
"S*alan dasar cewek j*lang lo! Beraninya lukain anak buah gue!" hardik seorang pria dengan tubuh besarnya yang penuh tato dan wajahnya yang tampak menyeramkan. Suaranya terdengar sangat marah kepada seorang wanita yang berada tepat beberapa meter di depannya.
Wanita yang di gertak itu hanya duduk santai dengan senyum smirknya menatap pria berbadan besar di depannya itu.
"Melucu? Yakali orang mau di lukain malah nggak melawan?" kekeh perempuan yang masih tampak cantik itu walaupun bajunya sudah tampak lusuh bahkan ada yang robek akibat berkelahi dengan pria-pria berbadan besar di depannya.
"S*alan!" Pria berbadan besar yang marah itu pun bergegas mendekati wanita itu disertai satu orang lainnya yang mengikuti bosnya untuk menghajar wanita yang mereka culik itu.
Pria itu melayangkan tinjunya ke arah sang wanita, tetapi secepat itu pun wanita itu menangkis tinju pria itu lalu membalas menendang inti pria itu dengan senyum smirknya. Tendangan dari wanita itu tentu saja membuat pria berbadan besar itu meringis kesakitan.
Melihat bosnya yang terkapar membuat pria lainnya itu marah mulai melayangkan tendangannya ke arah wanita itu, wanita itu pun memegangi kaki pria itu lalu memutarbalikkan badannya hingga terkapar dengan keras di lantai dingin itu.
"AAHKK," jerit kedua pria berbadan itu merasakan sangat nyeri ada yang di inti dan ada yang di punggung serta p*ntatnya.
"Masih ingin bermain?" tanya wanita itu santai sembari menepuk-nepuk tangannya.
Kedua pria yang di hajarnya tadi hanya bisa meringis dengan tatapan tajamnya menghunus ke arah wanita itu.
Brakk
"Sayang!"
Degg
Wanita itu seketika membeku mendengar panggilan dengan suara seseorang yang sangat di kenalinya. Buru-buru wanita itu merubah raut wajahnya berubah sedih.
"Kamu tidak apa-apa kan?" lagi-lagi suara pria itu terdengar dengan nada khwatirnya.
Perempuan itu pun berbalik menatap pria yang saat ini mulai mendekati dirinya dengan tatapan sedihnya.
"Mas!" ujar wanita itu dengan mata berkaca-kacanya.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa kan?" bisik pria itu yang tak lain adalah Arvan setelah berhasil membawa sang istri ke pelukannya.
Ayla mengangguk, "Aku nggak apa-apa kok Mas, cuman baju aku sobek dikit," jawab Ayla dengan sedihnya.
Pria itu mengedarkan pandangannya melihat dengan jelas empat pria berbaring di lantai dingin itu dua orang sudah pingsan sepertinya.
"Siapa yang lawan mereka sayang?" tanya Arvan dengan wajah bingung ah lebih tepatnya pura-pura bingungnya. Padahal Arvan sudah tahu jelas siapa yang melawan keempat orang itu, tapi tetap saja ia mau mendengar jawaban langsung dari istrinya.
Ayla terpaku mendengar pertanyaan Arvan itu. Bahkan, jemarinya yang berada di belakang Arvan saat ini saling terpaut khawatir.
"I...itu tadi ada orang nolongin aku Mas, aku juga nggak tahu siapa dia, tapi pas Mas datang tiba-tiba dia sudah pergi entah kemana," bohong Ayla dengan raut wajah khawatirnya.
Arvan hanya mengangguk saja mendengar jawaban istrinya yang sudah ia tahu berbohong.
'Kenapa kamu mesti sembunyikan kelebihan kamu sayang dari Mas?' batin Arvan bertanya-tanya sekaligus sedikit kecewa karena ia tidak mengetahuinya langsung dari istrinya, tetapi malah melihatnya secara langsung.
"Yasudah, ayo kita pergi dari tempat ini, kamu pasti capek kan? Biar Evan dan anak buah Mas yang lain yang akan mengurus mereka," ajak Arvan yang langsung menggendong istrinya ala bridal style.
Ayla terpekik serta matanya membelalak terkejut karena tiba-tiba di gendong, walaupun ini kedua kalinya ia di gendong seperti ini setelah kejadian mesra kemarin ia tetap saja terkejut.
Saat baru saja sampai di depan mobil, keduanya menoleh karena mendengar suara deru mobil yang berhenti di dekat mobil mereka.
"Tuan," sapa Evan dengan beberapa pria berpakaian hitam.
"Bereskan orang di dalam yang berani menculik istriku dan bawa ke markas seperti biasa!" perintah Arvan dengan tegasnya.
Evan serta beberapa pria berpakaian hitam itu pun mengangguk, "Baik Tuan!"
Setelah melihat anggukan Evan, Arvan pun meletakkan istrinya di samping kemudi dengan sangat hati-hati lalu melepaskan jasnya dan memasangkannya di tubuh istrinya bagian depan. Setelah itu, barulah Arvan berjalan ke area kursi pemudi. Arvan pun mulai menjalankan mobilnya dengan hati-hati.
"Kamu ada yang luka sayang?" tanya Arvan dengan raut wajah khawatirnya menatap sekilas sang istri karena Arvan harus tetap fokus menyetir.
__ADS_1
Ayla menggeleng, " Nggak, kok Mas. Hanya baju saja yang robek," jawab Ayla.
"Syukurlah kalau kamu nggak luka. Tapi, Mas ingin ini yang terakhir kamu keluar sendirian dari Mansion. Mas tidak mau lagi kalau sampai kejadian seperti ini terulang lagi, kamu buat Mas hampir jantungan tahu!" tegas Arvan sembari mengelus rambut sang istri dengan satu tangannya yang tidak digunakannya untuk menyetir.
Ayla mengangguk dengan senyum manisnya karena perkataan serta perlakuan Arvan yang manis dan hangat kepadanya.
"Iya Mas, Ayla ikut apa kata Mas saja," jawab Ayla sembari menatap wajah tampan suaminya yang tengah fokus menyetir mobil.
Beberapa menit perjalanan akhirnya keduanya sampai di Mansion. Arvan masuk sembari memeluk pinggang sang istri. Keduanya pun langsung di sapa oleh kepala pelayan yang sedari tadi menunggu Nyonya nya kembali dengan raut wajah khawatirnya.
"Selamat datang Tuan, dan Nyonya. Syukurlah Nyonya tidak kenapa-kenapa," sapa sekaligus syukur kepala pelayan itu dengan senyum sopannya.
Ayla ikut tersenyum haru melihat kepala pelayan ternyata ikut khawatir dengannya sangat berbeda dengan hidupnya sebelum menikah tidak ada seorang pun yang akan mengkhawatirkannya walaupun ia hilang berapa lama pun itu.
"Iya Bi. Makasih Bibi sudah khawatir dengan Ayla," cetus Ayla dengan senyum harunya.
Bibi itu pun mengangguk serta tersenyum haru karena baru kali ini ia mendengar kata terimakasih yang dilontarkan oleh majikannya selama beberapa tahun ia menjadi kepala pelayan. "Sama-sama Nyonya. Ada yang Nyonya butuhkan?" tanya Bibi Erla menawarkan.
"Siapkan teh hangat dan makanan dua terus bawa ke kamar Bi." Bukannya Ayla yang menjawab, melainkan Arvan yang menjawab pertanyaan dari Bibi Erla.
"Baik Tuan. Kalau begitu saya pamit undur diri untuk menyiapkannya," ujar Bibi Erla menunduk hormat. Setelah melihat anggukan dari kedua Tuan dan Nyonyanya barulah ia pergi dari tempat itu.
"Ayo sayang ke kamar. Pasti kamu udah capek banget!" ajak Arvan sembari tangannya sedari tadi tidak pindah terus memeluk pinggang sang istri.
Ayla hanya mengangguk dan ikut saja ke kamar sesuai perkataan sang suami.
Sesampainya di kamar, Ayla langsung di dudukkan di atas tempat tidur agar lebih enak duduknya.
"Eh, Mas mau apa?" tanya Ayla dengan mata melototnya karena tangan suaminya hendak membuka pakaiannya yang sudah terkoyak itu.
Arvan terkekeh sembari menyentil pelan dahi sang istri. "Memang apa yang kamu pikirin, huh? Aku hanya mau cek saja badan kamu takut kamu ada luka tapi bohong!" cetus Arvan santai seolah istrinya memang berbohong.
__ADS_1
Ayla cemberut mendengar ucapan suaminya. "Mas tuduh Ayla bohong?" tanya Ayla dengan wajah ditekuk.
Arvan terkekeh lagi lalu mengangguk dengan santainya. Hal itu pun sukses membuat bibir Ayla tambah maju beberapa centi.