Cinta Dibalik Penolakan

Cinta Dibalik Penolakan
Wedding Day


__ADS_3

Tiga Hari Kemudian


"Lu cantik banget Tar," ucap Nara dan Chery saat Tari selesai dirias oleh MUA paling terkenal di kotanya.


Tari memang terlihat sangat cantik dalam balutan kebaya berwarna putih dengan riasan wajah yang tidak terlalu mencolok. Usia kandungannya yang baru memasuki bulan kedua belum menampakkan perutnya yang membuncit sehingga masih bisa mengenakan pakaian kebaya.


"Gua beneran mau nikah Nar, Cher?" Ia seolah bertanya dengan pertanyaan yang sudah ia tahu jawabannya.


"Iya Tar, entar lagi lu udah jadi bini orang." Ucapan Nara diiringi setetes bulir bening yang jatuh dari sudut matanya.


"Lu kenapa nangis Nar?" Tanya Tari.


"Gua enggak tau Tar, apa harus bahagia buat lu karena udah mau nikah atau harus sedih karena yang bakal nikahin lu bukan orang yang udah buat lu bunting," balas Nara.


"Dukungan kalian selama ini udah bikin gua kuat, Nar." Mereka bertiga pun kembali berpelukan.


"Pokoknya apapun yang terjadi nanti, lu jangan sampe enggak ngasi tau gua dan Nara," timpal Chery.


"Pasti Cher, hanya kalian sahabat-sahabat terbaikku," balas Tari.


"Tari bersiaplah nak, pengantin pria sudah ada didepan." Kata Mamanya yang baru saja masuk kedalam kamar Tari.


Sesuai permintaan Zafran dan Tari, mereka ingin mengadakan akad nikah dirumah saja mengingat keluarga Faresta juga masih dalam keadaan berduka. Saat Tari keluar kamar menuju meja akad nikah diantar oleh mamanya, semua mata yang ada diruangan itu tertuju padanya termasuk Zafran yang sudah berada didepan penghulu dengan pakaian adat berpasangan yang dikenakannya sesuai pakaian yang dipakai oleh Tari. Mata Zafran sampai tidak berkedip memandang Tari, ia mengakui kecantikan alami yang dimiliki oleh Tari tapi ia buru-buru memalingkan wajahnya saat manik Tari bertemu dengan maniknya.


Tari merasakan jantungnya berpacu dengan kencang saat ia duduk disamping Zafran. Sedangkan Zafran pandangannya saat ini lurus kedepan, ia tidak memperdulikan keberadaan Tari didekatnya. Mama Zafran yang sejak tadi ikut terpana melihat kecantikan Tari lansung berdiri memasangkan selendang putih pada kepala calon mempelai. Itu untuk yang pertama kalinya Tari bertemu dengan calon mertuanya yang ternyata sangat baik dan ramah. Zafran memang belum pernah mengenalkan Tari sama sekali pada mamanya karena melihat mamanya setiap hari bersedih.


"Panggil saja mama Elisa sayang," bisiknya ditelinga Tari sambil melebarkan senyumnya saat ia melihat Tari seolah bingung harus berkata apa.


"Iya ta...eh Mama Elisa," jawab Tari terbata-bata karena belum terbiasa.


"Ya Tuhan, cantik sekali wanita ini," batin Tari. Mama Zafran saat itu mengenakan kebaya modern yang warnanya senada dengan rok yang tas yang dijinjingnya.

__ADS_1


"Apa semua sudah siap, kita mulai sekarang saja akadnya," kata pak penghulu yang diiyakan oleh semua orang yang berada diruangan itu.


Pernikahan Tari hanya dihadiri oleh kedua orang tua dan kedua sahabatnya serta para asisten yang bekerja dirumahnya sedangkan dari Zafran hanya ada mam Elisa, Arya, dan pak Udin sopir pribadi Zafran.


"Saya terima nikah dan kawinnya Tari Zemira Salsabila binti Arif Irawan dengan mas kawin sebidang tanah seluas 10000 meter persegi beserta bangunan diatasnya tunai karena Allah." Zafran bisa melafazdkan akad nikah tanpa kesalahan hanya dalam satu tarikan nafas. Ada desiran hebat yang sangat terasa dalam darah Tari saat Zafran selesai mengucapkan akad nikah, ia kini benar-benar sudah menjadi istri dari seorang Zafran Faresta, kakak kandung ayah dari janin yang dikandungnya saat ini.


"Bagaimana para saksi, sah?"


Sah...Sah...Sah...


Ucap semua orang yang berada diruangan itu. Tari lalu meraih tangan Zafran dan menciumnya, begitupu Zafran membalas dengan mengecup kening Tari. Mereka kemudian melakukan sungkeman kepada ketiga orangtua yang saat ini sudah menitikkan air matanya. Ini adalah yang pertama kalinya pada masing-masing orangtua itu menikahkan anak mereka. Kalau orangtua Tari menangis hanya karena terharu bahagia, lain halnya dengan mama elisa yang selain menangis bahagia juga merasa sedih karena saat ia mengantarkan Zafran menuju pintu pernikahan, papa Zaky sudah tidak ada menemaninya.


Tari lama sekali memeluk mamanya. Ia kembali teringat saat-saat kebersamaannya dengan Zayn. Teringat bayi yang sedang dikandungnya akan memiliki seorang ayah tapi bukan ayah biologisnya.


Sampai pada Nara dan Chery, Tari sudah sangat sesegukan.


"Semoga bahagia yah Tar," ucap keduanya hampir bersamaan.


"Iya Tar, grup kita masih aktif kan?" Nara menambahkan.


"Iya aku enggak kemana-mana kog, kita masih berada dibumi yang sama," ucap Tari bercanda berusaha menyenangkan dirinya sendiri.


"Sebelum pulang kita menikmati dulu makanan ala kadarnya yang sudah disiapkan bi Imah yah," kata mama Tari pada semua yang ada disana.


"Anak jeng sangat cantik," ucap mama Elisa pada mama Tari saat mereka sedang menikmati hidangan makan siang, mereka terlihat mulai mengakrabkan diri.


"Panggil saja ibu Mutia, bu." Jawab Mama Tari.


"Terima kasih pujiannya bu, Tari sekarang sudah jadi anak ibu, mohon dibimbing kalau ia buat kesalahan. Anggap anak sendiri bu." Ucap mama Mutia.


"Pasti bu, saya juga tidak punya anak gadis. Saya cuma punya dua anak laki-laki tapi yang satu sekarang sedang diluar negeri berobat karena mengalami hilang ingatan," jawab mama Elisa.

__ADS_1


"Makasih bu."


"Dia adiknya nak Zafran? emang kenapa bisa hilang ingatan bu?" Tanya mama Mutia penasaran.


"Iya bu, ceritanya panjang, nanti kita atur waktu buat ketemu untuk cerita-cerita lagi yah." balas mama Elisa.


"Baiklah bu, silahkan dilanjut makannya." Ucap mama Mutia kemudian beralih ke tamu-tamu lain.


Setelah makan siang, keluarga Zafran pun mulai berpamitan pada satu persatu keluarga Tari.


"Kamu benar-benar mau ninggalin mama, Tar?" mama Mutia mempererat pelukannya pada Tari seolah tidak ingin putri tunggalnya itu keluar dari rumah.


"Tari cuma tinggal di kota yang berbeda ma, mama bisa kapan saja mengunjungi Tari kalau mama kangen," jawab Tari menyeka air mata yang turun diwajah sendu mama Mutia.


"Iya bu, Tari benar, kami akan sangat senang kalau ibu Mutia datang berkunjung ke rumah," balas mama Elisa. Sementara Zafran hanya diam saja melihat drama ketiga wanita itu. Setelah menyalami tangan kedua orangtua yang sekarang sudah menjadi mertuanya, Ia kemudian berjalan keluar menuju mobil yang sudah menunggu mereka.


"Nak Zafran, tolong jaga Tari yah." Ucapan papa Arif yang terdengar lebih akrab menghentikan langkah Zafran.


"Papa tenang saja, Tari sekarang sudah menjadi tanggung jawabku, sudah semestinya aku menjaganya dengan baik." Balas Zafran tanpa mengulas senyum.


"Makasih nak."


"Mas Zafran, kami boleh kan sering-sering mengunjungi Tari?" Tanya Chery sebelum Zafran masuk kedalam mobil.


"Tergantung apa keperluan kalian ingin bertemu dengannya." Jawaban Zafran membuat Chery lagi-lagi menggerutu. Tari yang mendengarnya menatap tajam kearah Zafran tapi Zafran pura-pura tidak melihatnya.


Ia langsung masuk kedalam mobil yang dibawa oleh pak Udin, sementara mama Elisa berada satu mobil dengan Arya.


Mobil-mobil mewah itu pun bergerak perlahan meninggalkan rumah tempat Tari menghabiskan masa kecilnya sampai dewasa hingga akhirnya meninggalkannya untuk mengikuti laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya.


❤️Hi readers kesayangan mommy semoga masih setia yah nungguin part-part selanjutnya. Kalau ada yang mau ngasi saran, monggo. Mommy tunggu say😘🤗

__ADS_1


💚 Jangan tanya kenapa nanti hatiku berpaling, karena kau sendiri yang memulai permainan ini, aku hanya menjalankan catatan yang sudah kau tulis indah dalam rangkaian kisah perjalanan hidupku...#Tari❤️


__ADS_2