Cinta Atau Sahabat?

Cinta Atau Sahabat?
Kesepakatan dan Konsekuensinya


__ADS_3

Alexa POV


"Andy?" Aku mengucapkan nama lelaki yang menangkapku itu. Andy pun membantuku berdiri, "Kau baik-baik saja, Alexa? Tidak ada yang terluka, kan?" Tanya Andy.


"Um, ya, aku baik-baik saja. T-terima kasih karena kau membantuku." Kataku gugup.


Bagaimana jika Jenny tahu aku sedekat ini dengan Andy?


Tidak, Jenny tidak boleh tahu...


"Alexa, are you sure you're okay?" Tanya Andy lagi sambil menepuk bahu kiri ku, membuatku tersadar lalu gelagapan, "Ya, ya. Aku benar-benar baik. Terima kasih sekali lagi, Andy." Kataku lalu menghampiri Fiona yang sedang duduk bersantai di lantai.


Aku ikut duduk di samping Fiona, "Aku tidak tahu kalau Andy adalah pacarmu." Ucap Fiona dengan asal.


"Karena memang bukan. Andy hanyalah kakak kelasku, dan aku adalah adik kelasnya, itu saja."


Fiona memandangiku tak percaya, "Ya sudah kalau kau tidak percaya padaku. Sekarang bangkitlah! Waktu latihan sisa 20 menit lagi, setelah itu kita pulang ke rumah masing-masing." Ujarku lagi lalu berdiri. Ku ulurkan tanganku pada Fiona dan membantunya berdiri.


Author POV


Setelah berbincang dengan Alvin, Gaby kembali berlatih dengan teman-temannya. Tak lama kemudian, Andy datang ke lapangan dan ikut latihan bersama Alvin. Para siswi yang tidak memiliki kegiatan ekstrakurikuler hanya berdiri di tepi lapangan dan menyoraki Alvin yang sedang bermain bola basket.


Sorakan meriah di berikan kepada Alvin ketika ia berhasil memasukkan bola ke ring basket. Alvin tersenyum puas, lalu melirik pada tim Jenny, "Kalian mau bertanding? Hanya satu babak." Ujar Alvin.


Jenny dan Gaby saling bertatapan, lalu melirik ke arah Joe, Fred dan Nick, "Kalau aku setuju saja." Kata Nick, Joe hanya menganggukkan kepala dan Fred mengedikkan kedua bahunya dengan santai.


Mendapat persetujuan keempat temannya, Jenny menatap Alvin dengan tatapan menantang, "Dan apa yang kau minta jika kau menang?" Tanyanya pada Alvin.


Inilah kesempatanku, batin Alvin. Dia telah memikirkan apa yang ia inginkan, "Aku akan mengajak Gaby hang out besok, sepulang sekolah." Jawab Alvin dengan senyuman miringnya.


Gaby membelalakkan matanya seketika, "Hei, mengapa aku yang menjadi taruhan?" Serunya tak terima. Jenny hanya tertawa kecil, "Terima sajalah, Gaby. Ini hanyalah permainan."


Yang bisa dilakukan Gaby adalah menghela napasnya kasar, lalu sebuah ide muncul di kepalanya, "Kalau kami yang menang, Andy yang akan mengajak Jenny jalan-jalan besok."

__ADS_1


Mendengar namanya di sebut, Jenny menoleh ke arah Gaby dengan ekspresi terkejut. Dia akan mengatakan sesuatu, tapi suara Andy memaksanya untuk diam, "Baik. Aku setuju! Let's start this game! " Ucap Andy bertepatan dengan Livian yang ikut bergabung dengan tim Alvin, "Apa yang ku lewatkan?" Tanya Livian.


"Banyak sekali yang kau lewatkan." Balas Alvin, "Kita akan membahasnya nanti. Ayo bertanding!"


Livian hanya mengikuti perintah Alvin dengan kebingungan.


Maka pertandingan pun di mulai. Alvin sangat berambisi untuk memenangkan pertandingan ini, tujuannya adalah dia ingin mengajak Gaby jalan-jalan. Aku takkan membiarkan tim Jennifer menang, batin Alvin.


Demikian pula Gaby, dia sangat ingin agar Jenny dan Andy menghabiskan waktu besok. Maka, Gaby mengesampingkan ketakutannya terhadap bola demi mewujudkan keinginannya itu.


Usaha yang di lakukan Gaby tidak sia-sia, dia berhasil memenangkan babak itu, "Nah, Alvin. Kau kalah." Ejek Gaby sambil menjulurkan lidahnya dan tertawa. Alvin hanya menghela napas pasrah dan meninggalkan lapangan basket tanpa sepatah katapun. Baik anggota tim Jenny maupun anggota tim Alvin, mereka sama-sama memperhatikan Alvin tanpa suara.


"Mungkin kau terlalu kasar padanya, Gaby." Ujar Jenny datar. Gaby menyembunyikan wajah bersalahnya dengan senyuman tak berdosa, "He's a boy. Dia pasti bisa melupakannya dalam waktu yang singkat."


"Oh ya, bagaimana pendapatmu tentang permainanku tadi?" Tanya Gaby lebih lanjut.


Jenny mengacungkan jempolnya, "Unbelievable! Tadi kau sangat bersemangat. Apa yang merasukimu?"


"Aku ingin calon kakak iparku dan kakakku semakin dekat satu sama lain."


Saat kedua gadis itu sedang asyik berdebat, Andy menghampiri mereka dan menepuk pelan bahu kiri Jenny, "Congrats, Jenny! Kau dan timmu sangat hebat."


"Thanks, Andy!"


Gaby berdeham melihat scene yang tidak biasa terjadi itu, "Ehem, aku juga membantu tadi, agar kalian berdua bisa menghabiskan waktu besok."


Tatapan tajam Jenny melekat pada Gaby, mengisyaratkan agar dia tidak mengatakan apapun. Andy terkekeh melihat tingkah adiknya itu, "Okay, as you wish, Sist. See you tomorrow, Jenny!" Andy pun berlalu pergi meninggalkan mereka.


Setelah Andy menjauh, Jenny berdiri terdiam di tempatnya sambil memegangi bahu kirinya, "Dia menyentuh bahuku. I'll never forget it. " Gumam Jenny pada dirinya. Gaby yang melihat hal itu hanya memutar bola matanya dan tertawa geli.


***


"Gaby! Tunggu!" Teriak Alvin sambil mengejar Gaby yang berjalan menuju gerbang sekolah. Yap, sudah waktunya siswa siswi WHS pulang ke rumah masing-masing.

__ADS_1


"Apa... Kau mau... Pulang... Bersamaku?" Tanya Alvin dengan napas terengah-engah sambil meletakkan kedua tangannya di lutut.


Gaby berpikir sejenak, "Baiklah, karena aku tidak menemukan Alexa dan Jenny; juga kau telah bersusah payah mengejarku, aku akan ikut bersamamu."


Maka, mereka berdua pun berjalan keluar dari area sekolah menuju ke tempat Alvin memarkirkan mobilnya. Dalam perjalanan singkat itu di penuhi oleh bisik-bisikan para siswi di dekat mereka.


Lihat! Alvin bersama seorang gadis.


Hei, bukankah gadis itu adalah adiknya Andy?


Mengapa Alvin jalan bersamanya?


Aku iri melihat dia dekat dengan Alvin.


Dia tidak pantas memilikimu, Alvin.


Dan berbagai bisikan lainnya yang membuat Alvin merasa kesal, "Apa kalian tidak punya urusan lain selain bergosip tentang hidupku?!" Teriak Alvin, membuat beberapa dari mereka langsung menundukkan kepala dan terdiam.


Gaby berusaha meredakan amarah Alvin, "Alvin, sudahlah."


Kalau bukan karena Gaby, Alvin akan terus menatap para siswi itu dengan tatapan mautnya. Berusaha mengabaikan gadis-gadis itu, Alvin dan Gaby mempercepat langkah kaki mereka.


Keheningan yang menyelimuti mereka membuat Gaby merasa tak nyaman dan berusaha mencari topik pembicaraan, "Uhm, jadiii.... Apa pendapatmu mengenai orang tua kita?"


Suara Gaby memancing perhatian Alvin, ia melanjutkan, "Apa ayahmu akan mengambil langkah berbahaya hanya untuk berbisnis dengan mamaku?"


"Well..." Alvin mengusap dagunya dengan jari telunjuk dan ibu jarinya, "Mengenal bahwa ayahku telah melakukan pencapaian besar dalam hidupnya, aku yakin dia akan berani mengambil langkah ekstrem."


Terlihat dari wajahnya, Gaby sedang berpikir, "Baiiiklah. Let's talk about something else. " Ucap Alvin tiba-tiba, "Apakah kau tahu kalau ibunya Livian adalah sekretaris ayahku."


Gaby membelalakkan matanya, "Tidak. Sejak kapan Tante Matilda menjadi sekretaris ayahmu?"


"Sudah bertahun-tahun lamanya."

__ADS_1


"Itulah sebabnya kau dan Livian berteman?" Alvin mengangguk sebagai jawaban. Mereka pun masuk ke mobil Alvin dan pulang bersama.


__ADS_2