
Seperti perkataan Arvan kemarin bahwa Ayla akan ikut ke kantor. Saat ini Ayla tengah berdandan di depan cermin setelah membantu sang suami bersiap-siap untuk ke kantor.
"Sayang, jangan cantik-cantik nanti ada pria lain lagi yang naksir!" ujar Arvan dengan muka di tekuk serta bibirnya yang dimajukan tampak cemberut.
Ayla terkekeh melihat wajah cemberut suaminya itu dari cermin di depannya.
"Tidak mungkin Mas. Mas ada-ada saja, lagian aku dandan natural aja kok!" cetus Ayla sembari mendongak menatap wajah suaminya yang berada tepat di atasnya karena sedari tadi memang suaminya itu sudah menunggunya tepat di belakang kursi yang tengah di dudukinya itu.
"Sudah kan?" tanya Arvan sembari mengecup kening Ayla saat istrinya itu mendongak.
Ayla mengangguk, "Sudah kok Mas."
Keduanya pun berjalan menuju lantai bawah untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke kantor dengan Arvan yang setia memeluk pinggang istrinya.
Setelah sarapan, keduanya berangkat dengan seorang supir yang membawa mobil sementara Arvan dan Ayla di kursi belakang kemudi.
Dalam perjalanan Arvan dan Ayla tampak asik saling bercanda dan bercerita bareng. Entah apa yang sedang di bicarakannya, tapi keduanya tampak semangakin lengket dan mesra saja.
Beberapa saat kemudian, akhirnya mobil yang di tumpangi pasangan itu sampai di Perusahaan milik Arvan.
Saat memasuki kantor, para karyawan menyambut Arvan dengan hormat lain halnya dengan Ayla yang mendapat tatapan bingung dan kaget dari para karyawan di Perusahaan itu karena baru kali ini mereka melihat Tuan mereka itu masuk ke kantor dengan seorang wanita apalagi Arvan masih setia memeluk pinggang Ayla, keduanya tampak mesra. Hal itu tentunya memberikan banyak pertanyaan dan ekspekulasi dari para karyawan yang melihatnya.
"Kalian juga ucapkan selamat pagi untuk Nyonya kalian. Perkenalkan wanita yang ada di samping saya ini adalah istri saya Ayla jadi saya harap kalian semua berlaku sopan dengan istri saya!" tegas Arvan mengumumkan secara langsung istrinya di depan karyawannya tanpa menunggu lagi.
Semua para karyawan itu kaget karena mereka tidak mendengar kabar sama sekali kalau Tuan mereka itu sudah menikah, tapi mereka pun tetap serempak bertepuk tangan setelahnya menunduk hormat. "Selamat pagi Nyonya."
Ayla pun menyapa balik para karyawan dengan senyum ramahnya. "Selamat pagi juga."
Setelah istrinya menyapa balik, Arvan langsung menarik pelan tangan sang istri untuk mengikutinya menuju lift dengan di ikuti di belakangnya sang asisten sekaligus sekretaris Arvan.
"Kosong kan waktu jam makan siang!" perintah Arvan dalam lift tanpa melihat asisten sekaligus sekretarisnya. Arvan menyuruh mengosongkan jam makan siang karena rencana awalnya sebelum makan siang Arvan akan ada meeting dan setelah itu mereka akan melanjutkan dengan makan bersama, tapi karena ada istrinya tentunya Arvan tidak ingin melewatkan makan siang bersama sang istri.
"Baik Tuan," jawab asisten yang merangkap jadi sekretaris itu yang bernama Devin Welyo dengan tegasnya.
Ting, lift terbuka.
Ketiganya pun keluar dari lift.
"Berikan jadwalnya!" perintah Arvan sembari mengulurkan tangannya ke samping.
__ADS_1
Devin pun menaruh dengan patuh berkas yang berisikan jadwal sang Tuan ke tangan Tuannya itu.
"Larang siapa pun masuk ke dalam ruangan ku!" tegas Arvan melirik sekilas ke belakang.
"Baik Tuan."
Arvan yang mendengar jawaban sesuai keinginannya itu pun kembali merangkul pinggang sang istri dan membawanya masuk ke ruangannya selama ini ia berkutat dengan berkas-berkasnya.
Saat sampai Arvan menghela nafas karena melihat sudah banyak berkas-berkas menumpuk yang menunggunya di atas meja kerjanya.
"Mas, kenapa harus melarang ada yang masuk? Ayla nggak apa-apa kok dan kalau Mas memang ada kesibukan di jam makan siang Ayla tidak masalah kok lebih baik Mas selesaikan pekerjaan Mas saja. Ayla nggak mau ya karena Ayla sampai-sampai pekerjaan Mas harus tertunda," cetus Ayla dengan raut wajah sedihnya.
Arvan menggelengkan kepalanya. "Hei, lihat Mas!" Arvan menyapit dagu istrinya lalu menaikkan wajah istrinya agar menatap dirinya dengan lembut.
"Pekerjaan itu bukan hal urgent kok jadi masih bisa Mas kerjakan nanti dan bagi Mas kamu lebih penting dari pekerjaan apa pun itu!" ujar Arvan pelan tapi terkesan tegas dengan tatapan lembutnya.
Kulit wajah Ayla yang seputih susu itu kini berubah memerah bak kepiting rebus. "Mas bisa saja selalu buat wajah Ayla memerah!" gerutu Ayla dengan cemberutnya.
Arvan terkekeh kecil lalu tiba-tiba mengecup b*bir istrinya yang maju beberapa centi itu karena cemberut.
"Mas!" kaget sekaligus malu Ayla. Walaupun itu bukan pertama kali tapi entah kenapa setiap melakukannya tetap saja Ayla malu.
Wajah Ayla tambah memerah mendengar ucapan sang suami.
"Kamu duduk di sofa dulu ya, kamu bisa baca buku yang ada di dekat sofa itu atau kalau bosan kamu bisa melihat-lihat ruangan Mas kan kamu baru pertama kali kesini. Kalau masih mengantuk kamu juga bisa istirahat di ruangan Mas di sana ada tempat tidurnya," jelas Arvan sembari menunjukkan sebuah lemari.
"Ha? Di lemari ada tempat tidurnya?" tanya Ayla bingung.
Arvan tertawa kecil mendengar pertanyaan konyol sang istri. "Tentu bukan di lemari sayang, tapi di balik lemari itu ada kamar kamu bisa istirahat di sana. Kamu tinggal tekan tombol warna merah yang ada di balik buku itu," jelas Arvan lagi sembari menunjuk salah satu buku yang berada di rak lemari besar itu.
Ayla mengangguk-ngangguk paham. "Ruangan Mas ternyata ada kamar rahasianya juga ya, seperti novel yang biasa Ayla baca," kekeh Ayla.
Arvan ikut terkekeh mendengar ucapan istrinya sembari mengacak-ngacak kembali rambut sang istri.
"Mas!" Tuh kan seperti dugaan Arvan istrinya pasti akan cemberut kembali, tapi tak apalah Arvan tampak senang melihat raut cemberut istirnya karena tambah tampak menggemaskan di mata Arvan.
"Sudah sana senang-senang di dalam ruangan Mas, kamu bebas mau lakuin apa pun. Mas kerja dulu okey," ujar Arvan menghiraukan protesan sang istri.
Ayla hanya mengangguk dengan raut wajah cemberutnya menjawab perkataan sang suami.
__ADS_1
Arvan pun mulai berkutat dengan berkas-berkasnya yang sudah sangat menumpuk, begitu pun Ayla yang tampak asik berkeliling di ruangan sang suami sembari melihat-lihat buku-buku apa saja yang ada di ruangan suaminya itu.
Setelah beberapa jam berkutat dengan berkas serta laptopnya, akhirnya pekerjaan Arvan sudah selesai setengah dan selebihnya itu tidak masalah jika ia kerjakan bentar atau besok karena tidak terlalu urgent apalagi jam juga sudah menunjukkan waktu makan siang.
Arvan mengedarkan penglihatannya untuk mencari keberadaan sang istri.
"Sayang?" panggil Arvan dengan nada lembutnya. Melihat tidak ada istrinya di ruangannya, Arvan pun menekan tombol di lemari untuk membuka kamar rahasianya yang masih berada di ruangannya itu. Setelah masuk Arvan pun melihat sang istri tengah berbaring nyaman di kasur empuk yang berada di kamar itu.
Arvan mendudukkan dirinya di samping sang istri dengan pelan lalu mengelus-elus rambut istrinya. "Sayang yuk bangun dulu, sudah waktunya jam makan siang pasti kamu lapar," ujar Arvan mencoba membangunkan sang istri dengan pelan.
Ayla yang merasa mendengar suara sang suami serta elusan di kepalanya itu mulai membuka matanya perlahan. "Mas?"
"Iya sayang ini Mas. Ayo bangun cuci muka baru kita pergi makan siang dulu pasti kamu lapar kan? Kita akan makan siang di luar," ajak Arvan sembari terus mengelus kepala istrinya serta sesekali mengecup pucuk kepala sang istri.
Ayla mengangguk paham. Ayla pun bangun pergi ke wc yang ada di kamar itu lalu mencuci mukanya. Setelah itu keduanya berangkat menuju salah satu Restaurant bintang 5 yang ada di kota itu dan kebetulan tidak jauh dari Perusahaan hanya membutuhkan setengah jam. Arvan pun sudah reservasi tempat di Restaurant itu.
"Dengan Tuan dan Nyonya?" tanya pelayan itu dengan sopannya.
"Arvan!"
Pelayan mengangguk paham. "Mari Tuan dan Nyonya." Pelayan itu pun mengantarkan Arvan dan Ayla ke salah satu ruangan VIP yang ada di Resutaurant itu. Arvan sengaja memesan ruangan pribadi agar istrinya bisa makan dengan nyaman tanpa harus memperhatikan cara makannya agar tetap elegan.
Setelah sampai di ruangan Arvan dan Ayla memesan makanan lalu kembali berbincang dan bercanda kembali sembari menunggu pesanan. Keduanya tampak seru.
"Mas, sepertinya Ayla ingin ke wc deh," ujar Ayla dengan wajah memerah malunya.
"Baiklah, ayo Mas temenin." Arvan pun berdiri dari duduknya.
Ayla menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu Mas. Biar Ayla saja," celetuk Ayla.
"Nggak apa-apa, lagian kamu nggak tahu kan di mana wc nya?" tanya Arvan dengan menaikkan alisnya satu.
"Iya sih, tapi Mas bisa beritahu aku saja di sebelah mana kalau dari sini?" tanya balik Ayla yang tetap bersikeras ingin pergi sendiri.
Arvan hanya bisa menghela nafas lalu menjelaskan secara singkat di mana wc di Restaurant ini berada.
Setelah mendengar penjelasan sang suami Ayla pun berjalan keluar menuju wc dengan berjalan sedikit cepat karena sudah kebelet banget. Tapi, baru saja ingin memasuki wc terdengar suara seseorang yang sangat di kenalinya.
"Lama tidak berjumpa j*lang," hina seorang wanita dengan pakaian *****nya serta kekehannya menatap remeh Ayla.
__ADS_1