
Arvan memicingkan matanya mendengar penuturan pira paruh baya itu. Arvan pun membuka jendelanya lalu menatap tajam pria paruh baya di depannya yang mengaku sebagai Ayah dari istrinya itu.
'Jadi dia yang sudah mengganggu pagi indah istriku?' gumam Arvan dalam hati dengan kepalan tangannya mencoba menahan emosinya.
"Syukurlah saya ketemu sama nak Arvan. Tadi saya sudah bilang ke Satpam kalau saya mertuanya nak Arvan tapi mereka tidak tahu diri malah mengusir Ayah!" oceh Silas mengeluarkan kekesalannya walaupun dengan nada lembut karena ia tidak mau namanya tercoreng di depan menantunya yang kaya raya itu.
"Nak Arvan mau masuk kan, Ayah bisa ikut kan dengan nak Arvan soalnya ada yang mau Ayah bicarakan masalah anak Ayah Ayla," lanjut Silas meminta dengan senyumnya seramah mungkin.
"Hmm." Arvan hanya membalas dengan deheman lalu kembali menutup jendelanya dan menyuruh supirnya agar membawanya sampai ke lobby Perusahaan.
Mendengar persetujuan dari Arvan membuat Silas tertawa lalu tersenyum menyeringai. "Suami kamu lebih pintar dari kamu anak bodoh dan tidak tahu diri tidak mengingat Ayahnya sama sekali!" gerutu Silas dengan seringainya.
Silas pun buru-buru mengikuti mobil milik Arvan, setelah melihat Arvan keluar dari mobilnya Silas mendekat. Silas terus mengekori Arvan memasuki Perusahaan hingga sampai ke lantai teratas di mana ruangan Arvan berada.
Saat memasuki Perusahaan Arvan itu Silas tak berhenti diam-diam mengagumi Perusahaan besar itu. Para karyawan di Perusahaan itu pun bertanya-tanya tentang siapa pria paruh baya yang mengikuti Tuannya, tapi mereka tidak ada yang berani untuk mengangkat mulut walau hanya sekedar berbisik saja sebab kalau sampai mereka ketahuan maka pecat adalah akhir untuk mereka.
Sampai keduanya memasuki ruangan yang bertuliskan Ceo. Arvan tak angkat bicara juga ia hanya diam sembari duduk di kursi kebesarannya menatap pria paruh baya yang sedang menatap kagum ruangannya itu dengan tatapan datarnya.
"Wah, ruangan kamu bagus banget nak. Memang deh sangat cocok menjadi menantu Ayah," ujar Silas kagum lalu tanpa tahu malu langsung menyeret kursi di depan Arvan dan duduk begitu saja walaupun belum di suruh dengan pemilik ruangan.
Arvan memangku wajahnya dengan menaruh kedua tangannya di dagunya menatap Silas datar.
"Jadi, apa yang ingin anda katakan tentang istri saya?" tanya Arvan to the point dengan wajah datarnya.
__ADS_1
"Ah, saya tidak ingin membicarakan hal penting kok. Kita kan mertua dan menantu tidak apa-apa dong kita saling bicara ya kan?" cetus Silas dengan senyum sok polosnya.
Arvan memicingkan matanya lalu menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya serta salah satu kakinya yang terangkat ke atas salah satu kaki lainnya.
"Tidak ada yang perlu di bicarakan ya? Baiklah, kalau begitu silahkan pergi anda tahu kan jalan keluarnya?" ujar Arvan mengusir halus dengan tatapan tajamnya.
"Eh." Silas terkejut mendengar perkataan Arvan yang mengusirnya dari tempat itu padahal ia baru saja sampai.
"Ekhem, sebenarnya ada yang ingin saya bicarakan dengan nak Arvan," ujar Silas buru-buru dengan memperbaiki duduknya.
Arvan menaikkan alisnya satu. "Hmm?"
"Hah mungkin kamu tidak tahu masa lalu anak saya itu yang nakal. Tapi, walaupun anak saya sangat nakal dulu dia anak yang lumayan baik kok," terang Silas.
Arvan mengernyitkan dahinya tidak paham.
Arvan mengepalkan tangannya geram dengan tatapan tajamnya ke arah Silas. Arvan sangat tahu bagaimana istrinya, ia pun sudah tahu masa lalu istrinya itu dan ia sangat tahu kejadian sebenarnya bagaimana.
"Sepertinya anda tidak kapok?" Arvan tampak menyeringai dengan tatapan tajamnya.
Silas mengernyitkan dahinya tidak paham dengan maksud perkataan menantunya barusan.
"Maksudnya?" tanya Silas tidak paham.
__ADS_1
Arvan menatap datar pria paruh baya itu. "Jangan memfitnah istri saya di depan saya. Saya sangat tahu bagaimana tabiat istri saya lebih dari anda walaupun kami baru menikah beberapa bulan. Saya sangat tahu juga bagaimana sifat asli anda serta kejadian sebenarnya!" ujar Arvan dengan tatapan tajamnya, jika saja tatapan tajam itu pedang mungkin sudah tertusuk tajam ke tubuh Silas.
Silas tentunya terkejut mendengar penuturan menantunya itu.
'S*alan dari mana dia tahu? Apa anak tidak tahu diri itu yang mengadu!' batin Silas kesal.
Silas menatap kesal Arvan, tapi hanya sekilas lalu kembali tersenyum dengan raut wajah sedihnya.
"A-apa Ayra yang menjelekkan aku ke kamu? Hah, anak itu memang dari dulu tidak mengakui Ayahnya ini karena miskin," lirih Silas dengan wajah sedih dan murungnya.
"Ayra tidak pernah mengadu apapun ke saya. Tanpa Ayra mengadu pun memang sudah seharusnya saya sebagai suaminya yang harus mencari tahu siapa saja orang yang bisa membahayakan istri saya dan salah satu orang itu ada di depan saya saat ini," ujar Arvan dengan nada pelan namun tegasnya. Arvan tampak menyeringai tajam ke arah Silas yang tampak melotot terkejut dengan ucapan Arvan barusan.
"A-apa maksud nak Arvan?" tanya Silas yang raut wajahnya berusaha ia tetap buat netral, tetapi keringatnya tidak bisa berbohong kini sudah mulai muncul di wajahnya yang sudah mulai keriput itu.
"Sepertinya tanpa perlu saya jelaskan Anda sangat mengerti maksud saya," sindir Arvan dengan seringai tajamnya.
Silas menelan salivanya kasar mendengar itu.
"Nak Arvan sepertinya salah paham dengan Ayah. Mungkin dulu Ayah sudah salah dalam membesarkan Ayla, tapi bagaimana pun saya ini adalah Ayahnya dan Ayah mertua kamu. Ayla itu anak saya tentu saja saya sangat menyayangi anak saya sendiri bagaimana pun tabiatnya, saya selalu berusaha untuk bersabar selama ini. Jadi, nak Arvan jangan memfitnah saya seperti itu," kilah Silas yang malah menyerang Arvan balik.
"Pertama, jangan panggil diri anda Ayah dan jangan panggil saya nak!" tegas Arvan dengan tatapan tajamnya.
"Kedua, saya sudah tahu semuanya jadi anda jangan berkilah di depan saya dan malah mencoba memutarbalikkan fakta apalagi memfitnah saya. Dan yang terakhir jangan pernah mengganggu kehidupan istri saya lagi karena bagi saya anda tidak layak untuk dikatakan Ayah! Ayah mana yang tega menjual anaknya sendiri untuk menjadi j*lang?" lanjutnya dengan kepalan tangannya berusaha menahan amarahnya agar tidak menonjok pria paruh baya di depannya itu.
__ADS_1
BRAKK
Arvan dan Silas sontak kaget dan menoleh ke arah sumber suara yang terdengar keras dan nyaring di ruangan itu.