentu saja lelaki itu kaget karena Alexa menepuk kedua bahunya, "Tidak bisakah kau mengucapkan 'halo'?" kata Livian sarkastik.


"You should see your face." sahut Alexa yang berusaha menahan tawanya.


Livian terdiam melihat Alexa yang tertawa, rambut pirangnya yang ia kuncir kuda jatuh ke pundak kirinya, membuat Livian tersenyum hangat.


Ia pun berdiri dari kursinya dan menatap Alexa lekat-lekat, "Alexa..." panggilnya lirih, kedua tangannya meraih tangan Alexa dan menggenggamnya erat.


Tawa Alexa terhenti ketika melihat ekspresi wajah Livian yang serius, "... Sepertinya aku memiliki perasaan padamu, meskipun kau menyukai Alvin."


"Livian, kau-"


Livian memeluknya tiba-tiba, membuat kepala gadis itu menabrak dadanya. Alexa terkejut, dia dapat mendengar detak jantung Livian yang semakin cepat, "Liv, are you okay?"


Tak ada jawaban. Livian hanya mendekap gadis itu semakin erat, seakan tidak mau melepaskannya, "Kau tidak dengar? Aku mencintaimu, Alexa. Aku tidak ingin kau terluka karena Alvin."


Alexa melepaskan pelukan lelaki itu dan terdiam untuk beberapa menit lamanya, "Kau tahu aku tidak bisa menerima perasaanmu. Mengapa kau tetap melakukan ini, Liv? Mengapa kau mengungkapkan perasaanmu? Kita hanya berteman, kau tahu itu, kan?"


Perkataan Alexa bagaikan pisau tajam yang menembus jantung lelaki yang berada dihadapannya itu, "I know... Setidaknya, pikirkanlah untuk menerima perasaanku. Aku akan mengobati luka yang disebabkan oleh Alvin. Aku-"


"That's it, Livian Carter!" bentak Alexa yang mulai kesal, "Aku tidak peduli apa yang Alvin maupun orang lain katakan, perasaanku akan tetap sama. Kau sebagai temanku, dan Alvin sebagai orang yang ku sukai namun tak dapat ku miliki. Camkan itu!"


"Sorry, Alexa. Aku tidak bermaksud memberikanmu tekanan." ucap Livian akhirnya. Baru kali ini dia melihat sisi mematikan Alexa, "Sebaiknya kau menemui Gaby. Dia pasti membutuhkanmu saat ini." lanjut Livian.


Ah ya, bagaimana Alexa bisa lupa dengan sahabatnya yang terkena bola basket itu? She must be waiting for me, batin Alexa. Ia pun berjalan pergi meninggalkan Livian.


"Cinta mereka penuh lika-liku." ucap lelaki ber-hoodie hitam itu lagi, dia telah selesai memata-matai target ke-2 nya, "Just wait until I bring a hot news." lanjut lelaki itu menunjukkan senyum miringnya sebelum pergi meninggalkan kantin.


Gaby POV


Mengapa takdir begitu aneh? Seseorang mengungkapkan perasaannya padaku dan aku menerima penolakan di hari yang sama. Apa maksudnya ini?


Bertepatan dengan Alvin yang meninggalkan UKS, Livian datang dan menjengukku, "How's you feel now?" tanya Livian.


"Sudah cukup baik." balasku.


Ayolah, Gaby. Saatnya kau jujur pada Livian!


"Hei, Livian." panggilku, "Aku... Ingin mengatakan sesuatu."


Dia menatapku dengan senyuman hangat, menunggu pengakuanku, "Aku... Sebenarnya aku... Mungkin aku-"


"Ada apa, Gaby?"


Are you kidding me? Tidak mungkin aku mengucapkan secara langsung bahwa aku menyukai Livian, batinku.


"Sepertinya bola itu menghantam kepalamu terlalu keras." lanjut Livian lalu terkekeh. Aku tidak menanggapinya, hanya mengambil secarik kertas dan sebuah pulpen dari nakas.



Segera aku memberikan kertas itu pada Livian, lalu menopang kedua pipiku yang sebentar lagi akan merah merona.


Livian menatapku dengan tatapan bersalah, "Let me guess..." aku angkat bicara sebelum Livian mengeluarkan suara, "Kau tidak bisa menerima perasaanku, benar kan?"


Dia mengangguk, "Tapi aku bisa menjelaskan."


"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, Livian. Semuanya sudah jelas. Now, go away from my sight."


"But-"


Ku tatap Livian dengan tatapan tajam, sejujurnya aku berusaha menahan air mataku yang akan keluar. Ketika merasakan pertahananku yang mulai goyah, aku merebahkan diriku dan berbalik membelakangi Livian.


Flashback off...


Pintu ruang UKS terbuka, terlihat Alexa di ambang pintu, "Hai, Gaby! Kau sudah merasa baikan?" tanya Alexa sambil mendekatiku.


"Um, yeah. Aku sudah merasa baik."


Alexa pun duduk di dekatku dan bercerita tentang pertandingan basket tadi. Aku senang sahabatku ada untuk membuatku ceria di saat aku sedih, tapi aku tidak perlu menceritakan hal itu pada Alexa.

__ADS_1


"Kau akan datang nanti malam, bukan?" tanyaku. Dia tersenyum manis, "Tentu. Aku ingin melihatmu menyanyikan salah satu lagu favoritku."


"I'll do my best." sahutku sambil ikut tersenyum.


"Good girl." Alexa mengacak-acak rambutku, membuatku menggerutu padanya. Tapi sesaat kemudian kami terkekeh bersama.


Author POV


Alexa duduk di sofa ruang tamunya dengan perasaan gelisah. Pasalnya, dia sedang menunggu Thomas untuk mengantarnya ke WHS untuk mendukung Gaby dalam lomba bernyanyi.


Sebenarnya, Livian telah menawarkan tumpangan pada gadis berambut pirang itu. Namun mengingat kejadian di kantin tadi siang membuat Alexa merasa canggung.


Tak lama kemudian, Thomas pun muncul dihadapan putrinya, "Ayo berangkat, Alexa!"


"Ayo, Ayah! Sekarang sudah pukul 20.39, Gaby pasti sedang berada di panggung saat ini." jawab Alexa lalu berjalan lebih dahulu ke pintu utama rumahnya. Thomas dan Diandra saling berpandangan, lalu menggelengkan kepala melihat tingkah anak semata wayang mereka itu.


...***...


"Sampai nanti, Ayah!" Alexa berlari keluar dari mobil ayahnya.


"Call me if you wanna going home, Honey!" seru Thomas.


"Iya, Ayah!"


Saking terburu-burunya, Alexa tidak melihat Livian dan menabraknya. Untung saja tangan lelaki itu sigap menangkap pergelangan tangan kiri Alexa agar ia tidak jatuh.


Livian pun membantu Alexa berdiri, "Alexa... Aku-"


"Thanks." ucap Alexa cepat, menundukkan kepalanya dan menghindari Livian.


Tebakan Alexa benar, Gaby telah bernyanyi lagu 'Real Friends' sedari tadi. Dia hanya dapat mendengarkan bagian 'bridge' lagu itu.


I just wanna talk about nothin'


With somebody that means somethin'


Spell the names of all our dreams and demons


For the times that I don't understand


Tell me what's the point of a moon like this


When I'm alone again


Can I run away to somewhere beautiful


Where nobody knows my name?


I'm just lookin' for some real friends


All they ever do is let me down


And I let somebody in


But I find out what they're all about


I'm just lookin' for some real friends


All they ever do is let me down


I'm just lookin' for some real friends


Gotta get up out of this town, yeah


Tepukan meriah terdengar ketika Gaby selesai bernyanyi. Tak ingin ketinggalan untuk menyelamati gadis berambut biru itu, Alexa segera menghampirinya.


"Congratulations, Gabriella Bloom! Kau membuatku bangga!" seru Alexa antusias.


Gaby memeluk singkat gadis itu, "Thank you!" dia melihat ke sisi kiri dan kanan Alexa, seolah mencari sesuatu, "Where's Jenny?"


Alexa mengedikkan kedua bahunya dan akan menjawab Gaby, namun suara berat Andy membuat kedua gadis itu membeku ditempatnya, "Dia tidak bisa datang. Dia sedang sedih."


Alexa dan Gaby saling berpandangan bingung, "I reject her feelings." Andy memperjelas.


"How dare you do that!" seru Gaby yang mulai marah.


Tanpa menjawab Gaby, Andy malah menatap Alexa, "Because I have feelings for her." sahut Andy tanpa melepaskan pandangannya pada Alexa.

__ADS_1


__ADS_2