Cinta Bersemi Kembali

Cinta Bersemi Kembali
Bucin Teriak Bucin


__ADS_3

BRAKK


"APA MAKSUD KAMU TADI LEVINA!" teriak Surasti dengan napas tersenggal-senggalnya karena terlalu emosi dengan anaknya.


Levina menunduk diam dengan kepalan tangan di kedua tangannya.


"Ma-maaf Ma," cicit Levina pelan dengan raut wajah takutnya.


Surasti memicingkan matanya kesal. "Maksudnya kamu berbohong dengan Mama kalau kamu punya hubungan dengan Arvan? Kenyataannya kamu gagal merebut Arvan dari anak tidak tahu diri itu!" hardik Surasti emosi.


Brakk, Brukk.


Surasti membuang semua makanan serta benda yang tersaji di depannya dengan emosi.


"Ada apa sih ini Mas, kenapa ribut sekali? Ayah baru pulang dari kantor kalian sudah berisik!" gerutu seorang pria paruh baya dengan wajah kesalnya.


Surasti mengalihkan tatapannya ke arah pria paruh baya yang baru saja datang itu.


"Lihat tuh anak Ayah ckck bikin malu Mama saja!" omel Surasti dengan raut wajah kesalnya ketika kembali mengingat penghinaan yang di dapatkannya tadi apalagi kejadiannya di depan umum.


Pria paruh baya yang bernama Bram itu melihat ke arah anaknya dengan mengernyitkan dahinya.


"Apa benar itu nak? Memangnya kamu buat masalah apalagi Levina? Kamu tidak capek apa buat masalah terus!" ujar Bram dengan wajah lelahnya.


"Memang dia anak pembawa masalah bkin malu. Entah di mana Mama mau taruh muka Mama ini lagi gara-gara anak itu. Apa salah Mama sampai melahirkan anak seperti dia!" kesal Surasti dengan tatapan sinisnya menatap sang anak yang sedari tadi hanya bisa diam saja.


Degg


Levina yang sedari tadi menunduk langsung mengangkat kepalanya menatap Mamanya tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan.


"Mama menyalahkan Levina? Seharusnya Mama lah yang intropeksi. Apa Mama sudah menjadi Ibu yang baik untuk Levina!" teriak Levina emosi lalu pergi begitu saja dengan menghentak-hentakkan kakinya kesal, bahkan ia tidak peduli karena tanpa sengaja menyenggol vas bunga kesayangan Mamanya.


Surasti melotot melihat kelakuan anaknya apalagi melihat vas bunganya juga yang jadi korban.


"Astaga anak itu! Lihat tuh anak Ayah. Ah, Mama enggak tahu lagi, bahkan dia sudah memecahkan vas bunga kesayangan Mama!" gerutu Surasti kesal melampiaskan emosinya dengan memukul-mukul tubuh suaminya.


Bram menutup matanya sejenak lalu menatap kesal istrinya.

__ADS_1


"Bisa tidak kalian jangan buat masalah sehari saja! Ayah capek dari kantor. Ayah pulang ingin istirahat, tapi setiap pulang bukannya mendapatkan ketenangan malah pertengkaran terus, masalah terus!" terang Bram dengan tatapan tajamnya lalu bergegas pergi juga dari tempat itu meninggalkan istrinya dengan perasaan emosinya.


Surasti melotot tak percaya mendengar ucapan suaminya yang baru kali ini berani protes padanya.


"AYAH MAU KEMANA?" teriak Surasti kesal ketika melihat suaminya pergi menuju keluar rumah begitu saja.


Bram seolah menulikan telinganya, ia tidak menghiraukan teriakan istrinya itu.


"Arrgghh ada apa dengan mereka berdua, s*alan!" kesal Surasti lalu kembali menghamburkan barang yang ada di sekitarnya.


******


Di saat yang sama, tetapi di tempat berbeda. Di sebuah Mansion yang tampak megah seorang pria tampak sibuk menanyakan berulang kali serta mengecek berulang kali kesehatan istrinya.


"Kamu beneran tidak apa-apa kan sayang? Atau kamu mau kita ke rumah sakit?" tanya pria itu yang tak lain adalah Arvan dengan wajah cemasnya.


Ketiganya memang memutuskan untuk pulang setelah berjalan sebentar di Mall tentunya setelah Surasti dan Levina pergi tadi.


"Mulai lebay deh. Mau berapa kali kamu bertanya dengan pertanyaan yang sama dengan istri kamu?" tanya Mom Ella dengan helaan nafasnya serta gelengan kepalanya melihat tingkah anaknya yang menurutnya terlalu berlebihan.


Ayla hanya bisa tersenyum meringis malu dengan Mama mertuanya karena tingkah suaminya yang menurutnya juga berlebihan.


"Khawatir sih khawatir, tapi kamu kan udah bertanya banyak kali sudah cek istri kamu juga tapi masih saja tidak percaya seperti itu," gerutu sekaligus ejek Mom Ella menatap sinis anaknya.


Arvan tidak bisa berkutik lagi karena apa yang dikatakan oleh Momnya semuanya benar.


"Mmm apa tidak sebaiknya kita makan dulu? Ini sudah lewat jam makan siang soalnya. Mas belum makan juga kan?" tanya Ayla mengalihkan topik pembicaraan.


Arvan mengangguk menjawab pertanyaan istrinya. "Baiklah, ayo kita makan. Kamu pasti sudah lapar."


Arvan pun membantu istrinya berdiri lalu memeluk pinggang istrinya dan berjalan bersama menuju ke meja makan yang mana sudah tertata rapi banyak hidangan lezat.


"Dasar bucin!" gerutu Mom Ella merasa sedikit kesal karena cemburu tidak bisa melakukan itu dengan suaminya juga.


"Haiss kan Ella rindu Mas Ken," lanjut Mom Ella dengan pelannya.


Hmm sepertinya bucin teriak bucin.

__ADS_1


Setelah makan, Arvan dan Ayla pamit untuk ke kamar duluan sedangkan Mom Ella tetap di dapur karena bosan jika hanya di kamar sendirian menurutnya lebih baik dia membantu membersihkan atau apapun itu di dapur saja karena ada pelayan yang akan di temannya bicara.


******


Sepasang suami istri tampak sangat mesra saling menyuap satu sama lain di meja makan padahal Mom Ella masih ada di tempat itu juga. Keduanya tampak mesra membuat sarapan rasanya lebih nikmat untuk keduanya lebih tepatnya untuk Arvan.


"Mas, apa nggak papa kita suap-suapan gini? Ayla nggak enak sama Mom," cicit Ayla sembari melirik mertuanya yang tampak menatap sinis suaminya.


"Lihat mata Mom selalu tertuju ke kita!" lanjut Ayla dengan cemas sekaligus malunya.


Arvan pun meletakkan sendok yang ada di genggamannya ke piring.


"Mom bisa nggak, nggak usah lihatin kami terus? Ayla kan jadi malu. Mom juga kapan sih pulang ke Mansion? Memangnya Dad nggak pulang, Mom nggak curiga gitu kenapa tumben Dad nggak bawa Mom pergi?" ujar Arvan dengan jengahnya.


Mom Ella melotot mendengar penuturan anaknya.


"Heh, kamu ngusir Mom! Masalah Daddy kamu, Mom percaya kalau Daddy kamu itu hanya cinta mati sama Mom!" gerutu Ella kesal, tapi hatinya sudah cemas mendengar perkataan anaknya tentang suaminya.


Arvan hanya mengedikkan bahunya lalu kembali menyuapi istrinya.


Melihat anaknya acuh, Mom Ella pun langsung pergi dari ruang makan itu menuju kamarnya yang berada di Mansion itu.


Ayla melototkan matanya ke suaminya, tapi tetap saja membuka mulutnya karena suaminya sudah menyodorkan makanan kepadanya.


"Mas, nggak sopan. Mas juga kenapa buat Mom berpikir negatif sih!" tegur Ayla dengan tatapan kesalnya dengan tingkah suaminya yang sekarang malah acuh tak acuh.


"Sudah, jangan pikirin masalah Mom. Kita sarapan saja, bentar juga Mom udah baik kok," ujar Arvan santai karena ia sangat tahu bagaimana sifat Momnya itu.


Setelah sarapan Arvan pun pamit, seperti biasa ia bercanda sebentar dengan istrinya lalu mengecup seluruh wajah istrinya di depan Satpam, Supir dan Pelayan tanpa merasa malu. Bagi Arvan mereka sudah halal jadi toh untuk apa malu.


Setelah pamit, mobil yang dikendarai Arvan itu pun berangkat meninggalkan Mansion walaupun Arvan agak berat hati meninggalkan istrinya, tapi mau bagaimana lagi ini sudah tugasnya.


Baru saja mobil Arvan akan memasuki area Perusahaan tiba-tiba seorang pria paruh baya menghalangi mobil miliknya membuat Supir yang mengendarai mobil itu mengerem seketika.


"Ada apa ini?!" tanya Arvan dengan tatapan tajamnya.


Baru saja Supir mau menjawab, sudah di dahului dengan pria paruh baya itu yang mengetuk jendela samping Arvan.

__ADS_1


Tok Tok Tok


"Tolong buka kaca mobilnya dulu nak, saya Ayahnya Ayla Ayah mertua kamu," pinta pria paruh baya yang ternyata bernama Silas dengan senyum ramahnya.


__ADS_2