
Baru saja mobil yang dikendarainya sampai di halaman Mansion, Arvan langsung keluar dan berlari masuk ke Mansion utama itu, ia tidak peduli jika mobilnya belum terparkir dengan baik yang ada di pikirannya saat ini hanyalah istrinya seorang.
"Dad, Mom di mana istri Arvan?" tanya Arvan dengan raut wajah khawatirnya yang terlihat sangat jelas. Arvan berharap jika ini semua hanya candaan orang tuanya saja yang ingin memberikan suprise untuknya seperti kehidupan sebelumnya, ia tidak bisa membayangkan jika istrinya beneran di culik pasti istrinya itu akan sangat ketakutan saat ini.
"Minum dulu Van, tenangin diri kamu dulu!" bukannya menjawab Daddy Arvan malah menyuruh anaknya menenangkan dirinya terlebih dahulu.
Arvan mengambil minum di meja lalu meminumnya hingga tandas, lalu menatap kembali Dadnya menuntut jawaban masih dengan raut khawatirnya, bagaimana tidak khawatir ia juga baru saja bahkan belum dua puluh empat jam bisa baikan dengan istrinya malah sudah ada kejadian seperti ini.
Di ruangan itu hanya terdapat Daddy dan Mommy Arvan karena Kakeknya sudah istirahat di kamar, tadi setelah mendengar berita itu jantungnya langsung kumat mau tidak mau Kakek Arvan harus beristirahat.
"Hah, Dad tadi lagi temenin Mom kamu lagi siram-siram bunga di taman terus tiba-tiba ada telfon dari Mansion kamu lewat telfon Mansion. Pas Dad angkat ternyata itu dari kepala pelayan Mansion kamu yang tiba-tiba mengabarkan istri kamu hilang." Daddy Arvan bernama Kenzo itu berhenti sejenak menghela nafas panjangnya. "Kata kepala pelayan tadi istri kamu bosan di Mansion, jadi istri kamu ngotot ingin belanja sendiri persediaan di supermarket tapi sampai berjam-jam istri kamu tidak pulang juga ke Mansion, sampai sekarang juga belum ada kabarnya. Tapi, kamu tenang saja Dad sudah mengerahkan anak buah Dad mencari menanti Dad itu." Dad Ken menatap anaknya prihatin. Ia pun juga sebenarnya sangat khawatir dengan menantu satu-satunya itu, tapi sebagai kepala keluarga ia harus bisa menenangkan istri dan anaknya agar tidak terlalu khawatir.
Arvan mengepalkan tangannya erat. "Belum ada kabar kelanjutannya sampai sekarang Dad, di mana keberadaan istri Arvan?" tanya Arvan dengan raut wajah sedihnya.
Dad Ken menggelengkan kepalanya pelan menjawab pertanyaan sang putra.
"Arvan pamit dulu Dad, Mom. Kalau ada kabar tolong langsung hubungi Arvan!" pinta Arvan lalu salim ke kedua orang tuanya.
"Sabar nak, pasti istri kamu akan di dapatkan segera!" bisik Mom Arvan yang bernama Ella yang tadinya hanya diam menangis akhirnya membuka suaranya ketika anaknya menyalimi tangannya.
__ADS_1
Arvan hanya mengangguk lalu pergi dari Mansion utama itu. Arvan melajukan mobil miliknya dengan kecepatan tinggi menuju Mansion miliknya sembari menelfon Evan agar mengerahkan seluruh anak buah mereka untuk mencari sang istri serta tim IT.
Saat sampai di Mansion, Arvan langsung di sambut dengan tatapan prihatin sekaligus sedih dari kepala pelayan dan pelayan lainnya yang ada di Mansion itu. Arvan tidak menghiraukan sapaan mereka. Arvan hanya bergegas menuju kamarnya.
Sesampai di kamar, Arvan membuka laptopnya dan mulai mengotak-atik lalu muncullah rekaman CCTV full seluruh Mansion miliknya yang memang terhubung ke laptop miliknya. Arvan menatap intens apa yang dilakukan istrinya sebelum keluar dari Mansion, Arvan hanya takut jika ada penyebab lain dari Mansion dan Arvan berhenti di CCTV depan Mansionnya yang memang tersembunyi itu hanya dia dan kepala pelayan yang tahu CCTV itu. Di CCTV itu terekam jelas jika ternyata terdapat sebuah mobil yang sudah memata-matai sang istri sejak dari Mansion.
Arvan mengepalkan tangannya, auranya sudah sangat mencekam. Tatapannya kini menghunus sangat tajam ke arah laptop di depannya itu.
Arvan mengambil handphone miliknya lalu menelfon Evan.
"Cek data dari mobil DD 1903 DR sekarang!" perintah Arvan yang langsung to the point ketika Evan menjawab panggilan darinya.
* DD nya author ngasal ya.
Setelah mendengar jawaban dari Evan, Arvan pun menutup panggilan sepihak. Arvan kemudian mulai mengotak-atik handphone miliknya, ia berdoa dalam hati semoga GPS yang di pasang di jepit rambut yang sering istrinya pakai itu masih berfungsi dengan baik.
Sepertinya Tuhan mengambilkan doanya kembali, GPS itu berfungsi dan memperlihatkan di mana keberadaan sang istri. Arvan pun kembali menelfon Evan.
"Saya sudah menemukan di mana keberadaan Ayla. Tapi, tetap saja lacak keberadaan mobil itu dan Evan kamu serta ajak beberapa bodyguard untuk menyusul ke alamat yang aku kirim!" perintah Arvan to the point.
__ADS_1
Tutt Tutt.
Evan tidak di biarkan menjawab sama sekali karena Arvan sudah terlebih dahulu menutup telfonnya sebelah pihak lagi dan lagi. Tapi, Evan tidak menghiraukan itu ia mulai bergerak mengerjakan perintah Tuannya. Begitu pun dengan Arvan yang sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju tempat istrinya yang sudah di lacaknya.
Padahal jepit rambut itu ia sengaja pasang GPS karena takut wanita itu ternyata punya niat buruk ke keluarganya ingin mengambil harta keluarganya dan menurutnya perempuan itu pasti tidak akan menyadari ada GPS yang di pasangnya jika di jepit rambut. Tapi, tak di sangka sekarang malah sangat bermanfaat memang sama untuk menemukan sang istri, akan tetapi bukan karena alasan perempuan itu berbuat kejahatan melainkan di jahati oleh orang lain.
Tak berapa lama, mobil yang di tumpangi oleh Arvan pun sampai di sebuah rumah kecil yang tampak tak berpenghuni karena dari luar sudah kelihatan banyak sarang laba-laba dan terlihat kotor berantakan.
Arvan memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari tempat itu agar tidak ketahuan karena tempat itu sepi jadi otomatis orang di dalam rumah itu jika dekat pasti bisa mendengar suara mesin mobilnya.
Setelah memarkirkan dengan baik, Arvan keluar lalu mengendap-ngendap ke rumah itu. Arvan berdoa kembali meminta agar istrinya berada di tempat itu masih dalam keadaan yang sehat.
Tambah mendekati rumah itu, dada Arvan tambah bergemuruh kencang, kepalan tangannya juga tambah erat. Arvan yang tidak melihat penjaga di luar pun mulai mengintip di sela-sela jendela rumah usang itu dan...
Degg
Arvan melihat sang istri tengah duduk di kursi tapi yang mengherankan istrinya itu di biarkan bebas tidak di ikat apa pun.
Arvan pun mulai mengedarkan pandangannya untuk melihat berapa penjaga yang menangkap istrinya itu, walaupun agak susah karena kaca jendela itu berdebu sangat tebal. Arvan menatap dua orang penjaga yang tampak tiduran di lantai lalu dua lainnya tengah berada di jarak cukup jauh dari istrinya menatap istrinya dengan tatapan tajam.
__ADS_1
'Ada apa ini?' batin Arvan bertanya-tanya dengan herannya.