Cinta Dibalik Penolakan

Cinta Dibalik Penolakan
Pemakaman Papa Zaky


__ADS_3

"Berjanjilah Zayn, waktuku sebentar lagi," entah sudah berapa kali papa Zaky berkata seperti itu.


"Iya pa, aku bersedia," jawab Zayn akhirnya. Ia terdesak oleh keadaan papa Zaky yang semakin memburuk dan benar saja setelah mendengar jawaban Zayn, dilayar monitor sudah menunjukkan garis datar bersamaan dengan pecahnya tangisan mama Zafran yang melihat suaminya sudah terkulai tak bernafas lagi.


"Papaaaaaa, jangan tinggalin mama," Zafran berusaha menenangkan mamanya yang semakin histeris memeluk papa Zaky. Sebelumnya ia sudah memencet tombol untuk memanggil dokter.


Tidak lama berselang dokter pun datang keruangan itu, mereka melakukan pompa jantung pada papa Zaky tapi tidak lama kemudian dokter itu mengelengkan kepalanya.


"Maaf tuan Zafran, kami tidak bisa menyelamatkan tuan Zaky," Zafran yang sedari tadi memeluk mamanya terlihat menghempaskan tangannya. Ia yang selama ini terkenal sebagai pengusaha muda berdarah dingin ternyata bisa juga meneteskan air mata melihat papanya sudah tidak bernyawa didepan matanya.


"Tidak mungkin dok, lakukan sesuatu untuk suamikuuu," teriak mama Zafran.


Sedangkan Dimas sendiri tanpa ia sadari air mata juga menetes dari sudut matanya. Entah kenapa ia seperti mengingat suatu hari bahagia bersama papa Zaky tapi itu semua masih samar untuknya. Semakin ia memaksa mengingat semuanya, kepalanya semakin terasa mau pecah.


"Ma sudah yah, ikhlaskan papa," ucap Zafran pada mamanya yang masih histeris. Meskipun ia sebenarnya juga tidak bisa menerima kepergian papanya secepat itu tapi ia masih bisa mengendalikan dirinya.


Akhirnya setelah Dimas atau Zayn ikut menenangkan mamanya, ia pun tidak histeris lagi. Zayn memang adalah anak kecil kesayangan mamanya.


"Zayn, papa sudah ninggalin kita untuk selama-lamanya," ucap mamanya, Zayn lalu memeluk wanita itu. Ia bisa merasakan sakit yang dialaminya. Meskipun ia tidak mengatakan apa-apa tapi hanya dengan pelukannya mama Mira menemukan kedamaian.


Mereka mengantar papa Zaky ke peristirahatan terakhirnya dengan gerimis hujan yang turun membasuh bumi. Disana tampak pula Delia dan keluarganya. Zafran sudah memperingati Dimas untuk berlaku baik pada keluarga Delia.


Semua yang berada dipemakaman memakai kacamata hitam sehingga tidak nampak kesedihan dimata mereka. Mama Mira beberapa kali pingsan, Zafran bergantian dengan Dimas menopang dan memeluknya.


Setelah selesai pemakaman, mereka kembali kerumah masing-masing. Keluarga Delia belum sempat bicara banyak pada Dimas karena mereka tau keluarga Faresta sekarang sedang berduka. Dimas hanya menyalami kedua orangtua Delia meski ia sebenarnya belum tau siapa mereka itu.


Sesampainya dimansion keluarga Faresta, Dimas merasa takjub dengan rumah yang seperti istana tersebut. Ia dan Zafran membawa mama Mira kedalam kamar, mereka keluar saat mama Mira sudah lebih tenang.


"Kita harus bicara sekarang," ucap Dimas setelah mereka berada diluar kamar.

__ADS_1


"Kita bicara disana," Zafran berjalan menuju sofa ruang keluarga, menyusul Dimas dibelakangnya.


"Namaku Zafran, kamu biasa memanggilku KAK Zafran," ucap Zafran memberi penekanan pada kata kakak.


"Baiklah kak, tapi bagaimana keadaan Tari sekarang?" tanya Dimas yang sejak tadi memikirkan Tari.


"Dia baik-baik saja, Delia sudah menempatkannya di ruang perawatan VVIP," balas Zafran.


"Ingat Zayn, kamu sudah berjanji sama papa akan melanjutkan pernikahanmu dengan Delia," ucap Zafran.


"Mulai sekarang kamu bukan lagi Dimas tapi Zayn Argy Faresta," lanjut Zafran. Zayn meremas wajahnya kasar.


"Aku pasti akan menepati janjiku, tapi aku juga ingin minta satu hal sama kamu," ucap Zayn kemudian.


"Katakan saja, apa yang mau kamu minta," balas Zafran.


"Aku minta kamu juga bersedia menikahi Tari," ucap Zayn lantang membuat Zafran membulatkan mulutnya.


"Aku serius dan aku tidak gila. Tari sekarang sedang mengandung anakku, kalau kamu mengaku kakakku, kamu juga pasti tidak ingin calon keponakanmu memiliki ayah lain," sahut Zayn tidak kalah berteriak. Zafran menghela nafas berat dan meremas kasar wajahnya.


"Kalau kamu tidak mau menikahi Tari, apapun alasannya aku tidak akan tinggal dirumah ini," kata Zayn lagi.


Lama Zafran terdiam, ia memikirkan hubungan keluarga Delia dan keluarganya yang selama ini terjalin sangat baik, apalagi Zayn sudah lama bertunangan dengan Delia atas dasar suka sama suka karena mereka saling mencintai. Tapi benar kata Zayn, wanita yang sekarang mengandung anaknya tidak boleh menikah dengan oranglain.


Zafran memang sudah cukup matang untuk berumah tangga tapi karena selama ini ia sibuk mengurus perusahaan, ia bahkan tidak pernah menghiraukan wanita-wanita yang antri dibelakangnya. Ketampanan dan kekayaan yang dimilikinya membuat tidak sedikit wanita dari kalangan atas rela mengemis cinta padanya, tapi ia sama sekali tidak melirik mereka apalagi ia pernah merasakan sakit hati karena ditinggalkan oleh orang yang sangat dicintainya, membuat ia sulit untuk membuka hati lagi.


"Baiklah aku akan menikahi wanita itu," jawabnya dengan helaan nafas yang sangat berat.


"Namanya Tari, dia sudah semester akhir sekarang," balas Zayn dengan wajah sendu.

__ADS_1


"Tapi aku harap setelah kami menikah, anggap kamu tidak pernah mengenalnya. Anakku ataupun anakmu sama saja karena dia juga akan tetap menjadi anak kita berdua, bagian dari keluarga Faresta," ucap Zafran tanpa ekspresi.


"Baik, aku janji tidak akan mengganggu hubungan kalian, tapi kamu harus membahagiakan dia," balas Zayn.


"Rumah tanggaku nanti adalah urusanku sendiri, kamu tidak boleh ikut campur apapun itu," ucap Zafran membuat Zayn menarik nafas dalam-dalam.


"Baiklah, kapan kamu akan menemui orangtua Tari?" tanya Zayn.


"Besok," jawab Zafran singkat.


"Tari mungkin akan mengatakan aku pengecut, tapi aku tidak akan menemuinya lagi sampai kalian menikah, aku tidak sanggup melihat ia menangis lagi," Zayn terlihat mengusap matanya yang sudah berkaca-kaca.


"Apa sedalam itu kamu mencintai dia? Apa kamu sudah melupakan bagaimana kamu sangat mencintai Delia dan memaksa papa untuk cepat melamarnya?" tanya Zafran tidak habis fikir dengan perubahan Zayn saat ini.


"Aku tidak ingat apa-apa sekarang selain kebersamaanku dengan Tari," balas Zayn.


"Kamu harus keluar negeri secepatnya untuk memulihkan ingatanmu, aku akan mengatur keberangkatanmu besok, aku akan meminta keluarga Delia untuk memajukan pernikahan kalian sampai kamu kembali."


"Temanku punya kenalan dokter yang sangat berkompoten menangani amnesia, ia bisa memulihkan pasien hanya dalam waktu beberapa bulan.


"Aku akan mengikuti semua kata-katamu," balas Zayn.


"Disana ada lift, naikkah keatas, dilantai tiga adalah kamarmu, pergilah beristirahat," ucap Zafran menunjuk kesudut ruangan.


"Baiklah," Zayn kemudian berlalu meninggalkan Zafran sendiri diruang keluarga.


"Apa keputusanku sudah betul pa? aku harus menikahi wanita yang tidak aku kenal sama sekali untuk menyelamatkan hubungan Zayn dan Delia," Zafran menunduk sambil meremas rambutnya.


Sementara Zayn yang sekarang berada dikamarnya, mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, ia melihat banyak foto Delia dan dirinya disana bahkan ada foto besar berbentuk poster saat mereka sedang melakukan pertunangan.

__ADS_1


🤩 Jangan lupa dukungannya readers kesayangan mommy😘


💙 Cinta boleh datang dan pergi sesuka hati asal jangan pada saat kamu telah memantapkan hati untuk menjalin hubungan yang lebih serius dengan seseorang🤗


__ADS_2