Cinta Bersemi Kembali

Cinta Bersemi Kembali
Perubahan Kejadian


__ADS_3

Seorang pria tampak serius mengotak-atik laptopnya dengan kacamata yang sudah bertengger di hidung mancungnya.


Tok Tok Tok


"Permisi Tuan, saya Evan."


"Masuk!"


"Maaf mengganggu waktunya Tuan, tapi saya mau mengingatkan kalau rapat bulanan akan dimulai 5 menit lagi," terang Evan.


"Hmm, semuanya sudah siapkan?" tanya pria itu yang tak lain adalah Arvan dengan melepaskan kacamata anti radiasi itu lalu meletakkannya di atas meja kerjanya.


"Sudah Tuan, semuanya juga sudah kumpul di ruang rapat," jelas Evan tegas.

__ADS_1


"Baiklah."


Arvan mematikan lalu menutup laptopnya setelahnya barulah ia berdiri merapikan sedikit jas kerjanya. Setelah di rasa rapi ia beranjak keluar dari ruangan diikuti oleh Evan.


Rapat pun dimulai setelah semuanya siap. Seperti biasanya semuanya sangat tegang tapi semuanya buyar karena suara nada dering telfon yang berbunyi kencang di tengah-tengah rapat.


Semuanya mulai bergerak gelisah dan bertanya-tanya siapa yang mempunyai nasib sial itu, karena semuanya sudah tahu kalau Bos mereka itu sangat disiplin. Pernah kejadian serupa terjadi dan seperti perkataan mereka nasib sial yang di dapatkannya ia saat itu langsung di pecat begitu saja tanpa adanya pertimbangan sama sekali.


Sebenarnya Arvan tadinya ingin marah karena ada bunyi handphone di tengah-tengah mereka lagi rapat. Tapi, setelah tahu ternyata handphone miliknya lah yang berdering dan nama Mamanya tertera di handphone itu pun hanya bisa menghela nafas.


"Ada apa Mom?" tanya Arvan langsung pada intinya.


"Ar... Arvan! Istri kamu Van hiks hiks Mo... Mom hiks istri kamu diculik! Kamu cepat pulang sekarang Arvan! Mom takut menantu Mom kenapa-kenapa!" ujar Mommy Arvan dengan terbata-bata suaranya terdengar sangat cemas dengan air mata yang sudah mengalir deras.

__ADS_1


Arvan terdiam. Arvan ingat kejadian ini juga pernah terjadi di kehidupan sebelumnya. Saat itu hari ulang tahunnya, Momnya juga mengatakan hal ini untuk membuatnya khawatir lalu pulang langsung walaupun saat itu ia acuh tapi mau bagaimanapun Ayla istrinya jadi tetap saja ia pulang dengan sedikit rasa cemasnya. Tapi, setibanya di Mansion malah semuanya hanya rekayasa Mom, Dad, Kakek dan istrinya itu untuk membuat suprise. Tapi, tunggu bukankah ulang tahunnya besok bukannya hari ini? Batin Arvan bertanya-tanya bingung.


"Kenapa kamu diam Arvan!" pekik Momnya kesal karena anaknya hanya diam saja padahal Momnya sudah sangat khawatir dengan nasib menantunya itu.


"Arvan pulang sekarang, kamu menunggu kamu di Mansion utama. Cepetan jangan sampai menantu Dad kenapa-kenapa!" ujar Daddy Arvan yang mengambil alih handphone dari tangan istrinya dengan nada seriusnya tapi, tidak menutupi kekhawatiran dari nada bicaranya.


Arvan yang memang sangat tahu sifat Daddy nya itu, Dadnya pasti tidak akan bercanda. Walaupun dulu juga sama tapi, dulu Dadnya tetap tidak berani bicara apalagi dengan nada serius seperti itu. Arvan sangat tahu kalau Dadnya sudah bicara serius berarti itu adalah kenyataan.


Tanpa babibu lagi Arvan mematikan telfonnya sepihak lalu berlari kencang dengan perasaan khawatirnya.


Brakk


"S*alan kenapa lift ini lama sekali sih!" pekik Arvan memukul kesal lift yang dianggapnya lama membawanya kelantai satu. Bagaimana tidak, saat ini Arvan berada di lantai dua puluh lima tentu lumayan jauh untuk sampai ke lantai satu.

__ADS_1


'Apakah ada perubahan kejadian sekarang? Karena aku mau mengubah alur hidupku dulu dengan yang sekarang? Tapi, semoga kamu baik-baik saja sayang. Aku tidak akan mengampuni siapa saja yang berani menyentuhmu!' batin Arvan dengan kepalan tangannya serta matanya menatap tajam, auranya saat ingi terasa begitu gelap dan menyeramkan.


__ADS_2