Cinta Bersemi Kembali

Cinta Bersemi Kembali
Kebersamaan


__ADS_3

Tok Tok Tok


"Permisi Tuan dan Nyonya, saya membawakan makanan untuk Tuan dan Nyonya," teriak kepala pelayan Bi Erla dari luar pintu kamar pasutri itu agar suaranya terdengar hingga ke dalam.


Kamar Arvan memang kedap suara, tapi hanya dari luar tidak terdengar sedangkan dari dalam suara dari luar terdengar akan tetapi harus keras supaya terdengar baik dari dalam.


"Masuk Bi."


Bibi Erla serta satu pelayan lainnya yang mendorong troli makanan pun membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar.


"Permisi Tuan dan Nyonya, saya akan menaruh makanan di meja," ujar Bi Erla dengan sopan memberitahu sebelum menaruh makanan yang di bawahnya ke meja depan sofa yang berada di kamar itu.


Arvan dan Ayla hanya mengangguk mendengar ucapan Bi Erla.


Bi Erla pun mengkode pelayan yang bersamanya agar menata makanan-makanan itu di meja. Pelayan itu hanya mengangguk lalu mulai menata makanan dengan di bantu sesekali oleh Bi Erla.


"Permisi Tuan dan Nyonya," ujar Bi Erla serta satu pelayan lainnya dengan menunduk sopan sebelum keluar dari ruangan.


"Iya Bi, makasih Bi," cetus Ayla dengan senyumnya.


"Sama-sama Nyonya, ini sudah tugas kami. Kalau begitu permisi Nyonya."


"Silahkan Bi," ujar Ayla mempersilahkan juga dengan sopan, sementara Arvan hanya mengangguk saja sedari tadi.


Mendengar itu, Bi Erla serta satu pelayan lainnya pun pergi dari kamar itu.


"Ahkk," jerit Ayla kaget karena lagi dan lagi di gendong tiba-tiba.


Arvan terkekeh gemas melihat wajah terkejut istrinya. Arvan pun menggendong istrinya ke sofa karena sedari tadi keduanya duduk di pinggir kasur.


"Mau makan apa sayang?" tanya Arvan sembari melihat beberapa menu yang terhidang di meja itu.


"Mau yang itu sama itu saja Mas," jawab Ayla sembari menunjuk dua menu yang ada di meja di depannya.

__ADS_1


Arvan pun mulai mengambilkan makanan sesuai yang di tunjuk oleh istrinya. Tentu hal itu membuat Ayla terkejut lagi.


"Kenapa Mas yang ambilin? Biar Ayla, sini Mas." Ayla hendak mengambil piring yang ada di tangan suaminya, tapi langsung di tahan oleh Arvan.


Arvan menggelengkan kepalanya. "No. Biar Mas saja yang ambilin kamu, biarkan kali ini Mas yang layani kamu," ujar Arvan sembari mengacak-acak rambut istrinya gemas lalu kembali mengambilkan makanan untuk sang istri.


Ayla cemberut karena rambutnya di acak-acak sama suaminya, tapi senyumnya kembali terpatri melihat ketulusan sang suami melayaninya mengambilkan makanan untuknya. Hal itu tentu saja membuat Ayla sangat bahagia, baru kali ini ada yang perhatian dengan dirinya.


"Sudah semua sayang? Nggak mau yang lain lagi?" tanya Arvan memastikan.


Ayla menggeleng. "Itu saja Mas."


Ayla yang melihat suaminya menaruh piring berisikan makanan untuknya di meja ia kira agar Ayla bisa memakannya sekarang, tapi tak di sangka suaminya hanya mengambil sendok saja lalu mengambil piring itu kembali padahal baru saja Ayla ingin menggapai piring itu.


"Loh, kenapa di ambil lagi Mas?" tanya Ayla bingung.


"Aaa." Arvan membuka mulutnya sembari menyodorkan satu sendok makanan ke arah Ayla seperti menyuapi anak kecil saja cara Arvan.


"Mas nyuapin Ayla? Udah nggak usah Mas, biar Ayla saja. Mas juga makan saja pasti Mas lapar juga kan karena kita udah terlambat banget makan siangnya," cetus Ayla walaupun sedikit tidak rela karena sebenarnya ia pun sangat ingin di suapi oleh suaminya.


Arvan menggeleng lalu tetap menyodorkan satu sendok itu ke mulut sang istri. "Ayo, buka mulutnya sayang."


Ayla pun tersenyum malu-malu lalu membuka mulutnya membiarkan suapan suaminya itu masuk ke dalam mulutnya.


Arvan terkekeh gemas melihat istrinya yang tampak malu-malu.


'Dia sangat berbeda dengan yang aku lihat tadi,' batin Arvan dengan pikirannya yang mulai mengingat lagi kejadian tadi saat istrinya menghajar beberapa baj*ngan yang menculiknya.


"Mas juga makan," ujar Ayla setelah mengunya habis suapan dari suaminya.


"Nih." Arvan menyodorkan satu sendok nasi ke istrinya.


Ayla pun bingung melihat itu.

__ADS_1


"Suapin Mas sayang, kita gantian suap-suapin gimana?" goda Arvan dengan kedipan matanya.


Melihat tingkah suaminya itu membuat Ayla tertawa kecil, tetapi tetap menuruti keinginan suaminya. Ayla mengambil sendok dari tangan suaminya lalu menyodorkannya menyuapi sang suami.


Keduanya pun makan sambil suap-suapan sekali tertawa, sangat tampak mesra. Setelah beberapa menit makan akhirnya semua makanan yang berada di atas meja itu pun habis tak tersisa.


"Besok ikut Mas ke kantor yuk sayang," ujar Arvan tiba-tiba mengajak sang istri.


"Kenapa?" tanya Ayla bingung karena biasanya juga dia tidak pernah ikut ke kantor suaminya.


"Nggak apa-apa, Mas hanya ingin kenalin kamu ke semua pegawai Mas agar mereka semua kenal sama kamu sekaligus Mas mau di temenin kerja sama kamu," goda Arvan di akhir ucapannya.


Ayla terkekeh mendengar ucapan suaminya. "Baiklah, Ayla ngikut saja apa kata Mas," jawab Ayla setuju.


Raut wajah Arvan tiba-tiba berubah serius menatap sang istri.


"Sayang, Mas nggak maksa kok. Apapun keputusan kamu Mas akan setuju, jadi kalau kamu tidak ingin atau tidak setuju dengan keputusan Mas kamu bisa utarakan sama Mas, jangan hanya nurut saja walaupun kamu tidak suka. Mas mau kamu nyaman, bahagia sama keputusan Mas bukan malah sebaliknya," ucap Arvan serius dengan raut wajah sedihnya.


Ayla menggelengkan kepalanya. "Siapa bilang Ayla tidak setuju dengan keputusan Mas. Ayla setuju kok, apalagi kalau Mas mau kenalin Ayla sama pegawai Mas supaya kalau Ayla ingin mengantarkan makanan untuk Mas bukan di anggap pembantu," kekeh Ayla. "Malah Ayla takut kalau Mas malu kenalin Ayla," lanjut Ayla dengan suara pelannya.


"Kamu ngomong apa sih sayang! Nggak mungkin mereka ngira istri Mas yang sangat cantik ini pembantu dan kamu nggak perlu takut sayang Mas malah bangga ngenalin istri Mas yang super baik dan cantik ini di depan semua orang," ujar Arvan serius lalu mengecup mesra pucuk kepala istrinya.


Ayla tersentuh mendengar ucapan suaminya, karena baru kali ini dia merasa di hargai oleh orang lain biasanya hanya hinaan yang diterimanya.


'Tuhan, terima kasih sudah memberikan jodoh terbaik untuk Ayla,' batin Ayla sangat bahagia dengan matanya sudah tampak berkaca-kaca sekarang.


Ayla pun memeluk erat suaminya seolah ketika terlepas mereka bisa saja terpisah.


"Makasih Mas," cicit Ayla pelan tepat di telinga sang suami.


"Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu telah hadir dalam hidup Mas sayang. Kamu banyak mengajarkan hal baru yang menyenangkan kepada Mas," bisik Arvan membalas ucapan sang istri dengan tak kalah erat memeluk sang istri.


Keduanya sama-sama meresapi persamaan mereka saat ini yang entah sampai kapan, tapi keduanya sama-sama saling berdoa agar mereka bisa bersama seperti ini selamanya.

__ADS_1


__ADS_2