
Tiga minggu kemudian
Hari ini adalah hari terakhir Tari dan mahasiswa lainnya berada didesa Suka Bangun tempat mereka melakukan KKN, yaitu desa tempat tinggal bu Mina sekeluarga.
Sejak pagi para mahasiswa tersebut sudah sibuk mengurus acara penutupan yang akan dilakukan siang ini, tapi Tari sudah beberapa hari terlihat pucat dan tidak bersemangat.
Sejak kejadian tiga minggu yang lalu di Pondok Bambu, hubungan Tari dan Dimas agak merenggang, Tari lebih banyak menghabiskan waktu didalam kamar setelah pulang dari kantor desa, ia jarang bertegur sapa dengan Dimas. Tari belum bercerita apa-apa pada kedua sahabatnya Nara dan Chery, mereka pun tidak ingin bertanya lebih banyak pada Tari sebelum Tari sendiri yang mengatakannya.
"Tar, lu gak ikut ke kantor desa?" tanya Nara yang melihat Tari masih tidur dikasur dengan wajah pucat.
"Lu kenapa sebenarnya Tar, lu sakit?" Nara duduk didekat Tari.
"Nar, boleh kunci pintunya dulu, ada yang mau gua omongin sama lu," ucap Tari seolah tidak terdengar. Nara pun bangkit untuk mengunci pintu. Untungnya dirumah itu hanya Nara dan Tari mahasiswa yang masih tinggal, yang lainnya sudah berada dikantor desa mengurus acara penutupan termasuk Chery, sedangkan bu Aminah masih dipantai menunggui pak Asep.
"Ada apa Tar?" tanya Nara setelah mengunci pintu.
Dengan berurai air mata Tari pun akhirnya menceritakan kejadian yang terjadi dengannya dan Dimas di Pondok Bambu.
"Apa? Lu tidak bercanda kan Tar?" tanya Nara membelalakkan kedua matanya.
"Gua serius Nar, untuk apa gua bohong," jawab Tari terisak.
"Gua takut Nar, gua takut gua hamil sekarang karena udah tiga hari gua merasa gak enak badan, terus kalau pagi juga gua mual-mual dan pusing."
"Yang paling parah tadi, gua bener-bener udah lemas banget," ucap Tari masih terisak.
"Terus apa yang mau lu lakuin sekarang?" tanya Nara mencoba menenangkan dirinya.
"Gua juga gak tau Nar, gua bingung."
__ADS_1
"Kalau begitu kita tidak akan kembali sebelum menuntaskan masalah ini disini, aku yang akan minta izin pada pak Dani agar kita bisa tinggal sampai besok sore. Aku akan menghubungi papaku supaya mengirim sopir kemari untuk menjemput kita," ucap Nara.
"Tapi gua gak mau ketemu sama mas Dimas, Nar."
"Bagaimana masalah ini selesai kalau lu gak mau ketemu sama mas Dimas, kita harus membicarakan ini bersama-sama," lanjut Nara. Tari hanya menghela nafas kasar.
"Apa lu gak apa-apa gua tinggal bentar ke kantor desa?" tanya Nara.
"Iya, gua gak apa-apa Nar, gua cuma pengen istirahat, kalau bangun rasanya kepala gua pusing banget," jawab Tari.
"Ya udah lu istirahat aja, gua pergi dulu yah, gua juga mau ketemu sama mas Dimas untuk membicarakan hal ini dan mengambil langkah selanjutnya," Usai berkata begitu Nara pun keluar dari kamar yang dibalas anggukan oleh Tari.
Nara berangkat ke kantor desa ikut sama tetangga bu Minah yang juga hendak ke kecamatan pagi itu. Sesampainya dikantor desa ia langsung mencari keberadaan Dimas. Nara mendapati Dimas sedang mengetik diruangan sekretaris desa, ia mendekati Dimas dan langsung melayangkan satu tamparan dipipi kirinya.
Plak...
"Nar, kamu apa-apaan sih, datang-datang langsung main tampar," tanya Dimas dengan suara pelan sambil mengusap-usap pipinya. Untungnya tidak ada orang diruangan itu selain dirinya dan Nara.
"Maafkan aku Nara, maafkan aku, aku janji akan mempertanggung jawabkan perbuatanku," ucap Dimas menunduk. Ia kini menyadari kemarahan Nara.
"Tidak adalagi yang perlu disesali mas, sekarang kita harus berfikir bagaimana caranya menyelesaikan masalah ini," ucap Nara.
"Katakan padaku Nar, aku akan melakukan apapun asal itu bisa membuat Tari kembali bahagia," sahut Dimas meyakinkan.
"Aku curiga sekarang Tari hamil, untuk memastikan itu mas Dimas harus ke apotek kecamatan mencari tes kehamilan. Dan kalau dugaanku benar, kami akan menunda kepulangan sampai besok supaya mas bisa ikut dengan kami ke kota S," ucap Nara.
"Baiklah Nar, aku akan ke kecamatan sekarang juga," balas Dimas berdiri dari tempatnya duduk kemudian berlalu keluar. Ia terlebih dulu pamit pada salah satu staf desa yang bisa menggantikannya sementara mengerjakan tugasnya yang belum selesai.
"Aku tunggu disini mas, kita sama-sama pulang kerumah sebentar," ucap Nara yang dianggukkan oleh Dimas.
__ADS_1
Berselang dua jam, Dimas sudah kembali dan seperti janjinya ia menjemput Nara terlebih dulu dikantor desa sebelum pulang kerumah. Nara juga sudah minta izin pada pak Dani untuk menemani Tari yang sedang sakit. Ini kesempatan bagus bagi mereka untuk mengatur langkah selanjutnya karena dirumah hanya ada mereka bertiga.
Sesampainya dirumah, Dimas dan Nara langsung masuk ke kamar Tari, Tari terlihat sedang memijat-mijat kepalanya, ia semakin lemas karena tidak mau makan.
"Tar, maafin aku yah," ucap Dimas yang sudah duduk didekat Tari, ia merasa sangat kasihan melihat kondisi Tari saat ini. Tari yang ditemani bicara hanya diam saja dengan pandangan kosong.
"Tar, lu pake ini dulu yah, kita perlu memastikan keadaan lu sekarang," kata Nara menyodorkan alat tes kehamilan pada Tari.
"Gua mohon Tar," Tari menatap Nara dan Dimas bergantian.
"Tolong Tar," kali ini Dimas yang bicara.
Sebelum Tari berdiri dari tempat tidur ia kembali menghela nafas berat seberat beban fikirannya saat ini. Ia mengambil alat yang tadi diberikan oleh Nara dan berjalan gontai menuju ke kamar mandi diluar kamar.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Dimas sambil menopang tubuh Tari yang hendak terjatuh.
"Aku bisa sendiri kog mas," balas Tari pelan.
Setelah beberapa menit ia kembali dari kamar mandi, Ia langsung menangis histeris sambil memeluk erat Nara. Ia menyodorkan alat tadi yang sudah dipakainya pada Nara. Nara mengambilnya pelan-pelan dan ia ikut menangis saat melihat dua garis merah yang masih buram di alat tersebut.
"Ada apa Nar?" tanya Dimas pelan. Nara langsung memberikan alat tespack tersebut pada Dimas. Antara sedih bercampur bahagia bulir bening jatuh dari sudut matanya. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya ia berkata pada Tari.
"Aku akan bertanggung jawab Tar, kalau kamu mengizinkan aku akan ikut dengan kalian besok ke kota S, aku akan menemui orangtuamu," Dimas ingin sekali memeluk Tari memberi ketenangan dalam dekapannya tapi Tari masih memberi jarak padanya.
"Lu dengar sendiri kata mas Dimas kan Tar, jadi lu harus kuat, lu gak boleh lemah kayak gini," ucap Nara merenggangkan pelukannya pada Tari.
"Semua pasti akan terlewati, gua selalu ada disini buat lu Tar," ucap Nara masih mencoba menenangkan Tari.
"Iya Tar, Nara benar, kita akan menghadapi semua ini sama-sama. Aku sangat menyesal, maafin aku Tar," Dimas tidak henti-hentinya meminta maaf pada Tari. Tari yang mendengar itu semakin terisak.
__ADS_1
🤩 Jangan lupa LIKE, VOTE, dan KOMENTnya yah readers, maaf kalau banyak kekurangan😘🙏
❤️ Badai itu harus dilewati, bukan malah mundur dan berputar balik, karena setelah hujan pasti akan muncul pelangi🤗