
Di sebuah ruangan yang tampak mewah, Arvan kini tengah menatap tidak enak istrinya karena gara-gara dirinya pesan di Restaurant itu istrinya harus bertemu dengan orang yang tidak ingin di temuinya, selain itu mereka jadi telat untuk makan siang.
"Maaf ya sayang karena Mas kamu harus telat makan siang dan harus bertemu dengan orang yang tidak menyenangkan," cicit Arvan dengan perasaan bersalahnya.
Ayla menggeleng. "Mas kan tidak tahu kalau kita akan bertemu dengan orang tidak tahu malu seperti itu tadi, jadi Mas tidak perlu merasa bersalah. Lagian sekarang kita juga kan mau makan," hibur Ayla dengan senyumnya karena pada nyatanya Ayla memang tidak menyalahkan suaminya yang salah menurutnya itu adalah Levina yang masuk dengan tidak tahu malunya dan merusak suasana.
Arvan mengangguk, "Yasudah sebagai gantinya Mas suapi." Arvan mulai mengambil makanan yang sudah tersaji di depan mereka.
"Tidak boleh membantah!" lanjut Arvan karena melihat istrinya ingin membantah perkataannya, sembari menyodorkan suapan kepada istrinya.
Ayla hanya bisa menghela nafas dengan senyumnya menerima suapan sang suami.
Keduanya kembali saling suap makanan seperti kemarin sore. Keduanya saat ini berada di salah satu Restaurant yang biasa di kunjungi Arvan yang tidak jauh juga dari Restaurant yang tadi mereka datangi. Setelah kejadian tidak mengenakkan tadi, Arvan memang langsung membawa sang istri ke Restaurant yang biasa di kunjunginya. Arvan sengaja membawa istrinya sebelumnya ke Restaurant tadi karena mengira makanannya mungkin akan lebih enak sebab Restaurant itu bintang lima apalagi ini pertama kalinya mereka makan di luar berdua, jadi Arvan ingin memberikan kesan baik ke istrinya tapi malah sebaliknya yang terjadi.
*******
Di sebuah rumah yang sudah tampak usang, terlihat seorang wanita tengah mengedor-ngedor pintu rumah itu dengan keras.
"Paman keluar! Ada yang ingin aku bicarakan dengan Paman!" teriak wanita itu sembari terus mengedor-ngedor pintu rumah usang itu dengan keras.
Tak lama terbukalah pintu rumah itu dan menampakkan sosok pria paruh baya yang tampak marah.
"Kamu mau membuat pintu rumah saya roboh ha!" hardik pria paruh baya itu dengan wajah marahnya.
__ADS_1
Wanita itu menggeleng, "Bukan saatnya bicara hal yang tidak penting seperti ini. Ayo masuk, nanti di dalam aku beritahukan kabar gembira untuk Paman!" cetus wanita itu lagi dengan seringai liciknya.
Wanita itu pun langsung menyelonong masuk walaupun belum di suruh masuk oleh pemilik rumah.
"Levina!" geram pria paruh baya itu dengan kelakuan keponakannya yang ternyata adalah Levina.
Keduanya pun duduk di kursi yang sudah tampak ada yang parah bagian belakangnya.
"Kabar gembira apa maksud mu?" tanya pria paruh baya bernama Silas itu dengan wajah angkuhnya.
"Pokoknya kalau Paman dengar ini pasti Paman bahagia. Aku tadi ketemu sama anak Paman si Ayla itu!" celetuk Levina memberitahu dengan raut wajah sumringahnya.
Silas tampak mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
Levina menggelengkan kepalanya, "Paman yakin nggak mau tahu? Padahal Levina mau beritahu Paman kalau Ayla sudah menikah dan dia menikah dengan orang terkaya di negara kita!" ujar Levina dengan seringai liciknya mencoba memancing rasa penasaran Silas.
Silas yang mendengar itu langsung terbelalak kaget.
"Yang benar kamu? Kok bisa anak itu punya keberuntungan. Aku kira anak itu cuma bisa bawa masalah untukku, tapi sepertinya anak itu bisa bermanfaat juga. Siapa suaminya?" tanya Silas dengan seringainya. Pikirannya sudah berkelana mengenai berapa banyak uang yang akan di terimanya nanti.
Silas yakin sang anak pasti akan memberikannya uang kalau dirinya sudah memelas merasa bersalah dan memohon dengan anaknya. Anaknya itu kan tidak pernah tega dari dulu orangnya. Silas sekarang rasanya sudah tidak sabar untuk menemui anaknya. Padahal baru saja ia hina sekarang malah tidak sabar untuk bertemu.
"Suaminya itu pemilik PT A.J.K Corporation Paman. Nama suaminya Arvandi Jafin Kendrick. Paman tahu Mas Arvan memiliki banyak sekali Perusahaan cabang, bahkan hingga ke luar negeri. Pokoknya kaya banget deh Paman!" jelas Levina memberitahu dengan semangatnya.
__ADS_1
Sepertinya Levina lupa kalau Ayla sudah melarangnya memanggil Arvan dengan sebutan Mas. Kalau Ayla ada di sini mungkin tamparan ke sekian kalinya akan melayang lagi ke pipi Levina.
Mendengar penjelasan Levina tentang menantunya membuat mata Silas tampak berbinar-binar senang.
"Kenapa baru beritahu Paman sih. Ck anak itu juga nggak beritahu Ayahnya kalau sudah menikah sama orang kaya dasar memang anak durhaka!" gerutu Silas mengatai kembali Ayla yang tidak bersalah apa-apa sebab yang seharusnya introspeksi adalah Silas sebagai Ayah.
Bagaimana Ayla bisa menelfon atau memberitahu Silas sementara Silas sudah berniat menjual anaknya sendiri untuk menjadi j*lang, untung saja Ayla bisa kabur saat itu.
"Paman tidak usah hiraukan masalah itu lagi, sekarang kan Paman sudah tahu. Aku akan berikan informasi di mana mereka tinggal asalkan Paman ya Paman pasti tahulah apa yang Levina inginkan," ujar Levina dengan seringai serta alisnya yang terangkat satu menatap sang Paman.
Paman itu pun mengangguk dan membalas seringai Levina.
"Gampang itu mah. Beritahu saja sekarang di mana alamatnya, besok Paman akan pergi ke sana. Anak tidak tahu diri itu pasti akan terima Paman lagi, dia kan memang tidak enakan dari dulu," kekeh Silas dengan raut wajah percaya dirinya.
Levina teringat sesuatu setelah mendengar ucapan Pamannya. Levina menggelengkan kepalanya lalu menatap Pamannya serius.
"Tapi, Paman ada sesuatu yang mau Levina beritahukan juga. Ayla sudah berubah dari yang kita kenal dulu. Ayla sekarang bukan lagi Ayla yang lugu, polos dan mudah di bodoh-bodohi sekarang Ayla sudah bisa melawan Paman. Jadi, sebaiknya Paman hati-hati takutnya Ayla malah usir Paman lagi," cetus Levina dengan wajah merahnya menahan marah karena mengingat kejadian di Restaurant tadi saat dirinya mendapatkan penghinaan dari Ayla, bahkan ATM berjalannya pun kini sudah tidak ada akibat Arvan dan Ayla.
Levina bukannya intropeksi diri malah terus menyalahkan Ayla, padahal sejatinya dirinya lah yang salah karena masuk ke ruangan orang lain tanpa adanya persetujuan dari pemilik ruangan.
Silas menyeringai dan menatap remeh Levina stelah mendengar penjelasan Levina itu.
"Mungkin dia bisa bersikap berbeda seperti itu ke kamu karena kalian memang tidak akur dari dulu. Tapi, tentu saja dia tidak akan bisa bersikap tidak baik ke Ayahnya sendiri!" ujar Silas dengan bangganya.
__ADS_1
Levina hanya bisa menatap sinis kepercayaan diri Pamannya yang terlalu tinggi menurutnya. Ia pun hanya berdoa semoga Pamannya bisa membalas rasa sakitnya ke Ayla sekaligus bisa memberikannya keuntungan setelah memeras Ayla. Seringai kembali muncul di bibir Levina memikirkan hal itu.