Cinta Di Bawah Bangku Sekolah

Cinta Di Bawah Bangku Sekolah
masa lalu yang kelam


__ADS_3

" apa kakak mau menitipkan sesuatu?" aku berjalan di balik rak rak buku mencari judul yang bagus dan sesuai dengan tugas yang di berikan guru untuk kelompok kami. aku bertugas mencari buku referensi. cukup mudah bagiku. aku sering ke toko buku ini.aku mengambil sebuah buku yang menurutku sesui dan menaruhnya di meja kasir


" tidak. cepat pulang kalau sudah dapat buku yang kau cari ada sesuatu yang ingin ku bicarakan" kakak terdengar serius. apa terjadi sesuatu.


" baiklah. aku segera kembali." aku menutup telvon itu.suasana toko buku itu cukup sepi. mungkin karena belum libur sekolah.


krieèeet...terdengar pintu terbuka. sontak kamipun menoleh kearah pintu. azka berdiri di depan pintu dan pandangannya terjatuh ke arahku.


"oh..buku pesananmu belum datang. apa kau mau mencari buku lain dulu?" pemilik toko buku itu terdengar akrab kelihatannya azka sering datang ke toko buku ini.


" aku lihat dulu" azka pun pergi menuju rak buku yang berderet deret.


" ini saja?" tanya pemilik toko buku itu membuyarkan lamanunanku.


" apa kau punya judul lain yang seperti ini? aku butuh satu buku lagi tapi aku tidak sempat mencarinya aku buru buru."pemilik toko itu mulai berpikir sejenak.


" oh ada. di bagian atas rak no tiga"


tanpa banyak tanya lagi akupun menuju ke arah yang di tujukan oleh pemilik toko buku itu. cukup tinggi juga letaknya. di bagian paling atas ada buku yang bertumpuk tumpuk sepertinya itu adalah buku yang sengaja di pisah untuk di pindahkan tapi pemiliknya belum sempat. aku mulai berjinjit untuk mengambil buku itu dan tiba tiba .....


brukkkkk buku yang bertumpuk itu jatuh dan hampir mengenaiku. aku sedikit terkejut.untung saja ada yang menarik tanganku


" terima..." belum selesai aku berterima kasih azka melihat ke arahku dengan tatapan aneh.


" bodoh" setelah mengatakan kalimat itu ia langsung pergi tanpa menoleh. aku masih terpana tak percaya dengan apa yang aku dengar. dia dingin sekali. apa yang di sukai para gadis itu dari pribadi dingin sepertinya. kurasa mereka buta.


" apa kau baik baik saja?" tanya pemilik toko ke arahku. ia terlihat khawatir.


" aku tidak apa apa" aku membantu pemilik toko buku memungut buku buku yang berjatuhan itu dan membawa buku yang aku ambil tadi ke kasir.


aku buru buru pulang setelah membeli buku itu. yang ada di pikiran aku sekarang adalah kakak. suaranya terdengar cemas aku takut terjadi sesuatu kepadanya.


"kakak...ada apa? apa terjadi sesuatu? " aku masih kesulitan mengatur nafasku yang terengah engah karena berlari.

__ADS_1


kak viona menghela nafas panjang.ia menudukkan aku di kursi " makan dulu. setelah makan baru kita bicara" aku kebingungan. aku sangat khawatir tapi dia malah menyuruh aku untuk makan.


" tidak kak aku tidak lapar. ayo kita bicara saja. " aku mulai tak sabar.


" sebenarnya bukan hal yang sangat penting..." kak viona melihat ke arahku aku masih menunggu dia menyelesaikan kalimatnya.


" kakak ada kegiatan kampus mendadak. dan harus pergi jauh selama seminggu." kakak terdengar ragu


" aku tidak apa apa kak. lagi pula aku sudah terbiasa sendirian disini. kakak tidak perlu khawatir aku akan menjaga diri."


kakak lama memandang ke arahku." tetap saja aku khawatir. maka dari itu kamu sebaiknya kembali ke rumah ibu dulu untuk sementara. nanti setelah kakak kembali kau bisa pulang."


apa maksudnya. aku tidak mau kembali ke rumah itu. rumah yang membuatku merasa sesak nafas. aku selalu merasa bersalah pada ayahku saat aku tinggal disana.


" aku tidak mau!" jawabku ketus. kakak menghela nafas panjang.


" bukankah kakak bilang kau harus membuka hatimu. apa kau akan terus memikirkan masa lalu? apa kau pikir ayah akan senang mengetahui sikapmu ini?"


aku tau. tapi masa lalu itu terlalu sulit untuk hilang. aku bukannya tidak menerima kehidupan baru ibu. aku hanya merasa bersalah pada ayah saat memanggil orang lain sebagai ayahku. saat di rumah ibu aku selalu mengingat kenangan kenangan saat ayah masih ada. dan itu membuatku marah.


" baiklah kak. aku ikut pendapatmu. " aku mengalah. aku tidak mau selalu membuat kakakku khawatir.kak viona memelukku dari belakang kursi.


" kau harus lebih dekat dengan mereka. dengan begitu kau akan mengerti bahwa kau tidak sendirian. mereka juga kelurga kita."


" iya aku mengerti" jawabku pasrah. kakak memang lebih bijak dari aku. dia lebih faham tentang hidup. karen itu dia tidak menangis saat ayah pergi. dia hanya berdiri mematung menatap ke arah jasad ayah. dan terduduk diam seolah olah dia telah kehilangan separuh jiwanya. ia mengerti bahwa sebagai anak yang tertua dia harus menjaga aku dan ibu. dan saat ibu memutuskan untuk melanjutkan hidupnya dia menghormati keputusan ibu dan menerimanya.


aku merebahkan tubuhku di atas kasur sambil memandangi pena pemberian dari ayah. ini adalah hadiah ulang tahun terakhir dari ayahku sebelum ia meninggal. kejadian itu masih teringat jelas di dalam ingatanku.


saat itu umurku sembilan tahun. usia dimana kita akan mampu mengingat setiap kejadian. hari itu adalah hari ulang tahunku. ia tiba tiba mendapatkan telfon mendesak dari kantornya. ibu mebghampiri ayahku dan brtanya apa yang terjadi.


" aku harus pergi ke kantor. ada masalah yang cukup serius " ucap ayahku dengan nada khawatir. ayah melihat ke arah ku dengan perasaan sedih


" erika maafkan ayah ya. ayah tidak bisa merayakan hari ulang tahunmu." ucapnya merasa bersalah.aku tidak berkata apa apa aku hanya cemberut dan kecewa.

__ADS_1


" erika .kan ada ibu dan kak viona kita akan merayakannya dengan sangat meriah" ibu berusaha meghiburku. aku masih tetap diam sambil menatap ke arah ayah dengan tatapan sayu. ayah menghela nafas dan mulai membijukku lagi.


" ayah janji sebelum matahari terbenam ayah akan membawakan hadiah yang istimewa untukmu bagaimana?" akupun mulai luluh dengan bujukan ayah.


"janji ya..."jawabku lirih. ayah mengangguk pelan. dan mulai pergi dengan tergesa gesa. aku menatap punggung ayah yang mulai menjauh. entah kenapa aku merasa tidak enak melihat kepergian ayah. seolah punggung itu tidak akan pernah berbalik lagi.


aku menunggu kedatangan ayah di depan rumah. aku mulai tak sabar . aku melihat jam beberapa kali. seharusnya ayah sudah pulang matahari sudah akan terbenam. ibu mendantangiku beberapa kali membijukku untuk masuk dan menunggu ayah di dalam" tidak mau." jawabku ketus ke arah ibu.


hari mulai gelap tiba tiba saja air mata menetes dari pipiku. " ayah berbohong." ucapku lirih. ibu menunduk dan menghapus air mataku " sayang . ayah tidak bermaksud membohongimu. pekerjaannya pasti sangat banyak. " hibur ibu. tiba tiba saja ponsel ibu berbunyi. ibu menatap ponsel itu . " ini pasti ayah telfon untuk memberi kabar. " ibu pun mengeraskan suara nya agar kami dapat mendengar dengan jelas.


" halo. " terdengar suara seorang perempuan yang berbicara. ibu terlihat kebingungan.


" apakah anda keluarga dari pemilik ponsel ini? "


" iya saya istrinya. ini siapa ya.?" tanya ibu tak sabar.


" oh maaf saya hanya ingin memberi tahu kalau suami ibu mengalami kecelakaan dan sekarang sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. " kami pun terkejut seketika. ibu jatuh terduduk beberapa saat dan langsung berlari kamipun mengikutinya dari belakang. perasaaan kami campur aduk sambil berharap semoga ayah baik baik saja.


kamipun tiba di rumah sakit tujuan seperempat jam kemudian di karenakan jalanan yang padat. tampak beberapa orang menghampiri kami dengan tegang perasaan kami mulai tidak enak


" apakah anda yang menelpon tadi ? tanya ibuku dengan rasa cemas. " iya" wajah orang itu terlihat sedih melihat kami. " dimana suamiku sekarang? " ibu mulai tak sabar. orang itu tak langsung menjawab. " maaf bu. suami anda meninggal saat dalam perjalanan." tangis kami pun pecah. kami tak menyangka bahwa tadi pagi adalah kali terakhir kami bersama ayah.


saat tangis kami mulai sedikit tenang orang itu menyerahkan sebuah kotak kecil kepada kami. akupun langsung mengerti kalau itu adalah hadiah ulang tahunku. aku mengambilnya denga tangan gemetar. ibu memelukku erat. berusaha menengkan aku


" korban memegangnya dengan sangat erat. sambi terus menyebut sebuah nama erika." perkataan orang itu membuat tangisku semakin pecah. dan aku mulai merasa pusing dan mataku berkunang kunang seketika tubuhku ambruk di pelukan ibu.


" erika." panggilan kakak membuyarkan lamunanku. seketika mimpi kelam itupun berakhir.


" ya kak?" tanyaku sambil berusaha menghapus air mata sebelum kakak melihatnya.


" kakak sudah memberitahu ibu dan dia bilang jordy akan menjemputmu besok. "


" ya ...baiklah." ucapku pelan dan mulai beberes barang barang yang akan aku bawa besok.

__ADS_1


#########


__ADS_2