Cinta Bersemi Kembali

Cinta Bersemi Kembali
Memperbaiki Hubungan


__ADS_3

"Kebetulan aku juga baru selesai masak, jadi kamu bisa ikut makan malam dulu," ajak Ayla ramah.


"Serius Nyonya, ba-"


"Tidak perlu sayang, dia sibuk banget. Kamu masih banyak pekerjaan belum selesaikan? Masalah berkas sesuai perkataan saya tadi!" potong Arvan menatap tajam sekretarisnya itu.


"Ah, Key sibuk banget ya?"


"I-Iya Nyonya saya baru ingat masih banyak pekerjaan dari kantor belum selesai, nanti lain kali bisa Nyonya. Kalau begitu saya permisi dulu," pamitnya berbohong dengan senyum terpaksanya karena sudah mendapatkan peringatan dari sang atasan.


"Baiklah, lain kali kita makan bareng ya. Kalau begitu hati-hati di jalan Key." Ayla melambaikan tangannya dengan senyum ramahnya ke Keysha.


Key pun pergi dari tempat itu dengan sesekali menoleh ke arah Arvan.


"Sudah sayang jangan hiraukan dia. Ayo, kamu mandi dulu gih baru kita makan bersama, Mas udah nggak sabar pengen coba masakan kamu," ajak Arvan dengan merangkul mesra istrinya menuju ke kamar mereka.


Setelah bersih-bersih, keduanya pun turun untuk makan malam. Saat sampai di meja makan, keduanya langsung di sambut oleh kepala pelayan dan para pelayan lainnya yang bertugas menyajikan makanan.


"Wah makanannya kelihatan enak banget, wangi lagi pasti enak banget nih masakan istriku," puji Arvan dengan matanya yang menatap istrinya lembut.


Ayla sangat bahagia mendengar pujian pertama yang dilontarkan suaminya itu karena sebelumnya suaminya hanya langsung makan saja jangankan memuji bahkan melihatnya saja tidak. Tapi, saat ini ia sudah mendapatkan pujian dan tatapan lembut dari suaminya yang sudah di nanti-nantikannya dari awal mereka menikah karena Ayla berharap ia hanya menikah satu kali seumur hidupnya.


Arvan menarik kursi lalu mempersilahkan istrinya untuk duduk. Setelah itu, barulah Arvan duduk di bangku samping istrinya.


Baru saja pelayan ingin mengambil piring milik Arvan untuk dituangkan makanan tapi, keburu Arvan yang duluan memegang piringnya itu lalu menyerahkan ke istrinya.


Ayla mengernyitkan dahinya tidak paham.


"Mas mau kamu yang menuangkan makanan ke piring Mas," kata Arvan dengan senyumnya.


Degg


Ayla terkejut mendengar itu. Ayla waktu awal-awal nikah sudah beberapa kali mencoba agar ia bisa melayani suaminya dengan baik tapi, suaminya langsung marah besar setiap kali ia ingin melakukan hal itu. Jadi, sampai sekarang Ayla tidak pernah melakukannya lagi. Namun, sekarang malah suaminya yang memintanya untuk menuangkan makanan ke piring suaminya.


"Serius Mas?" tanya Ayla tidak percaya.


"Iya sayang, rasanya makanan yang kamu buat akan tambah enak kalau kamu yang menuangkannya," goda Arvan.


Blushh

__ADS_1


"Ba...Baiklah!" Ayla pun menuangkan makanan ke piring suaminya dengan sesekali bertanya apa yang ingin di makan suaminya itu karena jujur saja ia belum terlalu tahu makanan kesukaan suaminya itu.


"Ini Mas, makan yang banyak," celetuk Ayla dengan kekehan kecilnya.


"Iya sayang, Mas pasti akan makan banyak kan ini di buat dengan cinta kamu," balas Arvan dengan godaannya.


"Sini biar Mas yang ambilin," lanjutnya.


"Eh, nggak us-" Ayla berhenti berucap karena suaminya sudah terlanjur mengambilkan makanan untuknya. Sama seperti Ayla tadi, sesekali Arvan bertanya apa yang ingin dimakan oleh istrinya.


"Ini makanannya. Makan yang banyak juga supaya tambah empuk di peluk," kata Arvan dengan berbisik di akhir katanya.


"Ih, kenapa Mas Arvan beberapa saat ini tambah suka gombal? Bikin Ayla ngeblushh terus!" ujar Ayla dengan bibirnya yang sudah mengerucut.


Arvan hanya terkekeh mendengar ucapan Ayla itu.


"Udah, ayo makan."


Beberapa saat kemudian, setelah keduanya makan. Arvan langsung mengajak istrinya kembali ke kamar mereka.


"Ayo, kita ke balkon Mas. Udaranya pasti seger malam-malam gini sekalian turunin makanan dulu," ajak Ayla dengan menarik kecil Arvan.


Arvan hanya mengikut saja kemana istrinya membawanya itu.


"Iya, sangat indah," ujar Arvan dengan tatapannya yang mengarah ke Ayla terus tanpa melihat pemandangan yang dikatakan istrinya itu.


"Mas aku sangat senang deh bisa berada di balkon ini berdua dengan Mas, biasanya Mas kalau jam segini masih berada di ruang kerja," ujar Ayla dengan kekehan kecilnya merasa miris ketika mengingat dua bulan itu ia sangat jarang bertemu dengan suaminya sendiri bahkan, di dalam Mansion. Tapi, berbeda dengan sekarang, saat ini suaminya sudah berubah mungkin mereka bisa lebih dekat saling mengenal lebih dalam lagi menjadi pasangan hingga maut memisahkan mereka.


"Maafin Mas ya kalau sudah mengecewakan dan mengacuhkan mu dulu. Mas tahu Mas salah, Mas yang egois. Tapi, kedepannya Mas akan memperbaiki diri Mas lagi agar bisa menjadi suami yang terbaik dan selalu ada buat kamu," ujar Arvan dengan wajah seriusnya menatap lembut dan dalam istrinya itu.


Ayla mengangguk dengan senyum malu-malunya. "Ayla udah maafin Mas kok sebelum Mas minta maaf, toh ini juga bukan salah Mas karena kita juga menikah tanpa cinta. Tapi, Ayla harap hubungan kita bisa lebih baik lagi kedepannya karena Ayla ingin pernikahan kita akan tetap utuh sampai maut memisahkan," ujar Ayla juga dengan senyum manisnya menatap suaminya.


"Makasih sayang sudah mau maafin Mas. Mas tidak bisa berjanji tapi, Mas akan membuktikan kalau pernikahan kita ini tetap utuh hingga maut memisahkan kita sementara dan kita akan bertemu di akhirat kelak kembali."


Ayla tidak bisa berkata-kata lagi mendengar ucapan suaminya. Ayla langsung memeluk sang suami dengan perasaan haru bahkan, matanya sudah tampak berkaca-kaca.


"Yuk kita sempurnakan pernikahan kita malam ini sayang. Kamu siap kan?" bisik Arvan.


Suara bisikan itu terdengar sangat lembut di telinga Ayla tapi, sekaligus membuat Ayla tegang apalagi mendengar perkataan suaminya. Ayla sangat paham maksud suaminya itu, Ayla tahu itu memang harusnya terjadi sejak awal pernikahan mereka tapi, tetap saja itu hal baru buat Ayla yang membuatnya merinding dan tegang tiba-tiba.

__ADS_1


Arvan terkekeh kecil melihat raut wajah tegang istrinya itu.


"Mas nggak akan paksa kok, Mas akan tunggu kapan pun itu," bisik Arvan lagi dengan lembut serta mengelus rambut sang istri.


"Ay-Ayla siap Mas," cicit Ayla pelan dengan wajah yang sudah bersemu merah.


Sekarang giliran Arvan yang tegang karena bagaimana pun ini juga pertama kali baginya. Baik kehidupan sebelum ia diberikan kesempatan ataupun saat ini ia tidak pernah dekat dengan perempuan manapun sebelumnya.


*******


Pagi hari yang cerah dengan mentari yang sudah mencuri-curi masuk ke dalam sebuah kamar mewah melalui jendela besar yang terdapat di kamar itu. Pasutri baru yang berada di kamar itu tampaknya masih asik tertidur dengan saling memeluk.


Seorang pria yang tidak memakai pakaian atas sehingga menampakkan otot-otot kekarnya itupun mulai mengerjapkan matanya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah seorang wanita cantik yang masih asik berkelana di alam mimpinya.


"Cantik," ujar pria itu yang tak lain Arvan dengan senyumnya menatap lembut sang istri Ayla yang menurutnya masih sangat cantik walaupun masih tidur.


Drttt Drttt


Arvan yang mendengar suara ponsel itu mengalihkan bertanya ke arah nakas tempat handphonenya ia taruh. Arvan menatap siapa yang menelponnya lalu mengangkat telpon itu setelah tahu siapa yang menelponnya.


"Hmm?"


"Maaf menganggu Tuan. Saya hanya memastikan apakah Tuan akan ke kantor hari ini atau tidak? Saya tadi sudah dari Mansion tapi katanya Tuan masih tidur jadi saya kembali ke kantor dulu karena masih banyak pekerjaan apalagi ada rapat bulanan jam 10," ujar si penelpon panjang lebar menjelaskan maksudnya menelpon.


Arvan melihat ke arah jam dinding yang sudah menampakkan jam setengah 9, sepertinya ia sangat telat bangun mungkin karena kegiatan semalam yang membuatnya mengantuk.


"Undur rapat menjadi sore hari, saya akan ke kantor setelah makan siang," perintah Arvan dengan singkat.


"Ah ya, beritahu sekretaris atau siapapun itu jangan membawa hal-hal berbau kantor lagi ke Mansion. Kalaupun ada hal yang penting saya mau kamu sendiri yang membawakan saya karena saya tidak suka kalau ada orang yang tidak saya kenal memasuki area pribadi saya atau bisa kirim di email, kamu paham kan Evan!" lanjut Arvan dengan tegasnya.


"Saya paham Tuan," jawab Evan tak kalah tegas.


Di sebrang sana Evan bertanya-tanya apa maksud Tuannya sebenarnya karena menurutnya ia tidak pernah menyuruh orang kantor untuk membawa berkas ke Mansion. Karena memang biasanya jika ada hal yang sangat penting maka Evan sendirilah yang akan turun tangan.


"Saya juga ingin kamu perhatikan dengan baik sekretaris baru itu, saya sangat tidak suka jika dia berbuat lancang seperti kemarin. Kalau dia berbuat ulah lagi, kamu bisa langsung pecat dia!" tegas Arvan.


"Baik, saya paham Tuan." Walaupun sebenarnya tidak paham hal lancang apa yang dilakukan sekretaris baru itu kemarin karena ia memang tidak tahu menahu tapi, demi Tuannya itu akan ia cari tahu nanti. Kalau memang sekretaris baru itu berbuat ulah seperti kata Tuannya langsung ia pecat dan blacklist.


"Mas udah bangun," sapa Ayla yang baru saja membuka matanya.

__ADS_1


Evan di sebrang sana kaget mendengar suara perempuan pasalnya yang ia tahu Tuannya itu tidak suka dekat dengan perempuan bahkan, dengan istrinya sekalipun.


Tutt Tutt, Arvan menutup telpon sebelah pihak.


__ADS_2