
erika berdiri memandang ke langit yang nampak cerah. ia melihat jam di ponselnya dan mengambil nafas cukup panjang. jantungnya tidak berhenti berkecamuk.
" dia terlambat." aku harusnya tidak datang terlalu awal. apa yang harus aku katakan nanti ketika bertemu dengannya. apakah aku harus bertanya alasan dia menciumku. kurasa itu akan sedikit memalukan. lebih baik aku berpura pura hal itu tidak pernah terjadi.
" ada apa?" suara itu membuat erika tersentak dan menoleh seketika. azka memandang ke arahnya dengan ekspresi yang tidak bisa di tebak. ia terpaku dengan penampilan azka yang sangat keren dengan jaket hitamnya.
" kau sudah datang." aku merasa gugup. entah kenapa aku jadi lupa apa yang hendak aku katakan.
" apa kau kesini ingin mengajak aku kencan. " jawab azka menggoda. jantungku masih terus berdebar tapi ucapannya membuat ku kesal.
" kencan apa maksudmu.?" tanyaku berusaha untuk tenang.
" yah....karena aku menciummu kemarin....." perkataan azka membuat erika kelabakan.
aku berusaha untuk tidak mengungkitnya. tapi ia mengingatkanku kembali. apa hanya aku yang tidak bisa tidur dan merasa resah karena di cium. apa dia sudah terbiasa mencium orang sehingga itu tidak ada apa apanya baginya. tapi walau begitu itu adalah ciuman pertamaku. dia tidak seharusnya menciumku tanpa permisi.
" aku tidak mengerti apa maksudmu. ini." aku menyerahkan jaketnya yang aku pinjam tempo hari. aku ingin segera mengakhiri percakapan ini.
" kupikir kau akan menyimpanya. aku sudah menunggu ini cukup lama" goda azka lagi.
" maaf saja. aku tidak tertarik dengan jaketmu. sekarang kembalikan milikku." ucapku tanpa berbasa basi aku tau kalau pena itu ada padanya.
" apa.yang harus aku kembalikan padamu. apakah ciuman itu."
uh....cukup sudah dia buat aku kesal apa dia tidak lihat aku hampir meledak karena malu. kenapa dia terus saja membicarakan ciuman itu. dia sengaja menggodaku.
" jangan berpura pura lagi. kembalikan penaku." aku mulai tak sabar.
azka mengeluarkan pena dari dalam saku celananya. aku berusaha mengambilnya dengan cepat tapi ia menariknya ke atas.
" hei....kembalikan itu."
azka tersenyum datar.dia pasti merencanakan sesuatu. senyumnya penuh dengan siasat licik.
"apakah ini sungguh milikmu. tidak ada namanya disini. bagaimana aku harus percaya padamu."
__ADS_1
aku menggertakkan gigi. jelas jelas dia tahu itu penaku. tapi masih mencari alasan untuk bermain main.
" tolong kembalikan pena itu." aku mencoba merendah.
" boleh saja kuberikan tapi aku menyukai pena ini. bagaimana ya." azka pura pura memelas.
" aku akan menggantinya. " tidak mengerti kenapa aku harus berusaha untuk mendapatkan pena yang jelas jelas adalah milikku.
" bagaimana kalau kau menggantinya dengan dirimu."
apa maksudnya. aku memandangnya tak mengerti.
" kau jadi pacarku dan lakukan apa yang aku suruh. " lanjutnya lagi.
apa ini. apa dia sedang menembakku. atau memerasku. dia tidak kekurangan gadis untuk menjadi pacarnya. bahkan di sekolah akan berebutan gadis yang ingin dekat dengannya dan bermimpi untuk berbicara padanya. dia ingin aku jadi pacarnya apakah punya perasaan padaku atau ingin mempermainkan aku.
" konyol sekali. itu penaku kenapa aku harus menuruti ucapanmu untuk mendapatkan pena yang jelas jelas adalah milikku."
azka menghela nafas. " sepertinya ini tidak cukup berharga bagimu. jadi tidak masalah kalau kau membeli lagi yang baru." azka erbalik dan berjalan pergi. aku mulai kebingungan.
" tunggu." aku menghentikan azka yang belum jauh berjalan.ia berhenti kemudian menoleh.ku haral aku tidak pernah mengatakannya.memangnya kenapa kalau pacaran bukan berarti yidak bisa putuskan.
" baik. aku terima syaratmu. "
azka terseyum licik. " syarat yang mana?" tanyanya pura pura lupa.
" aku akan menjadi pacarmu dan menuruti perkataanmu. "
" apakah seperti itu caramu memohon. kenapa terkesan aku yang memaksamu. mintalah aku untik jadi pacarmu dengan tulus."
bukankah kau memang sedang memaksaku. sekarang masih bertampang tidak bersalah begitu. ish...sialan. kenapa aku harus bertemu masalah dengannya.
" maukah kau jadi pacarku?" tanyaku malu malu. aku tidak pernah dalam situasi ini sebelumnya. ini sungguh memalukan sekali. aku ingin kabur rasanya.
" baik aku terima. kau boleh jadi pacarku." azka maju mendekat ke arahku kemudian mencium dahiku. aku masih tercengang dengan apa yang dia lakukan.
__ADS_1
" aku sudah merekam pernyataanmu jadi kau tifak bisa kabur. jangan harap dapat mengatakan putus nantinya. " bisiknya ke telingaku. dia memang orang yang licik.
" aku menunggu kejutan dari pacarku. dah..." azka menyerahkan pena itu di tanganku. aku masih tidak percaya apa yang terjadi. pacar. aku punya pacar sekarang..sungguh aneh. aku merasa bahagia di dalam lubuk hatiku.
aku memandang azka yang semakin menjauh. aku lihat pena di tanganku dan menghela nafas panjang. akunberbalik hendak pergi. tapi aku terkejut karean melihat selena melihat ke arahku dengan tatapan tajam. tatapannya seakan marah dan benci padaku.
sepertinya selena melihat semua yang terjadi antara aku dan azka. apa yang harus aku lakukan. aku menuju ke arah syeila hendak menjelskan.
" selen...apa kau...." tanyaku ragu ragu.
" kupikir. aku salah lihaat. ternyata benar itu kamu. kalian...pacaran? " tanyanya dengan ekspresi sedih. aku bingung mau menjawab apa. dari pada pacaran itu lebih cocok di sebut dengan perjanjian atau pemaksaan. diriku sendiri bingung.
" ternyata benar." unkapnya dengan penuh kecewa. aku semakin merasa bersalah mengingat ia menyukai azka.
" ini tidak seperti yang kau pikirkan. kau salah paham. " aku berusaha mendapat pengertian. aku tidak ahli dalam memvujuk orang.
" salah paham. dia bahkan menciummu. dimana letak kesalahannya." selena terlihat sangat marah. aku tidak bisa berkata apa apa lagi.
"maaf." jawabku pelan.
selena mengengam tangannya dan berpaling. ia berlari menjauhiku. aku hanya bisa menatapnya tanpa bisa berbuat apapun. temanku yang baru aku dapat merasa tersakiti karena diriku. aku memang bukan teman yang baik. apakah aku tidak di takdirkan untuk memliki teman.
aku menatap ke arah langit. jika ku ingat lagi waktu yang kita habiskan bersama aku tak rela kehilangan mereka. apa yang bisa aku lakukan.
aku berjalan pulang dengan perasaan tak karuan. hari ini banyak yang sudah tetjadi.mulai dari aku mendapat pacar yang mendadak dan kehilangan teman secara mendadak pula. apakah nasib sedang memlermainkan diriku.
awan hitam mulai berkumpul dan tak lama setelah itu turun rintik rintik hujan. tapj aku tidak menghindar. aku ingin hujan mengguyur tubuhku. agar aku dapat merasakan kedinginan dengan begitu aku tau bahwa aku masih hidup. entah berapa kali aku meratapi hidupku. aku ingin rasanya mengakhirinya. untuk siapa debenarnya aku bertahan.
" erika..." aku terkejut ada seseorang yang menarik lenganku tatkala ada sebuah mobil hendak menyerempet tubuhku.
" apa kau gila. kau mau mati ya...!" seyrli menatapku penuh emosi. dia jadi basah kuyup.
" terima kasih."ucapku tak bersemangat.
" ada apa? " tanyanya khawatir
__ADS_1
" aku....bolehkah ku pulung dulu. aku ingin sendiri dulu" aku berjalan melewati syerly yang melihatku dengan cemas. aku tidak ingin bicara apa apa sekarang. aku ingin menenagkan diri dulu.