
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" Zafran saat ini sudah berada diruang perawatan Tari. Ia datang sendiri tanpa Zayn karena Zayn sudah dalam perjalanan menuju Eropa untuk berobat. Tari diam saja, tidak menjawab pertanyaan Zafran, ia bahkan memalingkan wajahnya. Chery saat itu sedang turun ke minimarket untuk membeli sesuatu sedangkan Nara berada di kamar mandi.
"Kita akan pulang kerumah orangtuamu sebentar lagi, persiapkan dirimu. Aku dengar dari dokter kondisimu sudah membaik," lanjut Zafran yang masih diacuhkan oleh Tari.
Tapi Zafran tidak perduli, Ia kemudian berbalik dan melangkah menuju sofa.
"Dimana kak Dimas?" Tari bertanya dengan penuh nada amarah.
"Dimas sudah dalam perjalanan menuju Eropa, ia pergi untuk menyembuhkan amnesianya," jawab Zafran terlihat santai.
"Apa katamu? Kamu pasti bohong." Tari berjalan kearah Zafran dan memukul-mukul dadanya. Selang infusnya memang sudah dibuka sehabis dokter visite tadi. Ia semakin histeris dan hendak memukuli perutnya kalau saja Zafran tidak lebih dulu menarik dan menggenggam tangannya diatas.
"Apa kamu sudah gila?" Zafran terlihat sangat marah.
"Apa perdulimu sama aku, kamu bahkan mengurungku disini," balas Tari tidak kalah emosi.
"Aku perduli, karena aku perduli maka aku bersedia menikahimu," ucap Zafran lantang.
"Apa maksud kamu mau menikahi aku?" Suara Tari sedikit melemah tapi nadanya masih penuh penekanan.
"Iya, aku yang akan menikahimu karena Zayn sudah punya tunangan, kamu akan lebih merasakan sakit saat kalian sudah menikah dan ia mencampakkanmu," balas Zafran.
"Tidak, aku tidak mau menikah sama kamu. Aku tidak mauuuuu." Tari berteriak histeris.
"Ada apa ini?" Nara yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut mendapati Tari dan Zafran sedang bersitegang.
"Nara..." Tari langsung menghambur kearah Nara.
__ADS_1
"Ada apa Tar? Cerita sama gua," ucap Nara sambil mengusap-usap kepala Tari yang berada dalam dekapannya.
"Kak Dimas Nar, kak Dimas ninggalin gua." Tari semakin terisak, air mata sudah membanjiri matanya.
"Kita duduk dulu yuk," ajak Nara lalu membawa Tari kembali ketempat tidurnya.
"Lu tenang dulu yah, ingat anak yang sedang lu kandung saat ini, dia darah dagingmu Tar. Apapun yang terjadi sama lu, itu bukan salahnya. Lu jangan gini lagi yah." Tari sekarang sudah menyandarkan kepalanya dibahu Nara, sedangkan Zafran sudah duduk di sofa, ia terlihat meremas kasar wajahnya.
"Apa yang harus gua lakukan Nar?" Nara sebenarnya belum mengerti apa yang terjadi tapi ia tetap memberi semangat pada Tari.
"Tar, gua kesana bentar yah, lu baring aja dulu." Nara menunjuk kearah Zafran. Tari tidak menjawab tapi ia kemudian menuruti perkataan Nara. Setelah memastikan Tari lebih tenang, Nara berjalan mendekati Zafran.
"Apa sebenarnya yang sudah terjadi?" tanya Nara.
Zafran menjelaskan dari awal apa yang sudah dikatakannya pada Tari.
"Aku melakukan ini untuk kebaikan semuanya. Zayn saat ini sedang hilang ingatan, apa kamu tidak berfikir apa yang akan ia lakukan nanti pada Tari saat ingatannya kembali?" Zafran lagi-lagi menarik nafas berat.
"Hubungan Zayn dan Delia sudah terlalu jauh, mereka pacaran semenjak pertama masuk diuniversitas sampai akhirnya mereka bertunangan setelah sama-sama lulus," lanjutnya lagi. Sama seperti Zafran, Nara pun menarik nafas berat.
"Lalu apa rencanamu sekarang?" Nara tidak tau harus bagaimana lagi, otaknya benar-benar berotasi memikirkan masalah ini.
"Aku akan membawa Tari kembali kerumahnya dan akan melamarnya didepan kedua orangtuanya. Aku harap kehamilannya saat ini hanya kita yang tahu dan temanmu yang gemulai itu," ucap Zafran.
"Apa maksud kamu gemulai?" Chery tiba-tiba muncul dari balik pintu sambil berlenggak lenggok berjalan menuju sofa. Karena seriusnya Zafran dan Nara berbicara, mereka bahkan tidak sadar saat Chery memutar knop pintu.
"Namaku C-H-E-R-Y," katanya sambil kembali mengeja namanya. Zafran bahkan tidak memperdulikan ucapan Chery sama sekali.
__ADS_1
"Cher, lu temenin Tari dulu yah, aku masih mau ngomong sama dia." Nara tidak pernah ingin melibatkan Chery dalam sebuah pembicaraan serius karena ia tahu betul karakternya.
"Aku tidak tau apa caramu ini benar atau tidak, aku hanya berharap kamu tidak melukai sahabatku," ucap Nara.
"Aku hanya ingin memberi status pada bayi yang sedang dikandung sahabatmu itu. Kami tidak saling mengenal apalagi saling menyukai jadi bisa aku pastikan kami hanya akan menjalani sebuah pernikahan diatas kertas," balas Zafran.
"Kita bersiap sekarang ke rumah Tari, aku tunggu dalam waktu dua puluh menit kalian sudah harus selesai berkemas," lanjut Zafran. Tari membulatkan kedua mata dan mulutnya.
"Laki-laki ini benar-benar sok berkuasa, tapi kalau Tari tidak menikah dengannya, bagaimana nasib anak yang dikandungnya sekarang. Hanya ada dua dari sepuluh laki-laki yang mau mempertanggung jawabkan perbuatan oranglain. Bajingan kamu Dimas." maki Nara dalam hati.
Sesuai perintah Zafran mereka bertiga bersiap tidak lebih dari dua puluh menit. Tari yang awalnya menolak pulang dengan Zafran, akhirnya mau juga setelah dibujuk oleh Nara.
Selama perjalanan menuju rumah Tari dikota S yang akan ditempuh kurang lebih satu jam, tidak ada seorangpun yang mengeluarkan suara. Bahkan jika mereka ingin bersin pun mereka menahannya. Begitu mencekam berada dekat dengan Zafran. Andai saja sopir Nara tidak disuru pulang lebih awal oleh Zafran, Nara tidak mungkin mau naik dimobil ini.
"Ya Tuhan bagaimana Tari nanti menjalani hari-harinya bersama laki-laki kutub ini." Nara tidak berhenti meracau dalam hati. Sementara Tari, fikirannya saat ini sedang terbang entah kemana. Menari-nari diudara mencari tahu kenapa Dimas alias Zayn begitu tega meninggalkannya dalam kondisi seperti ini.
Zafran saat itu menyetir mobilnya sendiri, ia memang sengaja tidak membawa sopir karena ia ingin menemui orangtua Tari sendiri. Chery yang duduk tepat disampingnya, sejak tadi terlihat gelisah. Suhu dingin AC mobil bersatu dengan suhu dingin pemiliknya, membuat Chery hampir menggigil semakin lama berada didekat Zafran.
Tidak berselang lama, mobil Zafran terlihat memasuki pekarangan sebuah rumah yang tidak terlalu mewah bila dibandingkan dengan mansion keluarga Faresta. Tapi dari modelnya, Zafran bisa tau kalau Tari juga berasal dari keluarga yang cukup berada.
Mereka disambut oleh seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan seorang laki-laki yang seumuran dengan papa Zaky. Untungnya Tari sudah lebih baik dan bisa mengkondisikan dirinya saat tiba dirumahnya sehingga orangtuanya tidak curiga sama sekali dengan apa yang sudah dialami oleh putri tunggalnya itu.
"Sayang, mama sangat merindukanmu." Wanita itu langsung memeluk Tari dan menciumi pipinya. Sementara laki-laki yang berdiri dibelakangnya langsung terkejut melihat seorang penguasa dikota J datang bersama putrinya.
"Tuan muda pertama keluarga Faresta, suatu kehormatan bagi keluarga kami, anda mau menginjakkan kaki dirumah kecil kami." Semua yang berada disitu melototkan matanya mendengar ucapan papa Tari.
🤩 Selamat membaca readers, semoga kalian suka yah sama ceritanya, happy reading dear😘
__ADS_1
❤️