
"Duduklah," ucap Zafran pada Chery tanpa ekspresi setelah berada diruangannya. Chery pun menuruti perintah Zafran duduk disofa yang telah disediakan diruangan itu.
"Ada apa kamu datang kemari?" Nada suara Zafran membuat Chery seolah berada didalam rumah salju.
"Nanyanya jangan pake urat dong mas," ucap Chery mencoba mengajak Zafran bercanda tapi ternyata tidak berhasil.
"Aku sedang banyak kerjaan, jadi katakan sekarang, mau apa kamu datang kemari."
"Tari mau ketemu dengan mas Zafran," ucap Chery terlihat kesal.
"Oke, itu saja?" jawab Zafran.
"Nih orang bener-bener yah," batin Chery sambil mengepalkan kedua tangannya. Andai saja orang didepannya kini bukan penguasa di negaranya, sudah ia remas-remas wajahnya saking kesalnya.
"Apa mas tidak bertanya dimana tempatnya?" tanya Chery.
"Tidak perlu karena aku yang akan mendatanginya," jawab Zafran.
"Apa mas tau dimana Tari sekarang?" Chery tidak berhenti bertanya.
"Bahkan ia didalam lubang semut pun aku bisa tau," jawab Zafran membuat Chery membulatkan mulutnya.
"Benar-benar orang aneh," gumam Chery.
"Kamu bilang apa tadi?" tanya Zafran yang mendengar samar-samar ucapan Chery.
"Tidak mas, tidak ada apa-apa," jawab Chery cepat.
"Kalau sudah tidak adalagi yang ingin dibicarakan, tolong keluarlah, sebentar lagi aku ada meeting," ucap Zafran enteng.
"Apa itu ucapan mengusir?" tanya Chery kembali membulatkan kedua mata dan mulutnya.
"Terserah kamu mengartikannya apa," balas Zafran.
"Baiklah tuan muda Faresta yang terhormat. Selamat siang," ucap Chery menatap tajam kearah Zafran kemudian berlalu keluar ruangan sambil menghentak-hentakkan kakinya. Zafran hanya menggeleng-gelengkan kepala melihatnya.
Selesai meeting dengan kliennya siang itu, Zafran terlihat menelfon Arya, asisten pribadi sekaligus sahabatnya yang selama ini selalu membantu semua urusan yang menyangkut tentang Perusahaan dan urusan pribadi keluarga Faresta.
__ADS_1
"Arya, tolong caritahu dimana keberadaan Tari sekarang, aku ingin menemuinya." Perintah Zafran. Ia memang sudah menceritakan tentang Tari pada Arya.
"Baiklah Zaf, aku akan mengabarimu dalam lima menit." Arya memang memanggil nama pada Zafran kalau mereka hanya bicara berdua. Saat dikantor atau sedang bersama rekan bisnis mereka barulah ia akan menyematkan kata Tuan Muda pada Zafran.
Benar saja setelah lima menit ponsel Zafran sudah berdering dan itu dari Arya.
"Halo Zaf, Tari sekarang masih di kampus, ia sedang berada di taman bersama teman-temannya."
"Baiklah Ya, aku akan kesana sekarang. Terima kasih infonya," balas Zafran lalu menutup telfonnya.
Ia kemudian melajukan sendiri mobilnya menuju kampus Tari. Untuk urusan pribadi ia tidak suka memakai sopir, ia lebih senang menyetir sendiri.
Semua bola mata cewek-cewek dikampus itu seolah ingin loncat keluar saat melihat seorang Zafran turun dari mobil dengan setelan jas kantornya ditambah kacamata hitam yang bertengger dihidung mancungnya. Ia berjalan kearah Tari yang saat itu sedang berada ditaman sesuai informasi yang diterimanya dari Arya.
"Ikut aku sekarang," ucapnya setelah berada didekat Tari.
"Kita mau kemana?" Tanya Tari yang terkejut melihat kedatangan Zafran di kampusnya. Begitupun Nara dan Chery, mulut mereka sama-sama membentuk huruf O.
"Bukankah kamu yang ingin bertemu denganku?" Tanya balik Zafran. Tari langsung ingat Chery tadi sudah menemuinya dan mengatakan bahwa ia ingin bertemu.
"Nar, Cher, gua pergi dulu yah," pamitnya pada kedua sahabatnya.
"Oke Tar, lu hati-hati yah." Pesan Nara.
"Eh Tar, ada baiknya lu mampir dulu ditoko selimut," ucap Chery menghentikan langkah Tari.
"Selimut? untuk apa?" tanya Tari terlihat bingung.
"Siapa tau aja entar lu menggigil dekat-dekat sama manusia salju itu," jawab Chery asal. Untung saja Zafran sudah lebih dulu berjalan menuju mobil jadi ia tidak mendengar ucapan Chery.
"Ada-ada aja lu Cher," balas Tari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sumpah Nar, mas Zafran itu menyebalkan banget." Chery terlihat mengatupkan giginya dan mengepalkan kedua tangannya. Ia sangat gemas ingin meremas-remas wajah Zafran.
"Udah Cher, sebentar lagi ia juga akan jadi kakak ipar kita jadi kita harus membiasakan diri dengan sikapnya," ucap Nara menghela nafas dalam-dalam lalu menghempaskannya kasar.
"Bodoh amat." Chery berdiri dan berjalan menuju parkiran disusul oleh Nara dibelakangnya.
__ADS_1
"Kita mau kemana mas?" tanya Tari yang sekarang sudah duduk disebelah Zafran didalam mobilnya yang terus melaju. Tapi Zafran sama sekali tidak memperdulikan pertanyaan Tari, ia hanya memandang kedepan sambil terus menyetir mobil.
"Mas, dengar enggak sih saya ngomong," ucap Tari dengan nada tinggi, ia sudah mulai kesal dengan sikap Zafran.
"Kamu bisa tidak duduk diam saja, aku tidak akan membawamu kabur, lagian untuk apa juga aku membawamu kabur, toh sebentar lagi kita juga akan menikah," balas Zafran tanpa melihat kearah Tari.
"Iiiccchhh." Tari mengepalkan kedua tangannya. Zafran yang meliriknya sekilas tersenyum tipis melihat tingkah Tari.
Tidak berselang lama mobil Zafran terlihat memasuki sebuah halaman luas yang dipinggirnya berdiri berderet-deret cottage yang terlihat sunyi.
"Kita mau apa kesini?" Tanya Tari yang mulai terlihat gelisah dan bertanya-tanya kenapa Zafran malah membawanya kesini.
"Kamu tenang saja, aku sama sekali tidak tertarik sama kamu, aku hanya lebih suka bicara ditempat yang sunyi dan tenang." Zafran menjawab kekhawatiran diwajah Tari. Tari akhirnya bisa bernafas lega.
"Aku sudah memesankan makanan untukmu saat reservasi tadi, ibu hamil tidak boleh terlambat makan," ucap Zafran setelah mereka duduk diruang tamu cottage tersebut.
"Makasih," balas Tari. Ia tidak menyangka ternyata manusia salju seperti Zafran bisa memiliki perhatian terhadap dirinya yang sedang mengandung.
"Jadi apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Zafran memulai pembicaraan. Kali ini ia bersikap sedikit lebih lembut.
"Aku ingin kita terlihat romantis seperti pasangan lainnya kalau sedang berada didepan keluargaku," jawab Tari.
"Baiklah, tidak masalah karena aku juga tidak ingin keluargaku tahu yang sebenarnya jadi kita akan bersikap romantis bukan hanya pada keluargamu tapi pada keluargaku juga," balas Zafran.
"Baiklah kalau begitu." Ucap Tari sambil memperhatikan makanan yang dibawa oleh pelayan kemeja mereka.
"Ini mas Zafran semua yang pesan?" Tanyanya seolah tidak percaya karena semua makanan yang disajikan itu adalah makanan kesukaan Tari.
"Iya, apa ada masalah?" Tanya Zafran.
"Tidak, tidak sama sekali mas," jawab Tari.
"Bagaimana mungkin ia bahkan bisa tau makanan kesukaanku." Batin Tari sambil memasukan makanan kedalam mulutnya. Ia makan sangat lahap membuat Zafran menggeleng-gelengkan kepala melihatnya. Setelah beberapa hari ia kurang berselera makan akhirnya sekarang bisa makan normal lagi seperti biasa.
"Pelan-pelan makannya, nanti tersedak," ucap Zafran yang hanya dibalas senyum tipis oleh Tari.
🤩 Hi readers mommy datang lagi, semoga suka yah sama ceritanya, maaf karena masih banyak kekurangan🙏🤗
__ADS_1